
Sejak semalam senyum Arga selalu tersungging di bibirnya yang menurut Hania seksi. Hatinya berbunga-bunga atas kejutan yang diberikan Hania dan Tiara kemarin. Pria itu berpikir Hania tidak mengerti maksud pesan-pesan yang dikirimnya melalui ponselnya. Dia juga mengira wanita itu memperlakukannya dengan manis untuk membalas kesediannya meluangkan waktu untuk Tiara.
Sebuah kue dengan banyak lilin di atasnya yang menyimbolkan usianya, ucapan selamat, dan tentu doa untuk kebaikannya, diberikan wanita cantik itu membuatnya terharu. Dia sampai menitikkan air matanya semalam. Padahal pria tampan itu sudah tidak mengharapkannya. Cukup dengan penerimaan dan pengakuan Tiara atas kehadirannya di sisinya. Dia sudah sangat bahagia.
Sikapnya yang tidak biasa itu tentu mengundang berbagai komentar dan tatapan heran dari para karyawannya. Menurut mereka, atasannya itu terlihat lebih tampan.
Binar bahagia terpancar sepanjang hari mempengaruhi moodnya. Arga begitu bersemangat menjalani harinya. Termasuk ketika bertemu mitra bisnis sekaligus temannya, Dewa, yang sempat kecewa karena pria karismatik itu tidak bisa menemuinya langsung dan menggantikannya dengan asistennya kemarin.
Setelah pertemuan singkatnya dengan Dewa, Arga melajukan mobilnya ke hotel dimana Hania menjadi salah satu tamu undangan. Wanita cantik itu sudah mengatakannya padanya. Kebetulan juga letak hotel itu tidak jauh dari kafe tempatnya bertemu Dewa.
Bermaksud ingin memberi Hania kejutan, malah dirinya yang terkejut. Begitu menginjakkan kakinya di hall hotel, acara memang sudah selesai. Pria itu mengikuti Hania menuju lift di lantai itu dari jarak aman. Tapi ketika akan mendekat, dirinya melihat seorang pria menyapa Hania. Pria lain itu juga memiliki wajah rupawan menurutnya. Tampak Hania sedikit bingung awalnya, namun kemudian mulai menyapa pria itu. Pria itu juga mengajak Hania menjauh dari pintu lift, berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman di lantai itu. Dan mereka mulai berbincang di sana sambil berdiri.
Siapa dia? Kenapa Hania seperti mengenalnya? Hah. Matanya, kenapa menatap Hania begitu. Ingin sekali mencongkel mata pria itu. Apa dia menyukai Hania? Ah. Hania. Memang tidak sulit untuk menyukainya. Mengingat Hania yang berhati lembut Arga tersenyum namun sejurus kemudian dia tersadar jika tengah mencemburui Hania. Arga mendesah.
Menyadari rasa tidak relanya dia jika Hania ditatap selekat itu oleh pria yang juga tampan di depan Hania, otak cerdas Arga berpikir. Dia tidak ingin tiba-tiba mendatangi keduanya. Tidak elegan. Iya. Saat ini, Arga tengah bersembunyi di balik dinding, tidak jauh dari tempat Hania berdiri. Memperhatikan Hania.
Tuut tuuut.
Arga merogoh ponselnya di saku celana bahannya lalu menghubungi Hania. Setidaknya, hanya cara itu yang terpikir olehnya. Terdengar panggilannya tersambung. Tak lama kemudian suara lembut yang sangat dihapalnya terdengar dari seberang ponselnya. Sambil memperhatikan Hania dan pria di depan wanita itu, Arga terus berbicara pada Hania.
"Halo, Mas?" sapa Hania lembut seperti biasa.
"Kamu dimana, Han?" tanya Arga juga lembut, menekan rasa kesalnya.
"Aku masih di hotel nih." sahut Hania.
"Mau pulang bareng? Aku di dekat situ." tawar Arga, jelas dia berbohong.
"Mas di sekitar sini? Boleh. Tapi mobilku gimana?" Hania langsung menerima tawaran Arga.
Pria itu melihat wajah Hania tampak sumringah. Kenapa wanita itu terlihat senang? Tidak mungkin karena Arga mengajaknya pulang bersama 'kan? Atau memang Hania tidak nyaman berdua-duaan dengan pria itu, meskipun nyatanya tidak hanya ada mereka di sana.
