Yang Terakhir

Yang Terakhir
208. Ternyata Menyukainya


__ADS_3

"Udah." sahut Syana seraya menunjukkan flashdisknya pada Galih.


Galih mengerjapkan matanya beberapa kali. Takjub dengan kecerdasan gadis cantik yang mirip Hania itu. Selain cerdas, dia juga gesit. Belum genap sehari bekerja di sana tapi sudah bisa mengumpulkan bukti. Itu artinya, gadis itu bisa lebih cepat mengungkap dalang di balik kasus yang mencemarkan nama baiknya, bukan?


"Aku masih mencari bukti transfernya. Bukankah rekeningmu sekarang sedang gendut?" tanya Galih sedikit menggida Syana.


"Ah, iya. Rekeningku dibajak. Orang itu bisa ngakses rekeningku. Bebas keluar masuk malah." keluh Syana mengingat nasib rekeningnya.


"Jangan diblokir dulu." pesan Galih setelah menelan makanannya.


Syana hanya mengangguk lalu melanjutkan suapan makanannya. Begitu juga Galih. Hingga makanan masing-masing habis tak bersisa, tak ada lagi obrolan serius diantara mereka.


Syana segera mematikan komputernya setelah menyimpan hasil kerjaannya di flashdisk nya. Merapikan berkas-berkas yang sudah disalinnya dengan menumpuknya sesuai urutan pengerjaannya. Lalu memasukkan ponsel dan buku catatan penting untuk mencatat beberapa hal kecil yang tiba-tiba muncul di benaknya. Jam kerjanya berakhir tepat jam 4 sore. Galih sudah menunggunya.


Ingatannya sedikit demi sedikit sudah mulai kembali tapi Syana jadi sering lupa. Keluarga Pratama benar-benar memberinya pengobatan terbaik. Bahkan membawanya sampai ke Jerman. Syana membutuhkan waktu 3 bulan untuk bisa mengumpulkan ingatannya yang muncul sepotong-sepotong.


Puncaknya, ketika Galih mengajaknya mendatangi perusahaan tempatnya bekerja dulu. Tiba-tiba kilasan demi kilasan muncul di benaknya. Bukan sepotong-sepotong lagi tapi rentetan panjang bagai video yang diputar tanpa jeda. Hanya berlangsung selama beberapa puluh detik tapi membuat Syana tak sadarkan diri selama 4 hari. Bangun dari komanya, Syana mulai bisa mengingat sebagian ingatannya yang hilang. Baru sebagian. Hanya ingatan pada kegiatan yang sering dilakukannya dan orang-orang yang sering ditemuinya dulu. Seperti bekerja, tempat kerjanya, dan rekan kerjanya.


Seiring dengan kembalinya ingatannya yang hilang, ingatan tentang Galih pun kembali. Pertama yang Syana ingat adalah kedekatannya dengan pria bertubuh atletis itu.


Dia menyukai Galih. Itulah sebabnya darahnya selalu berdesir setiap bertemu Galih. Berawal dari rasa kagum pada sosok salah satu manager di perusahaannya yang tidak membatasi pergaulan dengan karyawan biasa sepertinya. Lalu naik level menjadi terbawa perasaan karena perhatian Galih yang dianggapnya sebagai ungkapan sayang, yang kemudian membuat hatinya jatuh pada pesona pria lajang itu dan dekat tanpa status karena Galih tak pernah menyatakan perasaannya. Entah siapa arti dirinya dimata Galih. Dulu, Syana tidak peduli. Dia hanya menyukai dan suka diperhatikan oleh pria itu.


Jantung Syana juga akan berdebar kencang saat bertemu Galih, seperti saat ini. Pria itu menunggu Syana agar bisa mengantarnya pulang. Gadis itu beberapa kali menahan napasnya terkadang menghembuskan napasnya dengan kasar untuk mengurangi debaran di dada.


"Mau mampir kemana?" tanya Galih saat mobilnya sudah bergabung dengan kendaraan lainnya memecah kemacetan sore itu.


Syana hanya menggelengkan kepalanya. Dia sedang tidak ingin kemana-mana. Apalagi dekat-dekat dengan Galih lebih lama lagi karena itu tidak baik untuknya. Dia bisa saja jatuh cinta pada pria yang tidak pernah menyatakan sikap yang jelas padanya. Tidak cinta tapi mesra. Dia takut mencinta sendirian. Lebih cepat sampai di rumah lebih baik.


Waktu menunjukkan jam 5 sore saat Galih menghentikan mobilnya di depan rumah Syana. Rumah minimalis bercat putih yang pernah didatangi Syana bersama Iden. Gadis itu memilih tinggal di sana, selain untuk mengenang masa lalunya juga agar ingatannya kembali sepenuhnya.


Galih mengeluarkan beberapa kantong plastik berisi belanjaan mereka tadi dan mengekori Syana yang sudah membuka pintu rumahnya. Syana memang tidak ingin kemana-mana tadi, tapi Galih justru mengajaknya berbelanja bahan makanan di supermarket yang mereka lewati.


