
Hania dan Anja tiba di restoran ketika jam makan siang sudah terlewat. Wanita cantik itu langsung meminta Olin membuatkan spagetti dengan bumbu lokal yang pedas. Wanita bertubuh ramping itu masih lapar. Tadi acara makannya terganggu oleh ulah Ferdi yang tiba-tiba muncul dan si ulat keket, Valerie.
"Bu, ada Pak Ganteng di atas. Udah nungguin dari tadi." ujar Lisa yang baru memasuki dapur.
"Dari tadi? Kok ngga ngabarin?" tanya Hania seraya memeriksa ponselnya.
Hania menghela napas. Puluhan panggilan tak terjawab dari nomor ponsel Arga berderet rapi di daftar panggilan ponselnya. Pasti tadi karena sibuk mengabaikan tingkah 2 insan yang sangat mengganggunya hingga panggilan Arga ikut terabaikan. Pria tampan itu pasti sedang menggerutu sekarang. Hania langsung membuatkan kopi untuk Arga. Untuk menyuapnya supaya tidak kesal. Pria itu 'kan selalu menyukai kopi seduhannya.
"Ya udah, saya ke atas dulu. Tolong nanti diantar ke atas ya." perintahnya pada Olin yang masih sibuk mengolah pesanannya.
"Jangan lupa teh chamomilenya, dingin aja. Buat nyegerin yang gerah." lanjutnya seraya berjalan meninggalkan dapur.
"Tumben Bu Hania minta teh dingin?" seorang karyawan mulai menggosip.
"Tadi abis nguras emosi soalnya." sambar Anja.
"Maksudnya?" para karyawan mulai tertarik.
Anja mulai bercerita kejadian di restoran Jepang barusan. Sangat bersemangat karena baru kali itu dia melihat bosnya itu membalas tudingan orang yang menyudutkannya.
"Apa!? Calon suami!?" pekik para karyawan yang berkumpul di dapur.
"Ssstt!" Anja langsung mengerutkan keningnya seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, meminta rekan-rekannya diam.
Kontan para karyawan itu kompak menutup mulutnya dengan telapak tangan masing-masing, kepalanya sibuk celingukan melihat sekitar, memastikan yang digosipi tidak berada di sana.
"Terus?" gosip pun berlanjut.
Hania mendapati Arga tertidur di sofa panjang di ruangannya dengan ponsel di genggamannya. Tangannya bersedekap di atas perutnya. Pria itu tidurnya rapi sekali.
Dengan langkah pelan, Hania mendekat ke arah Arga. Meletakkan cangkir kopi yang dibuatnya untuk Arga di atas meja di depan sofa yang ditiduri Arga. Lalu duduk di sofa tunggal di depannya.
"Nyenyak banget tidurnya. Kalau pas tidur gini kok gantengnya jadi berlipat-lipat sih? Sweet banget kayak anak kucing. Bikin gemes." gumam Hania seraya senyum-senyum sendiri.
"Kalau gemes, disayang dong." celetuk Arga dengan mata masih terpejam.
Tadinya Arga tertidur karena lelah dan Hania yang ditunggunya tak kunjung datang. Tapi begitu mendengar pintu terbuka, pria itu terganggu. Ingin membuka mata, aroma parfum Hania yang lembut menguar memenuhi indera penciumannya. Aroma yang membuatnya selalu rindu. Pria itu berpura-pura tidur
"Mas Arga udah bangun?" Hania membelalakkan matanya seraya menelisik Arga.
Arga menolehkan kepalanya ke arah Hania seraya tersenyum semanis madu. Lalu bangkit dari posisi tidurnya.
"Udah. Aku denger kamu ngomong apa barusan. Makasih ya pujiannya." Arga tersenyum tengil menggoda Hania seraya mengerlingkan matanya.
"Kamu ngga mau nguyel-nguyel aku? Katanya gemes." Arga menaik turunkan alisnya dengan senyum yang menyebalkan menurut Hania.
Tentu saja Hania merona. Dia malu karena ketahuan mengagumi pria yang memang tampan itu. Selama ini, dia tidak pernah memuji Arga terang-terangan. Hanya dalam hati saja.
"Ngga ah. Siapa bilang aku gemes sama Mas?." sanggah Hania.
__ADS_1
"Aku denger sendiri lho, Han." Arga menatap Hania dengan tatapan penuh harap wanita cantik itu mengakui tingkahnya barusan.
"Oh, itu. Aku, aku gemes sama anak kucing. Iya, anak kucing." elak Hania seraya meringis.
