
Suara langkah-langkah panjang terdengar di dalam rumah Arga, mengalihkan perhatian sang ibu. Arga yang saat itu sedang menikmati sarapannya di ruang makan tidak terlalu peduli. Hanya terdengar lamat-lamat sang ibu sedang berbasa-basi dengan tamunya. Deru mesin mobil yang nyaris tak terdengar, dan akrabnya sang tamu dengan ibunya. Dirinya sudah menduga siapa tamu tak diundang yang datang ke rumahnya kali ini. Iden.
"Halo boskyu.... Yang sedang kasmaran....!" Serunya sambil memamerkan deretan gigi putih berserinya, seberseri wajahnya yang tampan.
Arga hanya melirik pria yang sudah membuatnya kesal. Lalu kembali fokus pada makanannya.
"Siapa yang kasmaran?" tanya sang ibu yang tiba-tiba muncul di ruang makan karena terpancing oleh kata-kata Iden.
Sontak pertanyaan sang ibu membuat kedua pria tampan itu menoleh. Arga mendengus sambil menatap tajam Iden seolah berkata, jangan bilang apapun! Iden hanya terkekeh. Sementara sang ibu menatap kedua pria itu bergantian.
"Heh! Ibu nanya lho, pada cuek begitu? Arga?" sang ibu mulai penasaran.
"Ngga tau nih, Bu, Ibu tanya Iden aja." ucap Arga menyudutkan Iden dengan tatapan mata penuh ancaman.
Iden yang tersudut mendadak gelagapan. Tapi otak cerdasnya langsung berputar mencari alasan.
"Bukan apa-apa tante, tadi aku lagi nyumpahin Arga supaya cepet jatuh cinta biar ngerasain gimana rasanya kasmaran. Hehehe..." kilah Iden sambil nyengir.
"Humm... Iya bener itu. Sumpahin aja terus biar cepet dapet jodohnya. Apalagi kalau pas kamu lagi sakit hati sama dia, pasti langsung terkabul. Bukan begitu?" ucap sang ibu yang malah mendukung Iden.
Iden yang mendengar ucapan ibunya Arga semakin ingin terkekeh namun ditahannya dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Arga hanya meraup wajahnya lalu memalingkan wajahnya menahan kesal. Ibu dan sahabat sama saja. Senang sekali membuatnya kesal.
Dering ponsel yang dari tadi dipegang sang ibu meraung raung bagai sirene pemadam kebakaran. Sang ibu langsung menerima panggilan itu sambil melangkah meninggalkan kedua pria yang tengah saling melirik itu.
"Emang lo ngga niat ngasih tau nyokap?" Iden buka suara setelah hening sesaat sambil mendudukkan diri di depan Arga.
Arga mengendikkan bahu. Dia sungguh tidak tahu. Kedekatannya dengan wanita cantik itu belum jelas. Dia baru berada ditahap berteman dengan Hania. Dan wanita itu masih menutup diri darinya, terlihat dari bahasa tubuhnya yang masih menjaga jarak aman darinya.
"Iya, sebaiknya jangan sampe nyokap lo tau kalau lo ngerebut bini orang." Arga membelalakkan matanya tak percaya Iden masih menyangkanya pebinor.
Dilemparnya potongan mentimun yang tersisa di piringnya. Dan segera saja potongan timun itu mendarat di kepala pria casanova itu.
"****! Arga! Rambut gue!" serunya sambil mengusap-usap rambutnya lalu mengendus tangannya memastikan rambutnya aman tidak bau mentimun.
Baru akan membalas tindakan Arga, ibunya Arga sudah muncul kembali, lengkap dengan tas tangan bermerknya. Iden kembali meletakkan timun yang dipegangnya ke atas meja. Sang ibu hanya menatap heran keduanya secara bergantian lalu menggeleng. Ibunya Arga pasti sudah bisa mencium aroma ketidak akuran mereka.
__ADS_1
"Ibu pergi dulu, ada janji sama temen arisan. Baik baik ya kalian berdua." ujarnya lalu berbalik pergi setelah kedua pria tinggi itu bergantian mencium tangannya.
"Kenapa lo kesini?" tanya Arga setelah sang ibu menghilang di balik dinding.
Iden menunjuk tumpukan berkas yang tadi dibawanya dari kantor dengan dagunya.
"Sekretaris lo yang bahenol itu nitipin itu ke gue, ngga sopan, kan?" terangnya seraya menyandarkan tubuhnya dan melipat tangannya di dada.
"Cih! Mana berani Dian begitu, anak itu lebih rela kesini naik angkot daripada ngerayu lo anter beginian kesini." bela Arga, setahunya Dian tidak pernah mau berdekatan dengan sahabat casanovanya itu.
Iden hanya mengendikkan bahunya. Percuma berargumen dengan Arga jika tidak memiliki fakta yang kuat. Ya. Faktanya memang Iden lah yang meminta mengantarkan sendiri berkas-berkas itu pada Arga ketika melihat Dian berjalan di lobi sambil membawa tumpukan kertas itu. Dengan mode memaksa anti penolakan, Iden merayu Dian hingga akhirnya Dian pasrah.
Bukan tanpa sebab dirinya mau jauh-jauh datang ke rumah sahabatnya itu cuma untuk mengantar dokumen. Dan merayu Dian? Wanita bersuami itu? Jangan lupakan! Meski dia seorang casanova, namun pantang baginya merebut wanita dari pasangannya. Dirinya rela membelah padatnya ibukota demi menagih janji. Mengetahui Arga akan berkantor di rumah tidak menyurutkan niatnya menagih janji. Ke gunungpun akan didakinya. Demi liburan tanpa gangguan.
Arga membawa tumpukan berkas berkas yang tadi dibawa Iden ke sebuah kamar yang dijadikannya ruang kerja di samping kamarnya. Iden mengekor.