Syana keluar dari kamarnya sedah berganti dengan pakaian santai. Sebuah terusan berbahan katun bercorak daun-daun berwarna oranye. Galih sudah menunggu di dapur dengan lengan kemeja yang sudah digulung hingga ke siku. Mereka akan memasak sendiri makan malam mereka. Kata Galih, dulu mereka sering melakukannya. Memasak bersama dan makan malam berdua.


1 jam berlalu. Kini masakan yang mereka olah berdua sudah terhidang di meja makan, lengkap dengan minumannya.


"Aku kangen saat seperti ini, Syana. Kita masak trus makan bareng." ungkap Galih setelah menghabiskan makanannya.


"Ohya? Apa bener kita dulu sering begini? Kenapa aku bisa ngga ingat? Padahal aku bisa ingat hal-hal rutin yang sering aku lakukan." ucap Syana heran.


"Sering bukan berarti kita begini tiap hari, Syana." Galih terkekeh.

__ADS_1


"Itu berbeda. Waktu tidak bisa dihitung secara detil. Waktu itu relatif. Seminggu sekali bagiku itu sering. Untuk orang yang sibuk bekerja seperti kita, kegiatan seperti ini itu selingan. Ngga setiap hari bisa kita kerjakan. Tapi kalau kita sempat luangin waktu seminggu sekali itu udah termasuk sering." terang Galih.


"Itu sama seperti kita ngunjungin suatu tempat. Idealnya kita ngga mungkin datang ke tempat yang sama setiap hari. Tapi kalau kita datang kesana seminggu sekali atau sebulan beberapa kali itu bisa di bilang sering." lanjut Galih lagi.


"Jangan memaksa mengingat, nanti kepalamu sakit lagi." peringat Galih saat melihat Syana mulai mengernyitkan keningnya terlalu dalam.


Gadis itu hanya meringis. Dia memang baru saja berusaha mengingat kenangan itu.


"Kak Galih ternyata pintar masak ya?" puji Syana.


"Hania banyak ngajarin aku masak makanan kesukaanku. Lumayan kepake sih pas aku lagi males makan di luar." jelas Galih.


Mendengar nama Hania disebut dengan ekspresi yang berbeda oleh Galih, senyum Syana seketika surut. Hatinya berdenyut nyeri. Gadis itu jadi ingat, hati Galih dimiliki wanita lain. Dia pernah mendengar Arga menyindir Galih soal kegagalan Galih yang tidak bisa melupakan Hania. Dari percakapan kedua pria itu, dia tahu Galih mencintai Hania, meskipun wanita cantik yang baik hati itu tidak pernah membalasnya. Cinta Galih sepertinya abadi. Lalu apakah dirinya hanya pelarian Galih saja? Apa itu sebab pria itu tak pernah mengungkapkan perasaannya?


"Kamu mikir apa?" tanya Galih yang menyadari perubahan ekspresi Syana.


Syana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tak lupa senyum lebar yang menampilkan deretan gigi timunnya. Membuat Galih menjadi gemas. Dan secara impulsif mencubit pelan pipi gadis di depannya.


"Ngga usah mikir macem-macem tentang aku." peringat Galih lagi


Eh? Syana sempat terpekur sejenak. Tebakan Galih sangat tepat. Dirinya memang sempat memikirkan sikap Galih padanya yang mungkin saja menganggapnya hanya sebagai pelampiasan.


Syana segera membereskan meja makan dan menumpuk piring kotor menjadi satu untuk menghindari Galih. Tanpa disangka, piring kotor yang sudah ditumpuk Syana malah diangkut Galih dan langsung dicucinya.


"Ngga masalah, Syana. Memangnya kenapa kalau aku masak trus cuci piring? Itung-itung aku belajar jadi suami yang bantuin istrinya 'kan?" sahut Galih.


Eh? Suami yang bantuin istrinya? Syana terkekeh mendengar ucapan Galih barusan. Tanpa mau memikirkan ucapan itu, Syana memilih meninggalkan Galih. Dia tidak mau besar kepala atau gede rasa.


"Abis itu kita harus apa? Aku udah ngumpulin semua bukti audit setahun belakangan." tanya Syana setelah Galih menyusulnya ke ruang tamu yang juga sekaligus ruang bersantai.


"Eh. Cakarawala itu perusahaan Kak Arga, 'kan?" tanya Syana seperti baru mengingat sesuatu.


"Hum." sahut Galih dengan gumaman kecil seraya menyalakan televisi yang baru dibelikannya untuk Syana.


"Sebentar." Syana langsung beranjak dari duduknya.


Tak berselang lama, Syana sudah keluar kembali dari kamarnya dengan laptop dan flash disk di tangannya. Gadis itu mulai menyalakannya dan memasang flash disk, lalu memindahkan isi flashdisk itu ke laptopnya.


