
"Lepas! Kalian ngga bisa nangkap aku atas dasar tuntutan itu! Lepas!" seru Handoko yang kini tengah diseret oleh pihak berwajib dari apartemennya.
"Kalian? Aku akan tuntut balik kalian! Kalian akan rasakan pembalasanku! Lihat saja nanti!" pria itu berhenti di depan Arga dan Iden yang tengah menantinya sambil bersedekap di depan pintu lift ketika melihat kedua pria itu.
Arga hanya menatapnya sepintas tanpa ingin menanggapi ocehan pria tua itu, lalu menekankan tombol lift agar pintu lift terbuka. Sementara Iden terkekeh menertawakan pria tua itu.
Percaya diri sekali pria tua itu. Bagaimana mungkin Handoko akan membalasnya? Sedangkan dia dan Arga tidak berencana membiarkannya keluar dari penjara dalam waktu dekat. Mungkin saja pria tua itu akan mati di selnya.
"Aku serius! Kalian belum tahu bagaimana reputasiku dan sebentar lagi akan kutunjukkan pada kalian!" hardik Handoko yang masih bertahan meski kedua polisi yang mencekalnya sudah menarik-nariknya masuk ke dalam lift.
Arga berdecih. Lalu berdiri di depan pintu lift dan menahannya agar tetap terbuka dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya lagi dimasukkannya ke dalam saku celananya.
"Persiapkan saja pengacara yang handal, Handoko. Aku pastikan kali ini kamu dan pamanku akan tamat. Dan semua yang terlibat akan kuseret tanpa sisa!" tegas Arga.
Meski tidak meletup-letup, ucapan Arga penuh tekanan di setiap katanya, membuat pria tua itu terdiam.
Ekspresi Arga yang dingin seperti yang selalu ditunjukkannya pada lawan bisnisnya tampak begitu kentara. Handoko sampai merasa sedikit gentar padanya. Dirinya memang tidak pernah terlibat secara langsung baik bisnis maupun masalah dengan keponakan bosnya itu. Ternyata pria muda itu garang juga meski tak pernah terlihat menunjukkan taringnya. Ancamannya terasa seolah tak akan membiarkannya lolos dengan mudah.
Polisi dan Handoko tiba di lantai dasar apartemen. Sudah banyak wartawan yang menunggu di sana. Meski hanya sebagai tangan kanan, Handoko juga dikenal dikalangan pebisnis dan penikmat berita bisnis. Dialah yang akan mewakili Aris untuk pertemuan bisnis ketika Aris berhalangan hadir, atau berhadapan dengan para pemburu berita.
"Ah, sial!" umpatnya dalam hati.
"2 anak bau kencur tadi pasti sudah nyiapin ini semua!" geramnya.
Kepalanya menunduk, namun matanya melirik nyalang memperhatikan tingkah laku para wartawan yang haus berita. Apalagi Handoko dan atasannya yang jarang nampak di depan publik itu sering terlibat kerjasama dengan pihak pemerintah daerah bahkan pusat.
Adanya kasus yang menimpa Handoko pasti akan disangkut pautkan dengan beberapa pejabat yang diduga melakukan kecurangan. Pasti beritanya akan menggemparkan masyarakat. Padahal kasus yang dihadapi Handoko bukan itu. Aris dan Handoko selalu bersikap profesional dalam bekerja. Masalah yang dihadapi Handoko dan atasannya adalah masalah pribadi. Tepatnya masalah keluarga.
"Pak Handoko, apakah penangkapan anda ini terkait penggelapan dana yang dilakukan oleh pejabat yang saat ini tengah bekerjasama dengan anda?" salah seorang wartawan mulai mengajukan pertanyaan begitu melihat Handoko.
"Apa tanggapan bapak mengenai gratifikasi yang belakangan ini kabarnya berhembus kencang?" tanya wartawan lainnya.
"Apakah Pak Aris terlibat dalam gratifikasi dan penggelapan dana tersebut?" pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar semuanya diluar kasus yang kini menimpanya.
Sambil terus berjalan, Handoko mengeratkan kepalan tangannya dan mengeraskan rahangnya. Pria tua itu kesal dengan para wartawan dan juga pengundangnya. Kepalanya berdenyut. Mendadak pusing. Tanpa menjawab satupun pertanyaan para wartawan itu, Handoko terus melangkah masih dengan kepala menunduk.
"Papa!" sebuah suara melengking yang terdengar memenuhi lobi apartemen Handoko, membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
Dengan setengah berlari, Bela menghambur ke arah sang papa. Suaranya yang melengking membuat barisan para pemburu berita juga menoleh ke arahnya.
"Pa? Ke-kenapa ada polisi yang bawa papa? Pak! Lepasin papa saya! Papa saya salah apa!?" pekiknya seraya mencoba melepaskan cekalan tangan polisi di lengan Handoko.
