Yang Terakhir

Yang Terakhir
154. Mencemaskan Hania


__ADS_3

Arga tiba di depan mobil mewahnya yang sudah ringsek di bagian kirinya. Tempat dimana Hania duduk. Napasnya terengah-engah. Sudah banyak orang berkerumun mencoba menolong pengendara mobil jeep yang menabrak mobil Arga. Beberapa orang juga memeriksa mobilnya. Arga tidak terlalu memperhatikannya. Fokusnya mencari keberadaan Hania.


"Hania?" Pria tampan itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya karena tak mendapati istrinya di dalam mobilnya yang sudah ringsek itu.


"Pak, ini mobilnya?" tanya seorang warga yang ikut berkerumun membuat Arga menoleh.


"Iya, benar. Anda lihat istri saya? Tadi dia ada di dalam sini." Arga balik bertanya pada warga tersebut.


"Ngga lihat, Pak. Setelah kejadian saya langsung ngintip ke dalam mobil tapi sudah kosong.


Arga menyugar rambutnya dengan kasar. Sekarang dirinya lebih cemas lagi. Pria tampan itu sudah tidak peduli dengan mobilnya yang ringsek ataupun orang yang menabrak mobilnya. Dadanya bergemuruh. Jantungnya memang berdebar kencang. Selain habis berlari kencang, dia juga panik. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi pada istrinya.


Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tak baik. Arga mendadak teringat pengemudi mobil yang menabrak mobilnya. Kenapa di area parkir begini bisa melajukan mobilnya dengan kencang? Seburu-buru itukah sang pengemudi? Atau sedang mabuk? Atau sengaja? Matanya melotot menyadari dugaannya.


"Sebentar! Bisa saya lihat?" sela Arga ketika beberapa warga akan membawanya ke rumah sakit.


Kepala pria itu terluka dan mengeluarkan cukup banyak darah dan mengenai wajahnya membuat Arga tak bisa mengenali pria itu. Namun instingnya tak pernah meleset ketika dirinya mencurigai sesuatu.


Arga meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Mencari nama Reza dalam daftar kontak teleponnya, lalu menghubunginya.


"Za, tolong kesini! Saya di Kusuma Negara sport center!" perintahnya pada asistennya yang mungkin saat ini juga baru tiba di apartemennya.


Tanpa menunggu jawaban Arga memutus sambungan ponselnya.


"Mas?" sapaan dengan suara lembut yang sangat dihafalnya seketika membuatnya menoleh.


"Oh, ya ampun. Mobil itu nabrak mobil kita, Mas!?" tanya Hania mulai panik.


"Mas ngga apa-apa?" lanjutnya seraya memeriksa tubuh Arga.


Hania memutari tubuh suaminya dan menatap lekat pria tampan yang terlihat baik-baik saja itu. Matanya melotot ketika Arga langsung memeluknya dengan erat.


"Honey? Dari mana aja? Syukurlah kamu ngga apa-apa." ucapnya lalu menghela napas dalam-dalam.


Perasaannya lega luar biasa mendapati istrinya baik-baik saja. Matanya sampai berkaca-kaca saking leganya.


"Aku tadi dari toilet, antri banget jadi agak lama. Mas telpon aku? Aku lupa ngga bawa ponselnya. Maaf ya." terang Hania dengan suara manja.


Hania sempat merutuki keteledorannya yang melupakan ponselnya. Rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya demi melihat ekspresi lega di wajah sang suami. Pasti pria tampan itu sangat mencemaskannya tadi.


Arga menggelengkan kepalanya. Entah untuk menjawab pertanyaan Hania atau baru menyadari berpikirnya yang mendadak lambat ketika mencemaskan istrinya. Kenapa tak terpikirkan olehnya tadi untuk menghubungi Hania melalui ponselnya? Arga berdecak merutuki dirinya yang panik. Tapi sepertinya percuma juga, istrinya itu meninggalkan ponselnya di dalam mobil.


"Mas? Itu..." tunjuk Hania pada mobil sedan yang masih pada posisi diseruduk mobil jeep.


Arga menoleh ke arah mobil sedannya. Hah. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya Hania masih berada di dalam sana saat mobil jeep itu menabraknya tadi. Mengingat kejadian barusan, Arga menjadi geram.


"Ngga apa-apa, honey. Yang penting kamu baik-baik aja sekarang. Aku khawatir banget tadi." ucap Arga menenangkan Hania.


