Yang Terakhir

Yang Terakhir
104. I Miss You


__ADS_3

Drrrt drrrt drrrt!


Ponsel Hania bergetar. Hania yang baru saja memasuki ruangannya mempercepat langkahnya mendekati meja kerjanya. Senyumnya langsung terbit ketika melihat sebuah nama yang kini mengisi hatinya.


"Assalamu'alaikum, Mas." sapa Hania.


"Wa'alaikum salam." senyum Arga langsung merekah demi mendengar suara lembut yang menyapanya dengan doa.


"Honey, malam ini aku terbang ke Surabaya. Ada sedikit masalah di sana. Mungkin sampai beberapa hari. Malam ini ngga usah nunggu aku." pamit Arga.


"Oh, oke." sahut Hania lesu.


Entah kenapa mendengar Arga akan keluar kota, perasaannya menjadi tidak nyaman. 


"Hei, kok lesu, sih? Aku ngga lama Han. Cuma beberapa hari aja. Atau kamu mau ikut?" 


Hania masih terdiam. Pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak.


"Sayang, jangan gitu dong. Aku harus ke sana sekarang." rayu Arga.


"Ngng... Apa ngga bisa diwakilkan? Kenapa harus berangkat sendiri? Mas 'kan bisa nyuruh karyawan Mas. Reza mungkin? Atau Iden?" suara lembut Hania terdengar lirih di seberang ponsel Arga.


"Reza berangkat sama aku. Ini ada hubungannya sama Oomku yang terlibat konflik denganku beberapa waktu yang lalu. Jadi harus aku sendiri yang turun tangan, Han." terang Argaberi pengertian.


Pria karismatik itu menghela napas dalam-dalam. Tumben Hania menahannya? Apakah wanita cantik itu mulai tidak ingin berjauhan dengannya? Bagus lah kalau begitu. Senyumnya merekah.


"Ya, udah. Mas hati-hati ya di sana. Jangan kemana-mana sendiri." pesan Hania membuat Arga terkekeh.


Memangnya dia anak perawan polos yang baru saja belajar hidup mandiri? Sampai-sampai Hania berpesan begitu. Jika saja itu Tiara yang akan bepergian, mungkin pantas Hania berpesan begitu.


"Mas!?" tegur Hania pada Arga yang tidak segera menyahutinya.


"Iya, iya, honey. Aku akan berhati-hati." sahut Arga dengan suara baritonnya yang melembut.


"Kabari aku begitu sampai, ya Mas." pinta Hania.


"Of course, my honey. I'll miss you. I love you to the moon and back." ucap Arga


"I love you more." balas Hania dengan wajah yang merona.


Hania memutuskan sambungan setelah mengucapkan serentetan doa untuk Arga. Dirinya tidak mengerti dengan perasaannya yang mendadak gelisah. Hingga doa yang disampaikan pada Arga lebih panjang dari doa-doa sebelumnya.


"Sudah waktunya kita ke bandara, Pak. Semua perlengkapan dan kebutuhan yang anda perlukan selama di sana sudah disiapkan." peringat Reza.

__ADS_1


Pria manis berkaca mata itu sudah menunggunya sedari tadi. Dia juga mendengar atasannya itu bersikap berbeda ketika menghadapi Hania. Penuh kesabaran dan hati-hati. Sikap yang tidak pernah dilihatnya bahkan ketika bersama Devan, putranya. Pada Hania, atasannya itu seolah takut melukai perasaan wanita itu. Bucin!


Arga memasuki mobil mewahnya bersama Reza yang diantar Mang Diman. Sepanjang perjalanan pria karismatik itu hanya terdiam. Entah kenapa sikap Hania mulai mempengaruhinya. Meski di dalam hatinya merasa senang dengan perhatian Hania, tapi terselip juga rasa gelisah yang tidak bisa diungkapkannya. Arga mendesah.


Prilaku Arga tidak luput dari perhatian Reza. Asistennya itu sampai mengerutkan keningnya. Tapi tidak berani menginterupsi sikap diamnya sang atasan.


Hingga tiba di bandara Juanda pun pria tampan itu masih diam dan gelisah meski sudah berusaha bersikap tenang seperti biasa. Dan hanya Reza yang tahu.


"Kita langsung ke apartemen saja." perintah Arga pada sopir yang menjemputnya dan akan mengantarnya kemana saja selama di Surabaya 


"Bagaimana keadaan di perusahaan, Jo?" tanya Arga pada sopirnya yang bernama Jojo itu.


"Semua berjalan baik, Pak. Tidak ada kendala yang berarti. Tapi ada pergantian kepala di beberapa divisi." lapornya.


Jojo memang tahu banyak tentang perusahaan Arga yang di Surabaya karena pria itu adalah bagian dari sayap kiri yang di tempatkan Arga di sana sebagai sopir. Dan tidak ada yang tahu siapa Jojo sebenarnya. Bahkan untuk masuk ke perusahaan itu, Jojo melamar melalui jalur resmi perusahaan itu ketika perusahaan itu membuka lowongan untuk posisi sopir. Seperti rencana Arga.


