
Iden masih terpaku di depan pintu ruang kerja sang papa yang sudah tertutup rapat. Matanya sesaat terpaku pada seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang belakangan ini akrab dengan. Hania.
Pria itu lalu mengalihkan tatapannya pada sang mama yang tengah duduk seraya menatap ke sembarang arah. Tampak sekali jika wanita itu tidak nyaman dengan situasi yang ada. Tangannya masih menggenggam kertas yang sudah tampak seperti habis diremas.
Sementara sang ayah yang duduk di sebelah sang mama, beberapa kali tampak membenarkan letak kacamatanya dan menghela napasnya. Seolah dihadapkan pada keputusan yang sulit.
Di ruangan itu juga tampak seorang pria paruh baya yang dikenalnya. Handoko, ayahnya Bela. Pria tua itu dulunya adalah kaki tangannya Oom Aris, pamannya Arga. Melihat pria tua itu di sana, Iden mengernyitkan keningnya.
Otak cerdasnya mulai menelisik. Mencari keterkaitan antara Papanya dan Oom Aris. Karena biasanya jika Handoko terlibat, sudah pasti ada campur tangan Oom Aris. Tapi, bukankah Oom Aris masih di bui? Bahkan katanya mendapat pengawasan ketat. Lalu apa yang direncanakan pria tua itu? Kenapa kaki tangannya ada di rumah orangtuanya? Dan siapa wanita ini? Wajahnya benar-benar mirip dengan Hania.
Rasa penasarannya membuatnya mendekati sang Mama. Sedikit membungkuk, Iden mengambil kertas yang bentuknya sudah tak rapi lagi. Matanya bergerak cepat menelaah kata per kata dalam kertas itu.
"99%? Ngga mungkin." batin Iden seraya melirik wanita cantik itu.
"Pasti ada yang ngga beres disini. Kenapa saat gue udah nemuin Hania, ada perempuan lain yang mirip banget sama dia? Bahkan hasil tesnya pun sama." gumam Iden dalam hatinya.
"Kayaknya, ada yang sengaja bikin masalah ini jadi rumit deh." batinnya lagi seraya melirik Handoko.
Iden mengusap keningnya. Pria flamboyan itu mencurigai sesuatu. Mencoba memutar memori dalam kepalanya. Menyatukan kepingan-kepingan ingatan yang tercerai berai. Jangan-jangan, wanita ini salah satu tipu muslihat Oom Aris? Iden membelalakkan matanya mendapati pemikirannya sendiri. Benarkah? Pria berwajah blesteran itu menghela napasnya. Hah. Dia harus mencari tahu. Sesegera mungkin.
"Iden, kamu udah tahu Pak Handoko pastinya 'kan?" ucap Pak Pratama, Papanya Iden, memecah keheningan yang tercipta sejenak tadi.
Pak Pratama mengenal Pak Handoko sebagai tangan kanan Oom Aris, pamannya Arga. Perusahaannya pernah bekerjasama saat dirinya masih menjadi pimpinan.
Iden hanya menganggukkan kepalanya. Pria tampan nan flamboyan itu enggan untuk berbicara. Dia lebih banyak menganalisa dalam diam.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka lagi setelah terdengar ketukan pelan. Wajah blesteran lainnya muncul dari baliknya. Rendy. Pria yang juga tampan itu datang belakangan dan tampak santai-santai saja. Namun, begitu melihat sosok wanita yang mirip dengan seseorang yang membuatnya jatuh sayang belakangan ini, pria itu tak ayal terkejut juga. Tapi dengan cepat dapat menguasai keterkejutannya.
Berdiri di samping Iden yang juga hanya terdiam, Rendy menyapukan tatapannya ke seluruh wajah orang-orang dalam ruang kerja Papanya. Lalu terhenti pada wajah wanita yang kini menundukkan wajahnya sekilas seraya tersenyum seolah menyapanya. Rendy tidak menanggapi sapaan wanita itu. Matanya terpaku menatap tajam wanita yang duduk berseberangan dengan orangtuanya.
Banyak pertanyaan yang terbersit di kepalanya. Tapi sepertinya Rendy juga enggan untuk bersuara. Diraihnya kertas yang berada dalam genggaman Iden. Baru melihat kopnya saja, Rendy sudah mengernyitkan keningnya. Lalu melirik ke arah wanita itu lagi. Sedikit menelisik. Kemudian melanjutkan membaca keterangan demi keterangan yang tertera dikertas itu. Rendy menghela napas dan mengembuskannya dengan berat. Ingin sangsi tapi surat keterangan itu legal.
"Atas permintaan siapa tes ini?" ucapnya penuh selidik.
"Papa yang minta, Ren." ucapan sang Papa semakin membuatnya tidak bisa menginterupsi hasil tes itu.
Rendy meletakkan kembali kertas itu di atas meja di depan Mamanya. Mengusap punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu, lalu berdiri lagi dengan sempurna.
