Yang Terakhir

Yang Terakhir
184. Jadi Boleh?


__ADS_3

Arga kembali ke ruang rawat Hania. Di sana sudah ada Ferry dan Lisa yang sedang membantu Hania berkemas. Ah, wanita cantik itu keras kepala juga. Sejak siuman kemarin sudah berisik minta pulang.


"Hai, Pak Ganteng." sapa Lisa seraya memamerkan deretan gigi timunnya.


Embel-embel kata ganteng yang disematkan Lisa untuk menyapa Arga, membuat Ferry memutar bola matanya seraya menghela napasnya. Pria itu lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis ketika tatapan matanya bertemu tatap dengan Arga.


"Kamu beneran pulang sekarang? Ngga nunggu 1 hari lagi?" tanya Arga setelah duduk di kursi di samping brangkar sementara Hania duduk di tepi brangkar dengan kaki menggantung.


Keduanya duduk berhadap-hadapan. Posisi Arga yang lebih rendah membuatnya mendongakkan kepalanya untuk dapat melihat wajah Hania yang masih terlihat pucat.


Hania menatap Arga sekilas lalu mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Ah. Tatapan suaminya membuatnya sedikit goyah. Hatinya masih kesal dan dia kecewa pada pria tampan yang kini malah dengan lembut mengusap-usap punggung tangannya lalu mengecupnya lembut. Inginnya mendiamkan sang suami hingga merasa sedikit tenang. Tapi tatapan mata dan perhatian yang pria itu berikan membuatnya tidak tega berlama-lama mengabaikan sang suami.


"Aku udah baikan. Istirahat di rumah malah lebih menenangkan." sahut Hania datar.


Hania terkejut dan langsung menoleh ke arah Arga ketika pria tampan itu meletakkan kepalanya di pangkuannya dan melingkarkan lengan ke punggungnya.


"Mas.... Jangan begini, malu ah di liat Ferry sama Lisa tuh." lirih Hania tapi tidak berusaha memindahkan kepala Arga dari pangkuannya dan melepaskan lengan Arga yang memeluknya manja.


"Berarti kalau cuma berduaan, boleh?" Arga mendongakkan kepalanya tanpa menegakkan tubuhnya, tangannya pun masih melingkar di tubuh ramping Hania.


Hania menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Wanita itu membelalakkan matanya menatap suaminya yang menyalah artikan ucapannya. Tanpa disadarinya, pikirannya jadi membayangkan maksud perkataan Arga. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya begitu menyadari betapa mesumnya dirinya.


"Ngga boleh?" tanya Arga seraya menaikkan sebelah alisnya.


Kini posisi pria bertubuh atletis itu sudah duduk tegak namun dengan kedua lengannya masih merengkuh Hania.


"Bu-bukan begitu. Maksudku...." Hania jadi bingung, pria dihadapannya itu suka sekali menyimpulkan sendiri padahal dirinya menggeleng bukan untuk menjawab pertanyaan suaminya, namun tanpa disadarinya justru bantahannya menimbulkan prasangka lain bagi Arga.


"Jadi boleh?" Arga sudah menyunggingkan senyum lebar mengira Hania setuju dengan maksudnya, sementara Hania hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kalau begitu kita pulang." putus Arga lalu berdiri dan mengecup kening Hania sekilas.


Pria tampan itu benar-benar suka melakukan apa saja yang disukainya tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tidak pula memperhatikan bahwa di dalam ruangan yang sama, terdapat 2 insan beda kelamin yang jiwa jomblonya sedang meronta demi melihat sikap romantisnya.

__ADS_1


Klek!


Baru saja Arga akan bertanya kemana perginya sang ibu ketika tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan menampilkan sosok wanita yang dicarinya.


"Lho? Kok udah diberesin? Jadi bener hari ini pulang? Sayang, kita nunggu sehari lagi ya? Untuk mastiin kamu bener-bener udah baik-baik saja. Ibu khawatir kalau kamu bentar-bentar pingsan." Ibu Anna yang terkejut karena barang-barang Hania sudah dikemas rapi mencoba untuk merayu menantunya agar mau tinggal barabg sehari lagi.


Wanita cantik paruh baya itu berbicara sambil berjalan mendekati Hania yang masih duduk di tepi brangkar.


"Kamu kok diem aja sih, Ga? Dicegah dong!" kini Ibu Anna melayangkan protes pada putra semata wayangnya karena sepertinya pria tampan itu tidak melakukan apapun.


"Ibu, Hania itu udah baikan. Dia cuma butuh istirahat yang banyak dan minum vitaminnya. Kalau cuma begitu 'kan di rumah juga bisa." sahut Arga mencoba memberi pengertian pada ibunya.


