Yang Terakhir

Yang Terakhir
49. Salah Tingkah


__ADS_3

Hania menatap sendu ke arah Tiara yang tertidur. Dia sadar, rasa takut putrinya pada ayahnya muncul karena keegoisannya. Tapi wanita cantik itu juga merasa perlu melindungi dirinya dari rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya.


Hatinya sesak ketika dirinya kembali teringat bagaimana pria yang dicintainya mencampakkannya. Mengingat bagaimana Ryan secara gamblang memutuskan hubungan dengannya, mengingatkan kembali siapa dirinya. 


Hania merasa dirinya tidak layak dipilih dan dipertahankan prianya. Merasa tidak berharga bagi orang yang dicintainya. Membuatnya merasa dirinya memang tidak sebanding dengan pria tampan itu. Kenyataannya memang begitu. Jika dibandingkan dengan mantan suaminya itu, Hania bukan siapa-siapa. Ryan merupakan anak dari salah satu pengacara terkemuka di kota mereka.


Hania memang diterima dengan baik oleh kedua mertuanya, namun perbedaan status sosial  yang kentara tetap membuat rasa tidak percaya diri menelusup kedalam hatinya.


Mengingat status mertuanya, seringkali rasa takut menghampirinya. Bagaimana jika mantan suaminya ingin merebut hak asuh putrinya? Dan mertuanya itu ikut turun tangan? Jelas Hania tidak bisa apa-apa. Kelasnya jauh berbeda. Dirinya hanya berharap mertuanya bersikap bijaksana dalam menyikapi permasalahannya dengan mantan suaminya.


Hania merebahkan tubuhnya yang terasa amat letih karena luapan emosi seharian tadi, di samping Tiara. Memeluk putrinya dan mencium puncak kepalanya dengan segenap rasa sayangnya. Menghirup aroma rambut bergelombangnya Tiara dalam-dalam hingga paru-parunya terasa penuh. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi, membasahi rambut Tiara. Tak ingin membuat gadis kecil itu terbangun karena isak tangisnya, Hania membalikkan posisi tubuhnya membelakangi putrinya. Cukup lama menangis, akhirnya wanita bermata kelinci itu tertidur dengan mata sembabnya.


Drrrt drrrt drrrt.


Getaran ponsel diatas nakas disamping tempat tidur menggema di dalam kamar Arga, mendengung bagai lebah ditelinganya. Dengan mata terpejam, pria tampan itu meraba-raba mencari keberadaan ponselnya.


Matanya memicing melihat layar ponselnya. Ibu. Melihat sebuah nama keramat yang sudah hampir sebulan ini tidak dikunjunginya, matanya seketika membulat. Rasa kantuknya langsung lenyap begitu saja. Pria yang tetap tampan meski baru bangun tidur itu langsung mendudukkan tubuhnya.


"Ehem, Ibu?", Arga berdehem menyesuaikan suara bangun tidurnya.


"Kamu kemana aja Arga!? Kebiasaan kalau pergi-pergi ngga pamit sama ibu!", suara sang ibu melengking diseberang ponselnya langsung menerobos memenuhi gendang telinganya, Arga sampai menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


Diliriknya jam digital diatas nakas. Jam 7. Pasti ibunya sedang berada di rumahnya. Seperti biasa, membuat keributan di rumahnya yang tenang di pagi hari.


"Aku masih di Surabaya Bu", sahut Arga sedikit berbohong.


Ya. Sedikit berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu keberadaannya di Malang saat ini. Apalagi dirinya pergi bersama seorang wanita dan putrinya. Bisa panjang ceritanya nanti.

__ADS_1


Tok tok tok.


Ketukan dipintu kamarnya mengalihkan langkah Arga yang semula akan ke kamar mandi. Dirinya tidak menyadari saat ini sedang bertelanjang dada. Memang begitulah pria itu. Selalu tidur dengan bertelanjang dada. Dan dengan santainya membuka pintu. 


Sosok wanita cantik yang belakangan bayangannya menjadi pengantar tidurnya sedang berdiri di hadapannya. Matanya menatap lekat ke arahnya namun sejurus kemudian mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Wanita itu tampak salah tingkah.


"Mas... Maaf, aku... umm, kupikir, umm kutunggu dimeja makan", ucap Hania terbata-bata, sekilas menatapnya lalu menunduk lagi dan langsung berlalu dari hadapan Arga.


Arga menaikkan sebelah alisnya melihat Hania yang salah tingkah. Tidak biasanya wanita cantik itu tidak fokus menatapnya ketika sedang berbicara padanya. Bukan gaya Hania. Wanita itu akan menatapnya ketika berbicara padanya. Tapi kali ini tatapan matanya kemana-mana.


