
Hania menggenggam tangan mungil Tiara. Menciuminya tanpa henti. Air matanya pun berderai menangisi putrinya yang masih setia menutup mata. Seketika dia rindu sapaan 'mama' meluncur dari bibir mungil gadis kecil itu.
Tapi Tiara hanya terbaring lemah tak berdaya. Diam dan pucat. Berbagai peralatan penunjang kehidupannya menempel hampir di sekujur tubuh mungil itu.
"Sayang, ini mama. Bangun dong. Mama kangen, nak." ucap Hania disela isaknya.
"Sayang, Tiara mau es krim 'kan? Nanti kalau kamu bangun mama beliin deh. Yang banyak ya, sayang? Kamu mau rasa apa aja? Hum?" Hania terus berbicara pada Tiara yang terus diam, sesekali wanita cantik itu menyusut hidungnya dan mengusap air matanya.
"Nak, kamu ngga kangen mama kah? Mama pengen dipeluk kamu, sayang. Ayo bangun dong." Hania menelungkupkan kepalanya di samping tangan Tiara.
Sudah 3 hari sejak Tiara dirawat di ruangan serba steril itu. Tapi gadis kecil itu masih belum mau membuka matanya. Dan selama itu pula Hania selalu menunggui putrinya meski keadaannya juga tidak sedang baik-baik saja. Begitupun Arga. Pria karismatik itu akan langsung ke klinik dimana Hania dan Tiara dirawat setelah jam kerjanya selesai. Setia menemani kedua wanita yang telah menjadi bagian dari prioritasnya. Sambil terus memantau perkembangan penyelidikan kecelakaan itu.
Hania mengangkat kepalanya ketika merasakam elusan halus di rambutnya. Matanya seketika membelalak. Setengah tak percaya, wanita cantik itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Tiara membuka matanya sedikit.
"Sayang? Tiara?" Hania menegakkan tubuhnya tapi masih dalam posisi duduk.
"Ma... ma." suara khas anak-anak Tiara menelusup lirih memasuki ruang pendengaran Hania.
Hania segera menekan tombol yang terhubung dengan ruang perawat. Senyumnya mengembang. Lagi-lagi air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya. Wanita cantik itu tak dapat menahan rasa bahagianya.
"Gimana, Han?" tanya Arga yang sudah berada di samping Hania yang menatap Tiara melalui jendela kaca di ruangan itu.
Arga langsung meluncur ke klinik begitu Hania memberitahunya. Hania yang sedang fokus memperhatikan Tiara yang sedang ditangani dokter langsung menoleh ke arah Arga. Wanita cantik itu langsung menyambut dekapan Arga di bahunya.
"Ngga tau, Mas. Dari tadi dokternya masih nangani Tiara." ucap Hania dengan suara bergetar.
"Kita tunggu sama-sama. Kamu yang tenang ya, ada aku di sini." ucap Arga menenangkan Hania seraya mengeratkan dekapannya di bahu Hania yang memeluk pinggangnya.
Arga terus menyemangati dan menenangkan Hania ketika seorang perawat mondar mandir keluar masuk ruang icu dimana Tiara dirawat dengan wajah tegang. Sementara Tiara belum menunjukkan kemajuan.
"Mas, gimana ini?" airmata Hania sudah mulai tak terbendung lagi.
Arga berjongkok di depan kursi roda yang di duduki Hania. Pria karismatik itu terus mengusap punggung tangan wanita cantik yang masih pucat itu.
"Honey, sebaiknya aku antar kamu ke ruanganmu ya. Tiara biar aku yang jaga. Kamu belum makan juga 'kan?" pinta Arga.
"Ngga, Mas. Aku mau di sini. Aku juga ngga lapar." tolak Hania tanpa menoleh ke arah Arga, mata kelinci wanita cantik itu masih mengawasi ruangan Tiara.
Arga menghela napasnya perlahan. Pria itu menghkhawatirkan kondisi Hania. Sejak mengetahui putrinya berada di ruang icu dan sedang koma, wanita berhati lembut itu terlihat sering mengabaikan kesehatannya sendiri. Bahkan dirinya belumlah pulih dari cederanya.
