Yang Terakhir

Yang Terakhir
60. Digoda Wanita Penggoda


__ADS_3

Sampai di depan lobi perusahaannya, Arga disambut sapaan hormat dari beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Pria yang selalu bersikap dingin ketika tidak bersama Hania itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Pak", sapa sekretaris Iden.


Wanita seksi itu juga ada dalam barisan karyawan yang menyapanya. Arga terus berjalan tanpa menghiraukannya. Wanita yang selalu berbaju minim itu sudah kesal saja. Merasa segala upayanya menarik perhatian bosnya itu tak membuahkan hasil. Bukannya tertarik, melirik saja tidak. Malah dirinya jadi santapan tatapan liar para karyawan pria di perusahaan itu. Duren yang dilempar, kesemek yang didapat. Sial.


Sepertinya Arga sedang apes. Ternyata sekretaris Iden juga menaiki lift yang sama dengannya. Pria itu langsung memasang wajah datar cenderung dingin. Hanya berdua dengan wanita seksi itu malah membuat wanita itu semakin menjadi.


Sekretaris yang Arga tidak ingin tahu namanya itu menggodanya sangat halus jadi terkesan natural. Didepan Arga wanita itu berjongkok, berpura-pura membenarkan lilitan tali sepatu high heelnya, padahal kondisinya baik-baik saja. Kontan dada besar yang padat itu menyembul diantara kemeja yang kancingnya terbuka lebar. Paha putih mulusnya langsung terekspos, bahkan celana d*l** berwarna hitam terlihat jelas. Arga hanya melirik. Dia merasa terjebak. Pasalnya, dirinya sudah tidak peduli dengan keberadaan wanita itu tapi mendengar desisannya, pria itu spontan melirik.


"Apa kamu ngga tahu peraturan di perusahaan ini?", tanya Arga setelah wanita itu kembali berdiri disampingnya.


"Peraturan yang mana ya Pak?", sekretaris Iden balik bertanya sambil memainkan rambutnya.


"Di kantor ini, setiap karyawan diwajibkan memakai pakaian yang sopan. Dilarang memakai pakaian terbuka dan mini", tegas Arga tanpa menoleh pada wanita yang sedang menatapnya penuh damba.


"Tapi Pak Iden menyukai...", kalimat wanita itu terpotong.


"Saya bukan Iden! Kalau kamu berpakaian mini untuk menarik perhatian saya, kamu salah sasaran. Kamu bukan tipe saya", ucap Arga sedikit menyinggung prilaku tak menyenangkan wanita itu.


"Jadi wanita seperti apa yang Bapak sukai?", tanya sekretaris Iden dengan suara yang dibuat sensual seraya menggerakkan jari telunjuknya menelusuri leher jenjangnya terus turun ke arah pa**d***nya.


Arga memalingkan wajahnya. Pria  berkarisma itu sudah kesal dan muak dengan prilaku wanita itu. Sedari tadi hanya menggodanya saja. Memperlihatkan bagian tubuh yang menggoda iman kaum adam padanya. Arga mengakui wanita itu cantik dan seksi. Dirinya pernah secara tak sengaja berpelukan. Bukan! Dipeluk. Iya, pria tampan itu pernah dipeluk sekretaris Iden. Dadanya yang besar itu menempel sempurna di dada Arga. Jadi sudah pasti dengan posisi mereka yang menempel itu membuat Arga dapat merasakan dada besar itu menempel di dadanya, membuatnya terkejut. Wajahnya juga cantik. Wanita itu benar-benar pintar bersolek. Tapi Arga tidak merasakan getaran apapun. Bahkan "jendral jack" tidak bereaksi. Dasar penggoda!


Arga semakin kesal saja jika mengingat peristiwa yang telah lalu itu. Beraninya wanita itu menggodanya. Jika bukan karena permintaan Iden, sudah pasti wanita itu dipecat dan dimasukkan dalam daftar hitam. Arga menekan tombol lift.


"Keluar!", perintah Arga penuh penekanan.

__ADS_1


Sekretaris Iden menoleh pada pintu lift, terlihat lantai itu sepi, lalu menatap Arga lagi.


"Kenapa Bapak nyuruh saya keluar? Ruangan saya satu lantai dengan Bapak", wanita itu memasang wajah memelas, menolak keluar dari lift seraya menggigit bibirnya.


"Wanita ini, bener-bener nekat. Berani sekali dia", batin Arga.


"Kamu ini ngga tahu malu ya?", Arga terkekeh bermaksud mengejek wanita itu.


"Wanita sepertimu, saya bisa mendapatkannya dengan mudah. Bahkan yang lebih darimu. Tapi wanita sepertimu bukanlah tipe wanita yang akan saya lirik apalagi untuk dikencani dan menjalin hubungan selanjutnya", mulut Arga memang pedas, dan akan sulit dikontrol jika dirinya sudah merasa kesal.


Wanita itu menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak habis pikir dengan bosnya itu. Bagaimana bisa pria itu tidak tertarik padanya? Padahal tubuhnya indah dan wajahnya juga cantik. 


"Keluar!", bentak Arga, jarinya masih menekan tombol lift agar pintu tidak tertutup.


Wanita yang sedang tenggelam dalam pikirannya itu tersentak saking terkejutnya. Lalu menoleh pada pintu lift. Sudah ada beberapa orang karyawan dilantai itu, sedang menatapnya. Iya, hanya menatapnya karena mereka tidak akan berani menatap Arga. Apalagi terlihat pria itu sedang marah. Dengan rasa malu bercampur kesal, sekretaris Iden melangkah keluar lift menyisakan Arga. 


