
Reza menghentikan mobilnya di depan lobi klinik. Arga langsung melesat keluar meninggalkan Iden yang berusaha mengejarnya.
"Pak Ganteng!" suara cempreng Lisa langsung mengalihkan perhatian Arga dan Iden yang celingukan di tengah lobi klinik itu.
"Sebelah sini!" panggilnya lagi.
Arga mendekat dengan wajah dinginnya. Pria karismatik itu masih menyimpan amarahnya.
Lisa berjalan di depan dengan langkah tergesa karena Arga sepertinya tidak bisa menunggu. Gadis berkaca mata itu berhenti di depan sebuah ruang perawatan kelas 1 di lantai 3. Hanya itu ruang rawat yang tersisa.
Dengan perlahan dibukanya pintu ruangan itu. Arga menatap tubuh ramping wanita cantik yang terbaring dengan perban membalut tangan dan kepalanya itu. Matanya masih terpejam. Pria tampan itu menghela napasnya dengan berat. Hatinya berdenyut nyeri. Dadanya bergemuruh serasa akan meledak.
"Dokter bilang, Bu Hania mengalami benturan yang menyebabkannya gegar otak ringan. Tidak ada patah tulang. Ataupun cedera serius lainnya." Lisa memaparkan kondisi Hania yang diyakininya ingin didengar Arga.
"Sorry, gue ngga bisa jaga Mba Hania dengan baik." sebuah suara dari pria yang sedari tadi disadari keberadaannya tapi enggan di sapanya itu menelusup ke dalam genderang telinganya.
Ferry. Pria yang kini tengah duduk berdampingan dengan gebetan barunya dengan perban di lengan kiri dan kepalanya itu menatap lekat pria karismatik itu. Dia tahu Arga sedang menahan amarahnya.
"Kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya Arga lirih tapi penuh tekanan.
Kini pria tampan itu sudah mendudukkan dirinya di kursi di samping brangkar. Sementara Iden hanya termangu menatap Hania yang tidak berdaya dan kini sedang duduk di sofa tunggal di sebelah Ferry.
"Remnya blong. Padahal kondisi mobil itu baik-baik saja. Selama ini mobil itu ngga pernah mengalami masalah yang berarti. Gue sendiri yang selalu memastikan mobil itu dalam keadaan baik-baik aja." terang Ferry, ada rasa menyesal yang terdengar dalam kata-katanya.
"Rem blong?" Arga dan Iden membeo bersamaan.
"Tiara? Gimana keadaannya?" Arga seketika teringat Tiara.
Ferry dan Lisa tampak menghela napas dengan berat. Bahkan mata Lisa langsung berkaca-kaca.
"Ikut gue!" ajak Ferry.
Arga mengikuti Ferry begitupun Iden. Di luar ruang rawat Hania tampak Reza yang baru tiba. Juga mengekor Ferry. Mereka berjalan beriringan tanpa sepatah kata pun. Arga larut dalam pikirannya yang banyak menduga. Hingga di depan sebuah ruang icu, Ferry berhenti dan menatap ke dalam ruangan itu.
Hati Arga serasa diremas. Gadis kecil yang selalu merindukannya itu kini tergolek lemah. Jelas kondisinya lebih parah dari ibunya. Kini, kedatangannya tidak lagi disambut ceria oleh gadis kecil berlesung pipi itu. Seketika matanya berkaca-kaca. Mengingat pagi tadi dirinya masih mendengar suara khas anak-anak yang menyatakan kerinduannya padanya dari bibir mungil Tiara. Mendadak pria dewasa itu menyesal tidak langsung menemui gadis kecil itu pagi tadi. Tanpa dapat dibendung, air mata yang sudah menggelayut di pelupuk matanya, meluncur bebas di pipi berbulu halusnya. Arga terisak merasakan pedihnya hatinya.
Iden yang masih termangu terkejut melihat Arga bisa menangisi gadis kecil itu. Pria flamboyan itu menatap Reza yang juga menatapnya. Seolah keduanya sedang bertanya, dia menangis?
"Gue boleh masuk 'kan?" tanyanya meyakinkan dirinya.
Ferry mengangguk, lalu mengetuk pintu ruangan itu memberitahukan perawat yang berjaga di dalam.
