Yang Terakhir

Yang Terakhir
45. Gara-Gara Reflek


__ADS_3

Hania menjauhkan wajahnya dari wajah Arga dan menatap pria seksi itu. Mata itu berkabut, wajahnya memerah, dan napasnya terdengar berat. Tangannya yang menempel di dada Arga dapat merasakan detak jantung pria itu yang berdegub kencang, dan tubuhnya memanas.


"Han", suara pria itu terdengar parau dan berat sambil terus menatap Hania.


Tangan Arga kembali mengeratkan rengkuhannya membuat Hania tersadar. Wanita itu menggeliat dalam pelukan Arga mencoba untuk lepas dari dekapan pria atletis itu.


"Mas, lepasin", pinta Hania tapi Arga masih menatapnya lekat.


"Mas, ayo lepasin, nanti Tiara lihat", Hania mulai cemas.


Mendengar nama Tiara, Arga mengendurkan rengkuhannya. Menatap wajah cantik itu. Ingin sekali mengecupnya dan mencumbunya tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia menghormati wanita itu. Arga mendesah. Dengan berat dilepasnya pelukan dramatis itu.


"Ehem", Arga berdehem menetralkan suasana hatinya dan memecah kecanggungan.


Hania salah tingkah, menyelipkan rambutnya ketelinga sambil melirik Arga.


"Aku...", ucap Arga dan Hania bersamaan.


"Ya?", lagi-lagi mereka berucap bersamaan, Arga memalingkan wajahnya kesembarang arah sementara Hania menunduk.


Arga menyugar rambutnya, membuatnya sedikit berantakan dan itu terlihat seksi dimata Hania. Hania menatap pria tampan yang tengah menatapnya itu. Pandangannya bersiborok dengan mata tajam pria seksi itu. Dia langsung mengalihkan tatapannya, menatap kesembarang arah. Keduanya sama-sama canggung dan suasana menjadi hening.


Hania bingung antara harus meminta maaf karena telah menabraknya, atau marah karena pria tampan itu memeluknya sementara dirinya menikmati keintiman itu, atau berterimakasih karena pria itu memegangnya hingga dirinya tidak jatuh. Hih. Jadi serba salah sih?


"Maaf, tadi, aku... aku reflek, reflekku kebangetan", ucap Arga terbata-bata memecah keheningan.


Hah! Alasan apa itu? Apakah menghirup aroma tubuh Hania juga termasuk refleknya yang kebangetan? Arga menundukkan kepalanya lalu menghela napas seraya memejamkan matanya.


Ya. Reflek kebangetan yang menguntungkan bukan? Karena ulah refleknya itu Arga bisa memeluk lagi wanita cantik pujaan hatinya yang tidak mungkin dicurigai sebagai, modus.


"Aku yang salah Mas, ngga hati-hat", Hania menoleh ke arah Arga sekilas lalu mengalihkan tatapannya lagi.


"Mmm... Mas, belum makan kan?", tanya Hania mencoba mencairkan suasana, kembali menatap Arga..

__ADS_1


"Ah, iya. Tadinya aku mau 'ngajak kamu dan Tiara makan diluar, tapi sepertinya udah ngga keburu waktunya", Arga melihat jam tangannya.


"Kita makan disini aja gimana? Tadi aku liat kulkas isinya lumayan komplit", tawar Hania.


"Oki doki! Kita masak bareng?", ucap Arga mencoba bersikap sebiasa mungkin.


Hania terkekeh melihat reaksi pria tampan itu. Kenapa mendadak semangat? Dan bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu? Dirinya saja setengah mati menetralkan detak jantung yang membuatnya gugup.


Arga mengekori Hania ke dapur. Disana sudah ada bi Mar yang tengah mencuci daging sapi dan sayuran. Mendengar ada yang datang, bi Mar menoleh. Lalu tersenyum.


Melihat Arga dan Hania mendekat, bi Mar salah tingkah. Dia jadi ingat adegan yang dikiranya adegan romantis barusan. Bi Mar jadi malu sendiri memergoki adegan yang seperti dibayangkannya. Dia menggaruk pipinya seraya tersenyum lagi.


"Bibi lagi nyiapin apa?", tanya Hania seraya mendekat.


"Ini Bu eh Mba eh...", bi Mar memukul mulutnya pelan, jadi bingung akan memanggil apa pada wanita cantik yang disangka calon istri majikannya itu.


Hania terkekeh melihat bibi salah tingkah begitu. Diliriknya Arga yang membuka kulkas mengambil botol minuman kemasan. Pria itu juga terkekeh.


