Yang Terakhir

Yang Terakhir
7. Bertemu Kembali


__ADS_3

Ponsel Arga bergetar lagi. Reza kembali menghubungi Arga setelah beberapa pesannya diabaikan atasannya. Arga menatap layar ponselnya, enggan untuk menerima panggilan itu dan membiarkan ponselnya hingga tidak bergetar lagi. Dimasukkannya ponselnya ke dalam saku celana bahannya. Dia memutuskan untuk kembali ke kantornya.


Ketika berbalik, tubuh Arga kembali menabrak seseorang yang melintas di depannya karena pandangannya masih menyapu setiap sudut mall itu. Jadi dia tidak fokus dengan apa yang ada di depannya.


"Aduh!" seru seorang wanita yang ditabrak Arga.


Dilihatnya wanita itu mengibaskan tangannya membersihkan kemejanya. Dirinya pun merasakan sesuatu yang hangat dan basah menembus kemejanya dan mengenai kulit perutnya. Lalu menunduk melihat ke arah kemejanya yang terasa hangat tadi. Kopi?


Spontan Arga mengibaskan tangannya untuk mengurangi rasa basah dan noda kopi yang menempel di kemejanya.


"Maaf Mas, bajunya kena tumpahan kopi juga." kata wanita tadi sambil menyerahkan tisu pada Arga.


"Ngga apa-apa, sebentar juga kering." balas Arga yang menerima uluran tisu tanpa menoleh pada wanita itu, masih berusaha menyeka dan membersihkan kemejanya.


Wanita tadi masih mengulurkan tisu pada Arga ketika tisu yang dipegang Arga basah dan kotor. Hingga dirasa cukup, Arga pun mengalihkan pandangannya ke arah wanita tadi.


"Terimakasih." ucapnya.


"Saya yang minta maaf karena saya yang tidak fokus jadi nabrak Mba." lanjutnya.


Deg.


Jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir ketika wanita yang berdiri di depannya mengangkat wajahnya. Arga baru menyadari wanita yang sedari tadi mengulurkan tisu padanya adalah sosok yang dicarinya sedari tadi.


"Hania." gumamnya dalam hati.


Matanya terus menatap wanita di depannya dengan perasaan lega. Tidak berkedip. Seolah dia takut, jika berkedip wanita itu akan hilang. Tanpa sadar senyumnya mengembang. Senyum itupun menular pada wanita di depannya.


"Iya Mas, sama-sama, saya terburu-buru juga, ngga hati-hati." kata Hania.


"Kalau begitu saya permisi Mas." lanjut Hania setelah melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya lalu beranjak akan meninggalkan Arga. Kontan saja pria tampan itu hendak berusaha menahannya.


Drrrt drrrt.


Tidak hanya ponsel Arga yang bergetar. Ternyata di saat yang bersamaan ponsel Hania juga bergetar. Hania merogoh ponselnya dari dalam tasnya. Keduanya menerima panggilan masing masing dan secara impulsif melakukan gerakan yang sama, saling menjauh.


"Apalagi Rez?" kesal Arga karena Asistennya itu menghubunginya terus-terusan.


"Hum." gumam Arga menanggapi laporan Reza.


"Saya on the way!" putus Arga setelah mendapat desakan.


Hania, wanita bermata kelinci yang beberapa minggu itu membuat Arga resah sudah tidak berada di sana. Wanita itu menghilang. Benar saja jika Arga memalingkan pandangannya, wanita itu menghilang. Arga mendesah. Mengacak rambutnya. Dirinya gemas karena selalu luput mengejar wanita itu.


Begitu tiba di kantornya, Arga menjumpai sang ibu sudah duduk manis tidak menggubris kedatangannya.


"Ibu?" sapa Arga, lalu mengulurkan tangannya.


Sang Ibu yang sedang membaca majalah bisnis yang tersedia di ruangan Arga mendongakkan kepalanya. Mengulurkan tangan yang menyambut uluran tangan Arga. Arga mencium tangan Ibunya dengan takzim. Lalu mendudukkan dirinya di samping kiri Sang Ibu.


