Yang Terakhir

Yang Terakhir
75. Menyelamatkan Arga


__ADS_3

Arga terus berusaha menghindari sentuhan yang diberikan Bela. Pria itu menepis dan mendorong wanita genit yang kini duduk di pangkuannya. Dirinya sadar tengah dalam pengaruh obat perangsang yang mungkin saja dicampurkan Bela ke dalam minumannya.


Dirinya terkejut ketika tiba-tiba seorang wanita cantik menarik Bela dan mendorongnya hingga terjatuh. Dan seorang pria yang kemudian menahan wanita genit itu yang ingin menyerang wanita cantik yang samar-samar wajahnya seperti Hania.


"Hania?" Arga mengulurkan tangannya.


Pria itu tersenyum ketika wanita yang mirip Hania menyambut uluran tangannya. Lalu merasakan getaran aneh itu lagi ketika wanita cantik itu mengelus wajahnya. Ditariknya tubuh wanita itu mendekat. Dia dapat merasakan hangatnya seperti tubuh Hania, pun aromanya, sama seperti aroma tubuh Hania. Tanpa ragu lagi Arga mengec*p bibir merah muda itu. Rasanya sama seperti bibir Hania. Meski dirinya pernah merasakan walau sekilas tapi rasanya membekas sampai ke dasar hatinya. Dijauhkannya wajahnya dari wajah wanita itu. Dirinya ingin memastikan wanita itu benar-benar Hania.


Sementara itu, Feryy masih mencengkeram lengan wanita yang ternyata mengenal Bela. Bagaimana dia bisa mengenalnya? Tentu saja di club. Ferry sering melihat wanita itu datang bersama teman-temannya yang sama liarnya. Menggoda pria-pria kaya.


"Lepasin breng***!" pekiknya.


"Ternyata Lu ngincer tangkapan besar, hum? Tapi Lu salah milih lawan." seringai Ferry.


Bela mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan siapa pria di depannya itu. Keadaannya yang setengah mabuk samar-samar dapat melihat pria di depannya adalah pria macho yang tubuhnya sangat menggoda. Tapi wajahnya tidak dapat dilihatnya dengan jelas. Dia merasa aneh karena pria itu mengenalnya. Siapa dia?


Ferry mengangsurkan gelas berisi minuman beralkohol pada Bela dan memaksanya meminumnya. Cengkraman yang kuat di pipinya membuatnya terpaksa mengikuti permintaan pria itu. Berlanjut dengan gelas-gelas berikutnya. Hingga dirinya merasa sangat mabuk dan tak kuat lagi untuk hanya sekedar membuka matanya. Ferry mengulas senyum sinis di sudut bibirnya.


"Lain kali jangan ganggu yang jadi milik orang!" gumamnya. Lalu bangkit meninggalkan wanita itu di samping Iden.


Ferry tahu Hania juga mempunyai rasa yang lebih pada Arga. Dan dia tidak suka melihat wanita cantik itu akan kecewa lagi, apalagi karena gangguan wanita liar seperti Bela.


Ferry mendekat dan memperhatikan tingkah Arga. Setaunya Arga sangat menghormati dan bersikap hati-hati pada Hania. Tapi barusan dia melihat sendiri pria itu ******* bibir Hania penuh ga***h. Sepertinya dugaannya benar.


"Mba, dia sepertinya kena pengaruh obat perangsang. Kita harus bawa dia ke rumah sakit." ucapnya seraya menarik Hania dari pangkuan Arga.


"Apa? O-obat perangsang?" tanyanya cemas.


Ferry hanya menganggukkan kepalanya. Pria macho itu langsung memapah Arga keluar dari ruangan itu. Hania berjalan mengekor. Di luar ruangan, seorang pria berkaca mata berdiri menatap mereka dengan tatapan menyelidik.


"Dia kenapa? Kalian mau bawa dia kemana?" tanya pria itu.


Hania dan Ferry menatap pria itu penuh selidik. Sepertinya, pria itu juga mabuk, bukan, dia sama seperti Arga. Tatapannya menatap penuh ga***h pada Hania. Tapi sepertinya masih berusaha mengendalikannya.


"Elu siapa?" tanya Ferry datar seraya menarik Hania mendekat padanya.


"Saya temen dia." sahutnya seraya menunjuk Arga dengan telunjuk tangan kanannya dan tangan sebelah kirinya memegang kepalanya. Dia merasa sangat pusing dan gerah.


"Saya Rizal." pria berkaca mata itu menyebut namanya. Dia di bawah pengaruh obat jadi kurang pertimbangan, sembarang menyebut namanya di hadapan orang asing


Ferry melirik Hania yang juga meliriknya. Wanita cantik itu kembali menatap pria itu.

__ADS_1


"Anda kenal sama Mas Arga?" tanya Hania, memastikan jika pria di depannya itu memang mengenal Arga.


"Dia Arga, kan? Kalian mau bawa dia kemana?" tanyanya lagi, seraya meringis menahan nyeri.


"Dia, kami mau bawa ke rumah sakit. Dia di bawah pengaruh obat perangsang." terang Ferry.


"Aku ikut!" putus Rizal.


Ferry mendudukkan Arga di kursi belakang bersama Rizal. Dan Hania yang mengemudikan mobil Arga. Sementara Ferry mengikuti dari belakang menggunakan motor ninja kesayangannya.


Jika Arga sudah dalam tahap over bi**hi, yang sensitif dengan setiap sentuhan, berbeda dengan kondisi Rizal yang tidak separah Arga. Pria berkaca mata itu masih bisa menahan pengaruh obat perangsang itu.