Arga menghela napasnya. Lalu bangkit dan membungkukkan tubuhnya di hadapan Hania.
Eh? Hania terkejut dan spontan memundurkan tubuhnya tapi karena duduknya di sofa tunggal, pergerakannya terbatas. Hania hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa itu. Menatap Arga yang berada di depannya. Pria berkarisma itu merentangakan tangannya dan meletakkannya di bahu sofa tunggal itu.
Jaraknya yang sangat dekat terlihat sangat intim. Wanita cantik itu dapat mencium aroma tubuh Arga yang sudah di hafalnya. Sapuan napasnya pun menerpa wajah Hania membuat wanita itu semakin merona dan gugup.
Cup.
Hania membelalakkan matanya ketika bibir seksi Arga menempel di bibirnya. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir.
Merasa tidak ada penolakan dari Hania, Arga perlahan ******* bibir merah jambu itu. ******* lembut itu semakin lama semakin dalam ketika Hania membalas c**man Arga. Hingga posisi mereka kini berubah. Arga bertumpu pada lututnya di depan Hania sambil memeluk pinggang ramping wanita itu dengan satu tangan, satu tangannya lagi menahan tengkuk Hania. Sementara tangan Hania melingkar posesif di leher kokoh Arga. Sesekali mengusap tengkuk Arga, membuat pria tampan itu semakin bergairah. Terasa dari c**mannya yang semakin liar.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu membuat kegiatan panas pertama mereka terganggu. Dengan kesal Arga mengakhiri cumbuannya. Pria itu mendengus. Lalu kembali duduk di sofa panjang yang tadi ditidurinya. Diraihnya cangkir kopi yang sudah tidak panas lagi itu dan meneguknya perlahan menetralkan detak jantungnya yang kencang.
Hania masih sibuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena Arga tadi melepas ikatannya hingga tergerai bebas. Pria itu suka membelai rambut Hania yang lembut dan wangi itu.
"Permisi, Bu, Pak. Kami mengantar pesanannya." ucap Anja yang ditemani seorang rekannya.
Hania membantu karyawannya itu menata makanan yang dimintanya di atas meja persegi panjang itu.
Tadi karyawan Hania memberitahunya bahwa Arga sudah makan di sana. Merasa tidak nyaman jika makan sendiri karena sudah pasti pria tampan itu akan menatapinya sepanjang acara makannya, Hania pun meminta chefnya membuatkan makanan yang tidak mengenyangkan.
Arga mendesah melihat makanan di depannya. Sejak mengenal dan dekat dengan wanita bermata kelinci itu, berat badannya disadarinya naik beberapa kilogram. Terasa berat baginya yang terbiasa dengan bentuk tubuh yang proporsional. Bagaimana tidak? Wanita cantik itu begitu memanjakan lidah dan perutnya. Apa saja yang dimasak Hania selalu memuaskannya. Salahnya juga yang tidak bisa mengontrol nafsu makannya. Hah.
"Setelah ini ngegym lagi." batin Arga.
Pria tampan itu menikmati makanannya. Bahkan ikut menyicipi beberapa hidangan yang dipesan Hania. Ada lasagna dan arancini con ragu. Sepertinya lupa jika barusan dia mengeluh.
Drrrt drrrt drrrt.
Arga meraih ponselnya yang diletakkannya di meja. Nama Dian, sekretarisnya, tertera di layar ponselnya.
"Hum. Ada apa?" tanya Arga begitu mendengar sapaan sekretarisnya.
"Maaf, apa Bapak akan kembali ke kantor lagi?" tanya sekretarisnya.
"Klien kita dari Kalimantan ingin bertemu, hari ini. Eng. Sekarang." ralat Dian.
"Tapi kalau tidak bisa, saya akan ubah jadwalnya, bagaimana kalau besok pagi, Pak?" Dian meminta persetujuan Arga sebelum membuatkan jadwal Arga.
Arga melirik jam tangannya yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam 3. Sepertinya masih sempat sebelum jam kantornya berakhir. Lagipula dirinya sudah terbiasa bekerja lembur.
Arga mengecup kening Hania sebelum meninggalkan wanita bermata kelinci itu. Sepertinya dia akan sering melakukannya sekarang. Semacam ketagihan. Perasaan membuncah di dada ketika mencium kening Hania bagai mood booster baginya.
__ADS_1
"Selamat sore, Pak. Klien anda baru saja datang, sekarang sedang menunggu di ruang rapat." sambut Dian, sekretarisnya yang cantik dan tidak manja, selalu bisa diandalkan untuk masalah mengatur waktu kerjanya.
