
"Plis, jangan begini. Kamu boleh marah sama aku. Lakukan semaumu. Tapi jangan diamin aku begini. Dan jangan menjauh dariku." rayu Arga tapi tetap saja ada intimidasi didalam kata-katanya.
Arga yang telah melepas sabuk pengamannya membawa Hania ke dalam dekapannya. Dan membiarkan Hania menangis di sana sampai puas.
Dalam hatinya, Arga merutuki dirinya yang tidak bertindak tegas pada Rosa. Entah kenapa tadi dia hanya lebih banyak diam daripada bertindak. Rosa seharusnya tidak berada disekitarnya. Wanita itu pernah membuatnya kecewa meski saat mereka menjalin kasih, Arga tidak benar-benar mencintainya. Hanya semacam rasa bangga karena bisa mendapatkan wanita itu. Rosa terkenal sebagai bunga kampus yang terkenal cantik dan seksi.
2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal satu sama lain. Meski tidak cinta tapi Arga menyayangi wanita itu dan menjaganya dengan baik. Meski berpacaran cukup lama tidak sekalipun Arga melampaui batas meski dia tinggal di luar negeri.
Tapi saat sedang sayang-sayangnya, Rosa malah meninggalkannya. Memilih menikah dengan pengusaha tampan asal negeri kanguru. Dan kabarnya menetap di sana.
Dan itu sudah lama berlalu. Rosa bukanlah wanita yang ingin dinikahinya. Dirinya bahkan lebih mencintai Riska, sang mantan istri.
Tapi tadi, ketika bertemu dengannya, Arga tidak tahu harus apa. Karena memang tidak ada yang istimewa. Pria tampan itu terkejut ketika tiba-tiba wanita itu memeluknya. Sudah lama sekali tidak bertemu, bertukar kabarpun tidak pernah. Lalu tiba-tiba muncul dan berlagak akrab dengannya, membuatnya bingung bertindak dan membuat Hania salah paham saja.
Arga merasakan pergerakan kecil yang Hania timbulkan. Tampak wanita itu ingin melepaskan diri dari dekapannya. Tangisnya pun sudah mereda. Arga mengendurkan dekapannya, dan Hania memundurkan tubuhnya seraya mengusap sisa air mata yang menitik di kelopak matanya. Arga menahan bahu Hania agar wanita cantik itu tetap menghadapkan tubuhnya ke arah Arga. Pria karismatik itu mengusap-usap bahu Hania, masih memberi ketenangan.
"Udah merasa lebih baik?" tanya Arga seraya menatap Hania.
Hatinya berdenyut nyeri, karena ketidak tegasannya itu sudah membuat Hania menangis. Lagi.
Hania menganggukkan kepalanya.
"Maaf, Mas. Kemejanya jadi basah dan kotor." ucap Hania.
Meski penerangan di dalam mobil hanya berasal dari lampu jalanan tapi Hania dapat melihat kemeja Arga yang basah dan kotor, karena mobil Arga parkir tidak jauh dari tiang lampu di salah satu sudut taman itu.
"Ngga masalah. Di sini, memang tempatmu menumpahkan segala rasa, Han. Dada ini siap menjadi sandaranmu." ucap Arga seraya menunjuk dadanya.
Hania terkekeh.
"Gombal banget, sih. Tadi aja dada itu juga buat sandaran perempuan lain!" sinis Hania seraya menyingkirkan tangan Arga dari bahunya, lalu merubah posisinya jadi menghadap ke depan.
__ADS_1
Glek!
Arga menelan ludahnya dengan susah payah bukan karena mulut Arga kering tapi sindiran Hania itu benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah.
"Anggap aja dia ulat keket. Yang sukanya nempel dimana-mana." celetuk Arga mencoba mencairkan suasana hati Hania seraya mengerlingkan matanya.
"Yang ditempelin seneng 'kan?" lagi-lagi Hania bersuara sinis.
Arga mendesah. Dia menggaruk pelipisnya yang mendadak gatal. Hah. Wanita ini. Apakah dia cemburu? Anggap saja begitu. Ah. Caranya cemburu membuatnya frustrasi saja. Baru kali ini, Arga bingung menghadapi wanita yang sedang cemburu.
Dulu, jika mantan istrinya merajuk, Arga bisa membuatnya langsung tersenyum sumringah dengan sekotak hadiah berisi tas branded edisi terbatas. Tapi Hania tidak begitu. Wanita itu tidak silau dengan harta Arga.
"Tadi, aku cuma terkejut, Han. Dan lagi saat ini kami sudah ngga seakrab itu. Aneh aja tiba-tiba aku dipeluk. Lagian aku ngga bales pelukan dia kan?" sanggah Arga.
"Ohya?" cibir Hania seraya melipat tangannya di atas perutnya.