Bela memang tidak menyukai perbuatan papanya yang jahat. Tapi, Bela tetap saja terkejut dan tidak terima jika papanya harus ditangkap pihak berwajib. Baginya papanya hanya melakukan tugas yang diberikan atasannya, Aris.
"Maaf, Bu. Kami hanya melaksanakan perintah. Sebaiknya anda tidak menghalangi dan bersedia bekerjasama." ucap salah seorang polisi tadi dengan tegas membuat Bela hanya bisa memeluk papanya tanpa bisa protes lagi.
__ADS_1
Setelah bersusah payah melewati gerombolan pemburu berita yang mengeroyoknya, akhirnya Handoko sampai juga ke dalam mobil polisi yang menjemputnya.
Sementara itu, Bela hanya menatap kepergian papanya dengan linangan air mata. Wanita seksi itu sudah menduga jika papanya akan terkena masalah jika terus-terusan mengikuti perintah atasannya. Tapi tetap saja rasanya dirinya tidak percaya ketika papanya benar-benar terkena masalah.
Dengan langkah gontai, Bela kembali ke apartemen papanya. Bela melamun hingga tak menyadari jika pintu lift sudah terbuka.
"Baby?" sapa Iden yang terkejut saat melihat keadaan sekretarisnya sekaligus teman tidurnya itu dalam keadaan muram.
"Yang?" Bela langsung menghambur ke pelukan pria blesteran itu dan menangis lagi di dada bidang pria itu.
"Ehem!" dehem Arga yang jengah melihat pasangan itu berpelukan di depan lift.
"Bisa minggir!? Ini jalan umum, Bung!" sinisnya.
Bela yang sudah hapal suara berat yang menegurnya dan Iden, seketika menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya. Dengan kasar wanita itu mengusap sisa air matanya dan merapikan rambutnya juga pakaiannya. Entah kenapa, dia malu ditemukan dengan penampilan kacau seperti itu oleh Arga. Jantungnya masih berdebar dan darahnya berdesir ketika bertemu dengan pria tampan nan karismatik pimpinan perusahaan tempatnya bekerja itu.
Iden sedikit kesal dengan sikap Bela. Entahlah. Mendadak tidak suka jika Bela masih menyimpan rasa pada Arga, bos sekaligus sahabatnya itu. Cemburukah dia? Hah!
"Lu duluan, nanti gue susul." ucapnya pada Arga.
Mereka berdua berencana akan mengikuti Handoko ke kantor polisi untuk memberi kesaksian. Di sana sudah ada Reza dan Pak Sam pengacara keluarga Arga sekaligus perusahaannya.
"Jangan lama!" tekan Arga lalu masuk ke dalam lift.
Iden menggenggam tangan Bela selepas kepergian Arga. Menuntunnya kembali ke apartemen Handoko. Bela tidak ikut tinggal di sana, karena tidak ingin menjadi bulan-bulannya papanya.
Sejak mengenal Iden, Bela memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen sewaannya. Bukan apartemen mewah seperti milik Iden atau papanya. Tapi juga tidak bisa dibilang sederhana. Iden memang tidak menanggung biaya hidup Bela, pria itu tidak mau terbebani meski dia mampu. Dia hanya tidak merasa hidup wanita teman tidurnya itu bukan tanggung jawabnya. Tapi terkadang Iden memberinya hadiah berupa barang-barang bermerk internasional yang harganya selangit atau mentraktirnya jalan-jalan ke luar negeri.
"Gue ngerasa bersalah sama papa, Yang. Gue harus gimana?" isak Bela setelah berada dalam apartemen Handoko.
"Begini lebih baik, Bela. Daripada ditunda-tunda, akan makin banyak kejahatan yang papa lu lakukan. Apa lu ngga lebih kasihan lagi? Ini aja, gue ngga tahu seberapa banyak tuntutan Arga. Ditambah tuntutan ortu gue. Udah, yang penting lu ngga terlibat. Serahin semua sama hukum yang berlaku. Oke?" hibur Iden seraya mengusap-usap rambut dan punggung Bela, sementara wanita itu masih menangis.
Bela merasa dirinya menghianati papanya. Tapi disisi lain, wanita itu tidak mau papanya terus-terusan berbuat jahat. Berhasilnya Handoko dibekuk tidak lepas dari peran Bela yang mau membuka mulutnya pada Iden tentang sepak terjang papanya yang diketahuinya. Berangkat dari keterangan Bela, Iden dan Arga semakin mudah mengumpulkan bukti kejahatan pria itu yang diotaki Aris, pamannya Arga.
Sementara di tempat lain, Rosa yang masih setia menikmati mimpi, terpaksa terbangun. Bel pintu apartemen yang ditempatinya terus berbunyi, mengganggu pendengarannya saja. Wanita itu terduduk sambil memicingkan sebelah matanya mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan berukuran cukup besar itu.
"Dia belum datang? Kemana dia? Selalu aja alasannya kerja, lembur, keluar kota. Hah!" keluh Rosa dalam hatinya.
