Yang Terakhir

Yang Terakhir
153. Permintaan Ibu Hamil


__ADS_3

Tok tok tok!


Ketukan di pintu ruangannya mengalihkan perhatian Arga dari barisan huruf dan angka di selembar kertas yang sedari pagi menjadi fokusnya. Hampir seminggu lamanya pria karismatik itu berada di luar kota meninjau lokasi baru untuk pembangunan pabriknya. Bahkan dirinya belum sempat pulang ke rumahnya menemui Hania. Arga langsung menuju perusahaannya begitu tiba di ibukota.


Ekor matanya menangkap Dian, sekretaris cantiknya memasuki ruangan. Kedua tangannya membawa masing-masing sebuah buket bunga lili dan sebuah bungkusan besar bersampul kertas kado berwarna kuning muda bergambar bayi dan balon-balon warna-warni. Arga mengangkat pandangannya lalu mengernyitkan keningnya. Tatapannya lekat pada 2 benda yang dibawa Dian seolah bertanya, itu apa?


"Ada kiriman buket bungq dan bingkisan untuk anda, Pak." ucap Dian yang tahu maksud dari ekspresi Arga tanpa menunggu ditanyai.


"Dari mana? Kenapa ngga dikirim ke rumah aja?" tanya Arga yang sekarang memegangi bingkisan seraya memutar-mutarnya mencari pengirimnya.


"Di sini hanya tertulis huruf R dengan huruf kapital saja." sahut Dian seraya membaca sebuah kartu ucapan berwarna kuning muda berhiaskan pita merah kecil yang manis, yang terdapat pada buket bunga lili yang masih dipegangnya.


"Ya sudah letakkan saja di sini!" perintah Arga seraya menepuk bingkisan yang sudah diletakkannya di atas meja.


"Maaf, Bapak akan makan siang dimana? Atau delivery saja?" tanya Dian setengah mengingatkan atasannya itu karena jam makan siang hampir berlalu.


Tok tok tok!


Arga baru akan menjawab ketika terdengar ketukan di pintu ruangannya. Senyum langsung terkembang sempurna dan manis sekali begitu sosok wanita pemikat hatinya muncul dari baliknya seraya tersenyum semanis madu.


"Honey? Kamu datang?" ucap Arga lalu berdiri menyambut sang istri.


"Masih sibuk ya? Apa aku ganggu?" tanya wanita cantik itu seraya meletakkan paper bag berukuran cukup besar di atas meja tamu lalu berjalan mendekat dengan anggun.


"Selamat siang, Bu Hania." sapa Dian seraya mengangguk hormat.


"Siang, Mba Dian." Hania melempar senyum ramahnya dan balas mengangguk ketika Dian menyapanya.


Arga meraih pinggang Hania dan mengecup kening lalu bibir merah jambunya Hania sekilas. Pria itu merindukan istrinya. Dia tidak pernah sungkan menunjukkan sikap mesranya pada sang istri di hadapan orang lain. Tidak peduli orang lain itu akan salah tingkah dan malu sendiri atau bahkan mencibirnya. Seperti halnya pada Dian. Sekretarisnya yang cantik itu sampai menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal karena memergoki tingkah bosnya yang sedang kasmaran.


"Maaf, Pak. Saya akan pesankan makan siang untuk anda dan Ibu." ucap Dian yang keberadaannya seperti tak dianggap.


"Eh, ngga perlu Mba. Saya udah siapin kok." sahut Hania seraya menunjuk paper bag yang tadi dibawanya.


"Sebentar." Hania melepas tangan suaminya yang melingkari pinggangnya.


Wanita cantik itu membongkar isi paper bag dan mengeluarkan beberapa box makanan.


"Ini, untuk Mba Dian sama Mas Reza. Pasti belum makan siang 'kan?" Hania menyodorkan 2 box pada Dian yang diterima dengan sungkan.


"Wah! Bu Hania jadi repot-repot nyiapin untuk saya segala. Pasti ini enak. Makasih ya, Bu. Kalau begitu saya serahin ini juga ke Pak Reza. Saya permisi, Pak." ujar Dian berbasa basi lalu undur diri dari ruangan itu.


Dalam hatinya, sekretaris cantik itu merasa dihargai oleh istri atasannya. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh istri atasannya yang dulu. Jangankan membawakan bekal makanan, datang ke perusahaan saja bisa dihitung jari.


"Jangan capek-capek, honey. Jaga dia. Jangan sampe karena kamu semangat, dia ikut ngerasain akibatnya." tegur Arga seraya mengelus perut Hania yang masih rata.