"Dia, namanya Syana." ucap Pak Pratama memperkenalkan wanita itu pada kedua putranya yang masih diam terpaku di tempatnya.
Pria paruh baya itu merasa jika kedua putranya tidak menyambut baik kehadiran wanita cantik itu di tengah-tengah mereka. Dirinya pun tidak merasakan getaran di hatinya ketika pertama kali bertemu. Apalagi istrinya, Bu Irene. Ekspresi wajahnya malah lebih seperti tidak percaya. Wanita paruh baya itu menjadi bimbang ketika melihat hasil tes dna Syana.
"Bisa kita obrolkan ini dulu, Pa? Aku, masih belum bisa bersikap maupun komen apa-apa. Ini, seperti kejutan. Prank? Wow! Hehe...." Iden akhirnya bersuara mengemukakan pendapatnya diselingi gurauan.
"Iya. Aku setuju sama Iden. Ini mengejutkan?" setali tiga uang dengan Iden, Rendy merasa yang terjadi di ruangan kerja sang Papa sedikit lebih rumit.
__ADS_1
"Ya sudah, kita lanjutkan lagi besok. Ini juga udah larut malam. Pak Handoko, mohon pengertiannya." putus Pak Pratama.
"Saya mengerti, Pak. Tapi bagaimana dengan Syana? Dia tidak mungkin kembali ke rumahnya yang dulu lagi." ucap Pak Handoko, membuat Pak Pratama terdiam.
Mempertimbangkan seseorang yang baru dikenalnya untuk tinggal, sedikit memberatkannya. Dia tidak pernah mengizinkan orang baru yang tidak dikenalnya menginap di rumahnya apalagi tinggal. Tapi disisi lain, hasil tes dna membuktikan adanya kecocokan hingga 99%.
"Baiklah. Syana boleh menginap di sini. Ma, tolong minta disiapkan kamar untuk Syana." meskipun berat, Pak Pratama tidak bisa membiarkan wanita yang berdasarkan hasil tes dna adalah putrinya, tak jelas tidur dimana.
Iden tentu saja merasa keberatan tapi sisi kemanusiaannya juga tidak tega bersikap tidak manusiawi. Saat ini, berdasarkan hasil tes itu, Syana adalah adiknya. Tapi entah kenapa intuisinya lebih memilih Hania. Meski kedua wanita itu mirip, Iden tidak merasakan debaran apapun saat melihatnya. Bahkan mereka sempat beradu tatap tadi. Iden sempat menatap mata Syana. Tapi rasanya biasa saja.
Melihat Handoko keluar dari ruang kerja sang papa, Iden mengikutinya.
"Apakah Pak Handoko yang membawa perempuan itu kemari?" tanya Iden penuh selidik.
"Ah, itu. Iya. Saya yang membawanya menemui Pak Pratama. Saya tahu Pak Pratama masih mencari putrinya yang lama hilang. Dan secara kebetulan saya menabrak Syana yang membuat saya harus bertanggung jawab. Dari sanalah saya tahu asal usulnya." terang Handoko tenang.
"Darimana Pak Handoko tahu jika orangtua saya memilki anak yang hilang? Dan anak itu berjenis kelamin perempuan? Dan bapak seyakin itu membawanya pada orangtua saya?" Iden mencecar Handoko
Handoko terkekeh sejenak. Lalu berdehem.
"Jangan lupa kalau saya sudah lama mengenal Papamu. Dan kami pernah dekat dan menjalin hubungan kerjasama dalam waktu yang cukup lama." sahut Handoko.
"Semua yang terjadi di masa lalu tentang orangtuamu, saya juga tahu. Jadi saya hanya bermaksud membantu teman lama saja. Tidak ada maksud lain." ucap Handoko seraya menatap Iden.
"Bukankah sudah larut malam? Sebaiknya saya pulang saja. Permisi." seusai mengucapkan kalimatnya, wajah Handoko berubah datar.
Iden masih memperhatikan gerak gerik Handoko hingga pria tua itu masuk ke dalam mobilnya. Matanya memicing ketika tampak olehnya, Handoko tidak sendirian di dalam mobilnya. Selain sopir, ada seorang pria yang duduk di kursi penumpang. Namun karena pencahayaan yang temaram, penglihatannya tidak begitu jelas.
"Bang, Apa Papa Mama udah di kamar?" tanya Iden yang melihat Rendy sedang berjalan menuju dapur.
Pria itu baru saja kembali dari ruang kerja papanya, tapi tidak menemuinya di sana.
"Di ruang kerjanya ngga ada?" pertanyaan yang dilemparkan Rendy menjadi jawaban bahwa pria itu tidak tahu.
Iden hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mengikuti Rendy ke dapur dan menuang air mineral dari dalam kulkas dan membawanya duduk di meja bar. Rendy ikut duduk di sebelahnya dengan sekaleng minuman soda di tangannya.
"Maaf, membuat Mas Rendy dan Mas Iden kaget dengan kehadiranku. Aku juga kaget ketika tahu aku masih punya keluarga lengkap." sapa Syana mencoba mengakrabkan diri dengan Iden dan Rendy, membuat kedua kakak beradik itu menoleh bersamaan.
