Yang Terakhir

Yang Terakhir
133. Ayo Kita Menikah


__ADS_3

Mang Abdul dan Bi Inah yang menunggui majikannya di depan pintu ruang IGD tampak lega begitu melihat kedatangan Arga.


"Ibu gimana, bi?" tanya Arga yang sudah lebih tenang.


"Belum tau, Mas. Dokter belum ada yang keluar." sahut bi Inah dengan raut wajah cemas yang kentara.


Arga mendesah, desahannya dapat didengar Hania. Wanita cantik itu mengeratkan genggamannya di tangan Arga.


Sementara itu, bi Inah dan Mang Abdul terus memperhatikan Hania. Sesekali saling melempar pandang satu sama lain seolah bertanya dalam hati. Siapakah wanita cantik itu? Dekat sekali dengan anak majikannya? Apakah kekasihnya anak majikannya itu? Jika benar begitu, syukurlah.


Tak berselang lama, seorang dokter yang berusia lebih tua dari Arga, muncul dan menyapa pria karismatik itu.


"Ibu sudah melewati masa kritisnya tapi masih perlu diobservasi lebih lanjut. Dan akan dipindahkan ke ruang icu. Aku sudah mengurusnya. Setelah mengantar Ibu ke ruang icu temui aku di ruanganku." ucap dokter bername tag Dana itu sambil sesekali melirik Hania.


"Iya, Bang. Makasih." sahut Arga.


Dokter berwajah teduh itu mengangguk, lalu menepuk pundak Arga. Dan berlalu meninggalkannya.


Dokter Dana adalah anak dari sahabat Ibunya Arga. Tepatnya Ibunya Dana. Sejak kecil Arga dan Dana sudah akrab. Apalagi setelah Ibunya Dana berpulang. Praktis Dana yang sudah yatim menjadi sebatang kara.


Ibunya Dana berasal dari keluarga sederhana. Jadi setelah lulus SMA, pria itu sempat tidak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah karena keterbatasan biaya. Tapi otaknya yang encer itu sangat disayangkan jika dianggurkan. Maka Ibunya Arga memutuskan untuk membiayai pendidikannya atas persetujuan ayahnya Arga. Apapun jurusan yang dipilihnya tidak masalah. Dan di sinilah Dana bekerja. Sebagai dokter spesialis jantung di rumah sakit milik keluarga Darren.


Sejak awal Dana sangat ingin menjadi dokter tapi tidak menyangka jika akan menjadi dokter spesialis jantung. Ayah Arga memintanya memperdalam ilmunya menjadi dokter spesialis. Dan jantung adalah pilihannya supaya Dana bisa membalas budi orang tua Arga dengan merawat sang Ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung.


Dana sangat ingin berbakti pada keluarga Arga. Selain pendidikan, orang tua Arga juga memberinya kasih sayang layaknya orang tuanya. Bahkan memintanya untuk memanggil ayah dan ibu pada kedua paruh baya itu, sama seperti Arga.


Sesaat kemudian beberapa perawat wanita keluar dari ruang IGD sambil mendorong brangkar ibunya. Arga dan yang lainnya mengekor.


Tok tok tok!


Arga mengetuk pintu ruangan dokter Dana. Dia menemui dokter yang menangani ibunya seorang diri. Sementara Hania menunggui sang Ibu ditemani Bi Inah dan Mang Abdul.


"Apa yang terjadi? Sudah setahun ini ibu ngga pernah kambuh 'kan?" tanya dokter Dana sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya.


"Aku juga ngga tau. Tadi pagi Ibu masih baik-baik aja. Hari ini Ibu ketemu temen-temennya dan melakukan kegiatan sosial. Apa karena kecapekan?" terang Arga.


Dokter Dana menghela napasnya. Pria itu tampak berpikir.


"Biasanya Ibu juga begitu 'kan? Aktif dengan kegiatan sosialnya?" Arga mengangguk.


"Kurasa ini bukan karena kecapekan. Ibu syok, Ga." ucap dokter Dana lagi membuat Arga mengernyitkan keningnya.