"Panggil Mba aja bi, biar sama kayak Mas Arga. Kalau bibi manggil saya ibu, nanti saya dikira ibu kost", seloroh Hania.


"Jadi, ini bibi mau bikin apa?", tanya Hania lagi seraya memegang sayuran yang sudah dicuci bi Mar tadi.


"Belum tau Mba, biasanya sesuai rekuesnya Mas Arga", jawab bi Mar sambil menoleh pada majikannya.


Hania ikut menoleh pada Arga yang sedang duduk seraya meneguk jus buah kemasannya. Mendengar namanya disebut, pria tampan itu langsung meliriknya.


"Mas mau makan apa? Ada daging", sepertinya Hania mulai terbiasa menanyakan makanan apa yang ingin dimakan pria itu.


Arga meletakkan botol jus yang dipegangnya. Lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat seraya menggulung lengan kemejanya.


"Apa aja yang kamu masak pasti kumakan", jawab Arga yang sudah candu dengan masakan Hania.


Hania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Tiba-tiba muncul keinginan untuk mengusili Arga.

__ADS_1


"Tapi aku ngga masak, bi Mar yang masak, ya kan bi?", Hania menoleh pada bi Mar sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Eh? Saya? I iya saya yang masak, iya", sahut bi Mar gelagapan seraya meringis.


"Eh, jangan dong. Aku pengen makan masakan kamu. Aku bosen masakan bi Mar", protes Arga.


Hania menoleh pada Bi Mar yang sedang meringis.


"Tapi aku ngga masak Mas, udah ada bi Mar ini, boleh dong aku jadi penikmat?", sahut Hania seraya menahan tawanya melihat tingkah Arga yang tiba-tiba kolokan.


Bi Mar merasa jadi nyamuk melihat tingkah majikannya dan Hania yang dianggapnya romantis. Dia jadi kikuk dan serba salah. Malu.


"Kamu masakin aku dulu, nanti aku kasih yang nikmat-nikmat", tawar Arga menaik turunkan alisnya menggoda Hania tanpa menyadari makna dibalik kata-katanya.


Eh? Bi Mar langsung menoleh. Menatap Arga yang sedang berdiri didepan Hania sekilas lalu memalingkan wajahnya, takut memergoki majikannya itu beradegan romantis. Dia menyibukkan diri lagi dengan kegiatannya mencuci daging. Dia malu mendengar ucapan majikannya yang dianggapnya vulgar. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak. Ingin rasanya pergi saja dari dapur itu.


"Mas tuh ngomong apaan sih?", tegur Hania gugup seraya mengalihkan tatapannya ke arah Bi Mar yang sedang sibuk sendiri.


Hania membalikkan tubuhnya yang semula menghadap Arga kini menyamping. Wanita cantik itu merasa pipinya memanas, mungkin memerah. Dia jadi membayangkan hal nikmat yang lain. Jantungnya juga berdebar.


"Apa?", Arga malah bertanya dengan wajah sok polosnya.


Hania mendelikkan matanya pada Arga. Haduh. Pria tampan ini kenapa tidak peka sih dengan ucapannya sendiri? Apa maksudnya tadi memberinya yang nikmat-nikmat? Hah. Hania mendesah, pria tampan itu suka sekali membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Apalagi kini pria tampan itu berdiri sangat dekat dengannya dan tengah menatapnya. Membuatnya semakin salah tingkah.


Bi Mar juga semakin salah tingkah. Daging yang sudah bersih terus dicucinya. Kini pandangan Hania dan Arga teralih pada bi Mar. Kemudian saling menatap seolah saling bertanya, bibi kenapa?


"Bi, itu dagingnya kenapa kok dicuci terus?", Akhirnya Hania tidak tahan untuk menghentikan aksi bibi mencuci daging.


"Oh, ini, anu Mba, mm... masih ada darahnya, iya masih ada darahnya", sahut Bi Mar gelagapan.


Bi Mar sedang fokus mengalihkan perhatiannya dari adegan romantis majikannya yang menggoda wanita cantik yang disangkanya calon istri majikannya itu. Lalu tiba-tiba wanita cantik itu menegurnya, jelas saja dia tidak siap. Dia sendiri bingung kenapa terus mencuci daging, tapi jika tidak mencuci daging, dia mau apa? Sedangkan dirinya tidak berani bergerak dari tempatnya, takut mencuri perhatian dan merusak momen romantis majikannya. Jadi dia diam saja disana, di pojokan dapur sambil mencuci daging.


********

__ADS_1


Thanks for reading


__ADS_2