"Ada apa Bu? Kenapa repot-repot kemari? Kalau ada perlu panggil aku ke rumah." tanya Arga.


"Ibu tau kamu sibuk, lagian Ibu pengen menikmati suasana yang lain. Ibu bosan di rumah terus." terang sang Ibu.


"Oh iya, kenapa kemarin ngga nemuin Malika?" tanya sang Ibu.

__ADS_1


"Susah-susah Ibu bujuk si Malika itu supaya mau kenalan sama kamu." rajuk sang Ibu.


"Malika itu gadis yang baik, sopan santun sama orangtua, penyayang, cerdas....." lanjut sang Ibu.


Arga hanya mendengarkan saja tanpa ingin membantah setiap kali sang Ibu memuji wanita-wanita cantik yang dikenalkan padanya.


"Bu, aku kan sudah bilang, ngga usah ngenalin aku sama wanita-wanita itu, aku bisa menemukan sendiri calon pendampingku kalau aku memang menginginkan pendamping." jelas Arga.


"Kamu selalu bilangnya begitu, nanti cari sendiri!" keluh sang Ibu.


Arga hanya bisa tersenyum menanggapi protes sang Ibu.


"Sebenernya perempuan seperti apa yang kamu cari?" tanya sang Ibu.


Arga sendiri tidak tahu wanita seperti apa yang menjadi kriterianya. Kalau boleh memilih pastinya dirinya menginginkan wanita baik-baik dan setia. Wanita yang dirasanya pas di hatinya. Hanya saja hingga saat ini belum ada satupun wanita yang seperti itu. Yang pas di hatinya.


"Aku juga ngga tau Bu, belum ketemu. Nanti kalo aku pengen nyari, aku pasti cari." ungkap Arga.


"Tapi untuk saat ini, aku memang sedang ingin sendiri. Aku sedang ingin menikmati hidupku sendiri Bu." lanjut Arga sambil memegang tangan sang Ibu.


"Iya, tapi sampai kapan Ga?" tanya sang Ibu sendu.


Sang Ibu sangat tahu bagaimana kehidupan Arga setelah bercerai dengan Riska, mantan menantunya. Dan kondisi itu diperburuk dengan meninggalnya Devan, cucu tampan kesayangannya.


Hati ibu mana yang tidak terenyuh dan hancur melihat putra semata wayangnya terpuruk. Terjatuh begitu dalam dalam kubangan kenangan penuh luka. Sang Ibu ingat, Arga yang selalu bersemangat dan bersikap positif berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.


Hari-hari putranya berubah kelam, selalu berburuk sangka pada siapapun termasuk pada sang Ibu. Selalu mengurung diri dikamar. Sikap optimisnya meredup bahkan lenyap, semangat hidupnya pun hilang, pulang larut dalam keadaan mabuk berat. Untung selalu ada Reza, sang asisten terpercayanya yang selalu setia mendampingi atasannya itu.


Sang Ibu masih bersyukur saat itu. Bersyukur Arga tidak berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Melihat kondisi Arga waktu itu, rasanya Arga tidak mungkin bangkit kembali. Membayangkan masa lalu putranya membuat sang Ibu mendesah.


Arga tahu keinginan sang Ibu. Dirinya yang seorang anak tunggal yang sudah sangat matang diharapkan memberi keturunan.


Arga tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu sampai kapan hatinya siap terbuka menerima cinta yang lain. Hatinya seolah beku. Begitu terluka. Dia tidak ingin hatinya terluka lagi hingga tidak ingin cepat-cepat membuka diri. Saat ini, dia sudah nyaman sendiri.


Meski nyaman dengan kehidupannya saat ini, Arga mengakui kehadiran wanita bermata kelinci yang ditemui beberapa waktu yang lalu benar-benar telah mengusik ketenangannya.


Mata kelinci itu, benar-benar menarik perhatiannya. Hari ini, hampir saja wanita itu digenggamnya. Tanpa sadar dia tersenyum. Senyum yang mengembang manis di bibir Arga tidak luput dari perhatian sang Ibu.


"Kamu mikrin apa?" tanya sang Ibu tergelitik melihat putranya senyum-senyum.


