Yang Terakhir

Yang Terakhir
103. Aku Sedang Berdoa


__ADS_3

Ferdi menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Pria mempesona itu menyaksikan sendiri bagaimana istrinya yang cantik dan disayanginya itu melabrak Hania, wanita yang dicintainya. Hatinya seperti diremas mendengar kata-kata yang terlontar untuk Hania.


Pria tampan itu  berniat menyudahi makian sang istri, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria yang dianggapnya arogan juga berdiri tak jauh darinya, juga menyaksikan perseteruan itu. Dan tak berselang lama, pria itu sudah berjalan mendekati istrinya yang sedang memaki Hania. Dirinya masih bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya bersembunyi.


Seketika dadanya bergemuruh serasa mau meledak ketika mendengar pria itu menyebut Hania sebagai istrinya. Benarkah? Secepat itu? Tapi kenapa tidak ada berita pernikahannya? Bukankah pria itu pengusaha muda yang sukses dan berprestasi? Ferdi menggeleng-gelengkan kepalanya menyangkal apa yang didengarnya.


Pria itu segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan perseteruan yang meributkannya. Yang membuat hatinya berakhir nyeri.


"Mas suka banget ya, bohong." tegur Hania.


Arga yang sedang duduk sambil menikmati kopi seduhan Hania di halaman belakang rumah Hania dibawah langit berbintang, langsung menoleh ke arah Hania yang baru saja menyusulnya dengan sepiring pisang krispi di tangannya. Melihat kudapan itu tergeletak di depannya, membuatnya mendesah. Wanita cantik di depannya itu pasti akan memaksanya memakan kudapan itu dan sudah pasti dia tidak akan bisa menolaknya. Dirinya terlalu terlena dengan perhatian dan perasaan merasa dilayani oleh wanita yang dicintainya. Baru kali itu dirinya merasa begitu. Seulas senyum terbit di bibir seksinya.


"Mas!?" Hania kesal lalu mencubit lengan Arga karena pertanyaannya diabaikan pria tampan itu.


"Aw. Sakit, Honey." lirih Arga seraya menggenggam tangan Hania.


Hania meliriknya sinis sementara Arga terkekeh. Pria itu menarik Hania agar duduk di sampingnya.


"Galak banget, sih?" goda Arga.


"Aku bohong gimana? Kapan aku bohong? Sama siapa?" Arga memberondong Hania pertanyaan yang sudah dirinya mengerti jawabannya.


"Tadi. Ngomong ke istrinya Ferdi kalau Mas itu suamiku!" bibir Hania mengerucut membuat Arga terkekeh karena gemas.


"Aku ngga bohong. Aku sedang berdoa." sahut Arga seraya menatap Hania.


"Bukannya ucapan itu doa?" lanjut Arga seraya menyunggingkan senyum semanis madu.


"Mas ih, gombal!" wajah Hania merona mendengar ucapan Arga yang diucapkan dengan serius.


"Diaminin dong, Honey. Aku lagi berdoa lho." pinta Arga seraya mengerlingkan matanya.


Hania yang wajahnya sudah merona semakin salah tingkah. Wanita cantik itu memperbaiki posisi duduknya dan menyelipkan rambutnya ke ke telinga padahal tidak ada rambut yang terurai karena rambutnya dicepol ke atas.


"Kok grogi, sih? Bikin gemes deh. Rasanya pengen kumakan sekarang juga." goda Arga.


"Han. Nikah yuk!" ucap Arga mantap.


Eh? Hania langsung menoleh ke arah Arga yang sedang menatapnya lekat. Wanita cantik itu melihat kesungguhan di mata pria itu. Beberapa kali kekasihnya itu melontarkan kata-kata ajakan menikah meski dengan kata yang berbeda-beda. Tapi dirinya tidak pernah menanggapinya dengan benar. Mendadak rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya karena mengabaikan ucapan pria tampan itu.


"Aamiin." ucap Hania.

__ADS_1


"Kok aamiin?" raut wajah Arga berubah bingung.


"'Kan Mas sedang berdoa, jadi kuaminin dong." sahut Hania seraya mengulum bibirnya menahan tawanya.


"Kamu mau main-main sama aku? Hum?" tanya Arga.


Pria tampan itu meraih pinggang Hania dan menariknya mendekat.


"Mas, lepas!" pinta Hania.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibir merah jambunya Hania lalu mulai mel***tnya perlahan. Hania yang awalnya terkejut mulai terlena dan larut dalam l***tan-l***tan bibir Arga. Pria itu dalam sekejap mampu membuat Hania melayang.


Posisi Hania sudah berpindah ke pangkuan Arga. Bahkan pria itu semakin memperdalam l***tannya dengan menahan tengkuk Hania. Semakin liar dan menuntut lebih. C***an berpindah ke leher jenjang Hania, meninggalkan tanda kemerahan di sana. Sementara tangan Arga mulai bergerilya mengelus punggung, paha, dan sedikit meremas b***ng wanita pujaannya itu. Namun sejurus kemudian pria tampan itu tersadar dan menyudahi c***an panasnya dengan napas memburu menahan gairah. 'Jendral Jack'nya sudah siap tempur tapi medan perang belum dikuasainya.


Arga mengecup kening Hania lalu menempelkan keningnya di sana. Matanya menatap lekat mata kelinci Hania yang juga menatapnya.


"Menikahlah denganku Hania." pinta Arga masih dengan napas memburu.


