
Sejak Hania dinyatakan sehat dan bisa menjalani terapi dari rumah, Arga tak mengizinkan wanita cantik itu untuk beraktifitas di luar rumah. Bahkan ketika kekasihnya itu ingin kembali mengurus restorannya, pria tampan itu menolak permintaannya dengan tegas.
"Kasihan Ferry sama Mas Sani, Mas. Mereka jadi ga bisa libur. Lisa juga, hampir tiap hari dia lembur." protes Hania.
"Lagian aku bosen tau, gini-gini aja di rumah, ngga ngapa-ngapain." Hania menekuk wajahnya.
"Aku udah minta Reza buat nyari chef baru untuk bantu Ferry, dan staf keuangan untuk bantu Lisa." ucap Arga membuat Hania mendesah.
"Kamu bosen? Gimana kalo abis sarapan kita ziarah ke makam Tiara. Udah lama kita ngga ke sana." Mata Hania langsung berbinar mendengar tawaran Arga.
Iya. Sudah lama Hania tidak mengunjungi makam putrinya. Ada segudang rindu yang menumpuk di hatinya untuk gadis kecil itu, namun dirinya tak tahu bagaimana menyampaikannya. Dan akhirnya hanya bisa mencoba untuk merelakannya.
Hari-harinya terasa lebih ringan dan tanpa beban. Meskipun merindukan Tiara, Hania tidak sesedih dulu. Wanita cantik itu menyadari kepergian Tiara adalah yang terbaik. Setidaknya gadis kecil yang mirip boneka itu sudah merasakan bahagia sebelum meninggalkannya untuk selamanya.
Terpancar jelas dari wajah Tiara yang ingin seperti teman-temannya, merasakan kasih sayang seorang pria yang dinamakan ayah. Kehadiran Arga mampu menghadirkan sosok ayah untuk putrinya itu, membuat mendiang putrinya merasa memiliki seorang ayah.
Matahari sudah sepenggalah tingginya ketika Arga dan Hania tiba di pemakaman yang dekat dari rumah minimalis Hania. Dengan dress berwarna pink polos 3/4 dan berlengan pendek, Hania berjalan di samping Arga yang memakai kemeja warna senada dengan Hania, padahal mereka tidak janjian untuk memakai warna itu. Apalagi Arga, baginya warna itu sangat bertolak belakang dengan karakternya yang maskulin.
"Lho, Mas pake kemeja itu?" tegur Hania seraya terkekeh ketika melihat Arga dengan kemeja pink membalut tubuh kekarnya, yang sudah duduk di ruang keluarga menunggunya tadi.
"Memangnya kenapa? Aku jadi keliatan lebih muda 'kan?" sahut Arga seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Hania melengos.
"Iya dan sedikit girly." ucap Hania lalu tergelak.
"Aku sengaja make ini, honey. Tiara 'kan suka warna ini." ucap Arga lalu tersenyum.
Benar. Tiara suka warna pink. Hania juga memakai dress warna pink karena dirinya sangat tahu warna kesukaan putrinya itu.
"Kalian mau kemana? Kok samaan bajunya? Nge-pink!" tegur sang Ibu yang juga akan pergi bertemu teman-teman arisannya.
Arga dan Hania langsung menoleh ke arah sang Ibu. Lalu kompak menyunggingkan senyum semanis madu.
"Kamu udah baikan, sayang?" tanya sang Ibu seraya mencium pipi kanan Hania.
"Sudah, Bu. Sangat baik malah." sahut Hania.
"Bu, aku ngajak Hania ziarah ke makam Tiara. Apa Ibu mau ikut?" ucap Arga.
"Sayang banget. Ibu pengen ikut tapi ibu udah ada janji mau ke panti sama temen-temen ibu. Lagian ibu udah kesana minggu kemarin." sesal sang Ibu.
"Ibu udah ke makam Tiara? Kok ngga ngajak-ngajak?" tanya Hania dengan raut kecewa.
"Maaf, sayang. Waktu itu ibu pas lewat sana. Ya sekalian aja. Jadi ngga ada rencana." sahut wanita paruh baya itu seraya mengusap tangan Hania.
"Kapan-kapan lagi, kita ziarahnya sama-sama, honey. Ayo! Keburu siang, nanti kepanasan." hibur Arga seraya memeluk bahu kekasihnya itu.
"Bu, aku sama Hania duluan ya. Assalamu'alaikum." pamit Arga lalu mencium tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.
"Bu, Hania berangkat ya." ucap Hania setelah mencium tangan ibunya Arga.