"Pak Daniel ditemani Pak Reza, Pak." lanjut Dian.
Arga yang semula akan ke ruangannya terlebih dahulu mengurungkan niatnya. Dia memutar arah ke ruang rapat yang terletak satu lantai di bawah ruangannya, diikuti Dian.
Pertemuan Arga dan kliennya kali ini lebih seperti pertemuan dengan teman lama. Tidak ada pembicaraan serius tentang bisnis kecuali sebagai pemanis. Layaknya pengusaha, obrolan apalagi yang menarik selain tentang bisnis. Tapi kali ini hanya obrolan ringan saja. Kedatangan Daniel ke perusahaan Arga pun hanya sebatas berkunjung ke seorang kawan, mumpung dirinya berada di ibukota. Tujuan utamanya adalah mengantarkan istrinya berobat.
"Aku ini bisa begini karena istriku juga. Dia yang selalu setia di sampingku meski uangku ngga sebanyak kamu ,Ga." ucap Daniel memulai ceritanya.
Arga terkekeh mendengarnya.
"Sok merendah." batin Arga.
"Dia terbiasa hidup berkecukupan. Tapi ketika aku kekurangan dia masih menerimaku. Aku bersyukur memiliki dia. Istriku itu tidak memandang hartaku. Dia menerima aku apa adanya, bahkan bertahan ketika banyak godaan yang datang." lanjutnya membanggakan istrinya.
"Jadi ketika kamu sudah ketemu dengan perempuan bertipe seperti ini, jangan sampai dilepaskan. Berjuanglah untuk mempertahankannya. Ketika kamu udah menggenggam hatinya, genggam juga kepercayaannya. Sepenuh hati. Jaga dengan nyawamu bila perlu. Kamu pasti udah tau, pengusaha muda, tampan dan sukses sepertimu pasti banyak yang mengincar. Dan ngga semua tulus." Daniel memberi nasehatnya pada Arga yang diketahuinya masih betah menduda.
"Saat ini aku sedang berjuang mempertahankan istriku tetap di sisiku. Kembali sehat seperti sediakala dan menemaniku lagi." terlihat Daniel mengusap air mata yang meleleh di sudut matanya tapi bibirnya tetap tersenyum.
Melihat Daniel yang begitu tulus mencintai istrinya itu, hati Arga berdenyut. Dia teringat Hania. Wanita cantik itu tidak banyak tingkah dan sangat menjaga dirinya dengan baik, lembut dan baik hati, pengertian dan tulus. Dan yang pasti wanita cantik itu setia dan tidak memandang hartanya Arga.
Hingga Daniel pamit, pria keturunan Tionghoa itu selalu mengingatkan Arga untuk terus berhati-hati dalam memilih pasangannya. Dan tidak lupa mengundangnya ketika dia menikah nanti.
Tin tin!
Bunyi klakson mobil yang sudah mulai dihapalnya membuat Tiara menghambur keluar menyambut seorang pria dewasa yang dirindukannya setiap hari. Tawanya pecah begitu pria itu menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mama...! Oom Arga udah datang!" seru Tiara.
"Hai, Ma?" goda Arga yang menghampiri Hania yang sedang menyiapkan makan malam sembari menggendong Tiara.
Hania hanya membalas dengan lirikan tajam dengan bibir yang mencibir. Membuat Arga tergelak. Sungguh bahagia hatinya. Serasa memiliki keluarganya sendiri.
"Sayang, kamu maen sendiri dulu, ya? Oom mau bantu Mama. Supaya Oom dikasih makan." gurau Arga pada Tiara yang disambut gelak tawa gadis kecil yang sudah dianggap putrinya sendiri itu.
Lagi-lagi Hania hanya melirik Arga. Apa-apaan? 'Kan dia juga yang membeli semua bahan makanan ini. Hania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arga dan putrinya yang bisa kompak begitu.
Seperti hari-hari sebelum-sebelumnya, Arga akan membersihkan dirinya di rumah Hania lalu melakukan ibadah maghrib berjama'ah. Baru menyantap makanan yang di masak Hania dengan bantuan Arga. Benar 'kan? Hania memanjakan lidah dan perutnya. Setiap malam pria itu akan pulang ke kediamannya dengan perut yang kenyang dan hati yang bahagia.
*********
Thanks for reading!
Like dan jadikan favorit ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.
Jangan lupa VOTE tiap hari SENIN untuk dukung karya ini 😘😘😘
__ADS_1