Oh iya. Mobil Hania. Sebenarnya tidak masalah meninggalkan mobil itu di sana. Hotel berbintang itu memiliki tingkat keamanan yang baik. Tapi wanita cantik itu membutuhkan mobilnya untuk beraktifitas. Kini pria karismatik itu memikirkan cara membawa mobil Hania pulang. Reza! Seketika nama asistennya melintas di benaknya.
"Mobilmu biar dibawa Reza. Aku habis nemuin klien sama Reza barusan." terang Arga. Lagi-lagi dia berbohong.
"Oke deh. Aku tunggu ya, ngga pake lama." ucap Hania lalu menyudahi obrolannya di ponselnya.
Arga langsung menghubungi Reza, memerintahnya datang menemuinya saat itu juga, secepatnya. Dia tidak ingin Hania berlama-lama dengan pria yang juga tampan itu. Arga tidak rela Hania ditatap penuh puja oleh pria itu. Demi mendengar perintah atasannya itu, sudah pasti asistennya yang setia itu langsung berangkat. Tak menunggu terlalu lama, Reza tiba di hotel dan langsung menuju ke lantai dimana Arga menunggunya, menemui atasannya yang suka seenaknya main perintah.
"Ah, syukurlah kamu cepat datang." ucap Arga begitu Reza sudah di dekatnya.
"Tunggu di sini!" perintah Arga lalu meninggalkan pria berwajah manis itu.
Reza menatap punggung Arga menjauh. Hah. Dia mendesah. Jauh-jauh datang kemari dan meninggalkan pekerjaannya, hanya untuk diabaikan seperti ini?
Asisten Arga itu memperhatikan dari jarak aman. Reza memicingkan matanya memastikan penglihatannya. Benarkah itu Hania? Sejak kapan atasannya itu sembunyi-sembunyi mengawasi Hania? Apa Arga mencurigai sesuatu? Siapa pria yang di depan mereka itu? Tampan juga. Wah, bosnya mendapat rival. Senyumnya mengembang di sudut bibirnya, begitu menyadari gelagat Arga, ditambah atasannya itu merangkul pinggang Hania posesif.
Entah apa yang dibicarakan ketiga orang yang sedang berbincang itu. Yang jelas, wajah pria yang juga tampan itu tampak tak suka dengan kehadiran Arga. Mungkin juga merasa tersaingi.
Reza segera menampakkan dirinya ketika melihat Arga dan Hania berjalan mendekat ke arahnya. Pria berwajah manis itu mengulum senyumnya demi melihat sikap posesifnya Arga. Dirinya yang melihat Arga melingkarkan tangannya di pinggang Hania semakin yakin jika atasannya itu memanglah sedang kasmaran. Reza menganggukkan kepalanya menyapa Hania. Tidak berlebihan dan terkesan formal. Tapi lebih baik seperti itu, selain sifatnya yang kaku, dia juga tidak ingin Arga mengintimidasinya.
__ADS_1
"Mana kuncimu, Han?" Arga menengadahkan tangannya di hadapan Hania, membuat wanita cantik itu segera merogoh tas selempangnya.
Reza mengerngitkan keningnya. Hon? Maksudnya honey? Atau Han? Hania? Ah. Sudahlah sama saja, maknanya juga sayang. Pikirannya melayang memikirkan bosnya yang memanggil wanita itu dengan panggilan sayang.
"Kamu bawa mobil Hania. Antarkan ke rumahnya. Nanti saya shareloc alamatnya." perintah Arga seraya menyerahkan kunci mobil Hania.
"Hah? Sekarang disuruh nganterin mobil? Haduh. Ngga jelas banget deh jobdesk ku sekarang." keluh Reza dalam hati.
"Baik, Pak." namun kata-kata taat perintahlah yang selalu keluar dari mulutnya.
Arga mengajak Hania meninggalkan hotel itu dengan senyum yang terus mengembang. Pasalnya, Hania belum juga menyadari Arga yang masih merangkul pinggangnya.
Sedan mewah Arga sudah meluncur dengan kecepatan sedang di jalan raya, berbaur dengan kendaraan lainnya.
"Mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu nih?" tanya Arga seraya melirik jam digital di dashboard mobilnya.
