
Hania baru akan meninggalkan kafe yang terletak di dekat kantor Arga. Dia baru saja mememui Iden karena pria blesteran itu mengajaknya bertemu atas permintaan Arga. Iden sangat sibuk, pria flamboyan itu tidak sempat mendatangi Hania di restorannya.
Di halaman parkir, sebuah suara wanita yang terdengar asing di telinganya menyapanya, membuat Hania mengangkat pandangannya yang semula tertunduk membaca pesan di ponselnya.
"Rosa?" gumamnya.
Wanita cantik dan seksi yang dikenalnya sebagai mantan kekasih Arga itu berdiri angkuh dan menatapnya remeh.
"Kamu masih ingat aku ya? Kebetulan sekali kita ketemu di sini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa?" pinta Rosa.
Meski ragu tapi Hania juga ingin tahu yang ingin disampaikan mantan kekasih Arga itu. Hania dan Rosa masuk ke dalam kafe tadi dan Hania kembali bertemu Iden. Rupanya pria bermata coklat terang itu masih berada di dalam sana.
"Hania? Apa ada yang tertinggal?" tanyanya pada Hania namun matanya melirik Rosa.
Pria flamboyan itu mengenal Rosa. Dirinya juga pernah berjuang mendapat perhatian wanita cantik dan seksi itu. Rosa benar-benar tipe wanitanya Iden. Tapi Rosa lebih memilih Arga kala itu. Jujur, dia sempat cemburu. Tapi melihat kelakuan Rosa, Iden jadi iba pada Arga. Wanita tipenya itu beberapa kali didapatinya berselingkuh dari sahabatnya itu.
"Ah, ngga kok, Mas. Cuma kebetulan diajakin ngobrol sama Mba Rosa." sahut Hania.
Iden mengernyitkan keningnya. Lalu menatap Rosa. Pria tampan itu tak percaya Rosa bersikap semanis itu pada kekasih Arga. Dia tahu motif wanita itu kembali ke tanah air. Iya. Wanita cantik dan seksi itu ingin kembali pada sahabatnya setelah perceraiannya.
"Apa yang Lu lakuin Sa? Gue tau, kalian ngga seakrab itu untuk sekedar ngobrol santai." telisik Iden.
"Sejak kapan Lu jadi suka ikut campur urusan orang lain?" sinis Rosa.
Iden terkekeh. Rosa tak pernah berubah. Hanya bersikap manis pada Arga dan sinis pada orang yang mengusiknya.
"Jika itu berhubungan dengan orang-orang di dalam lingkaran Gue, dengan senang hati Gue terlibat." sahut Iden.
"I watch you!" bisiknya di telinga Rosa.
Iden beralih pada Hania. Menatap wanita yang diakuinya cantik alami itu lekat. Pria tampan itu sedikit banyak mengenal karakter Hania yang lembut dan sedikit mudah terpengaruh.
"Hania, berhati-hatilah. Jangan mudah terpengaruh. Arga sangat mencintaimu." pesan Iden yang diangguki Hania dengan mantap.
Iden segera berlalu meninggalkan kedua wanita yang sama-sama cantik namun berbeda karakter itu. Berjalan tegak penuh pesona sambil menelpon seseorang.
"Dulu, aku dan Arga saling mencintai. Dia selalu menomorsatukan aku. Membuatku menjadi satu-satunya wanita di hatinya." Rosa memulai kisah lamanya dengan Arga dengan kata-kata yang berlebihan untuk memanas-manasi Hania, setelah mereka duduk di meja di sudut kafe itu dengan minuman pesanan masing-masing.
Sementara Hania masih tenang mendengarkan kata-kata yang meluncur bagai anak panah menghujam hatinya. Dia ingat Arga tidak mengatakan jika pria itu mencintai Rosa. Apakah kekasihnya itu sengaja menutupinya? Benarkah yang dikatakan Rosa?
"Kami berhubungan cukup lama. 2 tahun. Waktu yang penuh dengan panasnya percintaan kami. Kami masih sangat muda waktu itu, tidak bisa menahan diri ketika berhadapan dengan orang yang kita cintai." Rosa mengulas senyum liciknya.