Dengan segala bujuk rayunya, Arga berhasil membuat wanita cantik itu kembali ke ruangannya untuk beristirahat dan meminum obatnya. Kini pria bertubuh tinggi itu tengah menatap Tiara dari jendela kaca ruang icu itu. Gadis kecil itu kembali tertidur karena pengaruh obat penenang. Tiara memang sempat sadar sesaat namun kondisi organ-organ dalamnya belum stabil, membuatnya sangat lemah dan masih harus diobservasi. Setelah melewati pemeriksaan yang panjang, Tiara kembali koma.
Drrrt drrrt drrrt!
__ADS_1
Arga menatap layar ponselnya. Nama Reza tertera di sana.
"Dimana!?" suara Arga terdengar lirih namun penuh tekanan.
"Apa ada informasi yang didapat?" imbuhnya.
"Iya, Pak. Sudah kami amankan beserta barang buktinya. Kita tinggal membuktikan keterlibatan orang itu."
"Serahkan pada polisi! Cari cara untuk menjebaknya." perintah Arga pada Reza.
Arga baru menutup panggilannya ketika seorang dokter yang merawat Tiara dan beberapa perawat memasuki ruang icu itu dengan terburu-buru dengan wajah yang tegang. Pria itu dengan mata tajamnya mengawasi kesibukan di dalam ruang Tiara. Wajahnya menatap tanpa ekspresi. Terlihat tenang. Namun sebenarnya pria karismatik itu panik luar biasa.
"Ada apa?" tanya Iden yang sudah berada di dekat Arga.
Tanpa menoleh Arga menggelengkan kepalanya. Dia pun tidak tahu apa yang terjadi. Barusan dokter yang merawatnya mengatakan kondisi Tiara mulai stabil kembali. Tapi selang beberapa menit kemudian, dokter beserta perawatnya kembali lagi dengan wajah yang menunjukkan bahwa kondisi pasien sedang tidak baik-baik saja.
Iden menepuk bahu Arga memberikan dukungannya. Pria blesteran itu ikut memperhatikan kesibukan di dalam ruang icu itu.
"Apa yang lu tau tapi gue ngga tau?" lirih Arga seraya menatap Iden.
Iden bukannya tidak tahu apa-apa. Anak buahnya bergerak sama cepatnya dengan anak buah Arga. Namun bisa dikatakan pergerakan Iden bisa lebih leluasa dibandingkan Arga. Karena Arga selalu menjadi target lawan-lawannya. Sementara Iden, posisinya yang sebagai orang kedua di perusahaan Arga dan bukan ahli waris utama dari keluarganya, tidak dianggap berpengaruh.
"Gue tahu pemilik unit di New Saphire Appartment." ungkap Iden.
"Lu juga tau. Dan dia bekerja sama sama Oom Aris." lanjutnya
"Apa motifnya? Kenapa dia lakuin itu ke gue?" lirih Arga.
"It's all about love, man. Everyone can do anything since of love." sahut Iden diplomatis.
"Cinta? Siapa? Apa gue pernah nikung dia di masa lalu atau gimana?" Arga mencoba menggali ingatannya tentang petualangannya di masa lalu.
"Lu beneran ngga ngerasa? Atau ngga tahu?" Iden malah membuat Arga semakin penasaran.
Bagaimana dia tahu? Seingatnya Arga memang beberapa kali berpacaran dengan beberapa gadis populer. Dan tidak ada satupun yang membuatnya berebut dengan para sahabatnya. Semua berjalan normal.
"Lu ingat Rindy? Cewek cantik berprestasi tapi pendiam?" Iden mengingatkan Arga pada sosok gadis cantik yang mereka kenal di masa lalu.
Iya. Arga ingat gadis itu. Memang cantik tapi jauh dari tipe gadis idamannya. Terlalu pendiam dan tertutup. Bahkan Arga tidak menyadari bahwa gadis itu ada di sekitarnya jika saja Raka tidak mengenalkannya pada para sahabatnya yang lain. Sementara Arga adalah sosok pria idaman para gadis sejak pria itu berseragam putih biru.