Jam 2. Arga tahu hari ini Hania tidak punya kegiatan lain setelah acara di hotel tadi. Sementara itu, jam sekolah Tiara belum usai.
"Kayaknya ke supermarket dulu deh. Ada yang mau aku beli. Stok bahan makanan juga udah tipis." sahut Hania.
Sebenarnya Hania lebih suka berbelanja bahan makanan di pasar tradisional di dekat rumahnya. Tapi pasar di sana beroperasi pagi dan sore hari sedang sekarang masih siang. Lagipula dia bersama Arga. Tidak mungkin mengajaknya berdesak-desakan di dalam pasar. Pria kaya itu pasti tidak pernah melakukannya, pasti tidak akan nyaman.
Arga mengekori Hania yang fokus memilih bahan makanan sambil membawa troli yang sudah setengah penuh oleh barang belanjaan Hania dan Arga. Pria kaya itu juga ikut memasukkan bahan makanan yang ingin dimakannya ketika berada di rumah Hania.
Saat melintasi coffeeshop, Arga yang berjalan sedikit di belakang Hania karena sedang menerima panggilan dari Reza, melihat beberapa pria tengah menatap Hania penuh puja.
"Rezeki ngga akan kemana sih, lagi suntuk dapat pemandangan indah. Kayaknya masih single deh, body nya... Suit suit. Seger nih mata kalau liat yang beginian tiap hari, muluuus. Coba dresnya pendekan dikit, kerahnya rendahan lagi, seksinya ngga ada obat. Heum.. Pengen bungkus bawa pulang. Hahhaah..." terdengar kalimat-kalimat yang memuji Hania sekaligus melecehkan wanita cantik itu.
Matanya ikut memperhatikan Hania. Dia melihat Hania. Ah. Wanita itu memang indah. Tubuhnya ramping ideal dengan bentuk yang proporsional. Pa**da** dan b*k*ngnya pas untuk ukuran tubuh seramping Hania. Begitu lembut. Arga pernah merasakannya. Meski masih terbalut pakaian, benda kenyal bagian depan dan belakang milik Hania itu terasa sangat lembut. Arga mendengus ketika merasakan 'jendral jack'nya menggeliat.
Arga memejamkan matanya, menghela napas dan membuangnya dengan kasar untuk menetralkan gairahnya yang mendadak bangkit hanya dengan membayangkan bamper depan dan belakang milik Hania. Seketika merasa tidak rela jika Hania menjadi bahan fantasi pria-pria mesum kurang kerjaan itu.
"Han?" Arga menahan langkah Hania dengan mencekal lengan wanita itu dengan lembut, membuat Hania berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya.
"Sebentar. Kamu tunggu di sini. Aku ada perlu sebentar. Jangan kemana-mana, oke?" ucap Arga.
Hania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Pria itu memberinya banyak pesan sebelum meninggalkannya, seperti akan meninggalkan anak kecil saja. Hania terkekeh menanggapi sikap Arga.
Arga berjalan dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Memasuki coffeeshop tadi. Pesonanya tidak pernah gagal menghipnotis para wanita yang kemudian menatapnya penuh damba. Tapi Arga tidak pernah terpengaruh dengan tatapan-tatapan itu. Tujuannya adalah mendekati meja-meja yang diduduki pria-pria mesum yang menggosipi Hania tadi.
"Ehem!" Arga berdehem menarik perhatian para pria itu. Kontan mereka langsung menoleh.
"Gue denger Lu pada suka sama perempuan cantik kayak dia." ucap Arga sambil menunjuk Hania yang duduk menyamping tak jauh dari sana.
Para pria itu saling pandang. Kemudian menatap ke arah yang ditunjukkan Arga lalu beralih menatap Arga dari atas ke bawah, ke atas lagi.
"Yoi lah, man. Bening gitu. Rela deh meski harus rebutan. Hehehe..." pria bermata sipit itu terkekeh, yang lain mengangguk.
"Oh ya? Berani rebut dia dari Gue?" tantang Arga, membuat sekumpulan pria itu tergelak.
"Kenapa?" tanya Arga yang wajahnya berubah serius, para pria itupun seketika menghentikan tawanya, ikut serius.
__ADS_1
"Lu ngajak taruhan? Emang Lu siapanya dia?" pria bermata sipit itu terpancing.
