Yang Terakhir

Yang Terakhir
160. Mendadak Rindu


__ADS_3

"Honey?" suara berat Arga membuat Hania yang sedang fokus menyiram bunga, menoleh.


"Serius banget sampe ngga nyadar suaminya datang." sindir Arga seraya memeluk pinggang Hania dari belakang lalu mengecup kepala istrinya.


Hania meletakkan selang yang dipegangnya dan memutar tubuhnya menghadap sang suami.


"Maaf, aku ngga denger Mas datang." sahut Hania seraya tersenyum lalu mengecup pipi Arga.


Arga menatap Hania dengan lekat. Tatapan penuh kerinduan dan hasrat yang menggebu. Perlahan pria tampan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Hania yang sudah merona. Cup.


Sebuah kecupan singkat yang berubah menjadi lu***an, mendarat di bibir merah jambunya Hania. Arga tidak mungkin membiarkan bibir kenyal yang terasa legit itu hanya menerima kecupan singkat.


"Apa boleh?" tanya Arga dengan napas memburu.


Sudah 2 bulan sejak Hania dinyatakan sehat dan boleh meninggalkan rumah sakit, Arga masih belum berani menyentuh istrinya. Dia takut hasratnya yang sudah lama terpendam akan menyakiti wanita bermata kelinci itu. Meskipun Hania sudah berulang kali mengatakan dirinya akan baik-baik saja dan percaya pada suaminya, tapi Arga memilih untuk menahan diri sedikit lagi.


"Sekarang?" tanya Hania tak percaya.


"Kamu yang godain aku, honey. Sekarang kamu harus tanggung jawab." sahut Arga dengan suara berat yang parau.


"Mana ada. Kapan?" Hania membelalakkan matanya.


"Auramu melambai-lambai ke arahku, honey. Dan aroma tubuhmu ini, sejak kapan jadi sewangi ini, hum?" bisik Arga di telinga Hania membuat wanita cantik itu meremang, bibir Arga sedikit menyetuh daun telinganya, entah disengaja atau tidak.


Hania mengerjapkan matanya seraya menjauhkan telinganya dari bibir sang suami, lalu mendesah. Ah, pria tampan di hadapannya ini, kenapa sekarang suka sekali menggombalinya? Apakah mode romantisnya sedang aktif? Atau berusaha bersikap romantis?


Hania mengusap rahang tegas pria tampan yang sudah memiliki hatinya itu dengan lembut, membuat pria itu mendesis. Wanita bermata kelinci itu tersenyum semanis madu lalu mengangguk. Selama ini dirinya sudah menawarkan diri pada sang suami, tapi pria tampan itu masih belum mau menyentuhnya padahal dirinya pun merindukan sentuhan suaminya lebih dalam. Dan hari ini, entah ada angin apa yang membuat pria tampan itu begitu menginginkannya hingga tak bisa menahannya?


Mendapat lampu hijau dari Hania, Arga langsung mengangkat tubuh sang istri dan menggendongnya di depan. Hania yang terkejut seketika melingkarkan kakinya di pinggang Arga dan kedua tangannya melingkar erat di leher kokoh pria bertubuh atletis itu. Arga membawa Hania ke kamar besar mereka.


"Eh?" Bi Lastri membelalakkan matanya sebelum akhirnya membuang muka karena malu sendiri melihat adegan 21++ di hadapannya.


Bi Lastri yang berniat meneruskan menyiram tanaman di halaman belakang harus bernasib sial karena memergoki majikan tampannya yang tengah mencumbu sang istri. Hah! Bi Lastri sampai mengelus dadanya. Bagaimana jika dirinya mendadak rindu suaminya? Bi Lastri segera menyingkir dari tempat itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir bayangan adegan mesum barusan. Hingga tanpa sengaja dirinya menabrak Bi Sumi.


"Ono opo seh, Tri? Mlaku mbek geleng-geleng ngunu? Dadi ambyar kabeh 'kan klambine!" gerutu Bi Sumi.


(Ada apa sih, Tri? Jalan sambil geleng-geleng kepala gitu? Jadi kocar-kacir semua bajunya!).


"Haduh, Yu. Nek sampeyan ngerti mesti podo mbek aku." Bi Lastri mulai bercerita pada Bi Sumi sambil membantu membereskan pakaian yang berserakan di lantai.


(Hadeuh, Mba. Kalau kamu tau, pasti sama kayak aku.).


