Yang Terakhir

Yang Terakhir
122. Tak'kan Meninggalkamu


__ADS_3

Reza juga langsung menunduk begitu mendengar suara tembakan dan segera merapat ke dinding. Pria berkaca mata itu juga langsung meraih pistolnya.


Lantai 2 itu hening lagi. Hanya terdengar keributan dari lantai 1. Arga dan Reza saling menatap dan memberi kode.


Begitu aman kedua pria itu mengendap-endap ke arah ruangan dimana tadi Arga melihat Raka muncul dari sana. Pria tampan itu merapat ke dinding dan perlahan membuka pintunya dengan Reza yang siap melindunginya.


Kosong. Raka sudah tidak ada di sana. Namun tiba-tiba sebuah tendangan mendarat di punggung Reza yang membuat pria itu tersungkur. Arga reflek melayangkan tembakannya ke arah pria yang menendang Reza.


Beberapa pria berbadan kekar memasuki ruangan itu dan berhasil dilumpuhkan dengan pistolnya. Hingga kedua pria tinggi itu kehabisan peluru. Dan berakhir dengan pertarungan tangan kosong.


Meski Arga dan Reza menguasai ilmu bela diri dengan baik tapi mereka kalah jumlah. Beberapa kali Arga dan Reza kena pukulan dan tendangan hingga mereka tersungkur bersamaan. Beruntung anak buah Arga segera menyusul dan membantunya. Sementara Kelik dan lainnya mencari keberadaan Hania dan Raka.


Arga mengusap darah segar di sudut bibirnya seraya mengatur napasnya. Wajahnya lebam di beberapa bagian. Bahkan lengan kanannya mengeluarkan darah karena sabetan pisau lawannya.


"Pak, Pak Raka sudah di lumpuhkan." lapor seorang anak buah Arga.


Dengan mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya, Arga meninggalkan ruangan itu mengikuti anak buahnya menuju sebuah ruangan, seperti ruang kerja.


Pria yang pernah menjadi sahabatnya, menjadi teman di saat suka dan dukanya, menjadi rekan dalam perjalanannya mencari jati diri, berusaha bersama mewujudkan sukses versi mereka, dan berbagi kisah hidup mereka, kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Arga.


Mata Arga mengembun menatap pria yang kini tak berdaya itu. Hatinya berdenyut nyeri. Melihat wajah yang dulu selalu memberinya semangat, mengajaknya bersenang-senang untuk melupakan segala masalah dan kesedihannya, yang selalu meluangkan waktunya untuk menemuinya karena kesibukannya yang harus mengurus perusahaan keluarganya membuat waktunya tersita, dan masih banyak hal baik yang membekas begitu dalam di hatinya, yang pria itu lakukan untuknya.


Mengingat persahabatan mereka yang terjalin sejak masa remaja, membuat Arga ingin melupakan saja kesalahan pria itu. Tapi ingatannya kembali berputar. Pria itu adalah dalang dibalik meninggalnya Tiara dan penculikan Hania. 2 orang wanita beda usia yang sangat disayanginya. Bukankah seharusnya pria itu ikut menjaga apa yang sudah menjadi milik sahabatnya?


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat di wajah tampan mantan sahabatnya itu. Arga mencengkram kerah kaos polo yang Raka kenakan dan menariknya mendekat.


"Mana Hania!" tekan Arga.


Bukannya menjawab, Raka malah menyeringai.


"Dia ada." sahut Raka kemudian.


"Tapi, kalau lu tau apa yang udah terjadi, apa lu masih mau sama dia?" Raka tersenyum mengejek Arga.


Bugh! Bugh! Brak!


Arga memukuli Raka berkali-kali lalu menendangnya hingga terjungkal.


"Apa maksud lu!? Apa yang terjadi!? Kalau sampai Hania kenapa-kenapa lu bakal gue habisin!" seru Arga seraya mengeratkan cengkramannya pada kerah kaos polo Raka.


Lagi-lagi Raka menyeringai bahkan terkekeh.


"Gue sengaja membalas lu lewat Hania. Supaya lu tau gimana rasanya perempuan yang lu cintai terluka dan hancur!" ungkap Raka dingin seraya menatap Arga.


"Jangan sentuh dia, sialan!" ucap Arga dengan nada tak kalah dinginnya.