Arga kembali ke ruangan icu dengan gontai. Wajahnya tampak lesu dan rambutnya sedikit berantakan. Hania langsung menyambutnya dengan senyuman semanis madunya begitu melihatnya mendekat. Senyuman yang dirasanya seperti guyuran air dingin di tubuhnya. Sejuk. Arga menarik tubuh Hania dan memeluknya dengan erat seolah ingin berbagi rasa resah di hatinya.


Mang Abdul dan Bi Inah lagi-lagi bersitatap melihat kelakuan Arga yang tampak manja pada Hania. Dan mereka semakin yakin jika wanita itu adalah kekasih anak majikannya.


Malam merangkak semakin larut, Mang Abdul dan Bi Inah sudah kembali ke kediaman majikannya. Sementara Hania bersikeras menemani Arga menunggui sang Ibu.


Tepat jam 11, Dana muncul di ruang tunggu ruang icu, sebuah ruangan yang diperuntukkan bagi keluarga yang menunggu pasien. Hania sudah tertidur. Obat yang dikonsumsinya memang menimbulkan efek menenangkan. Setelah makan malam dan meminum obatnya, wanita cantik itu tak dapat menahan gempuran kantuk yang datang. Arga menoleh tapi tak berniat beranjak dari duduknya karena Hania tidur bertumpu pada pahanya.


"Jadi, dia yang udah mencairkan gunung es ini?" goda Dana seraya menatap Hania yang tertidur pulas.


"Kamu liat apa, Bang?" bukannya menjawab pertanyaan Dana, Arga malah menanyakan arah tatapan Dana pada Hania.


"Ck! Cuma mastiin, dia ini orang apa bukan?" ledek Dana sedikit kesal karena disangka yang bukan-bukan.


"Maksud Abang?" Arga mengernyitkan keningnya seraya melirik Dana.


Dana terkekeh. Merasa lucu melihat raut wajah adik angkatnya yang terlihat tak suka diledeknya.


"Kalau orang, sudah berapa banyak wanita cantik dan seksi yang dikenalin Ibu ke kamu? Tapi semuanya mental." Dana menjeda ucapannya.


"Dia pasti bukan orang." ucap Dana semakin menggoda Arga.


Arga mendengus dan mengalihkan tatapannya. Apa-apaan abangnya itu? Jika bukan orang, lalu Hania ini apa? Makhluk halus? Sudah jelas Hania bisa disentuhnya, dan tadi siang abangnya itu juga bisa melihat jika Hania berjalan bertumpu pada kakinya.

__ADS_1


"Dia pasti bidadari." celetuk Dana, yang semakin membuat Arga mendengus.


"Manusia biasa ngga mungkin bisa naklukin gunung es ini." sambung Dana lalu tergelak.


Arga hanya bisa melirik tingkah konyol Dana yang kadang-kadang muncul di tengah-tengah pembawaannya yang tenang dan serius. Dan itu malah dirasa aneh oleh Arga.


Hania menggeliatkan tubuhnya. Tidurnya terusik suara tawa Dana tapi tidak sampai terbangun.


"Diamlah, Bang! Suaramu bener-bener ganggu!" seru Arga seraya mendelik.


Bukannya diam, Dana malah semakin tergelak. Sudah lama dokter itu tidak menggoda Arga. Meski tinggal di kota yang sama tapi kesibukan keduanya membuat keduanya tidak bertemu hampir setengah tahun ini.


Sewaktu Hania dirawat di sana, Dana sedang berada di negeri kincir angin untuk sebuah seminar tentang kesehatan. Jadi pada kesempatan itu, baik Arga dan sang Ibu tidak bisa menemuinya. Namun, kabar tentang Arga yang tengah dekat dengan Hania tetap sampai ke telinganya.


"Gimana dia? Sudah sehat? Kenapa ngga di rumah aja biar istirahatnya lebih nyaman?" Dana memberondong Arga dengan pertanyaan seputar kesehatan Hania setelah puas menertawakan Arga.


Dana juga tidak ketinggalan berita tentang musibah yang menimpa Hania yang sempat membuat wanita itu depresi. Dirinya pun sempat merekomendasikan psikiater untuk Hania.


Arga menghela napasnya.


"Aku lebih tenang kalau dia juga di sini, Bang." ucapnya serius.


