Yang Terakhir

Yang Terakhir
41. Ikut Denganmu


__ADS_3

Kopi hitam yang dibuat Hania dirasa pas untuk tubuhnya yang penat. Apalagi sambil ditemani wanita cantik bermata kelinci itu. Benar-benar perpaduan yang pas untuk Arga.


"Mas makan malam disini ya", tawar Hania.


"Lagian ini udah malam juga", lanjutnya lalu bangkit dari duduknya, hendak ke dapur membawa cangkir-cangkir bekas minuman tadi.


"Boleh", sahut Arga, lalu bangkit mengikuti Hania.


"Eh? Mas mau ngapain?", tanya Hania yang terkejut mendapati Arga yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, sedang menggulung lengan kemejanya lebih tinggi.


"Ya bantuin kamu lah", sahut Arga santai.


Hania menatap pria tampan itu. Pria kaya ini mau membantunya? Membantu apa? Diliriknya jari-jari tangan Arga yang runcing dan halus. Bukan model pria yang hobi main di dapur. Posisinya sebagai pemilik perusahaan bonafit pasti tidak pernah memasak sendiri makanannya. Begitu kan? Pikiran Hania melayang kemana-mana.


"So, what we cook for dinner?", tanya Arga membuyarkan pikiran Hania yang kemana-mana.


Hania mengerjapkan matanya sambil membalikkan badan, lalu membuka kulkas yang tadinya dipunggunginya, melihat persediaan, lalu mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan.


"Mas ngga alergi seafood kan?", tanya Hania, masih berdiri di depan kulkas yang terbuka.


"Ngga", jawab Arga sambil memasang apron untuk dirinya sendiri.


Kemarin sewaktu menolong Hania mengambil bumbu di rak paling atas kitchen setnya, Arga melihat tumpukan apron bersih di sana.


"Kita masak udang aja gimana? Ini juga ada ayam sih. Mau yang mana?", tanya Hania sambil menyerahkan brokoli dan paprika pada Arga yang berdiri di belakangnya.


"Aku ngikut chefnya aja. Apapun yang kamu masak pasti kumakan", jawab Arga yang malah membuat Hania bingung.


Hah. Kenapa sekarang mau masak saja jadi ribet? Biasanya, pikiran dan gerakan tangannya auto sinkron. Hania sampai menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa dirinya sangat mempertimbangkan makanan apa yang disukai pria tampan itu? Baru kali ini, dirinya mendiskusikan masakan yang akan diolahnya.


Akhirnya Hania mengambil keduanya. Udang dan ayam. Dia akan mengolah keduanya sesuai dengan makanan kesukaan Arga. Tadi pria seksi itu menyebut menu favoritnya, kebetulan bahannya tersedia.


Keberadaan Arga sangat membantunya. Dia tidak menyangka pria tampan itu cukup lihai mengupas dan mengiris bawang, meski harus berurai air mata. Arga juga sigap mengambil alih aktifitasnya yang sedang menumis bumbu ketika dia memasukkan bahan pelengkap. Menu utama sudah jadi. Untuk sayurannya, Arga menawarkan diri untuk memasaknya.


"Memang bisa?", tanya Hania ragu.


"Gini-gini, aku pernah jadi anak kost Han, kadang juga masak sendiri", sahut Arga.


Benar. Arga pernah tinggal sendiri selama berkuliah di Inggris. Sebagai mahasiswa asing, kadang lidahnya kurang menerima masakan setempat. Berhubung dia tinggal sendiri


di apartemennya, mau tidak mau dia belajar memasak beberapa menu favoritnya.


"Yaa... Meski ngga seenak masakan kamu, aku masih inget caranya", lanjutnya sambil menyiapkan teflon dan spatula.

__ADS_1


Hania menungguinya sambil menyandarkan tubuhnya di meja ocean sambil memperhatikan pria tegap itu. Tubuh Arga yang tinggi atletis, dengan lengan kemeja yang digulung sebatas sikunya, memakai apron, dan fokus dengan masakannya, terlihat seksi di mata Hania. Memikirkannya membuat Hania tersenyum tipis.