__ADS_1
Arga dan Hania duduk di bersimpuh di samping makam Tiara. Ada sebuket bunga mawar merah yang belum layu dan boneka beruang putih tergeletak di dekat nisan putrinya. Mata Hania lekat menatap buket bunga dan boneka itu seraya meletakkan buket bunga mawar pink dan putih yang dibawanya di samping buket bunga dan boneka itu.
"Siapa yang barusan datang? Apa Mas Ryan?" batin Hania.
"Siapa yang barusan kesini? Bunganya masih baru." celetuk Arga membuyarkan lamunan Hania.
Hania hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu pasti siapa yang barusan berziarah ke makam Tiara. Wanita cantik itu menduga Ryan lah yang mengunjungi makam putrinya. Dulu, mantan suaminya itu pernah mengakui menyayangi dan merindukan Tiara dan ingin mendekatkan diri dengan putri kandungnya.
Masih terdengar Hania sesenggukan sehabis menangis tergugu di makam Tiara tadi. Rasa rindu yang tak tersalurkan seketika membuat air matanya berderai. Ingin rasanya memeluk gadis kecil yang mirip dengannya itu tapi apalah daya, tubuh mungil itu sudah dikandung bumi.
Sementara itu, Arga yang tengah fokus menyetir, sesekali mengusap rambut Hania untuk menenangkan wanita itu. Pria tampan itu tahu kekasihnya masih merasakan sakit luar biasa yang menusuk-nusuk hatinya, karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Apalagi mengingat kematian gadis kecil itu disebabkan oleh orang terdekatnya.
"Kita sekalian makan di luar ya, kamu mau? Gimana kalau kita ke restoran? Kamu pengen ketemu karyawanmu juga 'kan?" tawar Arga setelah sekian lama saling berdiam diri.
Hania yang masih bersedih, masih menampakkan wajah murungnya namun wanita cantik itu mengangguk juga membuat Arga menghela napas dalam-dalam.
Arga memarkirkan sedan mewah yang pernah dihujani tembakan beberapa waktu yang lalu itu dan bergegas keluar lalu menghampiri pintu mobil sisi satunya. Membukakan pintu untuk kekasihnya yang tampak kurang bersemangat.
"Honey? Jadi mampir ngga?" tanya Arga karena Hania tak kunjung turun.
"Oh. Jadi, Mas. Maaf ya, aku jadi terbawa suasana." sesal Hania dengan suara lirih.
"It's okay, honey. I feel you." hibur Arga seraya mengusap rambut Hania.
"Ayo! Panas nih. Ntar aku kering lho." seloroh Arga yang membuat Hania terkekeh.
Dua sejoli itu melangkah bersisian memasuki restorannya Hania. Lisa yang baru menapakkan kakinya di anak tangga terbawah langsung memekik menyebut nama Hania. Membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.
Mendengar nama atasannya disebut, para karyawan yang tengah bersiap langsung menghambur ke arah Lisa dan ikut melihat apa yang dilihat Lisa. Mata mereka terbelalak melihat kehadiran Hania di sana lalu tersenyum. Mereka senang Hania datang ke restorannya. Itu artinya bosnya itu sudah sehat kembali.
Sungguh kedatangan Hania sudah dinanti-nantikan oleh para karyawan itu. Mereka merindukan Hania. Sikap Hania yang tidak memberi batasan atasan dan bawahan terhadap para karyawannya itulah yang membuat para karyawan itu betah bekerja pada wanita berhati lembut itu. Hingga mereka akrab satu sama lainnya.
Ekspresi para karyawannya yang antusias menyambutnya seketika mengubah perasaan murung Hania menjadi ceria. Dirinya tak menyangka kehadirannya dinantikan oleh para karyawannya. Bukan karena adanya masalah di restoran itu tapi karena mereka merindukannya.
Ferry yang berdiri di pintu dapur, terus memperhatikan raut wajah Hania. Pria macho itu bisa melihat Hania sudah pulih kembali dan kini tengah berbahagia disambut oleh para karyawannya. Matanya mengembun. Dirinya tak dapat menutupi rasa bahagianya, mengingat bagaimana terpuruknya wanita cantik itu sebelumnya karena musibah yang bertubi-tubi menerpanya.
Menyadari dirinya ditatap pria karismatik di sebelah Hania, Ferry mengalihkan tatapannya seraya mengedip-ngedipkan matanya untuk membendung airmata yang sudah menggelayut manja di pelupuk mata.