"Polisi menahan barang kita di dermaga dan salah satu kontainernya berisi puluhan gading gajah. Dan itu ulah kaki tangan Pak Aris. Kami sudah menahan 2 orang yang terlibat di sini. Belum kami serahkan ke polisi." lanjutnya sambil tetap fokus mengemudi.


"Ada pihak yang melaporkan isi kontainer itu. Seperti yang kita tau, penyelundupan ini bukan yang pertama kali dan selama ini aman." tambahnya.


"Kitalah yang jadi tersangka utamanya, karena gading-gading gajah itu ada di dalam kontainer kita." pria itu melirik Arga melalui kaca visioner.


"Kecuali kita bisa membuat orang-orang Pak Aris itu membuka mulut dan bersaksi melawan Pak Aris." ucap Jojo lagi.


"Sialan Oom Aris! Mau sampai kapan main-main sama Gue? Ngga cukup rupanya jeruji besi itu nahan dia!" batin Arga seraya mengeraskan rahangnya dan tangannya mengepal erat.


"Sudah tau siapa yang lapor?" tanya Arga dengan suara datar terkesan dingin.


"Belum, Pak. Masih kami selidiki." sahutnya.


Suasana kembali hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Arga melempar pandangan keluar jendela mobil di samping kirinya. Menikmati suasana kota pahlawan itu diterangi lampu kota. 


"Ah. Seandainya Hania di sini." batin Arga, matanya masih menatap keluar jendela.


Puas dengan menatap suasana kota pahlawan di malam hari, Arga memejamkan matanya. Rasa penatnya semakin terasa hingga kantuk pun mulai bergelayut di pelupuk matanya.


"Mas, bangun." suara lembut Hania terdengar jelas di telinga Arga.


Pria tampan itu meregangkan tubuhnya masih dalam posisi berbaring dan mata terpejam.


"Mas? Ayo dong, ntar telat lho ke kantornya." suara lembut itu semakin mengganggu tidurnya.


"Sebentar lagi, honey. Aku masih ngantuk. Capek banget, rasanya kayak badanku ini ngga ada tulangnya." Hania terkekeh mendengar ucapan Arga.

__ADS_1


"Cepet bangun. Selesaikan masalah di sini dan temui aku. I miss you. Muah." seketika mata Arga terbuka.


Tangannya langsung memegang pipi kanan yang terasa seperti di cium Hania. Bibirnya merekah.


"Mimpi rupanya. Segitunya aku kangen kamu, Han. Sampai kebawa mimpi." gumam Arga dalam hati.


Pria itu bangkit dari posisi berbaringnya. Melirik jam digital di atas nakas di samping ranjangnya. Jam 7.


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu kamarnya mengalihkan perhatiannya, membuyarkan lamunannya.


"Pak." Reza yang sudah siap dengan setelan kerjanya yang tidak jauh berbeda dari Arga itu hanya melongo menatap Arga yang masih acak-acakan.


"Maaf, saya baru bangun. Rasanya capek banget." ucap Arga yang menyadari tatapan Reza sambil berjalan keluar kamar menuju ruang makan.


Sudah tersedia menu sarapan buatan si bibi yang sudah standby di apartemen sejak pagi tadi.


"Kita akan memenuhi panggilan polisi, Pak. Bukti dan saksi sudah lengkap." terang Reza.


Hari ini adalah hari ke 3 Arga dan Reza berada di kota pahlawan itu. Demi membersihkan nama baik perusahaannya, Arga dan anak buahnya bekerja bagai kuda. Dari pagi ketemu pagi. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Lawan yang dihadapinya memanglah tangguh. Siapa Oom Aris, Arga sangatlah paham. Pria paruh baya yang wajahnya mirip dengannya itu, adalah sosok yang tangguh, cerdas, dan cerdik, licik tepatnya. Tapi hasil tidak akan menghianati usaha. Setelah lembur dan mengerahkan segala kemampuan, mereka berhasil mengumpulkan apa yang mereka butuhkan.


Dan hari ini rencananya Arga akan melaporkan kasusnya ke pihak berwenang. Hah. Lagi-lagi dia harus berurusan dengan polisi.


"Pak Sam juga sudah tiba semalam, Pak." Reza menyebut nama pengacara perusahaan Arga.


Setelah menghabiskan sarapannya, Arga kembali ke kamarnya. Tak berselang lama pria itu sudah keluar lagi dalam keadaan jauh lebih rapi dari yang tadi.


"Kita langsung ke kantor polisi?" tanya Arga ketika sudah berada di dalam mobilnya.


"Iya, Pak. Pak Sam akan menunggu kita di sana." sahut Reza.


"Bagus, lebih cepat lebih baik." ucap Arga.


"Dan bisa segera menemui wanitaku. Ah, Hania. I miss you." batinnya.


*******


Thanks for reading!


Like, favoritkan, vote, ya... krisan juga boleh.


🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2