"Ponselku gimana? Apa rusak?" Arga berdecak karena Hania lebih peduli pada ponselnya.


"Pak?" Arga menoleh ketika seseorang menyapanya.


"Sudah datang? Tolong kamu urus mobilnya. Oh ya, selidiki juga laki-laki yang bawa jeep itu. Dia ada di rumah sakit terdekat dari sini. Jangan sampai di lepas." perintah Arga setelah menjauh dari Hania, dia tidak ingin Hania cemas dan berpikir macam-macam.


"Apa anda berpikir ada yang ingin mencelakai anda dan Bu Hania?" Reza harus memastikan tugasnya kali ini berhubungan dengan keselamatan atasannya itu, jika iya maka dirinya membutuhkan bantuan.


Arga menoleh pada Hania yang membuka pintu sedan mewahnya. Tampak olehnya wanita cantik bermata kelinci itu sudah berhasil menemukan ponselnya. Pria karismatik itu kembali menoleh pada Reza lalu mengangguk kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Reza tadi.


"Ngga ada salahnya bersikap hati-hati dan waspada 'kan?" lanjut Arga.


Kini Reza yang mengangguk. Sebenarnya tanpa bertanya pun pria manis berkacamata itu juga bisa melihat mobil jeep itu sengaja menghantam mobil Arga dengan keras kecuali pengendaranya sedang mabuk. Mabuk di sore hari? Jelas janggal sekali. Dan di area parkir? Di area parkir, biasanya mobil tidak akan melaju kencang. Tentang pengendara jeep yang terluka cukup parah, tentu saja begitu skenarionya. Atau hanya resiko dari pekerjaan yang ditugaskan padanya? Tapi siapa dalangnya?

__ADS_1


"Apa anda mencurigai seseorang?" tanya Reza lagi.


"Aku udah minta Mang Diman nyusul kesini." ucap Hania yang sudah berada di dekat Arga dan Reza berdiri, membuat kedua pria yang memiliki tubuh sama tinggi dan atletis itu menghentikan pembicaraan.


"Bu Hania." sapa Reza sedikit menganggukkan kepalanya tanda hormat.


"Mas Reza." balas Hania seraya tersenyum, membuat Reza malah salah tingkah.


Reza yang dingin terbiasa menghadapi sikap Arga yang cenderung dingin ketika bekerja. Atasannya itu jarang sekali bergurau dengannya dan kalaupun Arga mengajaknya bergurau, pria manis itu tidak berlebihan dalam menanggapinya. Begitu pula dengan mantan istri Arga dulu. Sang model itu jarang tersenyum dan cenderung cuek padanya. Jadi ketika dirinya berhadapan dengan Hania yang yang memiliki sikap lembut dan hangat, asisten Arga itu bingung menanggapinya.


"Ayo, honey. Kita nunggu di sana aja sambil makan rujakmu." tawar Arga.


"Tapi, aku udah ngga kepengen rujak. Seblak kayaknya enak." ujar Hania seraya melenggang meninggalkan Arga yang keheranan melihat reaksi istrinya.


Arga menghela napasnya. Tidak tahu apa? Bagaimana tadi dirinya berdiri mengantri sekian lama untuk mendapatkan pesanannya? Dan sekarang, wanita cantik bermata kelinci itu sudah tidak berselera lagi? Arga menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Lalu berjalan mengekori Hania. Ingin rasanya dia kesal tapi begitulah ibu hamil. Moodnya suka berubah-ubah. Untung sayang.


"Apa!? Kenapa bikin Hania celaka aja kalian kesulitan sih!? Heran!" kesal Rosa pada orang suruhannya di ujung ponselnya dengan suara yang ditekan.


Wanita cantik dan seksi itu memang berencana mencelakai Hania. Dirinya tidak terima jika perhatian Raka padanya teralihkan. Dia suka dengan perlakuan Raka padanya. Pria tampan itu begitu memanjakannya dan menuruti keinginannya. Meski hubungan mereka tidak pernah jelas. Hanya hubungan simbiosis mutualisme. Tapi ketika Raka mulai menjaga jarak dengannya, Rosa tidak suka.