"Ngga capek kok, Mas. Aku banyak yang bantuin. Ada Ibu juga datang. Aku ke sini 'kan dianter Ibu." terang Hania seraya mengusap pipi Arga yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.


Sejak menikah dengan Hania, Arga memang jarang mencukur bulu-bulu di wajahnya sebersih dulu. Alasannya karena Hania menyukainya. Wanita cantik itu mengatakan dirinya suka sensasi yang ditimbulkan bulu-bulu halus itu ketika Arga menyentuhnya.


"Oh ya? Kok ngga mampir?" tanya Arga seraya menuntun Hania ke meja tamu dan mendudukkannya di sofa panjang.

__ADS_1


"Ibu ada acara ke panti sore nanti, mau siap-siap dulu katanya." Arga menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Hania.


"Mas sibuk banget ya, sampe ngga sempet pulang ke rumah dulu." keluh Hania seraya meletakkan kepalanya di dada suaminya.


Tok tok tok!


Obrolan ringan itu harus terhenti ketika seorang office boy memasuki ruangan sambil membawa peralatan makan dan minuman kesukaan Hania. Pastilah Dian yang meminta office boy itu mengantarkannya.


Pria tampan itu duduk di sebelah Hania yang sibuk menata makanan yang dibawanya setelah office boy keluar ruangannya. Selera makannya langsung bangkit begitu melihat menu makanan yang dihidangkan istri cantiknya.


"Hum... Aromanya bikin laper, hon. Pasti enak nih, kayak biasanya." puji Arga seraya menerima piring yang sudah terisi komplit yang disodorkan Hania.


"Udah lama juga kamu ngga masak berat begini." ucapnya disela-sela makannya.


Hania hanya tersenyum. Hatinya berdesir. Wanita cantik itu jadi merasa bersalah karena sudah mengabaikan suaminya beberapa lama. Tapi bukan maunya juga begitu. Kehamilannya yang baru masuk awal trisemester pertama membuatnya tak berdaya. Pagi tadi dirinya merasa lebih bugar dari biasanya jadi memutuskan memasakkan makanan kesukaan sang suami untuk memberinya kejutan.


"Maaf ya, aku baru bisa masak besar lagi kali ini. Tadi ngga kerasa mual dan pusing jadi aku mau masakin makanan kesukaan Mas ini. Biar tambah semangat kerjanya." cerita Hania dengan suara manja.


Arga menanggapinya dengan usapan di puncak kepala Hania. Pria tampan itu merasa bahagia. Istrinya itu selalu berusaha melayaninya dengan baik. Beginilah istri yang diharapkannya. Dan Tuhan mengabulkannya. Jadi dia akan menjaganya sekuat tenaga dan pikirannya sebagai rasa syukurnya.


"Oh ya. Ada kiriman hadiah. Ngga tahu dari siapa. pengirimnya ngga jelas." ucap Arga setelah menyelesaikan makan siangnya.


Hania mengambil sendiri bingkisan yang dimaksud Arga.


"R?" gumamnya seraya duduk kembali di sisi Arga.


Sementara itu, di sebuah apartemen mewah tampak seorang wanita cantik dan seksi sedang mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh benci. Sebelah tangannya masih menggenggam ponsel yang masih terhubung pada seseorang yang memberinya kabar tak baik.


"Liat aja apa yang bisa gue lakuin buat lu, Hania." ucapnya seraya menyeringai.


Drrrt drrrt drrrt!


"Gimana? Apa hadiah gue udah diterima?" tanya Raka pada si penelepon.


"Sudah bos. Gue kirim ke perusahaannya sesuai perintah." suara berat dan kaku seorang pria menyahut di seberang ponselnya.


"Bagus." Raka langsung memutus sambungan ponselnya seusai memuji kerja anak buahnya.


Pria tampan itu tersenyum lebar seraya menghela napas dalam. Dia senang.


"Anak itu punya gue, Ga. Dan sebentar lagi istri lu yang udah bikin gue penasaran itu akan jadi milik gue juga." gumam Raka.


"Dan lu akan tau rasanya kehilangan yang sesungguhnya." seringai Raka.


Membayangkan rencananya memiliki Hania membuat jantungnya berdebar. Dadanya terasa penuh dan darahnya berdesir. Entahlah. Dirinya saja heran dengan reaksi tubuhnya ketika menyentuh Hania. Membuatnya terus membayangkan wanita cantik itu terus menerus. Wanita bermata kelinci itu terasa berbeda. Dan dimulai malam itu, Hania seperti menarik semua perhatiannya.