"Aku kesini menagih janji." akhirnya Iden bersuara sambil mendudukkan tubuhnya di sofa yang menghadap ke meja kerja Arga sambil menatap pria karismatik itu.
Arga yang sedang fokus membaca berkas yang dipegangnya sedikit mengacuhkan sahabatnya itu. Iden hanya mendengus melihat Arga tidak merespon ucapannya. Lalu mengalihkan pandangannya ke jendela yang sudah terbuka. Tidak ada yang bisa dia lakukan di sana.
"What!? What's wrong!? Gue udah lakuin tugas yang lo kasih, kan?" protes Iden tidak percaya.
Arga menatap Iden. Dia masih kesal. Karena dugaannya yang asal itu membuatnya harus kehilangan harapan sejenak. Meski sejenak tapi sudah membuat Arga frustrasi dan meninggalkan pekerjaannya yang belum benar-benar tuntas. Bukan gaya Arga dalam bekerja. Tapi entah kenapa info tentang Hania yang diterimanya dari Iden mengubah citranya.
"Come on Ga! You can't do this to me, man!" Iden bangkit dari duduknya, masih melayangkan protes.
"Why not? Lo bikin gue kesal. Dan karena lo, gue ada di sini sekarang" sahut Arga.
"What?! Kenapa jadi gara-gara gue?", Iden mencoba mencari letak kesalahannya.
"Lo bilang gue pebinor. Itu salah. Dia ngga punya pasangan, gue udah pastiin itu." terang Arga dengan ekspresi wajah datar.
"Lain kali cari informasi yang bener dulu baru sampekan. Jangan bikin gue desparate!" tekan Arga.
Seketika Iden mengerutkan keningnya. Tangannya berkacak pinggang. Jadi wanita itu belum menikah? Lalu siapa gadis kecil yang memanggilnya mama? Dia single parent, begitu? Kepala Iden penuh dengan berbagai macam dugaan. Hah. Salahnya juga tidak memastikan terlebih dahulu malah main tuduh. Iden meraup wajahnya dengan sebelah tangannya lalu mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Jadi lo udah mastiin kalo dia single?" tanya Iden dengan intonasi normal, Arga mengangguk.
"Sori bro, gue waktu itu langsung ngejudge dia, soalnya gadis kecil itu manggil dia mama. Gue pikir dia bini orang, secara kan mana ada wanita yang udah punya anak belum bersuami, kan?", terang Iden.
"Lo udah ketemu anaknya? Mirip, jadi gue pikir itu anaknya." lanjut Iden tanpa beban.
Mendengar penjelasan Iden, Arga jadi kepikiran tentang gadis kecil yang katanya anaknya Hania. Dia semakin penasaran. Hah. Dia harus bertemu gadis kecil itu dan memastikannya.
"Jadi, bonus gue?" harap Iden.
"Cairnya ntar, cariin dulu info tentang anak yang lo kira anaknya Hania. Bener anaknya atau bukan." tawar Arga.
"Whatever, you're the boss." jawab Iden pasrah.
Sebenarnya bukan masalah bagi Arga, apakah Hania single parent dengan seorang anak atau beberapa anak sekalipun. Yang terpenting baginya adalah status Hania, tidak terikat hubungan apapun namanya dengan pria lain. Dia akan menerima Hania sepenuhnya, apa adanya. Toh, dirinya juga bukan perjaka tong-tong.
"Lo ngga ada kerjaan di kantor? Betah amat disini?" usir Arga.
Ditegur begitu, Iden langsung bangkit dari duduknya. Dirinya kesal diusir begitu. Tapi siapalah dirinya? Setinggi apapun posisinya, tetaplah dia kaki tangan Arga.
Iden Pratama adalah putra kedua keluarga Pratama. Pemilik perusahaan yang bergerak dibidang agrikultur. Sebagai putra kedua, perannya tidak terlalu signifikan untuk perusahaan keluarganya. Hingga dirinya memutuskan untuk bergabung bersama Arga. Membantu sahabatnya itu mengembangkan bisnisnya. Sama-sama masih muda tentu memudahkan mereka menyatukan visi. Apalagi mereka sudah cocok sejak lahir.
Sambil mengibaskan tangannya, Iden meninggalkan Arga yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Meski kesal diusir begitu tapi Iden tidak pernah merasa sakit hati pada sahabatnya itu. Bagaimanapun, mereka lahir hanya selisih satu minggu, Arga duluan. Tumbuh bersama karena keluarga mereka berteman. Bahkan sejak di bangku taman kanak-kanak hingga kuliah mereka bersama meski berbeda jurusan. Hanya terpisah ketika Arga melanjutkan S2 nya di Australia.
"Kali ini jangan ingkar janji, begitu dapat infonya gue langsung terbang." tekan Iden sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.
Arga hanya menatapnya sekilas lalu mengendikkan bahunya seraya kembali fokus pada berkas yang tengah dibacanya. Setelah itu Iden benar benar menghilang di balik pintu.
Jam dinding di ruang kerja Arga menunjukkan angka 1 tepat ketika dirinya selesai membubuhkan tanda tangannya di berkas terakhir yang dibacanya. Direnggangkannya otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Lalu bersandar pada sandaran kursinya.
Matanya terpejam. Rasa penat yang kemarin masih terasa. Tiba-tiba bayangan wanita bermata kelinci bernama Hania melintas di benaknya. Dihelanya napas panjang dan menghembuskannya perlahan seraya membuka matanya. Ah, Hania. Kenapa wanita cantik itu benar-benar mengisi seluruh pikirannya? Apa harus menemuinya sekarang? Bagaimana jika wanita itu malah menghindar?
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote ya 😊😊😊
__ADS_1