"Yo jenenge mbek bojone dewe, yo rapopo toh? Sampeyan ae sing salah panggonan lan wektu." cibir Bi Sumi membuat Bi Lastri memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


(Namanya juga sama istrinya sendiri, ngga apa-apa 'kan? Kamunya aja yang salah tempat dan waktu.).


"Eh, tapi, Yu. Lagi iki lho aku ngonangi Mas Arga romantis mbek bojone. Mbek sing mbiyen Mas Arga luwih kalem, sing agresif malah sing wedok." ucapnya lagi menggosipi majikannya.


(Eh, tapi, Mba. Baru kali ini lho aku liat Mas Arga romantis sama istrinya. Sama yang dulu Mas Arga lebih kalem, yang agresif malah istrinya.).


"Opo mergo sing mbiyen uculan yo, Yu?" lanjutnya membuat Bi Sumi menggelengkan kepalanya lalu berdiri membawa pakaian tadi ke belakang dan akan dicuci lagi.


(Apa karena yang dulu itu suka keluyuran ya, Mba?).


"Lho, Yu! Diajak ngobrol kok malah ninggalke." sungut Bi Lastri seraya menyusul Bi Sumi.


(Lho, Mba! Diajak ngobrol kok malah ninggalin.).


"Ssstt! Uwes, Tri. Mengko nek Mas Arga opo Mba Hania krungu iso tersinggung lho." nasehat Bi Sumi yang memang dasarnya tidak suka menggunjing orang lain terlebih itu adalah majikannya.


(Ssstt! Sudah, Tri. Nanti kalau Mas Arga atau Mba Hania dengar bisa tersinggung lho.).


Bi Lastri yang sudah berhasil menyusul Bi Sumi hanya memanyunkan bibirnya lagi. Meski ditegur begitu, Bi Lastri tidak pernah marah ataupun tersinggung. Tapi meski sering ditegur begitu, wanita yang usianya lebih muda dari Bi Sumi itu tetap saja sering menggosipi majikannya. Bi Sumi hanya geleng-geleng kepala.


Sementara itu, pasangan suami istri yang tengah menjadi bahan ghibahan asisten rumah tangganya sedang berada di puncak gairah. Kedua insan beda gender itu saling memagut mesra hingga menimbulkan suara decapan di kamar besar mereka yang hening.


Berkali-kali de**han demi de**han Hania menggema di kamar itu. Hania benar-benar dibuat melayang. Arga bukannya tidak pernah memberinya sentuhan-sentuhan nakal ketika mereka berada di kamar besar mereka tapi suaminya itu tidak pernah menjelajah terlalu dalam. Pria tampan itu selalu menahan gejolak hasratnya agar tidak kebablasan, demi kesehatan sang istri.


"Sial lu, Den!" rutuk Arga lalu membanting pintu apartemen Iden.


Tadi pagi, Arga datang ke apartemen sahabat sekaligus wakilnya dalam perusahaannya karena ingin membujuk pria blesteran itu untuk mewakilinya menemui kliennya dari negeri kincir angin yang sedang berkunjuung ke kota sebelah. Sementara dirinya sendiri harus menghadiri pertemuan para pebisnis muda, acara tahunan yang kerap menjadi ajang pencarian relasi baru atau peluang memperluas jangkauan usaha. Arga juga memanfaatkan pertemuan ini untuk mengembangkan usahanya.


Seperti biasa, Arga akan langsung masuk ke dalam apartemen itu tanpa harus menunggu Iden membukakan pintu untuknya. Tapi, karena bebasnya akses masuk untuknya, membuatnya harus melihat tontonan 21++ secara langsung. Di ruang tamu!


Iden dan sang sekretaris yang terpergok Arga langsung menghentikan kegiatan panas mereka. Sang sekretaris langsung berlari memasuki kamar Iden dengan membawa serta pakaiannya yang berserak di lantai. Sementara Iden membersihkan dirinya di kamar mandi di samping dapur.


Klek!


Iden membuka pintu apartemennya setelah rapi dengan pakaian kerjanya. Pria tampan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tidak menemukan Arga di sana.


"Pak Arganya mana?" tanya sekretarisnya Iden dengan wajah cemas, ketika Iden memasuki kamarnya.


Iden mengangkat bahunya acuh. Dia tidak peduli jika Arga melihat adegan panasnya dengan Bela. Pria bermata coklat terang itu tidak menyadari jika sikapnya itu membuat wanita seksi di depannya merasa semakin cemas.


