Yang Terakhir

Yang Terakhir
146. Biasakan Dirimu


__ADS_3

Hania menyipitkan matanya ketika baru terbangun dari tidurnya. Sinar matahari yang langsung masuk menerobos melalui jendela balkon terasa silau di matanya.


Klek!


Bersamaan dengan bangunnya Hania, pintu kamarnya bersama suami barunya dibuka dari luar. Wanita yang baru saja menyandang status istri lagi itu mengalihkan tatapannya. Menatap pria yang terlihat lebih tampan kali itu. Arga. Suaminya itu tampak segar dengan kaos polo biru muda dan jins hitam yang membalut tubuh atletisnya. Aroma maskulin dari parfum mahalnya menguar memenuhi rongga penciumannya.


"Sudah bangun, putri tidur?" sapa Arga seraya tersenyum dengan nampam di tangannya.


Dikecupnya bibir Hania dengan sedikit mel***tnya setelah meletakkan nampan yang tadi dibawanya.


"Aku belum sikat gigi, Mas." keluh Hania dengan suara serak khas bangun.


"Ngga ada yang beda, rasanya tetap manis. Biasakan dirimu, honey." ucap Arga seraya mengerlingkan matanya dan senyum yang mengembang tipis.


Hania menatap makanan yang ada di atas nampan lalu melirik jam digital di atas nakas. Jam 9. Hah. Dia kesiangan. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya, lalu melirik Arga yang tengah menyiapkan sendok dan garpu. Bagaimana bisa hari pertamanya menjadi istri lagi dirinya malah bangun kesiangan? Dan kini malah tengah dilayani suaminya? Hania menghela napas dalam-dalam.


"Ayo dimakan." pinta Arga.


"Maaf ya, Mas. Aku bangunnya kesiangan jadi ngga bisa nyiapin sarapan buat Mas. Malah Mas yang repot." ucap Hania dengan wajah memelas merasa tak enak hati.


"Ngga usah dipikirin. Aku seneng-seneng aja ngelakuin ini. Lagipula kamu bangun kesiangan juga karena semalam kamu bener-bener kerja keras nyenengin aku." wajah Hania merona mendengar kalimat terakhir suaminya barusan, sungguh dia malu.


Dia ingat bagaimana perkasanya Arga yang seperti tidak mengenal lelah, pun dirinya yang selalu siap sedia menuruti sang suami. Tak dipungkirinya, sentuhan Arga membuatnya serasa melayang dan bergairah.


"Ngga usah dibahas deh, Mas." lirih Hania seraya menundukkan wajahnya.


Arga terkekeh melihat Hania yang tampak merona karena malu. Membuatnya gemas.


"Kenapa malu? Mulai sekarang kita akan sering membahasnya. Soal gayanya, durasinya, speednya.... Aww!" pekik Arga tertahan membuat ucapannya terhenti.


"Maaas...!" tegur Hania seraya mencubit perut liat suaminya yang tengah usil itu.


"Sssh! Sakit, hon." desis Arga setelah Hania melepas cubitannya.


"Syukurin!" ejek Hania seraya melirik Arga sekilas lalu menyantap sarapannya.


Arga hanya tersenyum menanggapi sikap istri barunya itu. Sudah dewasa dan pernah menikah tapi masih malu-malu menanggapi ucapan maupun perlakuan vulgarnya. Ada rasa bangga yang menelusup ke dalam hatinya. Istrinya itu pandai menjaga dirinya dan pergaulannya. Dan itu mempengaruhi pola pikirnya, menganggap hal-hal intim dan vulgar hanya pantas dibicarakan dengan orang yang bersangkutan saja. Istrinya hanya belum terbiasa saja dengan dirinya.

__ADS_1


"Eh? Maaf aku makan sendiri. Mas udah makan?" tanya Hania menyadarkan Arga yang tengah mengaguminya.


"Udah. Maaf aku ngga nungguin kamu. Liat tidurmu yang nyenyak dan aku yang udah kelaparan karena kegiatan kita semalam, aku ngga tega dan turun duluan." ucap Arga sengaja menggoda Hania.


Lagi-lagi Arga terkekeh melihat Hania yang merona dan mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Wanita cantik itu tampak menghela napasnya dalam-dalam.


Sepertinya, Hania memang harus mulai membiasakan dirinya dengan ucapan dan sikap mesum Arga yang mendadak muncul setelah sah menjadi suaminya.


"Kamu masih capek?" tanya Arga yang dibalas gelengan lemah oleh Hania.


"Mau ikut jengukin Ibu?" Hania langsung mengangguk penuh semangat.


Tadinya wanita cantik itu berpikir Arga akan meminta haknya lagi pagi itu sehingga dirinya tidak bersemangat menjawab ketika suaminya menanyakan keadaannya. Bukannya tidak ingin melayani suaminya, hanya saja area sensitifnya masih terasa nyeri dan membuatnya tak nyaman. Mengingat Arga yang sangat bersemangat semalam, membuatnya meringis. Tapi ternyata Arga hanya mengkhawatirkannya. Hah. Ternyata dirinya terlalu percaya diri.