Hania menjauhkan keningnya yang menempel pada kening Arga, melepaskan pegangan tangan pria itu di lengannya dan turun dari pangkuan pria tampan itu. Lalu duduk di samping Arga kembali. Terdiam sesaat.


"Mas ngajak aku nikah seolah-olah cuma mau tubuhku aja." suara Hania bergetar matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa?" lirih Arga.


"Han, ngga gitu. Bukan maksudnya begitu. Kamu yang tahu gimana perasaanku sama kamu." suara Arga tercekat.


Arga tidak menyangka Hania memiliki pemikiran seperti itu. Dirinya memang tidak bisa menolak pesona Hania secara seksual yang tidak dirasakannya pada wanita lain. Setiap bersentuhan dengan wanita cantik itu, hasratnya seketika menggelora. Dia pria normal yamg mencintai wanitanya. Tak dipungkiri Arga menginginkan wanita itu, menjadikan wanita itu miliknya dan menyentuhnya. Tapi, pria tampan itu sangat menjaga Hania sebagaimana wanita itu menjaga dirinya. Arga hanya akan melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya itu jika sudah halal baginya.


"Han?" Arga merengkuh Hania ke dalam pelukannya.


"I love you more than you know. Aku normal. Dan hanya denganmu aku ingin melakukan sesuatu yang lebih itu." Arga membelai rambut Hania yang tergerai karena ulahnya.


"Aku selalu hampir kehilangan kendali saat mesra-mesraan sama kamu, makanya aku ajakin nikah. Tapi bukan berarti dalam keadaan lainnya aku ngga pengen nikah sama kamu. Aku sangat ingin menjadikanmu milikku. Aku hanya menunggumu siap. Menunggumu lepas dari bayangan masa lalumu hingga hanya ada aku di hatimu. Dan menerimaku." ucap pria tampan itu seraya menatap mata kelincinya Hania yang sudah menganak sungai.


"Kamu tau aku ini pencemburu. Aku ngga suka yang jadi milikku masih memikirkan pria lain." sembari berucap jempol Arga mengusap airmata Hania.


Hania menahan tangan Arga yang jempolnya sibuk mengusap airmatanya. Matanya menatap Arga.


"Apa aku terlihat seperti sedang memikirkan pria lain?" tanya Hania yang membuat Arga mendesah.


"Salah paham lagi." batinnya.

__ADS_1


"Sabar, sabar." gumamnya dalam hati.


Arga tersenyum menanggapi pertanyaan Hania. Pria itu tahu wanitanya sedang sensitif. Ditambah sifatnya yang memang tidak mudah percaya dan sinis. Pria karismatik itu kembali menarik Hania ke dalam pelukannya. Sepertinya memang itulah cara terbaik mengajak wanita cantik itu berbicara dari hati ke hati. Dengan memeluknya.


"Kenapa, sih? Sensitif banget kayaknya? Lagi dapet, ya?" gurau Arga, masih dengan memeluk Hania.


"Mas ih." manja Hania sembari mencubit perut liat Arga.


Arga mengulas senyumnya. Benar 'kan? Wanita itu langsung melembut kembali begitu Arga memeluknya.


Ngomong-ngomong soal perut, Arga jadi ingat jika dia harus lebih rajin berolahraga lagi bila perlu fitness setiap hari untuk menjaga bentuk tubuhnya yang menawan itu. Dia tidak ingin perutnya membuncit. Mengingat Hania selalu menjejalinya dengan makanan yang tidak bisa ditolaknya.


Keesokan harinya, Arga kembali disibukkan dengan rutinitasnya sebagai pimpinan perusahaan. Berhadapan dengan berkas-berkas yangbharus di tanda tanganinya, menemui klien, dan berebut tender.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu mengalihkan tatapan Arga ke arah pintu. Reza memasuki ruangan besar nan hening itu dengan tergesa.


Melihat raut wajah asistennya yang sepertinya menunjukkan ada yang tidak beres itu, Arga meletakkan berkas yang tadi fokus dibacanya. Pria karismatik itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dan menatap asistennya dengan kening berkerut.


"Ada apa Za? Keliatannya genting banget." kini Arga bertanya lebih dulu yang biasanya akan menunggu bawahannya berbicara dulu.


"Pengiriman kita ditahan di Tanjung Perak, Pak. Polisi menemukan gading gajah di dalam peti kemas kita." lapor Reza.


Arga mengurut keningnya lalu mendesah. Pria tampan itu tahu siapa pelakunya.


"Dan juga ada tagihan pajak yang belum terbayar atas nama perusahaan ini. Saat ini Bu Nadin sedang memeriksanya kembali." lanjut Reza.


"Sayap kiri sedang menyelidikinya juga, meneruskan info yang anda peroleh dari Pak Iden." tambah pria berkacamata itu.


Arga mengeraskan rahangnya. Dia tidak menyangka jika ternyata masih banyak kaki tangan pamannya itu yang masih berkeliaran bebas di sekitarnya. Dan dia sudah kecolongan. Kali ini dia tidak akan main-main.


"Sepertinya kita akan ke Surabaya lagi, Pak." ucap Reza.


"Kalau gitu jangan buang-buang waktu. Segera siapkan keberangkatan kita hari ini." perintah Arga.


"Tinggalkan pesan pada Iden." peringatnya sebelum Reza meraih handle pintu.


Reza mengangguk dan meninggalkan ruangan besar nan hening itu.


*******

__ADS_1


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, kasih hadiah ya. komen yang membangun juga boleh. 🤗🤗🤗


__ADS_2