Yang Terakhir

Yang Terakhir
82. Pria Yang Mengangumi


__ADS_3

Hania berjalan tergesa-gesa karena acara yang melibatkannya sebagai salah satu tamunya akan segera dimulai. Beberapa staf panitia langsung menyambutnya begitu melihat kedatangannya.


Sebuah spanduk besar bertuliskan 'Happy Cooking' dengan font menarik sebagai latar belakang panggung yang didirikan di hall sebuah hotel berbintang yang diselenggarakan ibu-ibu sosialita kelas atas. Sebuah seminar tentang menu sehat dan demo memasak yang mendapuk Hania sebagai chef nya. Entah tujuannya untuk benar-benar mengetahui menu-menu sehat atau hanya sekedar mengisi waktu luang dengan berkegiatan yang bermanfaat. Yang jelas, Hania juga ikut merasakan manfaatnya. Dia bisa keluar dari rutinitasnya yang melelahkan, juga mendapat lebih banyak kenalan baru.


Acara berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Molor dari waktu yang ditetapkan. Karena antusiasnya para peserta yang rata-rata sosialita muda yang masih ingin belajar memanjakan perut para suami.


"Maaf ya Mba Hania, kita banyak tanya-tanya gimana bikin masakan yang enak biar suami kita-kita ini betah di rumah, ya 'kan?" ucap seorang anggota geng sosialita yang berisikan istri-istri para pengusaha ibukota itu.


"Iya Mba. Kata orang-orang tua nih ya, kalau mau bikin suami kita betah di rumah tuh, manjakan perutnya juga. Kalau dia suka sama masakan kita, pasti deh bakal pulang terus kalau laper." timpal yang lainnya yang usianya kira-kira sepantaran dengan wanita yang tadi.


Hania hanya tersenyum menanggapi obrolan para sosialita muda itu. Dalam hati, wanita cantik bermata kelinci itu merasa miris. Dulu, mantan suaminya, Ryan juga selalu dimanjakan perutnya. Memang Ryan selalu pulang saat waktunya makan kecuali makan siang. Tapi nyatanya, masakan Hania tidak mampu membuat pria itu bertahan di sisinya.


"Jeng Hania? Bu dosen mau ketemu." sapaan seorang wanita yang tadi bertugas sebagai MC membuat Hania menoleh.


"Saya permisi dulu ya mama-mama muda yang cantik. Semoga belajar masak hari ini bisa langsung memuaskan suaminya." pamit Hania, yang tanpa di duganya langsung mendapat ciuman di pipi kanan dan kirinya dan juga pelukan hangat dari para istri pengusaha itu.


"Lain waktu mau ya diundang lagi. Kita langsung cocok lho sama Mba Hania. Lain waktu, bagiin resep tetap langsingnya juga ya." ucap salah seorang dari mereka menekankan kalimat terakhirnya, membuat teman-temannya yang lain ikut menimpali.


Setelah acara pamitan yang dramatis itu berakhir, Hania langsung mengekor MC tadi menemui Bu dosen.


Bu dosen yang dimaksud adalah seorang pengajar paruh baya di sebuah universitas negeri di ibukota bernama ibu Heriana, yang didapuk sebagai pembicara dalam seminar tadi. Merasa memiliki pemikiran yang sama tentang gizi, Bu dosen itu langsung akrab dengan Hania. Wanita paruh baya itu akan undur diri. Dia merasa ingin menyapa Hania sebelum kembali.


"Jeng Hania, sampai ketemu lagi di lain kesempatan ya." ucap dosen itu seraya mencium pipi kanan dan kiri Hania.


"Semoga ya Bu, saya akan sangat merasa senang bisa bertukar pikiran dengan Ibu lagi." balas Hania seraya tersenyum.


Tanpa Hania sadari, sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Sepasang mata milik pria yang sangat mengaguminya sedari dulu.


Hania langsung meninggalkan hall tempat berlangsungnya acara yang mengundangnya barusan. Wanita itu berjalan dengan langkah sedang. Tidak terburu-buru juga tidak santai. Tiba di depan lift, Hania berdiri menunggu bersama dengan pengunjung yang lain yang ingin menaiki lift itu. Pandangannya fokus ke depan, ke arah pintu lift. Hingga sebuah colekan di bahunya membuatnya menoleh ke kanan.


"Hai." Hania melihat seorang pria tampan menyapanya dan sedang tersenyum manis padanya.


"Masa' lupa sama saya?" tanya pria itu yang menyadari tatapan mata Hania seperti menelisik dirinya.


Hania menggali ingatannya. Dimana sekiranya dirinya pernah bertemu dengan pria di depannya itu. Apakah dia mengenal pria itu? Dirinya terlalu fokus mengingat-ingat hingga mengabaikan pintu lift yang terbuka.


