Yang Terakhir

Yang Terakhir
215. Duo Batita


__ADS_3

1 tahun kemudian....


Rumah besar berlantai 2 bergaya minimalis yang menjadi kediaman Arga dan Hania itu kini tampak sibuk. Ibu Anna sibuk mengarahkan beberapa orang yang bertugas mendekor ruang tamu sambil menggendong Bintang, cucu laki-lakinya. Sementara Ibu Irene sibuk mengawasi karyawan restoran Hania menata makanan di sudut ruang tamu, juga sambil menggendong Sashi, cucu perempuannya.


"Mas, mas. Itu tulisan birthdaynya agak miring deh." seru Ibu Anna mengoreksi pekerjaan tukang dekor yang segera dibenarkan letaknya.


"Mamas, mamas. Ulican bedena iling." celoteh Bintang meniru ucapan neneknya membuat Ibu Anna gemas dan menci*mi pipi gembul batita itu.


"Papa. Papa. Papa!" tiba-tiba si kecil Sashi berseru riang ketika melihat Arga memasuki ruang tamu, hal itu membuat Bintang juga ikut berseru. Keduanya seolah sibuk berebut perhatian sang Papa.


Arga tertawa sambil mengulurkan tangannya mengambil Sashi dari gendongan Ibu Irene. Pria tampan itu langsung menghujani wajah putrinya dengan kec*pan sayang. Lalu menuju ke arah Bintang. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Sashi. Arga menggendong kedua buah hatinya di kanan dan kiri.


"Kalian kangen Papa, babies? Sama. Papa juga kangen. Sekarang kita cari Mama kalian. Papa juga kangen Mama." ucapnya mengajak kedua batita itu mengobrol seraya menyunggingkan senyumnya.


1 minggu lamanya Arga harus ke luar kota. Mengurus sedikit masalah di anak cabang perusahaannya. Biasanya Iden yang akan menangani permasalahan perusahaan di luar kota. Tapi pekerjaan pria blesteran itu sedang tidak dapat di sela.


Sebisa mungkin Arga menyelesaikan pekerjaannya di luar kota demi bisa kembali ke rumah saat perayaan ulang tahun si kembar. Ya. Hari itu tepat setahun usia duo batita.


"Mas? Udah pulang?" sambut Hania yang sedang berada di dapur. Dia sedang sibuk membuat kudapan favorit si kembar tapi sempat meraih tangan Arga dan mencium punggung tangan sang suami.


"Aku harus ada di acara penting putra putriku 'kan?" sahutnya setelah mengec*p kening Hania.


"Udah beres kerjaannya di sana?" tanya Hania lagi dengan tangan terulur mengajak si kecil Sashi ke dalam gendongannya.


"Semua udah beres. Aku terpaksa memanggil manajer yang lama sampai kita dapat pengganti yang kompeten." terang Arga seraya mengekori Hania meninggalkan dapur.


"Astaga! Mas ganggu masa pensiunnya?" Hania menoleh sedikit.


"Hanya sampai kita dapat manajer baru, honey. Aku minta bantuan Pak Muhaimin baik-baik dan beliau mau membantu." terang Arga lagi.


Hania sudah tidak menyahuti atau bertanya perihal masalah perusahaan lagi. Wanita itu mendudukkan Sashi di kursi bayinya, diikuti Arga yang mendudukan Bintang di sebelah Sashi. Lalu Bi Lastri yang sedari tadi mengekor sambil membawa 2 mangkuk puding stroberi, meletakkan mangkuk-mangkuk berbentuk kelinci itu di hadapan si kembar. Masing-masing 1. Hania membiarkan putra dan putrinya memakan sendiri puding-puding itu meski nantinya membuat keduanya berantakan dan kotor.


"Apa dia udah datang?" tanya Arga pada Hania.


"Dia lagi ngobrol sama Syana sama Lisa. Apa Mas Iden bisa datang nanti? Ah. Aku ngga bisa bayangin gimana reaksinya pas ketemu nanti." ucap Hania sambil sesekali menyeka pipi si kembar.