Ting tong! Ting tong!
Bel berbunyi lagi. Membuatnya mengeram kesal. Disambarnya kimono yang tersampir di sandaran sofa lalu memakainya untuk menutupi baju tidurnya yang menerawang. Tiap malam dia memang suka berpenampilan minim begitu untuk menggoda Galih. Tapi sialnya, pria ganteng bertubuh atletis itu bahkan tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Klek!
"Selamat siang. Ibu kami tahan karena tuntutan atas anda." ucap seorang anggota polisi pria dengan menunjukkan surat perintah penangkapan, di belakangnya ada 2 polisi wanita.
__ADS_1
Rosa terbelalak. Sungguh dia terkejut setengah mati. Saking terkejutnya, wanita itu sampai terpaku. Bukan pria atletis berseragam coklat ini yang dinantinya. Tapi kenapa malah dia yang datang? Kemana Galih? Jantungnya berdetak kencang. Dia gemetar. Berharap Galih segera datang.
"Silakan ikut kami ke kantor polisi. Anda bisa meminta pengacara untuk mendampingi." anggota polisi tadi berucap lagi seketika mengembalikan kesadaran Rosa.
"Salah saya apa? Siapa yang menuntut saya? Saya baru saja kembali ke sini!" protes Rosa dengan suara bergetar.
Jujur, Rosa takut saat ini. Selama ini dirinya hidup tenang dan nyaman dengan fasilitas dari pamannya Arga, yang menjamin dirinya tidak akan terseret masalah yang melibatkan dirinya beberapa bulan yang lalu. Di saat dirinya menganggap keadaannya sudah aman dan dia kembali ke tanah air, dirinya malah di tangkap.
"Anda sudah melakukan perbuatan kekerasan fisik yang mengakibatkan seseorang celaka, juga ikut merencanakan manipulasi atas identitas seseorang. Dan masih ada beberapa lagi kejahatan yang anda lakukan. Sebaiknya anda ikut kami sekarang!" terang anggota polisi itu.
"Tapi saya merasa tidak melakukan apapun!" Rosa sudah mulai panik.
Dengan cepat ditutupnya pintu apartemen itu namun anggota polisi yang hanya dibiarkan berdiri di luar itu sudah sigap menahannya dengan kakinya.
Sementara anggota polisi wanita yang berjumlah 2 orang itu langsung merangsek masuk dan dengan cekatan menangkap Rosa yang berlari hendak masuk ke kamar.
"Sebaiknya anda bisa bekerjasama, Bu. Segala bentuk perlawanan hanya akan memberatkan hukuman anda nanti." tekan anggota polisi yang tadi lagi.
"Akh!" rintih Rosa yang kesakitan karena kedua tangannya ditarik ke belakang sementara tubuhnya dihimpit ke dinding.
Dengan cepat, tangan Rosa dipasangi borgol agar tidak leluasa bergerak. Wanita cantik dan seksi itu tidak berdaya. Apalah dirinya yang memiliki tubuh ramping dan feminin jika dibandingkan dengan 2 anggota polisi wanita yang sudah terlatih dan pasti gesit dan kuat. Jelas dia kalah telak.
"Selamat siang, Pak Galih." Rosa langsung menoleh ketika mendengar nama Galih disebut.
"Siang." sahut Galih datar.
"Galih? Lu datang? Bantuin gue, Galih!" rengek Rosa.
Galih hanya menatap wanita seksi itu datar. Tak tega rasanya melihat wanita secantik Rosa diperlakukan begitu. Tapi jika mengingat betapa jahatnya wanita itu, Galih kembali geram. Pria berwajah tenang itu menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Terimakasih, Pak, atas kerjasamanya. Anda harus siap datang ketika keterangan anda dibutuhkan." ucap anggota polisi yang sepertinya memiliki pangkat yang lebih tinggi dibandingkan kedua temannya, karena sedari tadi pria itu terus yang berbicara.
"Galih! Lu apa-apaan!? Jadi lu ngelaporin gue!? Salah gue apa sama lu!? Hah!?" pekik Rosa tidak terima.
Galih hanya mendengarkan seruan Rosa.
"Maaf, jika boleh, biarkan dia berganti pakaian dulu. Saya rasa pakaian yang dipakainya tidak sopan." pinta Galih mengabaikan wanita seksi itu, dan polisi pria tadi menyetujuinya.
"Galih! Gue nanya ke elu!" pekik Rosa lagi.
Rosa semakin kesal, bukannya menanggapi pertanyaannya, pria itu malah membahas pakaian yang dikenakannya. Memangnya apa pedulinya? Dia saja tidak pernah datang sejak meninggalkannya di apartemen itu. Dan tahu-tahu datang membawa petaka. Huh!
"Maaf. Tapi gue harus lakuin ini." ucap Galih setelah berada di hadapan Rosa.
*******
__ADS_1