"Mikirin keinginan Ibu." jawab Arga asal.


"Halah!" sang Ibu mencebik, Arga tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepala.


Tok tok tok.


Terdengar ketukan di pintu ruangan Arga. Tak lama berselang, masuklah seorang office girl sambil membawa nampan yang berisi semangkuk sop iga, seporsi udang krispi saos keju, 2 piring nasi putih, dan 2 gelas jus sirsak. Tadi, sebelum menuju kantor Arga sang Ibu terlebih dahulu memesan makanan itu dari sebuah restoran yang kini menjadi langganannya.


"Ibu belum makan siang?" tanya Arga.


"Kenapa pesannya banyak sekali?" Arga mengerutkan kening.


Bukannya menjawab pertanyaan Arga, sang Ibu malah meletakkan sepiring nasi putih di hadapan Arga. Arga menghela napasnya.


"Aku sudah makan Bu, tadi bareng klien." tolak Arga.

__ADS_1


"Kalo gitu kamu coba ini." kata sang Ibu menyodorkan semangkuk sop iga ke hadapan Arga sambil menggeser piring berisi nasi putih tadi.


"Bu..." Arga sudah akan menolak tapi sang Ibu memaksanya hingga Arga terpaksa menyeruput kuah sop iga itu.


"Enak." batin Arga.


Kemudian menyuapkan iga dan asparagus ke mulutnya dengan lahap. Tahu-tahu sudah habis saja.


"Enak?" tanya sang Ibu mencibir Arga.


Iya. Arga mengakui makanan yang barusan disantapnya sesuai di lidahnya. Matanya melirik kotak kemasan makanan yang ada disana.


"Rasa Sayang?" bacanya dalam hati.


"Lain kali Dian harus reservasi tempat disana untuk bertemu klien." pikirnya.


Setelah sisa makanan mereka dibereskan, Arga kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sementara sang Ibu langsung meninggalkan kantornya Arga ketika teman-teman arisannya menghubungi ponselnya.


Jam tangan yang melingkar di tangan kiri Arga menunjukkan angka 5 lebih sedikit. Sudah lewat jam kerjanya, tapi Arga masih belum beranjak dari duduknya. Matanya masih fokus menatap layar laptopnya. Meneliti barisan kalimat yang sudah tertata rapi.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu ruangan Arga terdengar nyaring saking heningnya ruangan itu. Lalu muncullah wajah manis Reza dari balik pintu. Berjalan mendekati meja kerja sang atasan sambil membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani.


"Apa harus hari ini?" tanya Arga yang fokusnya sudah teralih pada tumpukan berkas di atas mejanya.


"Bapak bisa menandatanganinya di rumah." jawab Reza.


Arga menoleh ke arah jam tangannya. Sudah hampir 1 jam terlewat dari berakhirnya jam kerjanya.


"Ah, sudah sore rupanya." ucapnya sambil meregangkan tubuhnya yang penat.


"Kamu belum pulang?" tanya Arga pada Reza yang ternyata masih berada di kantor.


Reza memang masih berada di kantor hingga lewat jam kerjanya. Berkas yang dikerjakannya harus segera ditandatangani atasannya. Dia memang seorang pekerja keras yang mengesankan atasannya.


"Setelah ini saya akan pulang Pak. Apa Bapak ingin saya mengantar anda?" jawab Reza dan menawari atasannya itu jasanya.


Arga hanya menggeleng. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dirinya masih enggan pulang ke rumahnya.


"Kamu duluan aja." perintahnya.


"Saya masih ingin menyelesaikan ini dulu." lanjutnya seraya menunjuk laptopnya.


"Kalau begitu, saya pulang duluan Pak, selamat sore." pamit Reza yang diangguki Arga.


Arga masih dengan posisi nyamannya yang bersandar pada sandaran kursinya yang empuk.


********


Hai Novelians...


Aku hadir lagi nih, ceritanya agak panjang tapi alurnya santai, semoga ga bosen ya...


Kasih aku dukungan ya, jangan lupa like, komen, dan vote. Ehem, aku juga suka kok dikasih hadiah 😊

__ADS_1


__ADS_2