"Apalagi kami tinggal di luar negeri. Tau sendiri 'kan kehidupan di sana itu bebas dan liar. Seperti itu juga denganku dan Arga." lagi-lagi Rosa tersenyum ketika melihat ekspresi Hania yang terkejut.
__ADS_1
"Kamu terkejut? Apa Arga tidak menceritakannya padamu? Oh, maaf ya, kupikir Arga terbuka padamu." ucap wanita seksi itu seraya menutup mulutnya pura-pura terkejut dan memasang wajah memelas.
Jujur Hania terkejut. Inginnya tak mempercayai kata-kata wanita cantik itu tapi mengingat dimana mereka menjalin hubungan, bisa saja yang dikatakannya itu benar adanya. Arga pernah berbuat lebih dengan wanita seksi itu.
Membayangkan yang dilakukan Arga dengan mantan kekasihnya itu, Hania jadi teringat penghianatan mantan suaminya. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak kencang. Wanita lembut itu kembali merasa terpuruk.
"Hati-hati Hania. Jangan mudah terpengaruh. Arga sangat mencintaimu."
"Arga sedang difitnah. Jangan tertipu dengan apapun yang kamu dengar dan lihat. Semua tidak seperti yang tampak di permukaan."
"Arga ngga cuma menangani kasus perusahaannya. Dia juga sedang berusaha memulihkan nama baiknya. Dia dijebak."
"Kamu harus yakin dan percaya sama Arga. Dia mencintaimu. Aku sendiri yang menjamin itu."
Kata-kata Iden kembali berputar di benaknya. Iya. Iden benar. Wanita cantik itu membenarkan kata-kata Iden. Dia harus percaya pada Arga. Pria tampan itu sudah menceritakan masalah yang menimpanya. Hania hanya diam mendengarkan dan menangis.
Barusan Iden menemuinya karena permintaan Arga. Kekasihnya itu memang sedang terlibat masalah perusahaan dan skandal dengan wanita yang tak lain adalah mantan kekasihnya, Rosa.
Arga ingin Iden menenangkan dan meyakinkan Hania. Begitulah yang disampaikan Iden. Hania memang sempat meragukan Arga. Bukan kesetiaannya tapi ketegasannya menolak wanita cantik dan seksi itu. Dalam keadaan sadar saja kekasihnya itu hanya diam saja ketika Rosa memeluk dan mencium pipinya padahal ada dirinya di sana. Apalagi jika dirinya tak di sana? Dan katanya dalam pengaruh obat perangsang pula.
"Hania." lamunan Hania buyar demi mendengar namanya disebut.
"Maaf. Aku dan Arga. Kami hanya merasa masih saling mencintai dan ngga bisa menahan hasrat kami yang sudah lama tertahan." Rosa memasang wajah memelasnya sambil meraih tangan Hania mencoba menggenggamnya.
"Terserah. Apapun yang akan kamu katakan aku anggap sebagai dongeng pengantar tidur. Aku bisa menerima masa lalunya sebagaimana dia menerimaku." ucap Hania dengan tenang.
"Aku harus meminta pertanggung jawabannya. Kita sama-sama perempuan. Kamu pasti tau gimana posisiku." Rosa menekan Hania.
"Benarkah? Kalau kamu tau kita ini sama-sama perempuan, harusnya kamu bisa menghargaiku dan ngga akan berbuat hal hina itu dengannya! Kamu tau dia kekasihku, calon suamiku! Tapi kamu malah menyerahkan tubuhmu! Dan sekarang kamu memintaku untuk mengerti posisimu!? Dimana pikiranmu!" bentak Hania.
Entah karena sedang memperjuangakan cintanya atau sedang emosi, Hania yang berhati lembut itu berkata kasar dan membentak wanita cantik tapi tak tahu malu itu. Suaranya yang melengking membuat beberapa pelanggan kafe yang tadinya hanya fokus pada urusannya, kini menoleh ke arah mejanya dan Rosa. Kasak kusuk pun mulai terdengar.
"Dengar baik-baik. Aku ngga akan pernah melepas kekasihku untukmu. Sampai kapanpun!" tegas Hania.
Hania lalu berdiri meninggalkan Rosa yang menatapnya penuh kebencian.
"Lihat aja. Arga pasti balik lagi ke Gue." lirihnya penuh penekanan.