"Dia harus datang. Ini 'kan acara penting keponakannya. Gimana reaksinya nanti itu ngga penting." sergah Arga.


Hania tertawa melihat reaksi Arga. Wanita itu tahu, bagi Arga, semua tentang keluarganya adalah penting. Terlebih si kembar, Bintang dan Sashi. Anak yang sudah lama dinantinya. Dan Tuhan sungguh menyayanginya. Mengabulkan keinginannya. Tak hanya 1 tapi 2. Sepasang lagi. Momen penting seperti hari kelahiran si kembar haruslah disyukuri dengan mengadakan perayaan dan semua anggota keluarga harus meluangkan waktunya. Kecuali memang benar-benar tidak bisa.


Sebenarnya tidak perlu meriah dan besar, cukup semua anggota keluarga berkumpul, mendoakan, dan makan-makan bersama, sudah cukup untuk Arga dan Hania. Tapi apalah daya, Yangti Anna dan Oma Irene ngotot ingin menjadi even organizernya.


"Mas udah makan? Tadi aku sempet masak makanan kesukaan Mas. Aku ambilin, ya?" Hania langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Arga dan si kembar.


"Lahap banget makannya anak-anak Papa. Makanan yang dibuat Mama kalian memang the best, sih. Kalian lihat perut Papa, udah mulai buncit 'kan? Ini gara-gara masakan Mama kalian. Hah. Kayaknya mulai besok Papa harus ngegym deh. Biar tetap menawan di mata Mama kalian." ucap Arga sambil terkekeh, mengajak Bintang dan Sashi berbicara meski tahu putra putrinya belum mengerti.


Hania datang lagi dengan nampan di tangan, berisi makanan dan minuman untuk Arga. Meletakkannya di hadapan sang suami dan membiarkannya menyantapnya dalam diam.

__ADS_1


Jam 4 sore, suasana di kediaman Arga dan Hania senakin ramai. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kebanyakan ibu-ibu muda tetangga komplek yang datang bersama dengan putra putrinya. Ada juga teman-teman sosialita Hania yang tergabung dengan Mba Niken, juga dengan putra putri mereka. Ah iya. Wanita yang dianggap kakak perempuan oleh Hania itu juga menyempatkan waktu untuk datang.


"Hai ponakan-ponakan Om Iden yang ganteng and cantik. Happy birthday boy, girl. Nih, Om punya hadiah buat kalian." ucap Iden seraya mengambil alih Bintang ke dalam gendongannya dan menyerahkan 2 buah paper bag bergambar karakter kelinci berwarna biru langit dan pink muda pada Arga.


"Mamachi Om." ucap si kembar hampir bersamaan membuat Iden mencubit sayang pipi si kembar dengan sayang saking gemasnya.


"Aku tinggal dulu ya." sela Hania sambil menyerahkan si kecil Sashi untuk digendong Arga.


"Gue ngga telat 'kan?" Hania mengurungkan langkahnya dan menoleh ke arah suara yang sangat dikenalnya, begitu juga dengan suami dan kakaknya.


"Kalau gue udah di sini artinya lu telat, Bro." sambar Iden sambil tertawa. Arga dan Hania juga ikut tertawa, sementara Galih berdecak. Namun, pria berwajah manis itu lalu mengalihkan perhatiannya pada si kembar dan mengucapkan selamat dengan suara yang cadel-cadelkan.


"Kalian lanjutin ngobrolnya. Mas, kita kesana dulu yuk, acaranya udah mau mulai." pamit Hania mengajak Arga dan si kembar, meninggalkan kedua pria tampan yang sedang saling mengejek.


Sebagai sedikit dari segelintir tamu pria, Iden dan Galih memilih menyingkir. Mereka kompak menuju meja berisi aneka hidangan yang dikhususkan untuk orang dewasa. Tak jauh dari meja itu, ada 1 meja panjang lainnya yang berisi makanan untuk anak-anak.