Sebagai seorang yang diidolakan, tentu Arga memiliki kriteria gadis pujaan yang bisa dibanggakannya di hadapan teman-temannya. Meskipun Rindy cantik dan terkenal karena kepintarannya, tapi itu udak cukup menarik perhatian pria yang sudah tampan sejak lahir itu.
"Dulu, Rindy suka sama elu, man. Tapi lu cuek aja. Bahkan terkesan nolak dia mentah-mentah." ujar Iden.
__ADS_1
Ucapan Iden membuat Arga seketika mengingat kejadian beberapa tahu silam. Rindy pernah nekat menyatakan perasaannya pada Arga, setelah sekian banyak perhatian yang dicurahkan untuk pria tampan itu terabaikan. Namun, jangankan menanggapi pernyataan itu, Arga bahkan langsung menolaknya.
Sejak saat itu Rindy bahkan tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Arga. Gadis itu malu dan kecewa. Dan Arga tidak menyadarinya karena benar-benar tidak menganggapnya ada. Ketidakmunculannya sama sekali tidak mempengaruhi pria itu.
"Iya. Gue nolak dia." sahut Arga.
"Dia bunuh diri karena merasa malu, kecewa, dan tertekan. Dia di bully sama fans lu terutama cewe yang waktu itu jadi pacar lu." cerita Iden.
"Gue juga baru tau ternyata cewe itu bunuh diri." lanjutnya.
Arga terkejut tentunya. Apa sekasar itu dia menolaknya waktu itu? Seingatnya, dirinya menolak Rindy dengan cara yang biasa saja. Hanya menolak dan tidak menyudutkannya. Bagaimanapun Arga bukanlah pria brengsek. Meskipun populer, pria tampan itu tetap bisa menghormati orang lain.
"Apa..." ucapan Arga terpotong.
"Maaf, dengan keluarga anak Tiara?" sapa dokter bername tag Mita.
"Saya dok, saya keluarganya." sahut Arga bersemangat.
"Bisa ikut saya ke ruangan saya?" pinta dokter Mita.
Arga hanya mengangguk dan mengekor dokter spesialis anak itu. Meninggalkan Iden sendiri di depan ruang icu itu. Sepanjang koridor klinik, pikirannya mulai melayang kemana-mana, menebak-nebak kondisi Tiara. Apakah ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan dokter anak itu? Apakah gadis kecil itu akan baik-baik saja? Atau ada masalah yang lebih buruk? Apakah dokter itu akan menyampaikan kenyataan pahit yang harus dihadapinya terutama Hania.
"Anda ayah dari anak Tiara?" tanya dokter yang tampak lebih tua dari Arga itu meyakinkan dirinya.
"Iya, saya ayahnya." Arga menganggukkan kepalanya.
"Jadi, begini Pak...?" Dokter Mita menjeda kalimatnya.
"Arga." sahut Arga yang sudah tau maksud dokter itu.
"Ah, iya. Pak Arga. Jadi begini, kondisi anak Tiara ini bisa dikatakan tidak stabil. Beberapa organ dalam cedera dan sudah diambil tindakan. Tapi masih dalam tahap recovery jadi tidak bisa optimal dalam menunjang kesadaran anak Tiara." Dokter Mita tampak berusaha menerangkan kondisi Tiara dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh orang non medis.
"Lakukan yang terbaik, dok! Berapapun biayanya tidak jadi masalah, yang penting anak saya segera pulih." desak Arga.
"Itu pasti, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik semampunya kami. Kita juga tidak bisa melawan takdir 'kan?" ucap dokter Mita bijaksana seraya tersenyum seolah memberi ketenangan.
Sepertinya senyum dokter Mita mampu menenangkan Arga yang sedang kalut. Namun, itu tak berlangsung lama. Tak berselang lama, seorang perawat masuk dengan tergesa.
"Dokter, maaf. Pasien anak Tiara mengalami syok lagi." ucap perawat itu dengan tegang tanpa menyadari keberadaan Arga di sana.
"Apa?" Arga langsung menoleh ke arah suster itu.
*******
__ADS_1
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh, untuk terus dukung karya otor ya 🤗🤗🤗