Ferry menghampiri Hania dan spontan memeluk wanita cantik yang sudah dianggap sebagai kakak perempuannya itu. Arga langsung melotot melihat tingkah pria macho itu. Meski Ferry sudah mengatakan bahwa Hania tak lebih dari sekedar kakak perempuan baginya, tapi tetap saja Ferry adalah seorang pria dan Arga tak suka wanitanya dipeluk-peluk pria lain.
"Ehem!" Arga berdehem menyadarkan tingkah Ferry yang main peluk kekasihnya.
Ferry menoleh ke arah Arga tapi tidak melepas rangkulannya di bahu Hania sambil menyunggingkan senyum tengilnya. Arga mendesah dan menghunuskan tatapan tajam ke arah Ferry.
Hania yang melihat aura tak bersahabat yang ditunjukkan Arga perlahan melepaskan rangkulan Ferry. Lalu berganti menggelayut manja di lengan kokoh Arga dan mengusapnya lembut seolah berkata, tenang.
"Kalian mau makan apa? Aku masakin spesial buat kalian. Especially for my beloved boss." ucap Ferry mencairkan suasana.
"Boleh aku yang masak? Udah lama banget rasanya ngga uplek di dapur kita." pinta Hania.
__ADS_1
"As you wish, my boss!" sahut Ferry bersemangat.
Hania menoleh pada Arga, seolah meminta persetujuan. Pria tampan itu juga menoleh pada wanitanya lalu mengangguk. Kontan senyum Hania merekah seperti bunga matahari. Lebar.
"Jangan capek-capek, ya." pesan Arga.
"Iya. Aku cuma mau masakin Mas aja kok." ucap Hania membuat Arga langsung berbinar.
Sudah lama pria tampan itu merindukan perhatian Hania. Salah satunya masakan Hania yang khusus dimasak untuknya. Selama tinggal di rumahnya, dirinya memang melarang wanita cantik itu untuk melakukan aktifitas yang membuatnya kelelahan. Keinginannya agar Hania pulih secepatnya membuatnya mengesampingkan egonya.
"Aku tunggu di atas ya. Ingat! Jangan capek-capek!" Arga kembali menegaskan perintahnya.
"Iya, Mas. Aku ngga akan ikut sibuk ngurusin pesanan pelanggan." ucap Hania yang tahu maksud Arga mewanti-wantinya.
Hania langsung melangkahkan kakinya menuju dapur dengan semangat. Sepertinya moodnya langsung membaik ketika dia boleh melakukan pekerjaan yang disenanginya.
"Bu Hania beneran udah boleh jumpalitan lagi, nih?" tanya Anja yang masih mencemaskan bosnya itu.
"Udah dong, Nja. Saya itu udah sehat. Sehat banget malah. Cuma Mas Arganya aja lebay. Saya ngga boleh ngapa-ngapain, takut saya kecapekan." terang Hania.
"Wah, Pak Ganteng so sweet banget ya. Itu namanya beliau care sama bu Hania." ucap Anja yang tampak kagum dengan sikap Arga.
"Care sih care, tapi saya jadi bosen. Biasa sibuk, kalau lagi sehat. Eh, ini, malah saya ngga dibolehin ngapa-ngapain." cerita Hania seraya menyiapkan menu untuk makan siangnya dengan Arga.
Setengah jam berlalu. Menu kesukaan Arga sudah siap. Hania hanya mendesah menatap makanan yang sudah tertata di atas nampan.
"Kenapa ini jadinya kesukaan Mas Arga semua." batinnya.
Benar saja. Arga melihat menu yang terhidang di depannya pun berkomentar sama dengannya.
"Kamu masak menu kesukaanku semua, honey? Bukannya kamu pingin makan daging lada hitam dari restoranmu sendiri?" Arga menatap Hania.
"Ah, iya. Aku lupa. Tadi itu yang diinget cuma masakin Mas aja." jawaban Hania kontan membuat Arga merasa senang.
Pria itu langsung mengecup pipi Hania.
"Makasih ya, kamu udah masak segini banyak untuk aku." ucap Arga.
Selesai menyantap masakan Hania, Arga mengajak Hania ke perusahaannya. Sebenarnya wanita cantik itu enggan tapi Arga tidak ingin dibantah. Pria itu tidak akan meninggalkan Hania di luar rumahnya.
"Dek?" langkah Hania terhenti demi mendengar suara yang masih dihapalnya menyapanya.
Arga juga mendengar suara itu. Pria karismatik itu ikut menoleh. Matanya melebar ketika melihat pria yang dikenalnya, tapi dia tidak suka dengan kehadirannya di sekitar Hania.
"Mas Ryan." lirih Hania.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