"Apa masih nyeri?" Hania terkejut karena tiba-tiba suara berat Arga terdengar di belakangnya ketika dirinya sibuk memilih baju yang akan dikenakannya.


Pria perkasa itu mulai melingkarkan tangannya di perut Hania dan mengecup bahunya yang telanjang dan mengendus leher jenjang istrinya. Menikmati aroma sabun yang menyatu dengan aroma tubuh yang sudah dihapalnya dan membuatnya ketagihan. Harum bunga chamomile. Ah. Seandainya saja Dana tidak memintanya datang sesegera mungkin, sudah pasti dirinya akan bersenang-senang dulu bersama sang istri.


"Mas? Aku pake baju dulu." ucap Hania seraya menatap bayangannya di cermin yang sedang diendus suaminya.


"Pake aja, honey." sahut Arga tanpa menghentikan tindakannya.


"Mas? Udah dulu dong. Aku ngga bisa pake baju, nih." keluh Hania.


Arga membalik tubuh Hania menghadapnya. Lalu dengan lembut menyambar bibir merah jambunya Hania. Mel***tnya dengan sedikit rakus. Dan segera melepaskan bibir manis yang jadi favoritnya sekarang itu saat 'jendralnya jack'nya sudah mulai menegang. Jika tidak segera diakhiri, bisa panjang urusannya. Bisa-bisa abang angkatnya itu akan mengomelinya panjang dan lebar lalu akan menuduhnya tidak peka dan sebagainya karena kedatangannya dipastikan molor lama sekali.


"Honey, rasanya aku pengen nerkam kamu sekarang." bisik Arga membuat Hania merinding.


Wanita cantik itu terkekeh. Dikecupnya bibir Arga sekilas lalu mendorong pelan tubuh Arga agar sedikit menjauh, memberinya ruang untuk bergerak. Dia sudah merasa dingin karena bahunya yang terekspos dan handuk yang melilit tubuh polosnya juga dalam keadaan basah.


"Aku tunggu di bawah." putus Arga lalu mengecup bibir Hania sekilas.


Sepeninggal Arga, barulah Hania bisa melanjutkan memakai pakaian yang sudah dipilihnya tadi. Merias wajahnya dengan riasan natural dan mengikat ekor kuda rambutnya. Matanya seketika melotot begitu melihat bercak-bercak merah di sekitar lehernya. Begitu kontras dengan kulitnya yang kuning langsat.


"Hah. Semangat banget sih suamiku, sampe bekasnya kentara banget gini. Banyak lagi." gumam Hania dalam hati.


Tadi dirinya bahkan tidak menyadari adanya bercak-bercak merah itu. Tatapannya hanya fokus pada Arga yang mengganggunya.

__ADS_1


Tak berselang lama, Hania sudah turun dengan rambut yang tergerai dan sebuah scarf menghias lehernya.


"Tumben pake scarf? Tapi keliatan manis, sih." puji Arga setelah mereka berada di dalam mobil.


Arga menyetir sendiri mobilnya. Mang Diman masih di rumah sakit setelah tadi diperintahnya mengantar bi Darmi menggantikan bi Sumi.


"Manis ya? Tapi ini tuh buat nutupin bekas gigitan nyamuk nakal tau." sindir Hania.


"Nyamuk nakal? Emang semengganggu apa sih sampe harus ditutupin?" tanya Arga yang tidak mengerti maksud Hania.


"Merah-merah. Banyak lagi. Bisa-bisa orang yang liat ngiranya aku abis kerokan." sahut Hania.


"Ehem!" Arga langsung berdehem seraya mengusap tengkuknya begitu menyadari maksud istrinya.


"Sorry, honey. Itu... Aku cuma terlalu excited. Jadi semangat menggebu-gebu kayak genderang mau perang." ucap Arga membela dirinya sementara Hania menghela napas dalam-dalam.


Mobil mewah Arga tiba di halaman rumah sakit besar milik keluarga sahabatnya. Baru beberapa langkah ponselnya bergetar. Reza menghubunginya.


"Kayaknya kamu butuh pengayaan materi deh, Za." sahut Arga tanpa membalas sapaan asistennya di seberang sana.


"Maaf, Pak? Maksudnya bagaimana?" wajah Reza sudah pasti menunjukkan ekspresi kebingungan dengan ucapan atasannya.


"Apa kamu lupa kalau saya masih dalam masa cuti menikah?" sentak Arga.


"Oh. Maaf, Pak. Anu...." Reza kikuk merasa tak enak hati.


"Ck! Ada apa menghubungiku?" potong Arga yang tak sabaran mendengar kata-kata Reza yang terpotong.


Dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan dan tangan satunya yang mengepal erat, Arga mendengar semua informasi yang dilaporkan Reza melalui ponsel.


"Cari sampai ketemu!" perintah Arga dengan nada suara dingin.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2