"Done!", seru Arga begitu sayur yang di tumisnya matang.


"Koreksi chef", Arga menyuapkan brokoli dan paprika pada Hania.


"Humm... Ini enak", Hania mencicipi masakan Arga.


"Beneran ya, Mas bisa masak!", puji Hania, yang disambut kekehan Arga.


Hania menyerahkan piring pada Arga. Pria seksi itu dengan hati-hati memindahkan masakan olahannya. Setelah melepas apronnya, Arga mengekori Hania menuju halaman belakang rumahnya. Disana ada satu set meja dan kursi untuk bersantai dan makanan-makanan yang sudah mereka masak tadi sudah tertata rapi disana.


Malam yang cerah menambah suasana makan malam dua insan yang sama-sama sedang menyelami perasaan masing-masing itu semakin berkesan.


Hania merasa makan malam kali ini menjadi makan malam teribetnya sekaligus menakjubkan. Bagaimana tidak? Dirinya dengan terbuka mengajak Arga makan malam untuk kesekian kali di rumahnya bahkan membiarkan pria tampan itu membantunya. Dulu, dia dan Galih sering masak bersama. Tapi Galih adalah orang yang sudah lama dikenalnya. Sementara Arga, pria itu baru ditemuinya beberapa bulan yang lalu dan dengan mudahnya memasuki kehidupannya. Dirinyalah yang memudahkan dan memberi celah pada pria tampan itu. Ya. Hania takjub pada dirinya yang mudah menerima kehadiran Arga.


"Han? Kenapa melamun?", tanya Arga yang mendapati Hania malah terpaku menatapi dirinya.


"Kenapa? Sedang mengagumiku ya?", goda Arga lagi.


Teguran Arga menariknya dari lamunannya. Hania seketika mengalihkan pandangannya. Dia sungguh malu, ketahuan menatap pria tampan itu.


"Ngga suka sama masakanku?", tanya Arga lagi.


"Kalau enak habisin dong", ujar Arga sambil meletakkan sayuran lagi ke dalam piring Hania.


Hania hanya tersenyum. Senyum yang menular pada Arga. Ah. Dekat-dekat dengan Hania, Arga jadi sering tersenyum.


Arga sangat menikmati makan malamnya kali ini. Apalagi makanan itu hasil karya mereka berdua. Baru kali ini Arga memasak bersama wanita yang diinginkannya. Bekerjasama saling melengkapi dan membantu. Meski ribet tapi Arga menyukainya. Dirinya merasa wanita cantik itu memprioritaskan dirinya, selalu menanyakan dirinya suka atau tidak, mau dibeginikan atau dibegitukan. Dan sepertinya kegiatan masak bersama itu akan membuatnya ketagihan. Kegiatan yang bisa membuatnya begitu dekat dengan Hania.


Memikirkan perlakuan Hania padanya membuat Arga tersanjung. Sejauh ini, wanita cantik itu sangat menghargainya. Tidak pernah menyalahkan atau menghakiminya, sangat pengertian. Selalu memakluminya dan memberi ruang untuknya. Pokoknya berada dekat dengan wanita itu membuatnya nyaman menjadi dirinya.


Setelah membereskan bekas makan malam mereka barusan. Hania dan Arga kembali duduk bersantai di halaman belakang. Masing-masing sibuk dengan pikiran yang melayang kemana-mana.


"Han, mungkin besok atau lusa aku ke Surabaya", ucap Arga memecah keheningan.


Tampak Hania hanya mengangguk pelan. Arga masih mencari cara untuk membujuk wanita itu ikut dengannya.


"Mas sibuk banget ya. Ngga capek? Baru juga kemarin dari Belanda", ucap Hania lalu terkekeh.


Rasanya enggan membiarkan pria tampan itu pergi lagi. Hania sudah merasa nyaman berada di dekat Arga. Dirinya sudah merasakan, berjauhan dengan pria itu seperti ada yang kurang. Dan juga merasakan perasaan lega dan senang ketika pria itu kembali. Entahlah, perasaan itu hadir begitu saja.