Arga terkekeh.
"Gue mau ngasih pelajaran. Perempuan cantik itu punya Gue. Dan Gue ngga terima Lu ngomong kayak barusan." para pria itu saling pandang lagi lalu terkekeh.
"Omongan mana yang Lu maksud?" tanya pria berkaca mata yang duduk di samping pria bermata sipit.
"Lu liat kan? Istri Gue bajunya sopan. Tapi barusan Elu dan Elu bilang, seandainya pendekan dikit, rendahan dikit? Seksi?" Arga terkekeh sekaligus kesal mengingat para pria mesum itu membicarakan Hania tadi.
"Istri?" para pria itu mengernyitkan dahinya, kini mereka bingung.
"Mau Lu apa?" tanya salah seorang lagi.
"Ngasih kalian pelajaran!" sahut Arga dengan wajah yang mengelam.
"Jangan becanda, man. Biasa kan kalau kita ngomongin cewe-cewe bening?" ucap pria bermata sipit itu sambil memegang lengan Arga.
Secepat kilat Arga meraih lengan pria itu dan memitingnya. Suara jeritan terdengar di telinganya. Pria itu benar-benar kesakitan. Sementara yang lainnya langsung berdiri hendak membantu tapi Arga segera menarik pria bermata sipit itu ke arahnya sembari menangkis serangan yang dilancarkan para pria mesum itu.
Pekikan para pengunjung wanita tertahan di sisi lain ruangan coffeeshop itu. Yang awalnya ketakutan, berubah terpesona demi melihat aksi Arga yang terlihat jantan.
Bagi Arga yang seorang pemegang sabuk hitam, tidaklah sulit menghindar dan memberi pukulan balasan. Arga menghadiahi pukulan telak di beberapa bagian tubuh para pria mesum itu. Hingga tak sanggup melawan lagi.
Gerakan Arga yang cepat dan rapi tidak sampai membuat ruangan coffeeshop itu hancur berantakan. Hanya meja tempat para pria mesum itu berkumpul dan 2 meja lagi di sebelah-sebelahnya yang rusak.
Arga berjongkok di depan pria bermata sipit yang tersungkur di lantai. Pria itu sudah ketakutan.
"Perbaiki sikap Lu, baru nargetin perempuan cantik kayak dia. Sampah!" ketus Arga dingin.
Bukan tanpa alasan Arga berbuat seperti itu. Sejak kemarin pria tampan itu sudah menahan amarahnya terhadap orang-orang yang menggosipi Hania. Dan semakin tidak bisa lagi menahan dirinya ketika mendengar Hania dijadikan bahan fantasi pria-pria mesum kurang kerjaan itu.
Pria itu bangkit lalu berjalan ke arah meja kasir seraya merapikan kemejanya lalu menyisir rambutnya dengan jarinya.
"Hitung kerugiannya!" perintah Arga pada karyawan coffeeshop itu lalu merogoh kantongnya mengambil ponselnya.
"Rez. Kamu dimana? Datang ke Platinum coffeeshop yang di Citraland Supermarket. Selesaikan urusan di sini!" perintahnya pada Reza yang sepertinya masih di jalan menuju rumah Hania.
Seorang pria bertubuh sedikit tambun berpenampilan rapi dengan dasi yang terpasang rapi di kerah kemejanya yang licin, tampak berjalan tergopoh-gopoh mendatangi coffeeshop itu bersama 2 orang sekuriti.
"Pak? Anda di sini?" begitu tiba di sana pria itu justru mengangguk-angguk hormat pada Arga.
"Kamu manager di sini?" tanya Arga malah balas bertanya, pria bertubuh agak tambun itu menyahut sopan seraya mengangguk.
"Bagus. Kamu tunggu Reza di sini." perintahnya pada pria itu lalu meninggalkan tempat itu.
Arga berjalan dengan langkah lebar menuju ke tempat dimana tadi dia meninggalkan Hania. Terlihat Hania sedang berbincang dengan seorang ibu paruh baya. Ah. Hania tidak akan mati kutu dimanapun dia ditinggalkan. Wanita cantik itu pandai bergaul dengan siapa saja. Arga tersenyum tipis karena sudah membayangkan wanita itu bosan menunggunya.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1