
"Lu masih pengen di sini?" kini tatapan Arga beralih pada Iden yang masih duduk di tempatnya dan fokus pada tabletnya.
Tak berselang lama setelah Galih meninggalkan ruangan itu, Ferry pun ikut undur diri. Pria macho itu cukup lega mengetahui kondisi mental Hania yang sudah semakin membaik. Dan meninggalkan Iden yang tak terpengaruh dengan ketegangan yang terjadi di ruangan itu tadi.
"Ck!" Iden melirik Arga sekilas lalu bangkit dari duduknya yang nyaman.
"Gue balik!" pamitnya pada Arga.
"Sampai ketemu lagi, Hania." lalu menyapa Hania seraya mengerlingkan matanya.
"Ehem!" deheman Arga membuat Iden menaikkan sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyum seolah berkata, see? Yang hanya dibalas senyuman oleh Hania yang paham maksud pria flamboyan itu.
Iden melenggang meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Hania dan Arga yang sedang menahan cemburunya.
"Untuk apa tadi dia ke sini?" tanya Arga seraya menarik tubuh Hania hingga menempel sempurna di tubuh atletisnya.
"Dia? Galih?" tanya Hania memperjelas maksud Arga.
"Ck! Siapa lagi?" kali ini Arga menatap lekat Hania.
Pria tampan nan karismatik itu masih merasa ketakutan jika Hania akan berpaling darinya dan berlari ke arah Galih. Bagaimanapun juga Hania dan Galih sudah sangat lama saling mengenal. Pastilah mereka sudah saling memahami satu sama lain. Galih adalah pria yang paling dekat dengan wanita cantik itu selama ini. Bahkan jauh sebelum wanita cantik itu menikah dan bertemu dirinya.
Dia ingat bagaimana wajah Hania yang berbinar bahagia ketika berbincang dengan Galih. Senyum yang terus mengembang di bibir merah jambunya ketika menatap pria berwajah tenang itu. Bahkan Hania bisa sesering mungkin bersikap manja pada Galih. Sikap yang jarang sekali ditunjukkan padanya. Jujur, dia cemburu. Merasa porsinya masih belum ada apa-apanya di hati Hania dibandingkan Galih.
"Dia ke sini cuma mau ketemu aku. Pengen liat kondisiku." lirih Hania.
Ada rasa nyeri di sudut hatinya. Entah kenapa Arga belum bisa menerima Galih yang merupakan sahabatnya. Pria tampan itu selalu curiga dan posesif jika melihatnya bersama pria itu. Padahal selama ini, Galih tidak pernah menunjukkan sikap yang membuat pria tampan itu harus membentenginya.
Bagaimanapun, dia tetap ingin menjaga perasan Galih yang mencintainya sebagai wanita. Hania tahu pasti, sahabatnya itu pasti terluka melihat Arga yang selalu memamerkan kemesraan dihadapannya. Dirinya jadi tak enak hati. Tapi Arga itu pencumburu. Dia harus terbiasa dengan sifatnya yang satu itu.
"Terakhir kali ketemu, katanya aku ngga ngenalin dia, bahkan aku sampe histeris waktu ngeliat dia. Aku jadi ngerasa bersalah." lanjut Hania dengan wajah murungnya.
Arga memeluk wanita cantik itu.
"Itu bukan salahmu, honey. Dia pasti mengerti. Lagipula sekarang kamu udah lebih baik dan dia udah ngeliat sendiri." ucap Arga melembut menenangkan Hania.
Merasakan perubahan Hania yang menjadi sendu, Arga langsung menurunkan egonya. Yang tadinya, setiap kata yang diucapkan bernada dingin dan datar, kini suara pria itu terdengar empuk dan lembut bagai kue sifon. Mendadak rasa cemburu dan emosinya melempem dan menguap entah kemana. Baginya kondisi mental Hania adalah yang utama. Tidak peduli seberapa marahnya dia karena Hania sudah berdua-duaan dengan Galih.
"Bagiku dia itu udah kayak keluarga. Dia yang selama ini selalu menyediakan ruang dan waktu untukku. Aku senang atau susah, dia yang pertama mendukungku. Cuma dia keluargaku." ucap Hania dengan suara bergetar.
"Kamu anggap dia keluarga?" tanya Arga.
__ADS_1
"Tapi dia mencintaimu, honey!" batin Arga.
Hania mengangguk. Wanita berhati lembut itu sengaja menceritakan hubungannya dengan Galih. Dia ingin Arga menerima sahabatnya itu sebagai teman.
"Aku tau dia cinta sama aku. Aku ngga bisa ngelarang dia untuk punya perasaan itu ke aku. Witing tresno jalaran seko kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa. Itu yang dialami Galih. Tapi dia ngga pernah maksa aku buat balas perasaannya." terang Hania seolah tau keresahan Arga terkait perasaan Galih padanya.
"Aku 'ngerti. Tapi aku ini pencemburu, honey!" ucap Arga.
Hania menatap Arga.
"Aku pengen kamu juga temenan sama Galih, Mas." tuntut Hania.
"Biarin semua mengalir, Hania." Arga mengusap rambut Hania yang semakin panjang.
"Udah, kita ngga usah bahas itu lagi. Kamu udah minum obatmu?" pungkas Arga seraya menengadahkan wajah Hania hingga terlihat wajah ayu yang menenangkan itu.
Hania menghela napas dalam-dalam. Sepertinya julukan gunung es memang tepat untuk pria yang dicintainya itu. Wanita cantik itu tau Arga enggan membicarakan Galih. Pria tampan itu tidak ingin dirinya terus-terusan menyebut namanya, apalagi mengenangnya. Hah.
