
Hania menepis tangan Arga yang mengusap bahunya. Dirinya bahkan menulikan telinga saat Arga menanyainya. Dan membuang muka ketika Arga menatapnya.
"Ayolah, honey. Jangan gini dong. Aku bingung lho kamu tiba-tiba marah. Mana pake banting pintu lagi." Arga masih terus merayu Hania meski sudah 30 menit lebih waktunya terbuang sia-sia.
"Bilang dong, kamu ngga terimanya dimana. Biar aku bisa introspeksi." lanjutnya lagi, tapi tetap tak mendapat jawaban.
Hania memilih untuk masuk ke kamar mandi, meninggalkan Arga yang semakin kebingungan. Wanita cantik itu kesal suaminya berlaku arogan pada Galih. Bahkan masih mencemburui pria berwajah manis itu. Padahal sudah dijelaskan bagaimana hubungannya dengan pria itu sebatas sahabat. Tidak lebih. Toh, meski Galih mencintainya, pria itu tetap menghormati keputusannya yang tidak ingin mengubah status persahabatan mereka.
Tok. Tok. Tok.
Baru juga Hania masuk ke dalam kamar mndi, pintu sudah diketuk dari luar. Siapa lagi kalau bukan Arga.
"Honey? Jangan lama-lama di kamar mandinya. Nanti masuk angin lho!" seru Arga dari balik pintu.
Hania hanya menoleh ke arah pintu kamar mandi lalu mendesah. Kenapa suaminya tiba-tiba jadi cerewet begitu? Apa karena merasa khawatir atau karena dirinya mendiamkannya? Hania mendesah lagi. Karena pria itu tidak menyadari tindakannya yang secara tidak sadar mengekang dirinya.
Setengah jam berlalu, Hania baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah segar tapi masih terlihat muram. Sementara Arga menyambutnya dengan suka cita. Pria tampan itu langsung menghampiri sang istri dan memeluknya.
"Kita makan, ya, honey. Perutku udah agak perih, nih." rayu Arga.
Perutnya yang memang sudah keroncongan memunculkan ide di benaknya. Wanita cantik itu begitu lembut hatinya. Dia tidak mungkin tega membiarkannya sakit. Pria tampan itu tak lupa mengelus perutnya agar tampak meyakinkan.
"Memangnya Mas terakhir makan jam berapa?" sesuai harapannya, wajah Hania tampak khawatir begitu mendengar dirinya mengeluh tentang perutnya.
"Tadi pagi." sahutnya dengan senyum yang dikulum.
"Kenapa siang ngga makan!? Ya ampun, ini udah jam berapa lagi. Emang sibuk apa sih!? Kalau sakit gimana!?" sungut Hania.
"Istriku yang cantik ini ngga mungkin biarin aku sakit." ucap Arga percaya diri sambil menuntun Hania keluar kamar.
Hania menghela napas dalam-dalam. Belum selesai kesalnya, suaminya itu sudah membuatnya semakin gemas. Tapi dirinya tidak bisa bersikap tidak peduli pada sang suami. Apalagi ketika melihat wajah memelas yang ditampilkannya. Ah, kenapa dirinya tidak tega melihat suaminya memelas begitu?
Wajah Arga tampak sumringah melihat makanan yang sudah tertata di meja makan. Pria itu tahu betul hidangan yang tampak menggugah selera itu istrinya yang memasaknya.
"Kayaknya aku bakal makan banyak ini." seloroh Arga alih-alih memuji masakan sang istri.
__ADS_1
Mendengar celetukan Arga, Hania merasa bangga. Meski tidak secara langsung mengatakan masakannya enak, suaminya itu benar-benar menyukai hasil karyanya. Dan dengan sigap melayani sang suami dan menemaninya menyantap makan malamnya. Rasa kesalnya menguap entah kemana.
Arga menyantap hidangan yang dimasak istrinya dengan lahap. Selalu begitu. Tanpa memikirkan berat badan yang dahulu selalu diperhatikannya, pria bertubuh atletis itu bahkan menambah porsinya lagi. Dia benar-benar merasa kelaparan. Siang tadi dia memang melewatkan makan siangnya karena harus ke pemakaman sahabatnya dan menenangkan Tante Monica. Belum lagi kedatangan Darren dan Rizal membuatnya harus melepas kangen sejenak. Malam harinya, Hania yang tiba-tiba merajuk membuatnya kebingungan, sampai melupakan perutnya yang lapar karena fokus merayu sang istri.
"Abis ini aku ngegym." ucap Arga ketika Hania mengingatkannya untuk tidak menambah porsi makannya karena sebelumnya Hania sudah menuangkan porsi besar sesuai permintaannya.
Usai makan besarnya, Arga tidak melepaskan Hania. Pria itu tidak suka istrinya mendiamkannya. Mumpung sang istri melunak, Arga akan memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki suasana hati sang istri.
Di sinilah mereka sekarang. Di gazebo di tepi kolam di halaman belakang rumah besarnya.
"Aku mau bikin syukuran. Gimana menurutmu?" ucap Arga seraya memeluk Hania dari belakang.
"Syukuran? Untuk?" Hania menolehkan wajahnya ke arah Arga sampai tubuhnya ikut berputar.
"Untuk mensyukuri keberhasilan kita melewati setiap masalah yang kita hadapi kemarin-kemarin. Dan berharap hidup kita baik-baik aja setelah ini." Hania mengamini ucapan Arga.