Hania tiba di restorannya dan langsung menuju ruangannya di lantai 2. Dihempaskannya tubuhnya di atas sofa. Wanita cantik itu merasa amat lelah setelah berhadapan dengan Rosa.
"Honey. Tolong jangan salah paham ya." Hania kembali teringat bagaimana Arga menenangkannya.
"Aku dijebak. Ada obat perangsang dalam minumanku. Entah siapa yang menaruhnya. Tapi beneran, Sayang, aku ngga ngelakuin apa-apa. Aku ngga ingat dan ngga ngerasa udah berhubungan seksual dengannya." ucapan Arga membuatnya gemetar membayangkan kegiatan panas Arga dengan wanita lain.
__ADS_1
"Honey. Tolong, percaya padaku. Tetap percaya padaku." Hania dapat mendengar kekasihnya itu menangis diujung ponselnya membuatnya semakin terisak.
"Honey. Please, bicaralah. Jangan diam saja. Aku merindukan suaramu. Sungguh." ucap Arga di sela-sela isaknya.
"Apa Mas mencintaiku?" Hania bertanya untuk meyakinkan dirinya.
Sebenarnya tidak perlu bertanya apalagi membutuhkan sebuah jawaban, sikap Arga yang begitu berhati-hati dalam memperlakukannya seolah dirinya sebuah kaca, sudah merupakan jawaban mutlak jika pria tampan itu mencintainya.
"Tentu, Honey. I love you from bottom of my heart. Kamu yang paling tau perasaanku padamu. Tolong jangan meragukan cintaku, Sayang." rayuan Arga cukup menenangkannya.
"Cepet selesaiin masalah Mas, dan cepet balik ke sini. Aku... Aku kangen." pintanya lirih dan wajahnya merona.
Foto-foto mesra Arga yang dikirim seseorang ke ponselnya membuatnya sempat kehilangan rasa percayanya pada Arga. Tapi kata-kata Arga beberapa hari yang lalu membuat rasa percayanya kembali lagi.
Dan meski kecewa, Hania tidak memungkiri dirinya merindukan pria bertubuh atletis itu. Sudah hampir 3 minggu pria tampan itu berada di kota Surabaya dan selama itu pula wanita cantik itu hanya bisa melihat wajah tampan dan mendengar suara bariton yang lembut itu melalui ponselnya.
Sementara di tempat lain, Arga tengah uring-uringan karena Rosa berani menemui Hania. Iden meneleponnya dan memberitahukan pertemuan kedua wanita itu. Arga sudah merasa ketar-ketir jika Hania akan terpengaruh lagi. Pria karismatik itu sudah berhasil menenangkan wanita pujaannya itu kemarin. Dia tidak ingin kekasihnya itu kembali meradang. Dia takut menghadapi amarah Hania.
"Za, apa hubungan Rosa dengan Oom Aris?" tanya Arga pada Reza yang sedari tadi menemaninya.
"Bukan Pak Aris, Pak. Bu Rosa memang sengaja melibatkan diri untuk kepentingannya sendiri. Anda pasti lebih tau kalau masalah yang satu itu." terang Reza.
"Bukan Oomku? Apa dia?" tebak Arga.
"Sepertinya begitu. Tapi itu juga baru dugaan." sahut Reza.
"Apa aku benar-benar melakukannya? Aku ngga ngerasain apapun, Za. Aku bahkan ngga ingat ada dia di sana." Arga menumpahkan keluhannya pada Reza, bahkan dia membahasakan 'aku' untuk menyebut dirinya.
"Sepertinya ngga, Pak. Anda bahkan tak sadarkan diri saat kami menemukan Anda bersama Bu Rosa." ungkap Reza.
"Kita akan tau setelah cctv ditemukan." lanjut pria berkacamata itu.
"Cctv?" gumam Arga.
"Kalian sudah periksa cctv di mobilku?" pertanyaan Arga seperti sebuah ingatan yang kembali di benak Reza.
"Ah. Kenapa tidak terpikirkan? Lemot sekali." gumam Reza dalam hati.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, beri hadiah ya.... komen juga boleh. untuk dukung karyaku ini 🤗🤗🤗😘
__ADS_1