"Bilang aja kamu pelit!" tuding sang ibu seraya memanyunkan bibirnya.


"Hah? Pelit gimana maksud ibu?" Arga mengernyitkan keningnya lalu terkekeh.


"Bilang aja kamu ngga mau bayarin kamar Hania." Bu Anna menjawab sambil melirik sinis putranya.


"Ibu mikir apa, sih? Ya ngga mungkin dong aku perhitungan sama istriku sendiri. Ibu denger sendiri 'kan dokternya ngomong gimana. Hania itu udah baikan, Bu. Udah boleh pulang juga. Semakin baik kualitas istirahatnya akan semakin baik untuk pemulihannya. Kalau di sini, bentar-bentar ada dokter, suster, sama pengunjung, yang ganggu. Kalau di rumah, aku sendiri yang bakal jagain Hania. Aku bakal larang orang-orang ngga penting yang mau nengokin Hania. Aku pastiin istriku yang baik hati ini pulih dengan cepat." ucap Arga panjang lebar meyakinkan ibunya.


Prang!


"Pa! Cukup! Aku udah capek liat Papa ganggu orang lain terus! Lagipula ini bukan tanggung jawab Papa, kenapa harus Papa yang ngelakuin ini semua!? Kenapa Papa ngga tinggalin aja orang itu!?" seru wanita itu sesaat tadi sebelum kondisi berubah kacau balau.


"Bukan urusanmu! Anak kemarin sore seperti kamu mana tahu artinya kesetiaan!" bentak pria tua itu.


"Kesetiaan macam apa yang menuntut Papa untuk terus berbuat jahat! Please Pa, Papa ngga perlu ngerasa harus ngelakuin ini semua!" ucap wanita seksi itu.


"Aku peduli pada Papa. Aku juga sayang Papa. Aku bisa memaafkan semua kesalahan Papa di masa lalu. Ayo Pa, Papa tinggalin aja orang itu." lanjutnya seraya melembutkan suaranya.


Brak!


Gebrakan di meja membuat wanita itu berjingkat dan seketika terdiam.

__ADS_1


"Kamu mau Papamu ini jadi penghianat!? Anak ngga berbakti!" bentak pria itu lagi.


"Aku cuma mau Papa kembali peduli sama aku! Sudah lama Papa abai sama kewajiban Papa ke aku! Papa ngga pernah didik aku, nafkahi aku, merhatiin aku! Papa cuma sibuk ngelakuin perintah orang lain meski jelas-jelas perintah itu ngga bener dan melanggar!" wanita cantik itu balas memekik.


Prang!


Tak hanya bentakan tapi sebuah vas keramik juga melayang hampir saja mengenai kepalanya. Wanita itu terbelalak. Belum selesai rasa terkejutnya, benda lain sedang melayang ke arahnya. Beruntung wanita itu cepat menyadarinya hingga sempat menghindar meski pipinya sedikit tergores.


Siang semakin terik ketika Arga membelokkan sedan mewahnya ke halaman rumahnya. Di belakangnya, mobil Ibu Anna mengikuti dengan kecepatan rendah. Begitu juga motor yang di sebut Anja sebagai 'belalang tempur' milik Ferry.


"Honey, bangun. Kita udah sampai." ucap Arga lirih membangunkan Hania agar tidak terkejut.


Sepertinya, obat penenang masih mempengaruhinya hingga wanita cantik itu merasa mengantuk terus. Diam sebentar sudah dipastikan Hania akan tertidur.


"Ayo bangun, puteri tidur. Cup." dengan nakal Arga mengecup dan sedikit ******* bibir merah jambunya Hania, sedikit mencuri ciuman dikala si empunya yang sedang mendiaminya itu sedang lengah.


Merasa bibirnya basah, Hania mengerjapkan matanya. Matanya langsung melotot mendapati Arga dalam jarak yang sangat dekat dengannya.


"Mas ngapain? Pasti nyuri-nyuri kesempatan, 'kan!?" Hania langsung melayangkan lirikan menyelidik.


"Bangunin puteri tidur lah, bukan nyuri-nyuri kesempatan." sangkalnya seraya menyunggingkan seringainya.


"Masa' sih!?" Hania masih menelisik Arga sementara tangannya mengusap bibirnya yang terasa basah.


"Pencuri!" tuding Hania, kini matanya tajam menatap sang suami yang sedang mengulum senyum seraya mengerlingkan matanya.


"Pencuri hatimu, honey. Yes that's me!" tegas Arga seraya mengusap rambut Hania.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2