Saat sedang menikmati koktailnya, sudut mata Iden menangkap bayangan wanita yang dulu sangat dikaguminya. Namun harus kecewa karena wanita itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


"Gue ke toilet." ucap Iden meninggalkan Galih karena penasaran dengan bayangan wanita yang terlihat melalui ekor matanya barusan.


Deg!


Jantung Iden berdetak kencang sampai rasanya akan terbatuk. Pria tampan itu segera menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan debaran di dadanya.


"Viona?" gumamnya dalam hati


Iden mengedipkan matanya beberapa kali. Tapi wanita cantik berbadan sintal itu memang Viona. Mau seribu kali berkedip juga, wanita itu tetaplah Viona. Seketika Iden merasa gugup. Ada rasa rindu dan juga kecewa yang bercampur di hatinya. Dia baru saja membalik tubuhnya dan hendak melangkah, tapi Arga sudah berdiri di hadapannya, menghalanginya.


"Gue udah nemuin dia. Ada yang harus kalian selesaiin. Dengerin penjelasan dia. Jangan nyesel 2 kali!" peringat Arga tanpa mau menyingkir dari hadapan Iden.


"Anggap sebagai permintaan maaf gue kar'na Bela meninggal dalam pengawasan gue. Gue tahu lu belum bisa move on dari Bela. Tapi kali ini, jangan lepasin lagi. Lu masih sayang sama dia 'kan?" ucap Arga lagi lalu meninggalkan Iden setelah menepuk bahu kakak iparnya itu.


Ah, Bela. Iden teringat wanita itu. Dia menyesal pernah kecewa pada wanita seksi itu dan menyerahkannya pada Arga untuk mengurusnya. Jika dia tahu pengorbanan Bela untuknya bukan main-main, dia pasti akan melindungi wanita itu.


Sebenarnya, Arga tidak benar-benar langsung mengirim Bela ke sel tahanan. Pria itu sedang mencari sisa-sisa penghianat yang berdiri berseberangan dengannya. Tapi ternyata dia kalah cepat. Saat mengetahui sebuah kebenaran, justru saat Bela telah tiada. Bahkan karena kematian wanita itu, Arga bisa menyapu bersih kaki tangan pamannya dan Handoko.


Kematian Bela membuat Iden sempat bersitegang dengan Arga setahun yang lalu.


"Dia udah mati. Lu puas!?" Pertanyaan yang pernah dilontarkannya itu kembali terngiang di benaknya, diikuti pertikaiannya dengan Arga.


Bug!


Sebuah pukulan tepat mengenai rahang Arga. Pria tampan itu tidak mencoba menghindari pukulan Iden. Dia tahu Iden sedang dilanda emosi.


"Jadi lu udah tahu?" tanya Arga sembari mengusap bibirnya yang berdarah seraya meringis.


Bug!

__ADS_1


Pukulan Iden kembali bersarang di tubuh Arga, kali ini di perutnya. Lagi-lagi pria itu tidak menghindar. Hanya mengerang kecil.


Bug! Bug!


Iden meluapkan emosinya pada Arga. Antara sedih dan marah. Iden yang melihat Arga menyahuti panggilan di ponselnya dengan berdehem saja tanpa berkata-kata sudah curiga jika panggilan itu penting dan harus dirahasiakan. Iden mengenali tabiat Arga itu. Saat Arga sudah keluar dari ruangan Hania, Iden mengikutinya. Hingga sampailah dia di tempat yang juga dituju Arga. Dan melihat sendiri dengan mata kepalanya, tubuh Bela yang pucat dan kaku di kamar jenazah, saat Arga sudah meninggalkan tempat itu.


"Astaghfirullah! Ono opo iki!? Mas Iden! Kok Mas Arga sampeyan gebug i koyok ngono, seh!?" pekik Bi Lastri.


(Astaghfirullah! Ada apa ini!? Mas Iden! Kok Mas Arga dipukuli begitu, sih!?).