"Egois!" tuding Dana.


"Anggap aja begitu. Tapi sebisa mungkin aku akan mengajaknya kemanapun aku pergi selama itu memungkinkan. Aku ngga mau yang kemarin terulang lagi." bela Arga.


"Kemana preman-preman itu? Kenapa ngga minta mereka jagain rumahmu?" tanya Dana lagi.


Arga mendengus. Dia masih kesal dengan anak buahnya yang lalai menjaga Hania. Hingga mengirimnya ke luar jawa untuk membantu mengawasi proyek barunya di sana.


"Terakhir kuperintahkan jagain dia, dia malah diculik." sahut Arga ketus yang disambut gelengan kepala Dana.


Dana menghela napasnya. Dokter tampan itu menatap Arga yang menatap ruangan dimana ibunya dirawat sejenak. Seolah ikut merasakan tekanan yang dirasakan Arga. Sebagai pewaris perusahaan keluarganya, semua tanggung jawab dipikulnya. Belum lagi kepopulerannya sebagai pebisnis muda yang tampan dan sukses, membuatnya menjadi incaran para wanita cantik pencari kehidupan mapan nan mewah secara instan, dan lawan bisnisnya.


Pria itu merasakan betapa miris kisah asmara adik angkatnya itu. Pernikahan yang gagal dan kekasih yang ikut menjadi pelampiasan dendam mantan sahabatnya.


Lalu di usia 40 tahun dirinya kembali menikah dengan putri mantan pasiennya. Namun, lagi-lagi pria itu harus menduda lagi diusia pernikahan mereka yang baru melewati angka 1 karena serangan jantung yang merenggut nyawa sang istri. Saat itu, dirinya sedang berada di luar kota.


Beruntung Arga dan dirinya masih memiliki seorang Ibu berhati malaikat yang selalu mendampingi pria itu, dan juga merengkuhnya setelah kepergian ibunya. Dokter berusia 42 tahun itu ikut menatap sang Ibu angkat.


"Abang ngga pulang?" tanya Arga memecah keheningan seraya menoleh ke arah Dana.


"Aku juga mau jagain Ibu. Besok aku libur." sahut Dana masih menatap sang Ibu yang terbaring lemah di ranjangnya.


Lalu keduanya terdiam lagi, larut dengan pemikirannya masing-masing. Dua pria nyaris sempurna dengan status duda. Duda keren.


Hania terbangun bertepatan dengan kumandang adzan shuhuh yang terdengar lamat-lamat di telinganya. Perlahan dia bangkit dari posisi berbaringnya. Wanita cantik itu tidak melihat Arga ada di ruangan itu. Hanya sesosok pria tengah tertidur dengan posisi meringkuk di sofa tunggal di seberang sofa yang didudukinya.


Klek!


Tatapan matanya beralih pada pintu toilet yang terbuka dari dalam. Sosok pria yang dicarinya muncul dari dalam sana. Senyumnya langsung mengembang.


"Kita jama'ah ya, aku tunggu." ajak Arga setelah Hania mendekat yang diangguki wanita itu.


Kemarin sore, Arga meminta Bi Sumi untuk menyiapkan pakaian ganti untuknya dan Hania, sekaligus peralatan ibadahnya yang akan diantarkan Reza ke rumah sakit.


Dana terbangun persis ketika Arga dan Hania menyelesaikan ibadahnya. Pria itu memperbaiki posisi duduknya.


"Kok ngga di musholah aja?" tegurnya.


"Sekalian nunggu Ibu, Bang. Abang 'kan masih tidur." sahut Arga seraya melipat sajadahnya.


"'Kan bisa gantian." ucap Dana lagi.


"Abang kayaknya kecapekan, aku ini masih punya hati, ngga tega bangunin Abang." sahut Arga lalu mendudukkan tubuhnya di sofa panjang di hadapan Dana.

__ADS_1


"Ya udah, aku ke musholah dulu." pamit Dana seraya menatap Arga lalu Hania.


Hania hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Itu 'kan dokter yang tadi siang. Akrab banget." komentar Hania.


"Iya. Dia Bang Dana." ucap Arga.


