
Hania menatap lurus ke dalam cermin. Pandangannya kosong. Wanita cantik itu menjadi sering memikirkan tamu bulanannya yang tak kunjung datang. Dia benar-benar gelisah. Bagaimana jika apa yang dipikirkannya benar? Apa yang akan dipikirkan suaminya? Pandangannya kini tertuju pada perutnya yang masih rata.
"Gimana kalau aku hamil? Jelas ini bukan benihnya Mas Arga." kata-kata itu terus terngiang di benaknya.
Wanita cantik itu mengusap wajahnya. Terlihat sekali dirinya tertekan. Wajahnya yang semakin pucat karena kondisinya sekarang yang selalu mual dan muntah setiap pagi. Belum lagi jika mencium aroma masakan yang baunya menyengat, membuatnya tak berselera untuk makan meskipun yang terhidang adalah makanan kesukaannya.
"Aku harus gimana ke Mas Arga? Dia pasti kecewa." Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tak terbendung lagi, Hania terisak seraya menelungkupkan wajahnya di atas meja riasnya.
Dia kembali teringat Raka. Mantan sahabat suaminya yang telah dengan sengaja dan tega menodainya. Napasnya memburu ketika mengingat bagaiamana pria tampan itu menggagahinya. Raka terlihat begitu menikmati tubuhnya. Tampak dari cara pria itu menyentuhnya. Dan menumpahkan benihnya ke dalam rahimnya dengan penuh perasaan. Hania benci ekspresi Raka. Dia benci pria itu.
Dan Hania melupakan satu hal. Dirinya wanita sehat dan mungkin juga Raka. Dia lupa jika dari sentuhan pria itu bisa saja dirinya mengandung benihnya. Dan kini, wanita itu sedang gelisah memikirkan kenyataan yang mungkin saja benar.
"Aku harus pastiin ini. Kalau yang kupikirkan ngga mungkin terjadi." Hania langsung bangkit dari duduknya. Mengusap sisa air matanya lalu memakai sedikit bedak dan mengoles lipstik berwarna peach untuk mengurangi kesan pucat di wajahnya.
"Raka brengsek!" pekik Hania tertahan.
Kini wanita cantik itu tengah terduduk di lantai kamar mandi. Ditangannya terdapat test pack yang menunjukkan tanda positif. Melihat itu, wanita cantik itu gemetar dan menangis tergugu. Dia merasa nelangsa. Merasakan seolah kemalangan selalu menimpanya dan kebahagiaan tak pernah mau berlama-lama membersamainya.
Baru saja dirinya merasa hidupnya menjadi lebih baik dan berwarna dengan kehadiran Arga, tapi itu tak berlangsung lama. Tiara, putrinya meninggalkannya untuk selamanya. Seolah itu adalah pertukaran. Mendapat satu kebahagiaan dan melepas kebahagiaan yang lain. Kenapa takdir tak membiarkannya hidup bahagia bersama orang-orang yang dicintainya?
Airmata Hania semakin mengalir deras. Hatinya terasa sakit. Apalagi mengingat Arga. Suaminya itu sangat mencintainya. Dia pasti akan sangat kecewa dan mungkin saja marah. Memikirkan pria tampan yang dengan terbuka tetap menerimanya yang telah ternoda, membuatnya pusing. Apakah suaminya akan baik-baik saja jika mengetahui dirinya hamil dan itu jelas bukan benihnya? Akankah pria baik hati itu akan tetap menerimanya?
Hania merasakan kepalanya semakin pusing, pandangannya berputar, dan tubuhnya mulai limbung. Dengan berpegangan pada dinding kamar mandi, wanita cantik itu berjalan keluar kamar mandi. Namun beberapa langkah sebelum mencapai ranjangnya, Hania merasa tubuhnya melayang, kakinya lemas seperti jelly.
Bruk!
"Mba Hania!" pekik Bi Sumi yang baru masuk ke dalam kamar besar itu.
Bi Sumi sudah mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada tanda-tanda pintu dibuka dari dalam. Dari celah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya itu, dia bisa mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu berarti Hania sedang berada di dalam sana. Meski begitu, Bi Sumi sangat menjaga privasi majikannya. Wanita paruh baya itu tidak akan masuk ke dalam sebelum dipersilakan.
Setelah menunggu beberapa saat, Bi Sumi memutuskan untuk menemui Hania lagi nanti. Namun, baru akan membalik tubuhnya, suara benda terjatuh sangat keras terdengar dari dalam kamar majikannya. Spontan saja wanita paruh baya itu menerobos masuk. Matanya membelalak dan dirinya langsung meneriakkan nama Hania. Beruntung nampan berisi makan siang untuk Hania tidak terjatuh saking terkejutnya.
"Lastri! Mang Diman! Cepet kesini!" Bi Sumi meneriakkan nama rekannya dari lantai 2.
Dengan tergopoh-gopoh, Bi Lastri dan Mang Diman yang tadinya akan menyantap makan siangnya, berlari menghampiri Bi Sumi yang terdengar panik.
"Ono opo, seh, Yu?" tanya Bi Lastri tapi sejurus kemudian matanya membelalak. (Ada apa, sih, Yu?).
__ADS_1
Mang Diman yang masuk ke dalam kamar belakangan pun ikut terkejut tapi merasa sungkan untuk bertindak sendiri menngangkat tubuh Hania.
"Astaghfirullah!" ucapa Mang Diman seraya mendekati Bi Sumi dan Bi Lastri.
"Mba Hania keno opo, Yu?" tanya Bi Lastri lagi. (Mba Hania kenapa, Yu?).
"Pingsan ngene kok. Ayo rewangi aku njunjung Mba Hania." sahut Bi Sumi. (Pingsan gini kok. Ayo bantu aku angkat Mba Hania.)