Arga mulai membuka kancing kemejanya karena merasa gerah luar biasa, bahkan tubuhnya menggigil saking merasakan panas yang sangat di dalam tubuhnya. Wajahnya memerah, keringatnya pun bercucuran membasahi kemejanya.


"Bisa cepat sedikit?" Rizal meminta Hania mempercepat laju kendaraannya.


"Ini sudah cepat. Rumah sakit terdekat memang jauh. Mau gimana dong?" sahut Hania tanpa menoleh seraya menginjak pedal gas semakin dalam.


Rizal turun terlebih dahulu memanggil perawat dan membawa kursi roda. Hania menyusul setelah memarkirkan mobil. Wanita cantik itu celingukan mencari keberadaan Arga dan temannya. Mengintip ke balik satu persatu gorden penyekat dalam ruangan gawat darurat.


"Gimana, Mba?" tanya Ferry yang baru datang.


Hania menoleh ke arah Ferry dan baru akan bicara, panggilan perawat mengatasnamakan Arga mengalihkan perhatiannya.


"Ya? Saya!" sahut Hania dan Ferry kompak. Perawat itu tersenyum manis sekali.


"Apa anda juga wali dari dokter Rizal?" tanya perawat manis itu pada Hania dan Ferry.


"Dokter Rizal?" tanya Hania dan Ferry bersamaan lagi.


"Iya. Dokter Rizal. Pria berkaca mata yang datang bersama Bapak Arga tadi." jelas perawat ber name tag Rani itu.


Oh. Jadi pria itu dokter. Hania mengangguk-anggukkan kepalanya. Pantas saja auranya berbeda. Tapi kenapa dokter mainnya ke club? Hum, pasti dokternya gaul. Pikiran Hania melayang kemana-mana.


"Silakan ke bagian administrasi." pinta perawat tersebut.


"Apa pasien sudah boleh pulang?" tanya Ferry.


"Kalau Pak dokter sudah bisa langsung pulang setelah cairan infusnya habis. Tapi untuk Pak Arga, sepertinya harus menginap." terang perawat itu.


"Mba? Ayo! Kita urus calon iparku." ejek Ferry.

__ADS_1


"Ish!" Hania langsung mencubit Ferry. Pria macho itu hanya meringis kali ini.


Dan di dalam kamar vip itulah mereka berada. Hania ditemani Ferry dan Rizal yang baru menyusul setelah menghabiskan cairan infusnya.


Hania duduk di kursi di sebelah ranjang pasien, masih menunggui Arga yang masih setia memejamkan matanya. Memunggungi kedua pria beda profesi yang sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.


Ferry yang menduga-duga kenapa Arga dan dokter itu bisa berada dalam ruangan yang sama dengan Bela, wanita cantik dan seksi yang dikenalnya sebagai wanita liar. Dan terkena pengaruh obat si**an itu. Dirinya sudah dapat menebak siapa pelakunya. Bagaimana mungkin Arga dan dokter itu mengenal Bela?


Sementara itu, dokter berkaca mata itu masih menatap punggung Hania lekat. Pikirannya berkelana menggali ingatannya. Dari sekian wanita cantik yang berada di sekeliling Arga, dirinya belum pernah bertemu dengan wanita itu. Dilihat dari penampilannya, jelas wanita cantik itu bukan wanita yang suka menggoda Arga. Wanita itu terlalu kalem dan sederhana menurutnya. Sepertinya sangat mengenal Arga. Bahkan wanita cantik itu memanggil Arga dengan sebutan 'Mas'. Seberapa dekat mereka? Sampai-sampai mau menjemput Arga segala? Dan wanita itu tidak canggung menggunakan mobil Arga. Ini aneh. Arga tidak sembarangan mengizinkan orang mengendarai mobilnya.


"Jadi, kenapa Mas Arga belum sadar?" tiba-tiba suara lembut Hania memecah lamunan kedua pria yang kini menatapnya.


"Kemungkinan obat yang masuk ke tubuhnya dalam dosis tinggi." sahut Rizal.


Hania mengernyitkan dahinya. Hatinya terasa sakit mengingat bagaimana wanita genit itu merayu Arga. Beruntung dirinya segera tiba. Tidak bisa dibayangkan jika dia terlambat datang. Wanita cantik itu mendesah. Lalu menatap Arga lagi.


"Jadi, gimana kalian bisa seruangan sama perempuan itu?" tanya Ferry penasaran.


Hania menoleh lagi, bahkan memutar posisi


duduknya jadi menghadap ke arah kedua pria itu.


"Dia datang bersama teman-temannya. Dia teman wanitanya sahabat kami juga." sahut Rizal.


"Dia sekretarisnya Mas Iden." timpal Hania.


"Mba kenal dia?"


Mba kenal Iden?"


Ferry dan Rizal melontarkan pertanyaan yang sama tapi beda obyek.


"Perempuan itu? Aku ketemu dia beberapa kali. Terakhir tadi sore. Dia yang aku ceritain tadi Fer." ucap Hania seraya menatap Ferry.


"Iden? Maksud saya, anda mengenal Iden?" Rizal mengulang pertanyaannya. Sungguh dia penasaran.


Hania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. 


Jadi mereka saling mengenal? Arga pasti menganggap wanita ini istimewa. Rizal menganggukkan kepalanya begitu menyadari kedekatan wanita itu dengan Arga.


"Baiklah, Ga. Lu harus jelasin hubungan Lu sama perempuan cantik ini." gumam Rizal dalam hati.

__ADS_1


*******


Thanks for reading!


__ADS_2