Yang Terakhir

Yang Terakhir
205. Panggilan Papa


__ADS_3

Arga kembali ke kamarnya masih dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya Galih berbuat mesum dengan vulgar begitu. Kebelet atau bagaimana sampai tidak sempat menutup pintu?


Oh, Astaga! Gadis itu, kenapa polos sekali? Mau-maunya dirayu bujang lapuk begitu! Arga berdecak. Dia tak habis pikir kenapa Syana dengan mudahnya jatuh dalam rayuan Galih.


"Kenapa, Mas? Dateng-dateng mukanya kusut gitu?" tanya Hania setelah meneguk air mineral dari gelas yang dibawa Arga tadi.


"Hah? Oh. Ngga apa-apa. Ayo tidur lagi." sahut Arga kemudian memeluk Hania posesif.


Tapi bukannya ikut terlelap seperti Hania, mata Arga justru terasa segar. Kantuknya sudah sirna. Ditambah bayangan adegan mesum yang Galih lakukan pada Syana. Sebenarnya Arga hanya melihat punggung Galih yang sudah polos dan tangan kokohnya tampak menggenggam tangan Syana, dengan posisinya di atas tubuh Syana. Tapi sebagai pria dewasa, dia tahu betul apa yang dilakukan Galih. Membuat jiwa kelelakiannya meronta.


Namun dia bisa apa, Hania harus banyak istriahat. Kondisinya belum baik-baik saja. Belum lagi, bibitnya yang sudah ditanamkan sejak lama sudah mulai bersemi. Tinggal menunggu sampai waktunya tiba dipetik. Dan pria tampan itu tidak ingin mengganggu proses pertumbuhan itu. Membayangkan dirinya bermain dengan anak-anaknya, bibir yang dicap seksi oleh Hania itu merekah seperti bunga matahari. Terlalu lebar.


Tadi sore, dokter yang memeriksa Hania yang tak sadarkan diri, dengan yakin mengatakan bahwa wanita cantik itu sedang berbadan dua. Dokter itu juga menyarankan untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini karena kondisi Hania yang sedikit lemah. Dan tidak perlu mencemaskan mual muntah yang dialaminya semenjak tadi pagi selama masih dalam batas wajar. Tapi bukan Arga namanya jika tidak melarangnya melakukan ini dan itu. Bahkan melarangnya turun untuk makan malam bersama.


"Apa kamu ngga mau kasih tau kabar ini ke Papa Mama?" tanya Arga yang terdengar masih kaku membahasakan Papa Mama pada Pak Pratama dan Ibu Irene yang biasa dipanggilnya Oom dan Tante itu.


"Aku mau kasih kejutan. 'Bentar lagi annivesary pernikahan mereka, Mas. Aku rasa kabar bahagia kita ini bakal jadi kado yang lebih baik. Gimana menurut Mas?" ucap Hania seraya menerawang.


Cup.


Arga mengecup pipi Hania yang tidak setirus beberapa bulan yang lalu. Kemudian mendekapnya.


"Kurasa aku suka idemu itu, honey." ucapnya lalu mengecup kepala istrinya.


"Lagulipula, Ibu juga harus tau 'kan?" lanjut Hania seraya menoleh ke arah Arga.


Ah. Iya. Sang ibu masih di luar kota. Rasanya tak adil jika tidak memberitahunya secara bersamaan. Arga semakin mengeratkan pelukannya dan lama-lama terlelap.


Arga terbangun karena usapan lembut di pipinya. Tapi kelopak matanya masih rapat belum mau terbuka. Hania masih setia membangunkan suaminya yang bertingkah seperti bayi besar.


"Sebentar lagi ya, honey. Aku masih ngantuk banget." rengek Arga persis seperti menawar pada ibunya.


"Papa! Ayo bangun! Nanti terlambat ke kantor!" seru Hania yang berdiri di samping ranjang.


Mendengar Hania menyebut dirinya papa, Arga seketika membuka kelopak matanya lebar-lebar. Pria itu langsung teringat pada benih yang ditanamnya dulu. Tapi bukan itu yang membuatnya langsung terjaga. Sebutan papa untuk dirinya lah yang membuatnya seperti mendapat suntikan semangat.


Iya, Mama. Udah bangun nih!" sahutnya seraya mendudukkan dirinya bersandar pada sandaran ranjang, menampilkan senyumnya yang semanis madu.


Ternyata bukan hanya minuman yang mengandung elektrolit saja yang bisa menghidrasi tubuh dan membangkitkan energi pada tubuh. Sebuah sebutan juga bisa membangkitkan energi. Sudah terbukti nyata pada Arga.


Sejak Hania memanggilnya Papa, semangatnya seketika menggelora. Wajahnya berbinar dengan senyum lebar yang tampak jelas di wajah tampannya itu. Bahkan Arga tidak peduli dengan tatapan mata heran yang mengarah padanya, terutama tatapan mata Syana. Gadis itu jelas-jelas menatapnya dengan ekspresi heran yang kentara.