"Saya Ferdy." pria itu mengingatkan Hania.


"Ferdy..." gumam Hania, dia masih mencoba mengingat.


"Kita ketemu di seminar bisnis beberapa waktu yang lalu. Saya EO yang menangani seminar itu. Kita kerja bareng waktu itu. Kami menggunakan jasa katering dari restoran Mba." pria bernama Ferdy menjelaskan secara gamblang dimana mereka bertemu.


Hania langsung membulatkan matanya. Dia ingat sekarang. Pria bernama Ferdy itu memang pernah mengajaknya bekerjasama. Dan setelah itu mencoba akrab dengannya. Wanita cantik itu merasa Ferdy memiliki maksud yang lain. Pria tampan itu menyukainya. Tapi Hania selalu menjaga jarak. Apalagi Ferdy sudah beristri.


Dia ingat dari sekian pria yang mendekatinya, Ferdy termasuk yang paling bersemangat. Pria tampan itu selalu memberi perhatian khusus padanya. Dari bunga hingga hadiah-hadiah mewah. Meski selalu ditolak, pengusaha EO itu pantang menyerah. Hania sampai kesal dibuatnya. Pasalnya pria itu sudah memiliki pasangan sah. Yang bujang saja ditolaknya apalagi sudah beristri seperti Ferdy.

__ADS_1


"Sudah ingat?" tanya pria tampan itu.


Bibir pria itu tetap tersenyum. Senyum yang teramat manis untuk dilewatkan. Membuat wanita manapun pasti terpesona melihat senyumnya itu. Tapi dia Hania. Wanita itu tidak mudah terpengaruh oleh keindahan senyum dan paras tampan pria itu. Apalagi kini hatinya sudah terpaut pada Arga.


Sekian lama tidak bertemu rupanya tidak menghapus rasa sukanya pada Hania. Ferdy sempat berpindah kota karena harus mengembangkan usahanya di bidang event organizer. Dan selama itu pula dia tidak lagi menemui Hania.


Di awal-awal kepindahannya, dia selalu mencari tahu kabar Hania dan masih mengirimi Hania hadiah. Hingga suatu ketika, sang istri mencurigainya dan menangkap basah dirinya menatap foto-foto Hania. Kontan istrinya marah besar dan mengadukannya pada orangtua Ferdy. Sejak itu, pria tampan itu seperti melupakan Hania. 


Dia baru seminggu kembali ke ibukota. Ketika akan kembali ke perusahaan setelah menemui kliennya, pria itu melihat Hania sedang berbincang dengan beberapa wanita cantik. Seketika itu jantungnya berdetak kencang. Dan ingin menemui wanita cantik itu yang ternyata masih disukainya.


"Ah. Iya. Anda Pak Ferdy. Apa kabar?" sapa Hania formal.


Jelas saja formal. Hania tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Setidaknya pria yang mendambanya berkurang satu. Tapi pria itu ada di hadapannya kini. Masih dengan tatapan mendamba yang sama seperti dulu. Membuatnya jengah.


"Saya baik." sahutnya seraya terkekeh.


"Kenapa jadi seformal ini sih, Hania?" lanjutnya.


"Formal? Bukankah memang harus begitu? Kita ngga dekat dan ngga memiliki hubungan apa-apa." Hania menciptakan batasan yang jelas.


Ferdy terkekeh lagi. Hatinya nyeri mendengar Hania mengucapkan kata-katanya barusan. Wanita itu wanita yang disukainya. Wanita yang menimbulkan getaran dalam hatinya. Meski dirinya sudah beristri, tapi baru dengan Hania dia merasakan jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir ketika memikirkannya, apalagi bertemu seperti itu.


Pernikahannya dengan sang istri hanya hasil perjodohan. Dia akhirnya menerima pernikahan itu karena dulu dia menyukai sang istri. Pria itu mengira mencintai sang istri hingga dirinya bertemu Hania. Dan merasakan sesuatu yang tidak dirasakannya pada sang istri. Membuatnya galau.


Drrrt drrrt drrrt.


"Halo, Mas?" sapanya lembut seperti biasa.


"Kamu dimana, Han?" tanya Arga.


"Aku masih di hotel nih." lanjutnya.


"Mau pulang bareng? Aku di dekat situ." tawar Arga di seberang ponselnya.


"Mas di sekitar sini? Boleh. Tapi mobilku gimana?" tanpa pikir panjang Hania langsung menerima tawaran Arga.


Pikirnya itu adalah kesempatan untuk Hania menghindari Ferdy. Wanita itu juga berpikir untuk memperlihatkan bahkan mengenalkan Arga sekalian agar pria di depannya itu tidak merayunya lagi.


"Mobilmu biar dibawa Reza. Aku habis nemuin klien sama Reza barusan." terang Arga.