"Ah. Hania. Andai aku yang ketemu kamu lebih dulu." sesalnya.


Lagi-lagi bayangan wajah Hania saat memintanya melepaskannya membuat dadanya sesak. Dia teringat kembali malam panas yang sengaja diciptaknnya. Alih-alih membuat Arga terluka, nyatanya perbuatannya itu berbuntut penyesalan dan rasa bersalah pada wanita cantik itu. Dia tidak bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa. Karena nyatanya, dirinyalah yang selalu mencari tahu keadaan Hania selepas terbebasnya dia dari kungkungan Arga.


Hania menggeliat kegelian. Tidurnya terusik. Arga masih saja terus mengusili istrinya itu. Pria tampan itu menciumi wajah Hania, lalu turun ke lehernya yang mulus. Dia juga mengusap-usapkan wajahnya yang berbulu tipis itu ke punggung tangan Hania alih-alih mengecupinya. Dan dia akan tersenyum senang setiap melihat reaksi Hania. Arga tahu wanita itu terusik tapi tidak juga membuka matanya. Sejak hamil Hania jadi mudah sekali mengantuk dan tertidur.

__ADS_1


"Ayo putri tidur, bangun." bisik Arga di telinga Hania seraya mengusap-usapkan hidung mancungnya.


"Sebentar, Mas. Aku masih ngantuk." manja Hania.


"Mau kugendong aja?" Hania langsung membuka matanya lalu menyipitkannya.


"Ngga. Ngga usah. Aku udah bangun." Arga terkekeh melihat reaksi Hania.


"Eh! Hati-hati, honey! Duduk dulu." Arga terkejut ketika Hania langsung berdiri dari posisi tidurnya lalu menariknya untuk duduk kembali.


"Ada yang pengen dibeli?" tawar Arga begitu mobil yang mereka kendarai meninggalkan perusahaan.


Hania menoleh tapi tidak langsung menjawab. Wanita hamil itu tampak sedang berpikir. Beberapa hari ini dirinya menginginkan banyak cemilan pedas. Dan hanya makanan-makanan ringan itu saja yang bisa dicerna dengan baik oleh perutnya.


"Aku mau rujak yang di foodcourt deket lapangan futsal kemarin itu. Sama cilok bumbu kacang." pinta Hania.


"Rujak sama cilok lagi? Kemarin 'kan udah, honey. Lagian itu 'kan pedes. Perut kamu bisa sakit nanti." tolak Arga halus.


"Tapi aku mau itu, Mas. Ngga mau yang lain. Kalau Mas ngga mau beliin, biar nanti aku minta tolong Mang Diman aja." rajuknya.


"Dia 'kan memang bukan anak Mas, jadi bukan tanggungan..." ucapan Hania terpotong.


"Astaga, Hania! Stop! Dia anakku juga!" sentak Arga tak suka.


Mendengar Hania mengatakan fakta itu, hati Arga berdenyut nyeri. Pria tampan itu sangat mencintai istrinya. Dia sanggup menerima apapun kondisi Hania termasuk janin dalam rahimnya.


"Please, honey. Jangan ngomong gitu lagi ya. Anak itu juga anakku." pinta Arga dengan suara yang lebih lembut.


Hania hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa sejak hamil dirinya lebih manja dan suka berlebihan dalam merespon reaksi orang lain. Untung Arga selalu sabar padanya.


"Tapi aku mau rujak sama cilok. Boleh ya?" pintanya lagi dengan manja, kali ini sambil melingkarkan tangannya pada lengan Arga.


"Oke, oke. Kita beli rujak sama ciloknya." putus Arga lalu menghembuskan napas kasar.


Wajah Hania langsung berbinar ketika melihat stan rujak di seberang mobilnya terparkir.


"Kamu tunggu di sini aja ya." perintah Arga lalu pria tampan itu meninggalkan Hania sendirian di dalam mobilnya.


Membeli rujak seperti yang diinginkan sang istri yang sedang hamil ternyata bukanlah perkara mudah. Sudah lama Arga berdiri ikut dalam barisan antrian nan panjang. Tinggal 5 lagi. Sesekali dia menoleh ke arah mobilnya terparkir. Perasaannya tidak enak.


Brak!


Suara sebuah benda bertabrakan mengalihkan perhatian orang termasuk dirinya yang sedang mengantri.


"Oh no! Honey!" Arga berlari sekencang-kencangnya menuju mobilnya yang tertabrak mobil lain.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2