Bahu membahu para asisten itu memindahkan Hania ke atas ranjang.
"Lastri, tulung telponen Mas Arga, kandanono kondisine Mba Hania. Trus Mas Dana yo dikabari." perintah Bi Sumi. (Lastri, tolong telepon Mas Arga, kasih tau kondisinya Mba Hania. Trus Mas Dana juga dikabari.)
Bi Lastri mengayunkan langkahnya dengan cepat namun hati-hati menuruni anak tangga menuju meja telepon di ruang tengah.
"Halo!" suara Arga malah membuat Bi Lastri gelagapan.
"Mas... Anu... Itu..." sahut Bi Lastri yang masih dikuasai rasa panik.
"Bi Lastri? Ada apa, Bi? Bicara yang jelas!" suara Arga terdengar meninggi, sepertinya pria karismatik itu ikutan panik.
Mendadak lidah Bi Lastri menjadi kelu ketika mendengar Arga sedikit meninggikan suaranya. Majikannya itu tidak pernah berbicara dengan nada tinggi seperti itu padanya.
"Mba Hania, Mas...." belum juga Bi Lastri menyelesaikan kalimatnya, Arga sudah mematikan sambungan ponselnya.
"Lho? Kok dipateni. Iki piye, seh?" gerutu Bi Lastri seraya menatapi gagang telepon yang dipegangnya. (Lho? Kok dimatikan. Ini gimana, sih?)
"Oh, iyo. Mas Dana!" Bi Lastri kembali menekan angka-angka pada pesawat telepon itu.
"Ayo to Mas Dana, ndang diangkat telpone." cemas Bi Lastri. (Ayo Mas Dana. Cepat diangkat teleponnya.)
"Ada apa, Bi?" Bi Lastri menjauhkan gagang teleponnya lalu menatapinya dengan heran.
"Suarane kok koyo cedak banget yo?" gumamnya. (Suaranya kok kaya dekat sekali ya?)
"Bi Lastri?" tepukan di bahunya seketika membuat wanita yang berusia pertengahan 40 tahunan itu menoleh.
"Oalaah! Pantesan ae suarane koyone cedak temen!" seru Bi Lastri begitu melihat sosok tinggi berkarisma berdiri di dekatnya. (Oalah! Pantas saja suaranya kayaknya dekat sekali.)
__ADS_1
"Bi Lastri telpon aku?" pertanyaan Dana menyadarkan Bi Lastri pada tujuannya menelepon dokter muda itu.
"Ah, iya, Mas. Itu, Mba Hania pingsan. Sekarang ada di kamarnya. Monggo, Mas." mode paniknya aktif lagi.
Sesampai di kamar Hania dan Arga, Dana segera memeriksa Hania. Dokter tampan itu mengeluarkan peralatan medis yang selalu dibawanya kemana-mana. Dana mulai mengukur tensi wanita cantik itu, memeriksa pupil matanya, memeriksa pernapasannya.
"Belakangan ini, Mba Hania sering mual muntah, Mas." ucap Bi Sumi.
Saat ini, Dana hanya ditemani Bi Sumi. Bi Lastri dan Mang Diman sudah kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Dana lalu memeriksa perut Hania. Meletakkan jarinya di atas kulit bersih Hania. Mengetuk-ngetukkan jarinya dan menekannya di beberapa bagian. Kening sedikit berkerut lalu seulat senyum terbit tipis di sudut bibirnya.
"Hania ngga apa-apa, Bi. Dia cuma kecapekan dan sedikit dehidrasi. Tensinya juga sedikit rendah." terang Dana.
Dokter muda itu lalu menyuntikkan vitamin melalui lengan Hania.
"Sekarang dia sudah siuman cuma lagi tidur. Biarin aja. Biar istirahat." lanjut Dana dengan suara yang menenangkan.
Dana membereskan peralatannya dan akan meninggalkan kamar itu ketika Arga tiba-tiba masuk dalam keadaan panik. Namun, sejurus kemudian terlihat sedikit lega mendapati Hania tertidur pulas dan Dana sudah berada di sana.
"Dia lagi tidur." ucap Dana membuat adik angkatnya itu mengalihkan perhatiannya dari istri barunya.
"Ikut aku! Ada yang mau aku omongin." perintah Dana lalu mendahului Arga keluar dari kamar.
"Istrimu itu sedang hamil." kata-kata Dana tadi masih terus terngiang di telinganya.
Arga belum juga meninggalkan ruang kerjanya sejak kepergian Dana hampir 1 jam yang lalu. Pria itu masih terpukul dengan kenyataan yang baru saja diungkapkan Dana barusan dengan wajah yang sumringah. Sebentar lagi sang Ibu pun akan mengetahui kabar itu. Dan mengira Hania mengandung anaknya. Seperti halnya Dana. Tapi tak apa. Dirinya sudah bertekad melindungi Hania termasuk menyembunyikan aibnya rapat-rapat.
Ada rasa kecewa ketika mengetahui istrinya hamil. Bukan kecewa pada Hania tapi lebih kepada dirinya sendiri. Sebagai seorang pria yang sudah berjanji akan menjaga wanita itu dan bahkan memintanya percaya padanya, dirinya tidak bisa menepati ucapannya sendiri. Mengingat bagaimana Hania menerimanya dan membuka hati untuknya karena wanita cantik itu mempercayainya, membuat hatinya berdenyut sangat nyeri. Bahkan setiap tarikan napasnya, dia merasakan perih.
"Maafin aku, honey." Arga tergugu dengan kedua tangannya meremas rambutnya.
*******
Thanks for reading!
Untuk dukung terus karya ini. Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