Iden memasuki perusahaan Arga dengan senyum ramah yang tersungging di bibir tipisnya yang berwarna merah muda. Setiap karyawati yang berselisih jalan dengannya sampai dibuatnya salah tingkah.
Dengan sendirinya setiap karyawati yang bekerja di perusahaan Arga itu selalu tampil cantik dan modis demi menarik perhatian wakil direktur yang suka pada wanita cantik dan seksi itu. Yang akhirnya menjadikan imej karyawati di perusahaan itu dikenal sebagai karyawati termodis dibandingkan karyawati perusahaan lain. Bahkan mungkin penampilan karyawati itu lebih pantas menjadi karyawati perusahaan mode ketimbang furnitur.
"Iya. Bikin meleyot terus tapi tak terjangkau. Hiks!" timpal yang lainnya.
"Kalau Pak Arga sih, iya. Bener-bener tak terjangkau. Auranya dingin bikin merinding." ucap karyawati yang pertama seraya bergidik menampilkan ekspresi ketakutan.
"Kalau Pak Iden... Masih bisa diusahakan lah ya. Meski sampai...." lanjutnya tapi menggantung ucapannya.
"50 tahun lagi...!" timpal yang lainnya bersamaan.
"Sekarang atau 50 tahun lagi, ku akan tetap mencintaimu...." koor para karyawati itu menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan penyanyi lawas Yuni Shara, dan diakhiri tawa yang riang.
Iden yang masih bisa mendengar celotehan para karyawati itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Tak apalah jadi bahan gibahan, yang penting bisa jadi mood booster buat mereka supaya tetap waras dalam bekerja.
"Sayang." sapa Bela menyambut Iden seraya menampilkan senyum semanis gulanya.
Iden membalas senyuman wanita seksi itu. Dan mengajaknya ke dalam ruangannya. Saat itu masih jam istirahat jadi para karyawan masih bebas melakukan aktifitas pribadinya.
"Kamu kemana aja, sih? Tau-tau ngilang" rajuk Bela seraya mengerucutkan bibirnya yang seksi.
"Kamu sengaja ya, mau godain aku, hum?" Iden menarik tubuh Bela hingga menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Dengan lembut Iden mulai mel***t bibir tebal milik Bela. Tapi Bela sepertinya menginginkan lebih. Wanita itu membalas l***tan Iden dengan liar. Dan Iden menyukainya. Senyumnya tersungging di sela-sela aktifitas mel***t itu.
Kancing kemeja Iden sudah terbuka setengah, menampilkan dada bidang nan liat. Sementara jari lentik Bela sudah mengusap-usap lembut pu**ng pria tampan itu. Sesekali **********, membuatnya mendesah. Tangan terampil Bela mulai melepas ikat pinggang Iden dan melepas kaitannya tanpa melepas lu***an bibirnya.
Blus putih polos milik Bela pun sudah terbuka menampakkan bahu putih mulusnya. Dan pa**d**a besar yang terbungkus b** putih berenda. Tangan Iden tengah asyik bermain di sana. Sesekali meremas b*k*ng wanita seksi itu.
Iden melepaskan tautan bibirnya. Matanya sudah berkabut. Napasnya pun memburu. Rudalnya siap melesak. Tapi dia teringat jika kini mereka sedang di kantor. Pantang baginya bercinta di ruangan itu.
"Benerin bajumu. Kita ke hotel." perintah Iden.
"Tapi... Ini tanggung, Yang." rajuk Bela tapi tetap menuruti perintah pria flamboyan itu.
Drrrt drrrt drrrt!
Ponsel Arga bergetar. Dengan perlahan pria tampan itu memindahkan kepala Hania yang tertidur bertumpu di pahanya. Tadinya, Hania bersandar di dada Arga dengan tangan pria itu merangkulnya. Setelah tidur, Arga merebahkannya di pangkuannya. Wanita cantik itu merasakan kantuk setelah meminum obat penenangnya. Tapi tidak ingin tidur di ranjang.
"Gimana, Zal?" tanya Arga setelah sambungan teleponnya terhubung.
Kini pria karismatik itu berada di koridor di depan ruang icu ibunya. Arga sengaja meninggalkan Hania karena dia tidak ingin Hania terganggu ataupun mendengar percakapannya dengan Rizal.
"Lu ngga ke sini? Kenapa kesannya kayak lu ngga mau nyelesaiin masalah lu sama Raka?" ucap Rizal yang saat ini masih berada di vila dimana Raka disekap.
Mendengar nama Raka, hatinya terasa sakit. Bagaimana tidak? Raka adalah sahabatnya. Mereka terlihat baik-baik saja hingga ketahuan belangnya. Arga merasa seperti orang bodoh. Menganggap semua baik-baik saja. Sekian tahun sahabatnya itu menyemai dendam tanpa diketahuinya. Dendam yang dilampiaskan pada orang yang salah. Dia benar-benar merasa dihianati.
"Gue ngga tau mesti gimana, Zal." sahut Arga.
"Kenapa ngga lu limpahin ke pihak berwajib aja?" tanya Rizal.
Arga mendesah. Pria karismatik yang visioner itu sudah memikirkan bagian itu. Hukuman yang akan diterimanya akan lebih ringan dibandingkan dengan perbuatannya pada Hania, jika pria itu diserahkan pada pihak berwenang. Tapi untuk menuntut pria itu dengan tuduhan yang dilakukannya pada kekasihnya, itu lebih tidak mungkin lagi. Itu akan melukai Hania. Hal yang sedang dijaga Arga sekuatnya.
"Ngga semudah itu, Zal." sergah Arga lesu.
"Ada yang harus kujaga." ucap Arga dalam hati.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, kasih hadiah, dan juga komen ya... Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1