"Iya. Jujur aja kita kaget. Terlebih dia. Selama ini dia adalah bungsu di keluarga ini." balas Rendy dengan sedikit gurauan yang langsung mendapat lirikan sinis dari Iden.
Putra sulung keluarga Pratama itu memang sengaja membuat sedikit guraun untuk menutupi kegamangannya. Dia juga bingung harus bersikap bagaimana. Batinnya meronta. Kepalanya hanya memikirkan keadaan Hania yang sedang terguncang saat ini.
Sementara Iden, dia sama sekali tidak berminat terlibat obrolan dengan Syana. Wanita itu memang mirip dengan Hania. Tutur katanya juga sopan. Hanya saja kesan malu-malu kucing tidak didapatinya dalam diri Syana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Syana. Hanya saja hati Iden tidak bisa menerima kehadiran wanita cantik itu di sana.
Tanpa mengucap sepatah katapun demi menyambut Syana, Iden malah bergegas pergi meninggalkan kakak dan, adiknya berdasarkan hasil tes dna.
"Istirahatlah." saran Rendy lalu menyusul Iden yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Syana hanya menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Di sisi lain, dia senang masih memiliki keluarga. Tapi melihat sendiri penolakan yang ditunjukkan setiap anggota keluarga barunya, membuatnya sedih.
"Mba, kamarnya sudah siap." ucap asisten rumah tangga keluarga Pratama.
Syana mengulas senyum dan mengucapkan terimakasih. Lalu memasuki kamar yang akan ditempatinya selama tinggal di rumah itu. Dia sendiri belum tahu pasti bagaimana nasibnya.
Klek!
Melihat Iden memasuki ruang rawatnya, Hania seketika membuang muka ke sembarang arah. Hatinya masih kesal. Pada Arga saja, wanita cantik itu masih belum ingin berbicara apalagi pada pria blesteran itu.
"Kalian ini kenapa, sih? Kok kayak lagi musuhan aja. Kayak anak kecil tahu ngga?" tegur Bu Anna.
Ibunya Arga yang sejak semalam siaga menemani Arga menunggui Hania merasa heran melihat tingkah putranya, menantunya, dan sahabat putranya. Hingga pagi ini, wanita paruh baya yang belum mau meninggalkan menantu kesayangannya itu, masih merasakan jika menantunya tampaknya sedang kesal pada putranya. Melihat tingkah ketiga orang dewasa di ruangan itu membuatnya gemas dan tergelitik untuk menegur.
"Ngga pa-pa, Bu. Hanya sedikit kesalahpahaman antara aku, Hania, dan Iden." sahut Arga.
"Selesaikan dengan cepat. Ngga bagus ngeremehin perkara kecil sekalipun." nasihat Bu Anna.
"Iya, Bu. Ibu tenang aja. Sebentar lagi menantu ibu itu akan luluh padaku." ucap Arga seraya mengedipkan sebelah matanya pada Hania ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Arga terkekeh mendapat lirikan tajam dari Hania. Terdengar pula Hania menggerutu namun tidak begitu jelas apa yang diucapkannya. Lalu pria tampan itu meninggalkan ruang rawat Hania mengikuti isyarat Iden.
"Kenapa lu? Pagi-pagi udah kesini pake acara muka ditekuk segala." cibir Arga sesampainya di kantin rumah sakit yang lebih mirip kafe itu.
Suasana hati Iden memang sedang tidak baik. Semalaman pria blesteran itu tidak dapat tidur dengan benar. Bahkan memilih tidur di kamar yang lain, meninggalkan Bela dengan banyak pertanyaan di benaknya.
"Handoko kayaknya sedang ngerencanain sesuatu. Semalam dia datang ke rumah orangtua gue. Bareng seorang perempuan yang mirip banget sama Hania. Bahkan tes dna nya cocok 99%." Arga terbelalak mendengar penuturan Iden.
"Mirip Hania?" gumam Arga.
"Apa hasil tesnya valid?" tanyanya.
"Papa gue yang minta tes itu. Menurut lu?" Iden balas bertanya.
"Tapi ada Handoko di sana. Apa lu curiga kalau itu bisa dipalsukan?" Iden mengangguki tebakan Iden.
Sementara itu, di sebuah apartemen tampak seorang wanita cantik dan seksi baru saja memasuki sebuah ruangan seperti ruang kerja.
"Pa, kenapa Papa lakuin ini? Kasihan mereka, Pa! Apa Papa ngga kapok? Gimana kalau terjadi apa-apa sama Papa kayak dulu." ucap wanita itu seraya menggenggam tangan pria paruh baya yang duduk di samping kanannya.
"Kalau kamu kesini cuma mau larang-larang Papa, lebih baik kamu ngga usah kesini lagi." tegas pria tua itu seraya melepaskan genggaman tangan wanita itu.
"Pa." lirih wanita itu.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