Asisten rumah tangga Arga itu memasuki ruang tamu sambil membawa nampan berisi kopi. Sepertinya Iden memintanya membuatkannya tadi. Dan mendapati perseteruan antara majikannya dengan temannya. Beruntung Bi Lastri tidak menjatuhkan nampan itu.


Arga hanya mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan Bi Lastri diam dan meninggalkan mereka. Sementara Iden langsung menjatuhkan dirinya. Duduk bersandar pada dinding dengan menekuk kedua kakinya. Menundukkan wajahnya. Dan kedua tangannya meremas rambut coklatnya. Pria itu menangis dalam diam.


"Sorry. Gue terlambat datang. Tanpa gue dan orang-orang gue sadari, ternyata ada yang mengincarnya. Dan orang itu saudara tiri Bela sendiri. Adik tiri Bela." ungkap Arga lirih dari tempat duduknya yang bersandar pada badan sofa.


"Lu tenang aja. Orang-orang itu udah diamankan pihak berwenang sekarang. Gue janji, mereka bakal dapat ganjaran yang lebih dari sewajarnya." imbuh Arga lagi sambil sesekali meringis.


Iden mendesah. Kini, Bela sudah meninggalkannya dengan segala rasa bersalah dan perasaan yang mengganjal di hatinya. Harusnya dia langsung saja mengungkapkan rasa sayangnya pada wanita seksi itu. Mengatakan padanya bahwa dia mencintainya. Tapi semua hanya tinggal penyesalan yang semakin menenggelamkannya dalam kesenangan semu semata. Kembali menjadi penjelajah wanita.


"Iden?" sebuah sapaan dari arah belakangnya, menarik Iden dari ingatannya tentang kejadian yang melukainya setahun yang lalu.


Sapaan dengan suara lembut yang masih sangat dihapalnya membuatnya menoleh. Rasa gugup kembali menyerangnya. Wanita cantik yang membuatnya tidak bisa ke lain hati itu berdiri di depannya dengan senyum semanis madu.


"Om Iden. Achi ndong." celotehan Sashi yang memanggilnya membuyarkan kegugupan Iden.


"Mas. Tolong ya, gendongin Sashi sebentar. Aku mau ke toilet." pinta Hania yang tiba-tiba datang dan langsung saja menyerahkan Sashi pada Iden dan buru-buru meninggalkannya.


Iden menerima Sashi ke dalam gendongannya dan tampak luwes menggendong batita cantik itu.


"Au ndong Om Iden." sebuah celotehan lagi menghampiri Iden yang sudah menggendong Sashi.


"Om Idennya udah gendong Sashi, tuh. Bintang sama tante Viona aja ya." tawar wanita yang tadi menyapa Iden.


Bintang langsung mengulurkan tangannya saat Viona hendak menggendongnya. Duo batita itu memang tidak terpisahkan. Salah satu saja tidak terlihat maka yang satunya lagi akan mencarinya.


"Sorry, ya, kita jadi ganggu kalian. Lagian Hania itu, kenapa juga harus ngasih Sashi sama elu padahal di sana ada Yangti sama Omanya." ucap Arga dengan wajah menyesal.


Pura-pura menyesal tepatnya. Hania yang melihat kecanggungan Iden dan Viona tiba-tiba ingin membuat suasana menjadi lebih santai diantara keduanya. Arga yang ingin mendekatkan kembali sahabatnya itu dengan cinta lamanya pun langsung setuju.


"Ate Io acal Om Iden." celoteh Bintang tiba-tiba, membuat Iden dan Viona yang tahu maksud ucapan batita itu terkejut. Arga pun terkejut karena putranya itu bisa bilang begitu.


Arga mendesah. Sepertinya dia harus mulai berhati-hati jika berbicara di depan putra putrinya itu. Tadi memang dirinya dan Hania membicarakan Iden dan Viona. Ternyata mereka merekam percakapannya dengan sang istri.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!


🥰🥰🥰


__ADS_2