Jika pada mode normal, Syana hanya berani meliriknya atau menatapnya sekilas karena takut terpergok seperti tempo dulu. Saat itu, dirinya memang tengah mengagumi wajah tampan nan rupawan itu hingga tidak sadar menatapnya tanpa berkedip. Sebuah teguran bernada ancaman dengan suara dingin yang datar lah yang menyadarkannya.


Iya. Arga mengancamnya. Bahwa hari itu harus jadi hari terakhirnya menatap pria itu seperti kucing kelaparan, jika dirinya masih ingin dapat melihat dengan baik. Dia tidak bisa mengabaikan teguran itu. Mengingat ekspresi Arga yang dingin, sepertinya pria itu akan melakukannya betulan.


"Lu kenapa?" tanya Iden yang duduk tepat di depannya di seberang meja makan.


"Lu masih waras 'kan, Ga?" lanjutnya karena Arga tak menyahutinya.

__ADS_1


"Semakin waras malah." sahut Arga acuh lalu menyuap nasi goreng yang sudah disiapkan Hania untuknya.


"Sepertinya ada yang lagi seneng, nih?" kini giliran Bu Irene yang berkomentar.


"Iya, Ma. Sampe speechless." sahut Arga lagi setelah menelan makanannya.


"Pantesan aja, dari tadi senyum-senyum terus." gumam Iden.


Arga dan Iden bersiap berangkat ke kantor. Sementara Hania masih ditahan oleh Ibu Irene. Wanita paruh baya itu masih ingin berlama-lama berbincang dengan putrinya. Bahkan tadi, niatnya untuk kembali ke rumahnya pagi-pagi sekali, agar Arga bisa berganti pakaian kerja pun pupus. Akhirnya Reza juga yang repot.


Asisten Arga itu harus ke rumah atasannya, mengambilkan setelan kerja untuk atasannya berikut perlengkapan seperti laptop dan berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya. Lalu mengantarkannya ke rumah mertua atasannya, dan berangkat bersama dengan mobil yang terpisah. Mirip iring-iringan konvoi mobil bagus.


"Heran. Suka banget hambur-hamburin bensin." celetuk Ibu Irene seraya menatap kepergian ketiga pria dewasa itu bersamaan.


"Kenapa emang, Ma?" tanya Hania tak paham ucapan ibunya.


"Mereka 1 tujuan 'kan? 'Kan bisa berangkat bareng pake 1 mobil. Kok milih sendiri-sendiri." sahut wanita paruh baya yang warna matanya juga diwarisi Hania itu.


Hania hanya tersenyum simpul mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu, walaupun tampak kompak tapi suami dan kakaknya tidak mungkin berada dalam 1 mobil yang sama dalam waktu yang lama saat ini. Suaminya sedang dalam kondisi aneh menurutnya dan sejak tadi jadi sasaran ledekan dari kakaknya yang flamboyan itu.


"Selamat pagi, Pak." Dian menyapa Arga dengan senyum manisnya tapi senyum itu surut saat beradu tatap dengan Iden.


Setelah kedua atasan di tempatnya bekerja memasuki ruangan Arga, Dian pun bersiap melanjutkan tugasnya sebagai sekretaris Arga. Dengan langkah tenang, wanita cantik itu menyusul pimpinannya.


"Jam 10 nanti akan ada pertemuan dengan pihak Grand Permata Hotel, Pak. Perwakilan dari sana meminta anda sendiri yang menemuinya." ucap Dian memulai membacakan agenda Arga.


Arga diam mendengar sambil memeriksa email yang masuk.


"Ohya, ini ada titipan surat pengunduran diri yang diteruskan dari HRD." ucap sekretaris itu seraya meletakkan sebuah amplop putih di atas meja Arga.


Arga mengangkat kepalanya. Mengalihkan perhatiannya dari laptopnya ke arah amplop putih berisi surat pengunduran diri salah seorang pegawainya. Keningnya mengernyit.


"Apa ada masalah di perusahaan? Kenapa ada yang mengundurkan diri? Dia dari divisi apa?" cecar Arga.


Sebagai pemilik perusahaan, sebenarnya masalah perkaryawanan bukanlah urusannya. Arga sudah punya divisi yang sangat bisa dipercayanya untuk mengurusi masalah itu. Tapi sebagai pemimpin yang baik, dia merasa harus mengetahui hal sekecil apapun itu. Agar bisa segera memperbaiki kinerja perusahaan ke depannya.


"Umm.... Dia Bu Bela, skretarisnya Pak Iden." sahut Dian seraya melirik Iden.


"Apa!?" seru Iden.


"Kenapa dia ngundurin diri?" tanyanya seraya menatap Arga dan Dian bergantian, tubuhnya sudah tegak.


Selama ini, setelah tertangkapnya Handoko, Bela masih bekerja seperti biasa. Teliti dan rajin. Wanita seksi itu tidak pernah menunjukkan gelagat mencurigakan. Suasana juga msih berjalan seperti biasa. Iden masih mengajaknya berc*nta dan wanita itu tidak pernah mengeluhkan apapun. Termasuk rencananya mengundurkan diri.