"Yang, gimana ini? Pak Arga mergokin kita. Aku takut dipecat." rengek Bela seraya melingkarkan tangannya ke lengan atasan sekaligus kekasihnya itu.


"Kamu tenang aja. Arga ngga akan mecat kamu." ucap Iden menenangkan sekretarisnya seraya meremas b*k*ng wanita seksi itu.

__ADS_1


"Kamu udah siap? Kita berangkat sekarang!" ajak Iden.


Arga yang kesal karena memergoki Iden barusan, memacu laju kendarannnya dengan kecepatan tinggi. ******* kenikmatam yang keluar dari kedua insan yang tengah memacu ga*r*h barusan terus terngiang di benaknya. Baginya yang sudah berbulan-bulan tidak melakukan kegiatan panas itu bersama sang istri mendadak panas dingin. Istri? Hah! Sekarang dia teringat pada istrinya dan mendadak merindukannya. Bayangan Hania yang mendesah saat dirinya menyentuh wanita cantik itu jadi terus melayang-layang di benaknya.


Pria karismatik itu sempat ragu. Pulang atau lanjut bekerja. Hingga sebuah panggilan dari Reza membuatnya memutuskan untuk melajukan sedan mewahnya ke perusahaan. Sesampainya di perusahaan, Arga langsung menuju ruangannya diikuti Dian.


Sejak memasuki lobi perusahaannya, wajah Arga sudah tampak masam, menyebabkan kesan dingin yang melekat padanya semakin kental terasa. Tidak ada karyawannya yang menyapanya berlebihan. Takut kena getahnya.


Bahkan suasana hatinya yang sedang kesal masih ditampakkannya sepanjang hari itu. Entah kenapa jam kerja hari itu terasa lebih lambat dari hari biasanya. Arga ingin segera pulang dan menemui sang istri. Tapi beberapa agendanya tidak bisa ditunda atau didelegasikan, memaksanya tetap berada disana.


Hania membuka matanya karena usapan dingin yang lembut di pipinya. Senyumnya langsung mengembang mengetahui Arga lah pelakunya. Suaminya itu tampaknya baru selesai mandi. Wajahnya tampak lebih segar dan berbinar dengan rambut basah yang disisir ke belakang, menambah kadar ketampanannya.


"Bangun, udah malam." ucap Arga lembut seraya mengelus pipi Hania dengan jempolnya.


"Hah?" Hania mengernyitkan keningnya lalu spontan menoleh ke arah jendela.


Benar. Langit sudah menggelap dan daun jendela sudah ditutup meski gordennya masih terbuka. Hah. Rupanya cukup lama Hania tertidur setelah beberapa kali meneguk kenikmatan bersama sang suami. Arga benar-benar mengajaknya mengarungi surga dunia. Pria tampan itu seperti tidak punya rasa lelah. Mungkin karena sudah cukup lama tidak menjelajahi lubang kenikmatan. Pria itu benar-benar memuaskan dirinya. Arga tidak memberinya ampun.


"Hei, wajahmu merona, honey. Kamu mikirin apa?" goda Arga seraya menoel pipi Hania.


"Hah? Apa iya? Aku ngga mikir apa-apa kok." elak Hania yang memang sedang berpikir mesum barusan.


"Ohya?" selidik Arga yang diangguki Hania dengan mantap.


"Ayo buruan mandi, udah kusiapin air hangatnya." perintah Arga sambil menarik selimut yang menutupi tubuh polos Hania.


Aksinya itu membuatnya melihat pemandangan gunung di malam hari dan membuat "jendral jack"nya bereaksi kembali. Ingin rasanya Arga menerkam wanita cantik bermata kelinci itu saat ini juga tapi melihat Hania yang tampak masih kelelahan dirinya tidak tega.


"Ayo, honey. Atau aku akan memangsamu lagi." goda Arga lagi dengan mata berkabut gairah.


Hania menarik selimut yang ditahan Arga lalu membalutkannya ke tubuhnya yang polos. Dengan wajah yang semakin merona wanita cantik itu berlari ke kamar mandi.


"Hati-hati, honey!" peringat Arga setengah berteriak.


Brak!


Arga hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat Hania yang salah tingkah. Yang menurutnya tidak berubah meski sudah berstatus istrinya. Wanita cantik bermata kelinci itu selalu merona jika digoda olehnya.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2