Dengan dilapisi pakaian khusus, Arga terduduk di samping brangkar Tiara. Tangannya menggenggam tangan mungil yang pucat dan dibalut perban itu. Satu tangannya mengusap kepala Tiara yang juga dibalut perban.
"Sayang, ini Oom Arga. Oom udah di sini, Oom kangen, buka matamu dong, sayang." ucap Arga disela isaknya.
Sungguh Arga sangat menyayangi gadis kecil foto kopian ibunya itu. Tiara memberikan semangat baru dalam hidupnya yang penuh penyesalan dan rasa bersalah. Melalui gadis kecil itu juga Arga bisa lebih menerima kenyataan dan melimpahkan kasih sayangnya. Dan kini, gadis kecil kesayangannya itu tengah berjuang hidup.
"Sayang, Oom mau Tiara bangun. Oom mau liat kamu senyum lagi. Oom mau kamu nyambut kedatangan Oom lagi. Hiks!" Arga terus mengajak Tiara berbicara sambil sesenggukan.
__ADS_1
Ketiga pria bertubuh tinggi atletis dan berwajah tampan itu hanya bisa mendesah melihat kelakuan pria yang dikenal beraura dingin itu melalui jendela kaca besar itu.
"Pagi tadi, Pak Arga ngasih tau saya kalau dia dapet ancaman. Tapi kita belum tahu ancaman seperti apa itu. Menurut kalian, apakah kecelakaan ini bagian dari ancaman itu?" Reza yang tidak tahan melihat keadaan Arga yang larut dalam kesedihannya membuka obrolan terkait ancaman yang meresahkannya.
Kontan Iden dan Ferry menoleh ke arah Reza yang berada di sebelah kiri Iden.
"Ancaman? Kalian udah lacak siapa pengirimnya?" tanya Iden sambil menatap Reza.
"Lokasi pengirim dari New Saphire Appartement. Setelah kita nenyisir tempat itu, nihil. Unit apartemen itu sudah kosong. Sepertinya mereka memang sudah menyiapkan ini semua." terang Reza.
"Itu 'kan apartemen elit?" ucap Ferry.
Iden menganggukkan kepalanya. Pria flamboyan itu menggali ingatannya. Sepertinya dirinya pernah mendengar seseorang yang dikenalnya telah membeli 1 unit apartemen di sana. Tapi siapa?
"Uugh! Ssshh!" Lisa langsung mendekat ketika mendengar Hania melenguh.
"Bu Hania? Ibu udah sadar?" tanya Lisa memastikan.
Hania mengernyitkan keningnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya. Cahaya yang terang serasa menusuk matanya. Wanita cantik itu perlahan membuka matanya. Dan mengedarkan pandangannya. Lalu menatap Lisa yang berdiri di sampingnya.
"Tiara mana?" tentu saja Hania akan menanyakan putrinya yang tidak tampak di ruangan itu.
Lisa menelan salivanya lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Wanita berwajah manis itu mendesah. Dia takut jika memberitahukan kondisi Tiara pada Hania hanya akan memperburuk keadaannya.
"Umm... Anu... Bu Hania haus? Mau minum?" Lisa yang bingung akan menjawab apa hanya bisa mengalihkan pertanyaan.
Hania yang memang merasa haus pun menganggukkan kepalanya. Wanita cantik itu tetap menanyakan keberadaan putrinya setelahnya. Beruntung Arga datang.
"Mas."
Ucap kedua insan beda kelamin itu bersamaan.
Arga mendekati Hania yang sudah duduk di atas ranjang pasien. Pria tampan itu langsung memeluk tubuh ramping Hania dengan hati-hati. Mencurahkan segala kerinduannya selama ini dan juga kesedihannya.
"Mas kapan datang?" kehadiran Arga sedikit mengalihkan perhatian Hania.
"Cukup lama untuk menatap wajahmu." goda Arga, membuat wajah Hania merona.
"Ah. Tiara dimana, Mas? Apa Mas liat dia?" Hania kembali menanyakan Tiara.
Arga mendadak kehilangan kata-kata. Lidahnya seolah kelu. Wanitanya itu sangat menyanyangi putrinya. Dia tidak ingin Hania mengalami syok dan memperburuk keadaannya.
"Fer, kamu liat Tiara ngga?" Ferry yang baru datang termangu ditodong pertanyaan tentang Tiara.