Sementara itu, di apartemen yang sama, Raka tengah memandang keluar jendela kaca besar kamarnya. Ekspresi wajahnya terlihat amat marah. Anak buahnya baru saja menyampaikan kabar buruk padanya. Berkali-kali pria bertubuh atletis itu memghembuskan napas dengan kasar.


Siapa yang ingin Hania celaka? Selain dirinya, dulu? Pria berkulit putih itu memijit pelipisnya. Seingatnya Arga memang memiliki banyak rival bisnis terutama para pebisnis senior yang kalah bersaing dengan perusahaan Arga. Apakah mungkin salah satu dari orang-orang itu? Jangan sampai karena ingin menjegal Arga, Hania malah menjadi korbannya. Sekarang pria itu mencemaskan Hania dan janin dalam kandungannya.


Drrrt drrrt drrrt!


Getaran ponsel yang mendengung bagai lebah di kamarnya yang luas dan tenang di pagi buta membuat Arga dan Hania terusik. Sambil memicingkan matanya karena silau oleh lampu tidur yang barusan dinyalakannya, Arga berusaha menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran ranjang lalu meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


"Reza?'' gumamnya dalam hati.


"Kamu ngga bisa nunggu sampe subuh, masih jam segini bangunin saya?" sindir Arga setelah sambungan ponselnya terhubung.


"Maaf, Pak. Tapi saya memang ngga bisa menunggu. Ini soal pengemudi jeep itu, Pak." lapor Reza tanpa basa-basi yang panjang.


"Lanjutin!" perintah Arga seraya berjalan menuju kursi kerjanya dan menyandarkan tubuhnya di sana dengan posisi santai.


"Laki-laki itu meninggal." ucap Reza.


Arga semakin geram mendengar kabar yang disampaikan Reza. Sudah 2 hari berlalu sejak insiden itu terjadi tapi pengendara jeep itu tidak segera siuman dari komanya. Jelas saja itu menghambat kerja Reza. Dan sekarang pria itu meninggal.


"Jadi ngga ada petunjuk sama sekali?" tanya Arga datar.


Pria karismatik itu mengepalkan tangannya. Dirinya geram pada orang-orang yang tidak membiarkannya hidup tenang dan bahagia bersama orang yang dicintainya. Ingatannya melayang mengingat hidupnya yang tanpa gangguan ketika dirinya masih sendiri dan pun ketika menduda. Namun, ketika dirinya sudah menemukan seseorang yang dicintainya, sepertinya masalah mulai menghampirinya.


z


"Gimana Raka? Dimana dia sekarang?" tanya Arga setelah hening beberapa saat.


Arga teringat mantan sahabatnya yang ternyata menyimpan dendam padanya. Apakah kali ini juga termasuk perbuatannya? Apa tak cukup baginya menghancurkan Hania dan dirinya sekaligus?


Hampir 2 bulan Raka menghilang, namun Arga pantang menyerah mencari keberadaan pria yang kini dibencinya itu. Walaupun tak semenggebu di awal-awal Raka kabur, Arga tetap waspada. Dia tidak ingin mantan sahabatnya itu bertemu Hania. Apalagi istrinya tengah mengandung benih pria itu. Mengingat kebenaran itu, hatinya berdenyut nyeri. Tentu saja dia cemburu dan sakit hati.


"Belum, Pak. Kami masih belum menemukannya." sahut Reza di ujung ponselnya.


"Jaga Hania! Saya ngga mau bajingan itu menemuinya!" perintah Arga penuh tekanan.


Arga kembali ke kamarnya dan langsung menaiki ranjang empuknya yang besar. Bahu polos Hania masih terekspos seperti ketika dia meninggalkannya. Pria tampan itu mengecupnya dan sedikit mengusap-usap dagunya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat wanita cantik itu menggeliat kegelian namun tak juga membuka matanya. Emosinya langsung menguap begitu melihat Hania berada di sampingnya. Arga tersenyum gemas melihat respon istrinya itu lalu memeluknya dengan erat dan tertidur dengan nyaman.


"Mas? Bangun. Kamu bisa terlambat nanti." usik Hania.


"Sebentar lagi, honey. Aku masih ngantuk." tolak Arga seraya membalik posisi tubuhnya membelakangi Hania.

__ADS_1


"Ayo Mas! Ini udah jam 7 lebih lho. Kamu ke kantor jam berapa?" Hania terus membangunkan Arga.