Sesampainya didepan meja Dian, Arga kembali mendapat sapaan dari sekretarisnya yang juga cantik dan seksi. Pria berkarisma itu hanya melewati Dian dengan wajah yang ditekuk. Hah. Dengan Dian yang cantik dan seksi, sudah itu wanita itu termasuk wanita baik-baik saja, dirinya tidak tertarik apalagi dengan wanita penggoda seperti sekretaris Iden.


Arga langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Menatap permukaan meja yang masih bersih, hanya ada beberapa tumpukan buku disana. Dian hanya berdiri manis tidak jauh dari meja atasannya itu


"Apa jadwalku?", tanya Arga seraya menoleh pada sekretarisnya.


"Ehem", Dian berdehem menetralkan suaranya.


"Hari ini, jam 10 anda akan ada kunjungan ke workshop bersama pimpinan Bintang Kejora, tapi sebelumnya mereka akan kesini dahulu untuk membicarakan beberapa kesepakatan", Dian mulai membacakan agenda Arga.


"Lalu, jam 1 siang ini, anda punya janji temu dengan Ibu Madewi dari Madewi Building di perusahaan Ibu Madewi, anda akan ditemani Bapak Iden", lanjut Dian terus membacakan agenda atasannya.

__ADS_1


"Sorenya, masih bersama Bapak Iden, jam 3, tapi waktunya masih belum fix, ini hanya perkiraan. Akan saya sesuaikan dengan pertemuan kedua agar tidak terlalu mepet. Anda akan bertemu dengan Bapak Galih dari Great Interior Design Bandung, tempatnya masih dikonfirmasikan. Saya belum bisa memutuskan. Bapak akan menemui utusan dari Bandung di kantor atau di luar, mengingat waktunya sudah sore", ucap Dian panjang lebar menjelaskan agenda terakhir atasannya itu.


"Atur pertemuannya di sekitar Madewi Building saja", putus Arga yang diangguki Dian, tampak sekretaris itu mencatat intruksi Arga.


"Itu saja Pak, agenda anda hari ini. Dan berikut beberapa proposal pengajuan kerjasama yang anda minta", Dian menyerahkan beberapa berkas yang tadi juga dibawanya masuk sekaligus.


Arga meraih satu berkas pengajuan kerjasama yang dimintanya. Pria berkarisma itu harus bergerak cepat untuk menstabilkan saham perusahaannya. Hari ini sepertinya pekerjaannya padat, akan menguras energi dan memeras otaknya.


"Apa Bapak masih membutuhkan bantuan saya disini?", tanya Dian yang melihat bosnya itu mulai serius membaca proposal yang dipegangnya.


"Ah, iya. Tolong buatkan saya kopi seperti biasa", perintah Arga.


Arga masih memeriksa proposal-proposal yang akan dibawanya menemui calon investor. Kopi hitam yang diminta Arga tadi juga sudah dingin tapi belum habis. Pria itu tidak terlalu menyukai kopi seduhan sekretarisnya. Meskipun takaran kopi dan gulanya sesuai intruksinya tapi rasanya berbeda dengan kopi buatan Hania. Mengingat wanita cantik bermata kelinci itu mendadak dirinya rindu. Lengkungan senyum terbit dibibir pria tampan itu.


Tok tok tok.


Ketukan dipintu ruangannya melenyapkan bayangan Hania yang hadir dibenaknya sekaligus menghapus senyuman dibibir Arga. Tak berselang lama, masuklah sekretaris cantik dan seksi Arga.


"Maaf Pak, pimpinan dari Bintang Kejora sudah datang", Dian memberitahukan kedatangan tamu Arga, pria itu mengangguk.


Arga berdiri menyambut tamunya. Seperti dugaannya. P.T. Bintang Kejora adalah Mas Harris. Pria tampan itu tersenyum lebar merasa lega, orang yang dikenalnya di Jepang beberapa waktu yang lalu ingin membantunya. Arga menyambut tamu yang dikenalnya sebagai Harris dengan jabatan tangan yang erat dan pelukan ala pria dewasa. Keduanya terlihat akrab.


Harris Wijaya. Pengusaha sukses yang perusahaannya bergerak di bidang Desain Interior itu memiliki beberapa cabang di kota-kota besar dalam negeri dan baru membuka cabang di Jepang. Pria berusia sekitar 45 tahunan itu tertarik bekerjasama dengan perusahaan Arga karena kualitas produknya yang unggul dan menyukai kepribadian Arga.


Pertemuannya dengan pria yang disapanya Mas Harris itu seperti sebuah reuni kecil-kecilan karena mereka lebih banyak bertukar cerita dan pengalaman dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam perusahaan daripada membahas kesepakatan kerjasama. Pasalnya, Harris sudah setuju-setuju saja dengan kontrak kerjasama yang dianggapnya sudah menguntungkannya juga.


Agaknya pertemuan itu menyenangkan kedua  pria beda usia itu. Hingga tanpa terasa, Arga dan Harris harus menyudahi pertemuan mereka siang itu. Dan berakhir dengan penandatanganan kontrak kerjasama. Arga sementara dapat bernapas lega karena tekanan dari beberapa rekanan. Tinggal meyakinkan para rekanan itu bahwa perusahaan dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


*******


Thanks for reading!


__ADS_2