"Terlambat. Cuma lewat dia gue bisa bales rasa sakit yang gue ." Raka meneyeringai.


"Kenapa lu lakuin ini ke gue!?" Arga makin geram melihat seringaian Raka, pria itu seperti sedang menertawakan dirinya.


"Lu ngga tau atau pura-pura ngga tau? Gue ingetin lagi. Lu inget cewek yang gue kenalin ke elu dan lainnya? Rindy? Dia temen kecil gue, dan sejak kecil gue udah sayang sama dia. Semakin besar, gue jatuh cinta sama dia. Tapi dia malah cintanya sama elu, brengsek!" ungkap Raka menekan kata-kata terakhirnya.

__ADS_1


"Dan elu malah nolak dia mentah-mentah. Cewek itu berhati lembut dan elu matahin hatinya begitu aja tanpa ngasih dia kesempatan. Karena penolakan lu, dia dibully dan dipermalukan teman-temannya. Rindy bukan cewek kuat dan berhati tangguh, man. Dia jadi depresi. Terus bunuh diri. Dia mati di hadapan gue, anj***!" Raka tak dapat lagi membendung air matanya, pria itu menundukan kepalanya dan menangis.


Arga menatap mantan sahabatnya itu dengan perasaan dongkol. Hanya karena wanita yang dicintainya bunuh diri karena depresi akibat cintanya ditolak olehnya, membuat sahabatnya itu berubah?


"Itu bukan salah gue. Rindy bunuh diri bukan karena salah gue. Gue berhak menerima dan menolak perasaan suka yang datang. Memangnya kalau gue berpura-pura menerima dan suka sama dia, dia bakal baik-baik aja?" tanya Arga pada Raka.


"Memangnya dia tahu kalau lu cinta sama dia? Atau dia ngga tau sama sekali tentang perasaan lu ke dia? Lu tiap hari cerita ke kita-kita bakal menghabiskan sisa hidup lu sama dia tapi dia ngga pernah tau isi hati lu? Bullshit! Trus sekarang lu ngelimpahin semua perasaan menyesal lu ke gue!? What the h*ll, Raka!" sesal Arga.


Kini kedua pria tampan itu sama-sama terduduk di lantai bersandar pada dinding di sisi yang berbeda. Keduanya saling menghunuskan tatapan tajam.


"Gue ngga mau disalahkan atas tindakan bunuh dirinya Rindy. Lu yang ngga terbuka tentang perasaan lu ke dia. Lu pikir, seandainya pun gue juga cinta sama Rindy, gue bakal terima ungkapan cintanya? Sementara gue tau kalau lu cinta sama cewek itu duluan?" ucap Arga setelah hening beberapa saat.


"Cetek banget otak lu kalau udah jatuh cinta. Dan selama ini lu buta karena cinta lu ke Rindy." lanjutnya sinis.


"Terserah lu mau ngomong apa. Tapi lu bener, gue dibutakan sama cinta gue ke Rindy. Dan karena kematiannya bener-bener ngehancurin rasa cinta gue. Dan lu harus ngerasain yang gue rasain!" kukuh Raka.


Arga mendekati Raka dan kembali mencengkram kerah kaos polo Raka.


"Dimana lu sembunyiin Hania!?" tanya Arga penuh penekanan.


Raka menutup mulutnya dan hanya menyeringai.


"Gue udah nikmatin tubuhnya. Apa lu masih mau nemuin dia?" bisik Raka lalu menyeringai.


Aura wajah Arga langsung berubah dingin. Pria itu menatap Raka dengan tajam seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Ba**ng*n!" seru Arga.


Uhuk!


Raka terbatuk dan memuntahkan darah kental. Jelas organ dalamnya terluka. Tapi Arga seperti kesetanan. Pria itu terus melampiaskan amarahnya pada mantan sahabatnya itu.


"Pak Arga!" Kelik memanggil namanya tapi Arga masih mengamuki Raka.


"Arga!" sebuah panggilan terdengar lagi namun, kali ini bersama sebuah helaan pada tubuhnya membuatnya menjauh dari Raka.


"Lepasin gue, bang**t!" sentak Arga seraya meronta.


"Ga!"


"Pak!"


Panggilan atas namanya membuat Arga menoleh. Ada Iden di hadapannya. Sejak kapan pria blesteran yang tampan itu ada di sana? Dan Kelik juga Reza.