"Mas janji lho mau anterin aku sore ini. Jadi Mas harus cepet selesein kerjaan Mas sebelum makan siang." gerutu Hania.


Arga langsung membuka matanya ketika mengingat janjinya. Siang ini dirinya akan mengajak Hania memeriksakan kandungannya.


Dan di sanalah Hania sekarang. Di kantor Arga. Menunggui sang suami menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


"Ayo!" Hania mengalihkan tatapannya dari buku yang sedari tadi dibacanya, tersenyum seraya menyambut uluran tangan Arga.


Sesampainya di rumah sakit khusus ibu dan anak, Arga langsung menuntun Hania ke ruang dokter obgyn. Tanpa mengantri karena mereka sudah diberi jadwal khusus. Bagaimana tidak khusus, rumah sakit ibu dan anak itu juga milik Darren, dan Arga menanam saham di sana.


"Selamat siang, Pak Arga dan Bu Hania. Silakan duduk." sambut dokter bername tag Saras, yang usianya kira-kira lebih tua beberapa tahun dari Arga.


"Terimakasih, dok." ucap Hania dan Arga bersamaan.


"Apa ada keluhan, Bu Hania?" pertanyaan standar dari para dokter pada pasiennya.


"Kadang-kadang masih suka mual nih dok. Lain itu ngga ada." ucap Hania menyahuti pertanyaan sang dokter.


"Silakan. Kita periksa dulu calon baby nya." dokter Saras meminta Hania berbaring di ranjang khusus.


Seorang perawat dengan sigap membantu sang dokter menyelimuti bagian bawah perut Hania yang terekspos. Ah. Dia lupa. Hari ini wanita cantik itu memakai dress sebatas lutut. Untung saja perawatnya cekatan menutupi paha mulusnya.


Hania sempat melirik Arga yang duduk di sampingnya. Mata pria itu ikut melotot melihat paha Hania. Dia tahu Arga pasti langsung bergairah. Sudah lama pria itu tidak menyentuhnya. Perasaan bersalah pun seketika menyelinap ke dalam hatinya. Secara impulsif Hania mengusap lengan Arga. Membuat pria itu menatapnya lalu membalas senyum semanis madunya Hania.


"Semua sehat. Alhamdulillah. Seperti pesan saya yang sudah-sudah, ibu jangan terlalu capek. Harus banyak istirahat, ngga harus tidur yang penting tubuh berasa rileks. Jangan lupa vitaminnya diminum." pesan dokter obgyn itu


Keluar dari ruang periksa, Arga menuntun Hania hingga memasuki mobilnya. Senyum terus mengembang di bibir keduanya. Layaknya pasangan sah yang menunggu kehadiran seoarang anak, kabar bahwa kehamilan Hania sehat dan berkembang dengan baik tentu kabar yang paling ingin didengar.


"Mas. Aku lapar." ucap Hania.


"Di depan ada kafe resto baru. Kita bisa singgah di sana." sahut Arga seraya melirik istrinya sekilas.


Drrrt drrrt drrrt!


Langkah Arga terhenti ketika ponselnya bergetar. Sambil memeriksa ponselnya, Arga meminta Hania untuk masuk ke dalam kafe resto itu lebih dulu.


"Masih inget gue lu?" sergah Arga pada sang penelepon yang disambut kekehan di ujung ponselnya.


"Sorry, man. Gue sibuk. By the way, selamat ya. Finally, you got it!" ucap sang penelepon.


Arga tersenyum tipis. Antara masam dan getir. Hatinya lagi-lagi berdenyut nyeri mendengar ucapan selamat padanya atas kehamilan Hania yang bukan benihnya. Entahlah. Padahal dirinya sudah menerima janin itu, tapi kenapa rasanyq sakit?


"Aaakh!" jeritan pengunjung mengalihkan perhatian Arga yang masih berdiri di luar.


"Astaga! Apa dia hamil?" suara terkejut pengunjung lainnya hinggap di telinga Arga, membuatnya mematikan sambungan ponselnya sepihak.


"Siapa aja tolong! Apa dia datang sendiri? Ya ampun!" suara-suara lainnya semakin membuatnya mempercepat langkahnya.


Deg!


Matanya membulat dan langsung memerah. Dengan langkah seribu Arga mendekati sosok wanita yang sangat dicintainya. Hania tengah tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak darah di pangkal kakinya.


"Honey. Please!" lirih Arga.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2