Pria macho itu juga bingung menjawab pertanyaan Hania. Dokter sudah berpesan untuk berhati-hati menyampaikan informasi tentang Tiara. Wanita cantik yang sudah dianggap seperti kakak perempuannya itu sedang mengalami cedera otak meski ringan. Sehingga bisa mengalami syok jika mendengar berita yang mengejutkan secara tiba-tiba.
Tapi justru diamnya Arga dan 2 orang terdekatnya membuat Hania semakin yakin bahwa Tiara sedang tidak baik-baik saja.
"Mas!? Tiara mana!? Kenapa diam aja!?" Hania mulai histeris.
__ADS_1
"Honey, kamu yang tenang ya. Tiara ngga kenapa-kenapa. Dia baik-baik aja." ucap Arga seraya mengusap punggung Hania berusaha menenangkannya.
Sejujurnya, Arga sendiri takut jika terjadi sesuatu pada gadis kecil itu. Kata-kata penghiburan tadi seperti lebih ditujukan untuk dirinya.
"Ya terus mana dia!? Tiara mana, Mas?" Hania sudah meraung-raung dalam dekapan Arga yang lidahnya kelu.
"Honey, tunggu kondisi kamu stabil dulu ya, nanti kita ketemu Tiara." rayu Arga.
Bersamaan dengan itu, seorang dokter paruh baya datang bersama seorang perawat.
"Selamat siang. Sudah merasa baikan Bu? Atau masih merasa mual?" tanya dokter bername tag dr. Faisal itu seraya memeriksa pupil Hania.
"Masih pusing, dok." sahut Hania.
"Kondisinya mulai stabil. Tensi, detak jantung, suhu tubuh. Semua normal. Dan pusing itu memang efek dari benturan keras yang terjadi. Sebaiknya jangan over thinking. Dipakai rebahan aja dulu karena belum boleh banyak beraktifitas." nasehat dokter Faisal.
"Anda suaminya? Tolong dijaga ya, Pak, istrinya." pesan dokter paruh baya itu seraya tersenyum.
Arga hanya tersenyum menanggapi pesan dokter senior itu. Ada rasa hangat yang menelusup ke dalam hatinya manakala dokter itu mengiranya suami Hania.
"Semoga. Aamiin." ucapnya mengaminkan ucapan dokter tua itu dalam hatinya.
"Mas denger 'kan? Dokternya bilang kondisiku udah baik. Anterin aku ke Tiara. Aku khawatir sama dia." pinta Hania.
"Tapi kamu masih perlu istirahat yang banyak, Han. Jangan over thinking sama keadaan Tiara." tolak Arga.
"Aku akan semakin over thinking kalau ngga liat anakku, Mas!" seru Hania semakin kesal karena merasa dihalang-halangi.
Arga mendesah. Pria tampan itu memaklumi sikap Hania. Seorang ibu yang baik akan merasa lebih baik jika melihat anaknya baik-baik saja. Tapi ini berbeda. Tiara sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu bilang masih pusing." bukan Arga namanya jika tidak mempertahankan argumennya.
"Aku masih bisa tahan!" ketus Hania.
Lagi-lagi Arga mendesah. Wanitanya itu sedang kesal padanya. Sebenarnya dia takut Hania akan marah padanya.
"Honey." Arga menangkup wajah pucat Hania dan menatapnya, pria itu agak membungkukkan tubuh tingginya agar matanya sejajar dengan mata Hania yang sedang duduk di ranjang pasien.
"Kamu janji sama aku, setelah ketemu Tiara, kamu harus istirahat dan nurut sama aku, hum?" tegas Arga membuat kesepakatan.
"Ck! Dasar pengusaha!" cibir Hania.
Cup!
Arga mendaratkan kecupan singkatnya di kening Hania. Membuat wajah yang pucat itu sedikit merona. Arga tersenyum tipis melihat Hania yang tadi ketus berubah menjadi kikuk. Sebenarnya Arga ingin menghujani wanita pujaannya itu dengan ciuman lembutnya. Di hidung, di pipi, di bibir.
"Depe." bisiknya di telinga Hania yang menimbulkan getaran aneh.
*******
__ADS_1
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh dong. Untuk dukung terus karya otor 😘😘😘