"Huuum... Gimana kalau kamu sama Tiara ikut?", Hania seketika menoleh mendengar tawaran Arga.

__ADS_1


"Maksudku, sekalian ngajak Tiara jalan-jalan. Hitung-hitung aku menepati janji", rayu Arga.


Hania masih menatap pria tampan di depannya. Pikirannya masih menimbang tawaran Arga. Dirinya dilema. Iya atau tidak. Hania cukup tahu diri. Dia takut salah paham dengan kebaikan Arga. Rasa tidak percaya diri untuk dicintai oleh pria seperti Arga muncul lagi.


"Tapi....", ucapan Hania menggantung.


Hania masih menimbang keputusannya. Arga sudah ketar-ketir jika Hania menolak.


"Bantu aku Han, putrimu itu udah naruh harapan sama aku. Kalau kemarin aku ngga bisa wujud in, aku berharap aku punya kesempatan lain. Kupikir inilah kesempatan itu", mohon Arga.


Hania mendesah. Dia tambah bingung saja. Iya sih. Dia melihat sendiri bagaimana senangnya Tiara akan janji Arga untuk pergi piknik. Lalu kesenangan putrinya itu berbalik 180° ketika Arga tak kunjung datang mewujudkan janjinya. Demi putrinya. Tekadnya. Tapi kemudian perasaan takut salah paham itu muncul lagi.


"Kenapa Mas begitu memperhatikan perasaan Tiara?", tanya Hania.


"Aku sedang berusaha untuk lebih peka pada perasaan anak-anak", jawab Arga membuat Hania menoleh.


"Maksud Mas?", Hania sudah salah paham.


"Aku pernah mempunyai putra, namanya Devan. Kalau dia masih ada, usianya 10 tahun", Hania terkejut mengetahui Arga pernah memiliki anak, diusapnya tangan kiri Arga, bermaksud memberi kekuatan.


"Maaf", Kata Hania lirih.


"Itu sudah lama berlalu. Menceritakannya ngga akan buat aku sedih. Tapi rasa menyesal terus menempel, karena dulu, sebagai ayah aku sering mengabaikannya", Arga mulai terbuka.


"Perasaan yang tiba-tiba muncul setelah ketemu Tiara, membuatku jatuh sayang sama putrimu", Hania hanya mendengar.


"Jadi karena Tiara?", batin Hania, dirinya makin salah paham.


"Perasaan yang seperti apa?", tanya Hania ingin tahu.


"Aku merasakan lagi peranku sebagai seorang ayah. Melindungi, memanjakan, menenangkan. Aku merasa dibutuhkan sebagai seorang ayah, Han", ucap Arga dengan mata berkaca-kaca.


"Mas pasti kangen Devan ya?", tanya Hania, Arga mengangguk.


"Aku pernah dan masih merasa menyesal udah mengabaikan putraku. Bayangan raut wajahnya yang kecewa sama dengan Tiara. Aku akan merasa bersalah banget kalau belum bisa nepati janjiku. Plis Han, bantu aku. Kalian ikutlah denganku", pinta Arga seraya menggenggam tangan Hania.


Hania harus memilih. Demi putrinya atau egonya? Jika demi putrinya, dia takut sikap Arga membuatnya goyah yang teryata hanya kesalah pahamannya saja. Jika demi egonya, dia sudah melihat seberapa kuat gadis kecilnya itu menahan kekecewaan yang harus ditelannya diusia dini. Apakah lama-kelamaan putrinya itu akan baik-baik saja? Dan dia akan menyesal seperti Arga?


"Ya, aku dan Tiara akan ikut Mas", dengan pertimbangan yang berat Hania memutuskan mengikuti Arga.


Senyum lebar langsung terbit di bibir Arga. Pria tampan itu sampai tidak sadar memeluk tubuh Hania dengan erat. Perasaannya lega. Dengan begitu dirinya semakin memiliki banyak kesempatan mendekati wanita yang perlahan bertahta di hatinya.


*************

__ADS_1


__ADS_2