"Coba liat deh, Kak. Ini itu aliran dana dari perusahaan Kak Arga. Menurut keterangan disini, dana ini untuk memproduksi bahan baku yang nantinya akan dipasokkan ke pabriknya Kak Arga. Jumlahnya gede. Tapi...." ucapan Syana menggantung tapi jarinya tetap sibuk bergerak.


"Ini. Disini, dana ini di up lebih besar lagi dan keterangannya unuk pembelian mesin produksi. Ini maksudnya gimana? Dana dari perusahaan Kak Arga disalahgunakan?" tebak Syana dan Galih jadi semakin tertarik menyimak.

__ADS_1


"Soalnya setelah itu ada lagi aliran dana dari perusahaan Kak Arga. Jumlahnya lebih besar. Itu udah 7 bulan yang lalu." lanjut Syana.


Galih mengambil alih laptop Syana. Memindahkan laporan Syana ke flashdisknya. Dia ingat, di awal kerjasama, Galih lah yang menjadi perwakilan perusahaan tempatnya bekerja. Tapi aliran dana itu hanya diketahuinya sebanyak 1 kali. Itupun di awal kerjasama.


"Apa ada yang nakal di perusahaan Arga?" batin Galih.


"Itu awal adanya transfer ke rekeningmu 'kan?" tanya Galih yang diangguki Syana.


Syana menatap Galih yang kembali fokus pada layar laptopnya. Hah. Pria itu tetap saja terlihat keren apapun situasinya. Apalagi jika sedang fokus begitu. Terkesan jantan. Dia ingat awal dirinya menyukai Galih, ya karena kesan jantannya itu.


Pemandangan di depannya itu membuatnya membayangkan sentuhan Galih padanya. Sudah berlalu lama sejak terakhir kali pria gagah itu menc*mb*nya di kamar yang ditempatinya di rumah keluarga Pratama. Bayangan itu lagi-lagi membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak kencang.


Syana langsung tertunduk dengan wajah merona saat Galih tiba-tiba menoleh ke arahnya. Dia terkejut dan malu karena pikirannya yang sempat membayangkan adegan mesra itu.


Sementara itu, Galih malah menatap Syana. Tampak sekali jika gadis itu malu karena sudah mencuri tatap padanya. Galih bukannya tidak tahu saat Syana menatapnya lekat. Tapi pria itu memang sengaja membiarkan gadis cantik itu menikmati wajahnya dengan segala pikiran yang bisa saja mes*m. Dan benar saja, gadis itu langsung menunduk dengan wajah yang merona. Galih mengulum senyumnya, dugaannya tepat.


Dia bukan pria lurus dengan iman setebal tembok Berlin. Dia pria nakal yang pernah tidur dengan beberapa wanita. Dia sudah terbiasa ditatap seperti ketika Syana menatapnya barusan, tatapan penuh kekaguman dan mendamba. Tapi yang dilakukan Syana sungguh menggemaskannya. Gadis itu masih malu-malu.


Galih mengulurkan tangannya. Mengangkat dagu Syana agar manatapya. Galih menatap wajah yang mirip Hania itu tapi mencoba membayangkan wajah asli milik Syana yang berdagu belah. Matanya yang bening dengan manik mata berwarna hitam. Dan bibir mungil yang tampak basah. Dia sudah bisa membayangkan rasanya. Manis. Bibir yang dia ambil ci*man pertamanya.


Cup.


Syana menerima dengan pasrah kec*upan Galih. Bahkan gadis itu memejamkan matanya. Tentu saja Galih tak meyia-nyiakan kesempatan itu. Sudah lama tidak merasakan bibir Syana. Dia rindu. Dan sejak kejadian di kamar Syana di kediaman keluarga Pratama, Galih tidak lagi meniduri wanita-wanita cantik dan seksi manapun. Selain sibuk dengan pekerjaannya, entah kenapa pria itu tidak ingin bibir bekas Syana dihapus oleh bibir wanita manapun.


Dengan laptop yang masih menyala, Galih menindih tubuh Syana. ******* bibir Syana dengan lembut namun menuntut. Tangannya sudah tak terkendali. Bahkan pakaian Syana sudah tersingkap. Syana pun menikmati setiap sentuhan Galih.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu mengganggu aktifitas panas Galih dan Syana. Dengan berat hati Galih menyudahi c*mb*an mesranya pada Syana dan meninggalkan kec*pan ringan di kening gadis itu. Bangkit dari tubuh ramping yang ditindihnya, Galih membantu Syana merapikan penampilannya.


Wajah blesteran nan tampan milik Iden muncul dari balik pintu saat Syana membukanya. Pria itu masuk dan duduk di seberang meja. Menatap Galih dan Syana bergantian seraya menyedekapkan tangannya ketika Syana sudah duduk di samping Galih.


"Paling ngga lu nikahin adek gue dulu, Nyet! Kalau mau enak-enakan!" kesal Iden yang langsung bisa tahu apa yang baru saja terjadi.


Eh? Nikah?


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2