"Mana gue tau! Disini yang jadi bosnya Bela 'kan elu!" sentak Arga.


"Saya juga sudah meletakkan surat pengunduran diri Bela di meja anda, Pak." ucap Dian, kali ini mata berbulu mata palsu itu menatap Iden yang tengah gusar.


"Kasian deh lu! Tangkapan lu lepas." kekeh Dian di dalam hati menertawakan Iden.

__ADS_1


Dian meninggalkan ruangan Arga dengan senyum bahagia atas penderitaan Iden. Pria seperti Iden memang suka berganti pasangan berc*nta tapi dirinya selalu selektif dalam memilih wanitanya. Dan karena selektif itu pulalah, Iden tak mudah menemukan yang sesuai seleranya.


Iden merasa Bela sesuai dengan seleranya. Dan kini wanita itu telah pergi. Padahal dirinya sudah mulai terbiasa dan nyaman bersama Bela. Meskipun Bela genit dan menyukai Arga tapi dirinya tak mempermasalahkan itu. Bela selalu bisa menemaninya, menghiburnya, dan diajak bertukar pikiran baik dengan topik serius maupun receh sekalipun, wanita yang diketahuinya pintar itu bisa mengimbanginya.


"Lu apain dia, mendadak kabur sampai megundurkan diri dari posisi penting begitu?" telisik Arga.


Iden mengendikkan bahunya tapi matanya masih terpusat pada surat pengunduran Bela yang direbutnya dari Arga.


"Beberapa hari yang lalu, dia nemuin laki-laki lain dan gue marah-marah sama dia." Arga mengernyitkan keningnya lagi serasa tak percaya mendengar penuturan sahabatnya.


"Lu cemburu?" tebak Arga spontan.


"Ck! Ngga mungkin lah. Dalam kamus percintaan gue, 1 hal yang gue garis bawahi dengan tebal, ja-ngan ba-per!" sanggahan Iden membuat Arga berdecih.


"Asal lu tau ya, dalam hubungan gue sama Bela ada peraturan tak tertulis yang udah kita sepakati bareng. Ngga boleh ada orang lain selama kita masih sama-sama butuh." ungkap Iden membuat Arga terkekeh.


"Yang beberapa kali lu langgar itu?" Iden hanya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal itu seraya menyeringai, membenarkan ucapan sahabatnya.


"Stop mainin perempuan, man. Sekarang lu punya Hania. Ngga mau 'kan kalau Hania dimainin laki-laki?" tegur Arga yang sudah jengah dengan sikap flamboyannya Iden.


"Lu berniat mainin Hania?" nada suara Iden berubah dingin.


"Ck! Ngga mungkin lah! Lu kira gue apa!? Umur 'kan ngga ada yang tau! Gue takut hidup gue ngga selama Hania untuk terus jagain dia!" sanggah Arga dengan emosi karena kesal dengan tuduhan Iden.


"Mikir apa sih, lu!?" sentak Iden tak suka.


Iden menatap Arga lekat. Dalam hatinya berharap sahabatnya itu panjang umur dan sehat selalu hingga bisa selalu menemani dan menjaga Hania. Pria itu juga memikirkan ucapan Arga yang menyentil ketidakseriusannya dalam menjalin hubungan percintaannya.


Sore hampir berlalu ketika Arga dan Iden sampai di kediaman Pratama. Arga memang kembali lagi ke rumah mertuanya karena akan menjemput Hania.


Klek!


Hania menoleh saat pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok pria bertubuh atletis. Senyumnya langsung merekah menyambut sang suami yang tampak lelah. Selain senyum yang menggetarkan hati Arga, Hania juga memberinya kecupan di pipi kirinya. Arga membalasnya dengan sebuah kec*pan lama di kening Hania. Tak hanya di kening, pria karismatik itu juga ******* bibir Hania, seperti biasanya.


"Mas mandi dulu ya biar seger, abis itu kita makan malam, baru pulang." ucap Hania yang hanya diangguki Arga.


Arga menggandeng tangan Hania menuruni tangga menuju ruang makan. Formasi masih komplit seperti malam sebelumnya, kecuali Rendy dan keluarga kecilnya. Kakak sulung Hania ini paling jarang bisa berkumpul sejak dulu. Dan makan malam berlangsung dengan diselingi obrolan, candaan, dan ledekan. Kebiasaan baru yang tercipta di meja makan Ibu Irene.


"Apa!? Kenapa harus pake identitas Hania, sih!? Ngga! Gue ngga ijinin!" seru Arga terang-terangan menolak ide Galih.


Kini, Arga, Iden, dan Galih sedang menurunkan perut di halaman belakang usai makan malam, di gazebo sebelah kolam renang dengan aksen air mancurnya. Mereka sedang menyusun rencana menolong Syana.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!


🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2