"Makasih, selalu percaya sama aku. Tanpa itu semua, aku ngga tau sejauh mana aku bisa melewati ini semua." bisik Arga seraya mengeratkan pelukannya.
Hembusan napas Arga yang menerpa telinganya tak ayal membuat Hania meremang. Hah. Hania merutuki dirinya yang selalu mendadak mesum saat berdekatan dengan suaminya.
"Bulan madu?" Buat apa?" lagi-lagi Hania mengulang pertanyaan Arga.
"Menurutmu, apa kita bisa membuka restoran baru disuatu tempat saat kita bulan madu di sana?" tanya Arga iseng.
"Ya, jelas bukan itu 'kan tujuan bulan madu, honey?" Hania mengerjapkan matanya beberapa kali menyadari keterlambatan berpikirnya karena efek samping berdekatan dengan Arga.
"Iya, sih." sahut Hania meringis seraya menggaruk pelipisnya.
"Tapi kalau cuma mau berdua-duaan aja 'kan ngga perlu jauh-jauh kemana-mana, Mas. Ending-endingnya di kamar juga." ocehan Hania yang tanpa disadarinya meembuat Arga melengkungkan bibirnya.
Pria itu melihat jalan menuju surga dunianya mulai terbuka dan sudah bisa merasakan jika malam ini dirinya tidak akan terabaikan. Situasi itu dimanfaatkannya untuk terus membuat Hania merasa nyaman dan melupakan suasana hatinya yang tadinya sempat memburuk.
"Tapi, kalau bulan madu, ngga akan ada yang ganggu, honey. Kita bisa fokus pada diri kita aja. Aku ngga di ganggu kerjaan, kamu ngga diganggu ibu yang minta ditemeni kemana-kemana atau Ferry and friends. Kita bener-bener bisa santai. Itu juga bagus buat kesehatan kamu." Hania mengangguk-anggukan kepalanya.
Tampaknya wanita cantik bermata kelinci itu mulai terpengaruh. Suara Arga yang lembut, mendayu-dayu di telinganya. Ah. Hania mudah sekali terbuai oleh rayuan Arga.
__ADS_1
"Kalau kita tenang, ngga stres, kita bisa cepet menghadirkan buah hati kita di sini. Kata dokter sudah bisa 'kan?" bisik Arga seraya menyentuh peeut ramping Hania, dengan hidung yang menempel di tengkuk Hania dan suaranya bergetar.
"Mas udah pingin punya anak?" lirih Hania.
Arga mengangguk dengan posisi hidung yang masih menempel di tengkuk Hania.
"Kamu ngga keberatan 'kan?" kini Arga membalik tubuh Hania menghadapnya. Menatap mata kelinci yang bening itu lekat.
Senyumnya seketika mengembang sempurna saat Hania menggeleng.
"Kamu mau?" Arga meyakinkan dirinya jika jawaban Hania sesuai harapannya.
Pria itu langsung memeluk Hania begitu wanita itu menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan mata berkaca-kaca. Lalu mengucapkan kata terimakasih berkali-kali.
"Kamu tahu, sebelum bertemu denganmu dan Tiara, hatiku hampa. Hidupku hanya untuk pekerjaan karena aku ngga punya tujuan. Aku ngga tertarik pada apapun. Kamu itu seperti hadiah yang dikirim Tuhan untukku. Jodoh untukku. Sebelum bertemu denganmu, aku pernah mimpi kamu. Mimpi nikahin kamu. Itu seperti petunjuk buatku" ungkap Arga.
"Masak? Kok bisa?" Hania menatap Arga seraya menarik tubuhnya yang masih dipeluk Arga.
"Iya. Beneran. Setelah mimpi itu, pertama kali ketemu kamu di pestanya Dio, aku kayak dejavu. Itu bikin aku kepikiran kamu terus. Matamu itu bener-bener merusak konsentrasiku, tahu ngga? Aku langsung bisa tertarik sama kamu begitu aja. Tanpa kamu susah payah cari perhatian ke aku, kamu sudah bikin aku jatuh cinta sama kamu." Arga menjeda kalimatnya, sementara Hania terdiam tak ingin menyela.
"Saking jatuh cintanya, aku ngga peduli statusmu. Dan Tiara adalah rasa lain yang hadir setelah rasa itu hilang sekian lama. Dia buat aku ngerasain rasanya jadi seorang papa lagi. Dia yang bantu aku ngilangin perasaan bersalahku dan penyesalan yang selalu menghantui." kenang Arga.
"Sama sepertimu. Masa lalu rumah tanggaku ngga mulus, honey. Dihianati dan ditinggal. Setelah itu semua, cuma kamu yang bisa membuatku ingin memiliki keluargaku sendiri lagi. Cuma kamu yang bisa getarin hatiku dan ingin mencinta lagi. Dan aku terlalu mencintaimu. Maaf kalau sikapku berlebihan dalam menjagamu. Aku ngga mau kehilanganmu." ucapan Arga seakan menjawab kekesalan Hania sore tadi.
"Mas...." Hania menggenggam tangan Arga. Ada rasa haru yang menyelinap di relung hatinya. Airmatanya sudah berlinang.
"Makasih, kamu tetap disampingku, tetap percaya sama aku." ucap Arga dengan suara bergetar lalu mengecup kening Hania dalam dan lama hingga membuat Hania memejamkan matanya.
********
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1