"Iya, Sayang. Aku cuma mikirin kamu aja tadi. Seandainya yang meluk kamu pasti kubalas lebih mesra." goda Arga seraya menyunggingkan senyumnya yang semanis madu.
"Hei. Kamu ngga suka gombalanku? Hum?" tanya Arga seraya membelai pipi Hania dan mengarahkan wajah cantik itu ke arahnya.
Hania langsung salah tingkah. Matanya tidak fokus menatap Arga.
"Go-Gombalan Mas kedengaran aneh." sahut Hania.
Arga tergelak mendengar penuturan Hania. Aneh katanya. Tangannya menarik bahu Hania agar tubuh ramping itu berhadapan dengannya.
"Aku ngga pinter nggombal, makanya mantanku sedikit." Hania mengalihkan tatapannya ketika Arga mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Tapi berkesan." timpal Hania yang membuat Arga terkekeh.
"Kesan yang buruk." sahut Arga seraya memalingkan wajah Hania lagi ke arahnya.
__ADS_1
Arga menatap Hania dengan dalam dan penuh damba. Mengulas senyumnya di bibir yang kata Hania seksi itu, dan perlahan mengelus pipi wanita cantik itu dengan lembut. Sepertinya wanita itu menikmati sentuhan Arga, terlihat dia memejamkan matanya sesaat.
Ya. Hania menikmati sentuhan Arga. Usapan jari Arga di pipinya menimbulkan rasa yang hangat di hatinya. Dan menimbulkan getaran yang aneh di sana. Membuatnya ingin merasakan sentuhan yang lebih. Wanita cantik itu membuka matanya perlahan dan mendapati wajah Arga yang tampan mempesona dengan senyum yang terlihat begitu manis, dan tatapan matanya yang sayu.
Wajah Hania tampak seksi di bawah penerangan lampu jalan yang remang-remang. Tampak merona dan pasrah. Begitu menggoda di mata Arga. Pria tampan itu semakin menikmati godaan di depan matanya hingga dirinya menginginkan sesuatu yang lebih. 'Jendral Jack'nya sudah mulai bereaksi.
Perlahan Arga menge**p bibir merah jambunya Hania. Merasa tidak ada perlawanan, pria tampan itu mulai ******* bibir manis itu perlahan. Semakin lama semakin menuntut. Arga menyesap, dan sedikit memainkan l*d*hnya. Hania pun mengimbangi c*mb**n Arga. Tangannya kini meremas pinggang Arga tanda dirinya begitu menikmati sentuhan Arga.
C*mb**n Arga berpindah ke leher jenjang Hania. Tangannya menahan tubuh rampingnya Hania dan terus memainkan l*d*hnya di sana. ******* Hania lolos begitu saja semakin memancing hasrat pria tampan itu membuat c*mb**n Arga semakin liar. Pria itu kembali mem*g*t bibir Hania. Arga sangat menginginkan tubuh Hania saat ini. Namun pria tampan itu memilih menyudahi c**man panas mereka. Tangannya menangkup wajah cantiknya Hania. Jaraknya sangat dekat, nyaris menempel.
"Aku sangat menginginkanmu, Hania." bisiknya tepat didepan wajah Hania dengan nafas yang memburu dan mata berkabut gairah.
Tak dipungkiri, Hania pun menginginkan Arga. Dia wanita dewasa yang memiliki hasrat. Dirinya menyadari rasa kesal dan marah yang muncul karena Arga didekati wanita lain adalah rasa cemburu. Dia tidak menyukai wanita yang merayu-rayu Arga juga krena dia cemburu. Dan tadi, wanita itu merasa harus mempertahankan Arga, tidak ingin pria itu dimiliki wanita lain, juga karena rasa cemburunya yang besar. Hania tidak ingin terlambat.
"Aku mencintaimu." bisik Hania tepat di depan wajah Arga.
Senyum Arga langsung merekah seperti bunga matahari. Lebar. Hatinya bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya terasa penuh seakan ingin meledak saking leganya. Sungguh, tidak ada hal lain yang ingin di dengar pria karismatik itu saat ini. Sekian lama menunggu akhirnya, dia mendengar Hania mengungkapkan perasaannya. Rasa cintanya padanya.
"Kita akan melakukannya setelah aku menghalalimu. Aku masih bisa menunggu." Arga langsung memeluk Hania.
"Thanks for loving me." isak Hania
Arga melepas dekapannya dan menangkup wajah Hania lagi.
"Hei. Aku yang harusnya bilang begitu. Kamu udah nerima aku dan membuka hatimu untukku. Itu seperti anugerah terindah untukku." ucap Arga seraya mengusap airmata Hania yang mengalir di pipi mulus itu.
"Thanks you, Honey. I love you more." Arga mengecup kening Hania cukup lama dan dalam. Seperti meresapi setiap rasa yang bergejolak.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1