"Oke deh. Aku tunggu ya, ngga pake lama." ucap Hania lalu menyudahi obrolannya di ponselnya.


Hania kembali menatap Ferdy yang sedang menatapnya.


"Kamu sibuk?" tanya Ferdy.

__ADS_1


"Ah. Iya. Aku ada janji dengan seseorang." sahut Hania.


Jawaban Hania membuatnya kehilangan semangat. Ada rasa kecewa yang menelusup di hatinya. Sebenarnya Ferdy ingin mengajak Hania mengobrol lebih lama lagi, tapi sepertinya wanita itu sibuk. Atau pura-pura sibuk untuk menghindarinya?


Tidak banyak obrolan yang terjadi karena Hania enggan untuk menaggapi pertanyaan-pertanyaan Ferdy yang bersifat pribadi. Tak berselang lama, Arga menghubunginya lagi menanyakan keberadaannya.


Arga berjalan dengan penuh pesona ke arah Hania yang menunggunya. Beberapa pasang mata wanita menatapnya penuh puja. Wanita cantik itu belum menyadari kehadiran pria tampan itu di sana. Dirinya masih terlihat mengobrol dengan Ferdy. Ferdy benar-benar berusaha menahannya di sana.


"Han?" panggil Arga lembut membuat Hania menoleh. Seketika senyumnya mekar seperti bunga matahari. Lebar.


"Mas udah di sini?" sahutnya seraya melingkarkan tangannya ke lengan kiri Arga, membuat pria tampan itu heran.


Arga menatap Ferdy dengan tatapan tak suka. Dia beralih menatap Hania lalu pada tangan wanita itu, yang melingkar di lengannya. Sepertinya wanita itu merasa tak nyaman dengan pria di depannya itu. Arga merasa pria itu sedang mencoba mendekati Hania. Alarm peringatan langsung berbunyi. Reflek tangannya melingkar di pinggang Hania.


"Dia siapa?" tanya Arga dengan suara yang terdengar datar, masih menatap Ferdy.


"Oh, iya. Dia Pak Ferdy. Dulu kami terlibat kerjasama. Tapi itu udah lama, Mas." terang Hania benar-benar menunjukkan bahwa Ferdy tidaklah berkesan bagi Hania.


"Ferdy." Ferdy mengulurkan tangannya, dirinya tidak ingin mencederai harga dirinya.


"Arga, calon suami Hania." Arga menyambut uluran tangan Ferdy, memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Hania.


Ferdy terkejut mendengarnya. Hania memiliki kekasih? Ah, bukan. Calon suami. Iya, tepatnya calon suami. Itulah yang didengarnya dari pria bernama Arga itu. Dadanya terasa sesak. Saking sesaknya sampai -sampai terasa akan meledak.


Bukan hanya Ferdy yang terkejut. Hania pun sama terkejutnya. Arga mengaku sebagai calon suaminya. Lagi-lagi pria tampan itu bertindak sesuka hatinya. Atau menenangkannya? Bisa saja Arga tahu dirinya tidak nyaman berada di dekat Ferdy. Jika memang seperti itu, betapa tanggapnya pria seksi itu. Hania mendesah perlahan seraya menatap Ferdy.


"Apa masih ingin berbincang dengannya?" tanya Arga yang sudah gerah dengan tatapan Ferdy pada Hania.


"Hah?" Hania melongo mendengar Arga malah bertanya begitu, bukannya mengajaknya segera pergi dari sana.


"Bisa kita pulang sekarang?" Hania langsung menganggukkan kepalanya mantap.


Arga terkekeh melihat tingkah Hania. Menurutnya menggemaskan.


"Wah, sepertinya udah ngga sabar kangen-kangenan sama aku, ya?" goda Arga, membuat Hania mencubit perut Arga.


Mendapat cubitan dari Hania, Arga terkekeh. Pria itu menggenggam tangan Hania, membawanya mendekat ke bibirnya lalu mengecupnya lembut. Membuat Hania terkejut tapi dia diam saja.


"Aku merindukan cubitan ini, Han." ucapnya lembut seraya menatap mata Hania. Wajah Hania langsung merona.


Hon? Honey? Ferdy yang berdiri di sana benar-benar seperti tak dianggap. Pria itu mematung menyaksikan pemandangan romantis itu. Pikirannya jadi melayang kemana-mana.


"Pak Ferdy, kalau begitu kami permisi." pamit Arga, pria karismatik itu menarik Hania berlalu dari sana.


Arga masih melingkarkan tangannya dan sengaja melakukannya. Selama Hania tidak menyadarinya, tangannya akan berada di pinggang Hania terus. Pria penuh pesona itu terus tersenyum, Hania belum menyadari pinggangnya dalam lingkaran tangannya.

__ADS_1


*******


Thanks for reading!


__ADS_2