Pria tampan itu lalu menceritakan siapa Dana pada Hania. Bagaimana Arga menghormati Dana yang usianya 6 tahun lebih tua darinya itu. Pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak laki-lakinya. Meski jarang bertemu karena Dana sibuk dengan pendidikannya, tapi pria yang disapanya abang itu, selalu memyempatkan diri menemaninya bermain dan belajar jika sedang luang.


"Sekarang, aku mau nagih jawabanmu yang kemarin." todong Arga seraya menatap mata Hania.


"Ja-jawaban apa?" Hania gelagapan tiba-tiba ditodong Arga, membuatnya terkejut saja.


"Jangan pura-pura lupa, honey. Atau kamu memang suka kalau aku melakukannya lagi dan lagi?" desak Arga.


Wanita cantik itu terperangah dan heran dengan sikap pria tampan itu. Bukannya dia tidak tahu yang dimaksud Arga. Hanya saja dalam situasi seperti itu, kekasihnya itu masih sempat memikirkan jawabannya atas lamarannya kemarin siang.


Sebenarnya Hania sedikit merasa lega karena fokus Arga teralihkan pada sakitnya sang Ibu. Tapi ternyata dia salah. Pria itu tetap memikirkannya. Dan kini sedang menagihnya.


Kemarin dirinya sudah siap menjawab dengan percaya diri. Tapi kini, sepertinya rasa percaya dirinya sudah menguap entah kemana. Hania harus kembali mengumpulkannya.


Sementara itu Arga masih menatapnya dengan lekat. Masih menanti jawaban Hania dengan sabar. Pria itu tidak ingin mendesaknya.


Hania menatap mata Arga dan pria itu malah menaikkan sebelah alisnya.


"A-aku... Aku... Aku mencintaimu." senyum Arga merekah mendengar ucapan Hania.


"I know." sahutnya, pria itu seakan tahu jika Hania hanya mengulur waktu saja.


"Jawab yang jelas, honey. Jangan muter-muter." ucap Arga lembut seraya mengusap pipi Hania yang lebih tirus itu.


Hania menghela napasnya dalam-dalam. Wanita itu gugup. Dirinya pernah dilamar dan langsung menerimanya. Tapi kenapa kali ini lidahnya terasa kelu? Walau sebenarnya dirinya sangat bahagia dan melambung ketika Arga mengajaknya menikah.


Hania baru akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba Arga mengepalkan kedua tangannya di hadapan Hania membuat wanita itu bingung.


"Pilih 1, honey." pinta Arga.


Honey sempat berpikir sejenak kemudian menjatuhkan pilihanya pada tangan kanan Arga. Pria tampan itu membuka genggamannya. Melihat isi genggaman tangan Arga, Hania terbelalak.


"Ayo kita menikah Hania." ucap Arga lembut seraya menyodorkan cincin bermata berlian yang terlihat sangat manis.


"Iya. Ayo, kita menikah." sahut Hania seraya menganggukkan kepalanya dan sesenggukan tak kuasa menahan tangisnya.


Hania meng 'iya' kan permintaan Arga dengan yakin. Tiba-tiba rasa percaya dirinya muncul begitu saja. Yang jelas bukan karena cincin berlian yang ditunjukkan oleh Arga. Melihat pria tampan itu memintanya lagi, Hania merasa semakin yakin jika pria itu sungguh-sungguh.


Arga langsung memeluk Hania dengan erat. Mengecupi puncak kepala wanita itu terus menerus. Pria tampan itu mengurai pelukannya, dia teringat cincin yang masih digenggamnya.


"Yang ini, apa isinya?" rasa ingin tahunya menggelitiknya untuk bertanya ketika melihat tangan kiri Arga yang juga menggenggam.


Arga membuka genggamannya dan memperlihatkannya pada Hania.


"Cincin?" Hania terperangah melihat cincin yang sama dengan yang dilihatnya tadi.


Arga terkekeh melihat reaksi Hania.


"Kamu boros banget, Mas. Beli cincin langsung 2 dengan model yang sama lagi." tegur Hania.


"Kamu bisa jual yang satunya." ucap Arga setelah menyelipkan cincin berlian itu ke jari manis Hania lalu mengecup jari itu.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2