"Pak, Bu Hania sudah ditemukan." lapor Kelik.


Mendengar Hania sudah ketemu, seketika air mata Arga mengalir di sudut matanya. Dengan kasar pria itu mendorong 3 pria bertubuh kekar di depannya dan berjalan meninggalkan ruangan itu mengekori anak buahnya menuju kamar dimana Hania berada.


Dada pria itu bergemuruh. Napasnya memburu. Mengingat perkataan Raka tadi, hatinya hancur. Dia jadi memikirkan perasaan Hania yang pasti lebih hancur lagi. Air matanya terus menetes di sudut matanya. Dan tangannya terus mengusap pipinya.


Setibanya di depan sebuah kamar. Pria itu menghela napas dalam-dalam lalu memutar gagang pintu itu. Arga memasuki kamar yang cukup luas itu. Sementara Reza, Iden, dan yang lainnya menunggu di luar. Terlihat Hania yang meringkuk, hatinya berdenyut nyeri. Dadanya terasa sesak. Air matanya menetes lagi.


Hania yang merasakan kehadiran seseorang menoleh dan melirik ke arah pintu. Kini di depannya tampak sosok pria yang kini merajai hatinya. Wanita cantik itu bangkit dari posisi meringkuknya. Air matanya luruh seketika seraya menatap pria tampan itu.

__ADS_1


"Honey." sapa Arga dengan suara yang bergetar.


Hania memalingkan wajahnya. Entahlah. Dirinya merasa kotor dan sakit hati. Semua yang menimpanya karena dia menjadi kekasih pria tampan itu.


"Honey." Arga mendekat.


"Pergi Mas! Jangan dekati aku lagi. Aku kotor!" usir Hania dengan suara parau akibat terlalu lama menangis.


"Honey?" Arga seolah tak percaya dengan pendengarannya.


"Mas pergi aja. Aku udah kotor, Mas!" seru Hania seraya terisak.


"Ngga, honey. Kamu tetap Haniaku." bujuk Arga seraya membelai rambut Hania.


"Aku ngga mau deket Mas lagi! Semua ini karena Mas! Raka bunuh Tiara karena Mas! Dan dia perkosa aku juga karena Mas!" pekik Hania di sela isaknya.


Arga langsung menarik tubuh ramping Hania dan memeluknya dengan erat meski wanita cantik itu terus meronta.


"Iya, honey. Aku salah. Maafin aku." pinta Arga seraya menahan tangisnya.


"Raka giniin aku supaya aku bunuh diri." ucap Hania terbata-bata, sementara Arga menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Supaya kamu ngerasain apa yang dirasainnya." lanjut Hania.


"Kenapa dia jahat banget sama aku, Mas. Salahku apa?" raung Hania dalam dekapan Arga yang semakin erat.


"Honey. Maafin aku. Maaf. Ngga akan kubiarkan lagi hal buruk menimpamu. Aku akan selalu sama kamu apapun yang terjadi." ucap Arga sungguh-sungguh.


Hania menggelengkan kepalanya.


"Seandainya aku ngga deket sama Mas, pasti Tiara masih ada." Hania sesenggukan lagi.


"Pergilah, Mas. Tinggalin aku." usir Hania.


"Honey. Maafin aku. Aku ngga akan kemana-mana, bahkan ketika kamu mehohon padaku sekalipun. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Suara Arga bergetar karena menahan tangisnya meyakinkan Hania.


Arga benar-benar merasa jatuh cinta pada Hania. Dia takut jika wanita berhati lembut itu akan meninggalkannya.


Hania menatap manik mata Arga yang hitam pekat. Pria itu sungguh mencintainya.


"Aku kotor, Mas. Aku..." ucapan Hania terpotong.


"Ssst! Kamu tetap sama dimataku, honey. Ngga ada yang berubah. Yang penting hatimu hanya untukku. Dan kamu percaya padaku." rayu Arga.


Hati Hania selalu menghangat ketika Arga memeluknya. Dirinya tersanjung mengetahui Arga memujanya penuh cinta. Tapi kini, di sudut hatinya, dirinya merasa tak pantas. Entahlah. Wanita cantik itu merasa malu karena Raka yang menghancurkannya.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2