"Han? Are you okay?", tanya Arga ingin memastikan wanita itu baik-baik saja.


Hania yang sudah menjauh beberapa langkah darinya kembali membalik tubuhnya menghadap Arga tapi tidak dengan tatapan matanya. Tatapan matanya masih kemana-mana. Tidak fokus padanya. Dia tidak suka itu. Arga menyukai tatapan mata kelinci wanita itu. Tapi pagi ini, wanita itu tidak fokus padanya.  Dia jadi sedikit kesal.


"Ya?", Hania menatap Arga sekilas lalu membuang muka lagi.


"Benar...", Arga ingin bertanya lagi tapi Hania memotongnya.


"Mas, jangan lama, nanti sarapannya keburu dingin", peringat Hania kemudian berbalik dan berjalan cepat.


Arga berkacak pinggang di depan kamarnya. Pria tampan itu masih menatap punggung Hania hingga hilang di balik dinding. Lalu menundukkan kepalanya.


"Oh ****!", umpat Arga setelah menyadari keadaannya yang bertelanjang dada.


Pantas saja Hania tampak salah tingkah dan tidak fokus menatapnya. Arga mengusap wajahnya dan mendesah kasar namun sejurus kemudian senyumnya terbit.


Hania merasa masih gugup. Dirinya kesal melihat Arga yang bertelanjang dada. Sudah lama dia tidak melihat pria bertelanjang dada dalam jarak yang sedekat tadi.

__ADS_1


Hania mendudukkan dirinya di sebelah Tiara yang sedang meminum susunya di ruang makan. Tiba-tiba bayangan Arga yang bertelanjang dada melintas dibenaknya. Wanita cantik itu sempat terkejut sekaligus terpana.


Tidak dipungkirinya, tubuh Arga yang bertelanjang dada membuatnya berdesir. Dadanya yang liat dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan otot perutnya yang kotak-kotak membuat pria tampan itu makin seksi. What!? Seksi!? Hania menggeleng-gelengkan kepalanya menghalau pikiran mesum yang bergelayut dipikirannya.


Tak berselang lama, Arga yang sudah rapi muncul di ruang makan. Tiara tersenyum riang menyambutnya. Sementara Hania yang barusan berpikir mesum membayangkan tubuh Arga yang terlihat seksi dimatanya menjadi semakin gugup. Apalagi pria tampan itu duduk disebelahnya.


Meja makan di ruangan itu berbentuk bulat dengan empat kursi yang mengelilinginya. Kalaupun Hania berpindah tempat duduk akhirnya dia tetap akan duduk disebelah pria tampan itu. Kecuali meminta putrinya bergeser. Ah. Gadis kecil itu pasti akan banyak bertanya nanti. Sudahlah.


"Kenapa ngga makan? Ngga suka menunya? Ngga enak? Mau aku pesankan makanan lain?", Arga memberondong Hania dengan beberapa pertanyaan sekaligus, karena melihat Hania tidak berselera.


"Ngga, ini udah cukup, aku belum laper aja", tolak Hania.


"Makan yang banyak Han, dari kemarin kamu cuma makan sedikit", keluh Arga seraya menyendokkan risotto ke piring Hania.


Hania menatap Arga yang mengambilkan makanan dan menata dipiringnya lalu meletakkannya di hadapannya. Ada raut cemas di wajah tampan itu. Hatinya mendadak bergetar. Dia merasa begitu diperhatikan dan dikhawatirkan. Dia terharu.


"Ayo dimakan", perintah Arga seraya menatap Hania, tangannya mengusap punggung Hania.


Arga sedikit kesal. Sejak pertemuannya dengan mantan suaminya, Hania lebih banyak melamun dan muram. Sebegitu membekaskah pria itu meninggalkan kesan pada wanita cantik yang sudah mencuri hatinya itu? Sampai-sampai memikirkannya saja membuat wanita itu begitu emosi? Apakah wanita cantik itu masih mencintainya hingga membuatnya masih merasa sakit hati dan kecewa? Tak dipungkiri Arga cemburu.


Hania menoleh kearah piringnya yang sudah lengkap isinya. Benar. Sejak kemarin selera makannya seperti menguap. Kejadian Tiara dibawa kabur mantan suaminya benar-benar menguras emosinya. Belum lagi ketakutannya memikirkan Tiara direbut hak asuhnya. Hania menghela napasnya perlahan.


"Makasih", ucap Hania mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Arga menyunggingkan senyum tipisnya. Dan senyum itu menular pada Hania. Ah. Wanita cantik itu begitu manis jika tersenyum begitu. Wajahnya terlihat berseri. Tangan Arga mengusap rambut Hania. Dia tidak bisa menahan gejolak dihatinya.


*******

__ADS_1


Thanks for reading


__ADS_2