Yang Terakhir

Yang Terakhir
151. Dia Bagian Darimu


__ADS_3

Arga menatap pintu bercat putih di hadapannya. Di balik pintu itu, dia tahu, seorang wanita cantik berhati lembut sedang terluka. Yang lukanya melebihi luka hatinya sendiri. Mengingat wanita cantik itu adalah Hania, istrinya, hatinya semakin berdenyut nyeri, membuat dadanya sesak serasa terhimpit batu besar.


Pria tampan itu menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum akhirnya memutar gagang pintu yang sedari beberapa menit yang lalu ditatapinya dengan tatapan penuh luka. Pandangannya langsung tertuju ke arah ranjang besarnya. Di sana, wanita cantik pujaan hatinya tengah terbaring, tertidur dengan pulas. Melihatnya saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir. Sungguh Arga sangat mencintainya. Hingga tanpa disadarinya airmatanya mengalir. Sekali lagi pria itu menghembuskan napasnya dengan kasar.


Dengan perlahan, Arga mendekati ranjang besarnya. Berdiri di sisi Hania. Menatapinya dengan lekat. Diakuinya, hanya dengan melihat wanita itu ada di sana, hatinya merasa tenang. Wajahnya yang ayu dan sikapnya yang lembut membuat hatinya merasa sejuk. Seketika senyumnya terulas di bibir seksinya.


Arga menaiki ranjang besarnya perlahan agar tidak menimbulkan getaran yang mengganggu tidurnya istri barunya itu. Lalu merebahkan dirinya di samping Hania dan memeluknya dengan sayang. Dikecupnya kepala istrinya cukup lama seolah menyalurkan rasa rindunya. Napasnya memburu menahan sesak di dada dan air mata yang menggelayut di pelupuk mata. Dia harus kuat di hadapan sang istri. Jangan sampai menangis!


"Kalau Allah ngasih gue jodoh lagi, gue mau perempuan itu ngertiin gue, bisa buat hati gue bergetar, dan harus bisa menarik semua perhatian gue sejak pertama gue melihatnya." Arga ingat dia pernah berbicara seperti itu ketika Iden mencoba membantu Ibu Anna meyakinkan Arga.


Saat itu Iden terkekeh. Pria flamboyan itu sangsi dengan pernyataan sahabatnya itu. Hati Arga sudah membeku setelah kematian, Devan, dan perceraiannya dahulu. Entah mana yang lebih banyak mempengaruhi sikap dinginnya itu? Yang jelas, bertahun-tahun berlalu, Arga seolah mati rasa terhadap segala bentuk dan jenis wanita cantik dan seksi yang beredar di sekitarnya.


"Masih punya pikiran buat nikah lagi lu?" itulah komentar Iden saat itu.


"Emang ada perempuan yang begitu? Kalaupun ada, pasti udah jadi hak milik pribadi laki-laki lain. Dan lu kalah start. Kar'na lu ngga ada usahanya. Dideketin cewe-cewe cantik dan seksi aja lu malah kabur. Gue sampe kasian sama nyokap lu." ejek Iden lalu terkekeh lagi.


"Gue ngomong 'kan kalo dikasih jodoh lagi." sahut Arga enteng.


"Dan yang gue minta yang seperti itu." tambahnya lagi seraya menatap Iden.


Iden hanya mengendikkan bahunya.


"Wish you luck, man!" ucap Iden memberikan dukungannya yang hanya diamini Arga dalam hatinya.


Arga memejamkan matanya seraya memeluk istrinya semakin erat. Kini, permintaannya yang selintas lalu itu menjadi kenyataan. Diberikan jodoh seorang wanita yang mengerti dirinya, yang sanggup menggetarkan hatinya, dan merebut semua perhatiannya. Dan dia sangat berbahagia karena memilikinya. Namun, dibalik rasa bahagianya, rasa bersalahnya ikut berkecamuk. Dia gagal menjaga wanita pujaannya itu dengan baik.


Hania merasakan tubuhnya ada yang menghimpit membuatnya menjadi sesak. Wanita cantik itu menggeliatkan tubuh rampingnya yang membuat Arga mengendurkan pelukannya, dan mengubah posisi tidurnya yang semula terlentang menjadi miring membelakangi Arga. Lalu tertidur lagi seolah tak terusik oleh pelukan suaminya. Pria tampan itu mengulas senyum tipisnya seraya tangannya mengusap lembut pipi tirus istrinya yang tampak pucat. Lalu mengecup kepala wanita itu lagi cukup lama.


"I love you." bisiknya di telinga Hania.


"Humm." gumam Hania seraya tersenyum dalam tidurnya.


"Kamu denger aku?" senyum Arga mengembang semakin lebar demi mendengar gumaman istrinya.


Hania menganggukkan kepalanya pelan. Arga seketika mengecup pipi tirus yang pucat itu beberapa kali.


"Maaas...." kali ini kecupan Arga mengganggu Hania.

__ADS_1


Wanita cantik itu menoleh seraya memicingkan matanya. Arga benar-benar mengusik tidurnya. Sebelah tangannya terulur membelai pipi Arga yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, membuatnya merasa geli. Senyumnya pun ikut mengembang ketika melihat suaminya tersenyum semanis madu padanya.


"Kenapa bangun?" tanya Arga tanpa merasa bersalah.


Kini tubuh Hania sudah menghadap Arga sepenuhnya. Wanita cantik itu mendelikkan matanya mendengar pertanyaan suaminya itu.


"Kalau aku di kekep begini mana bisa tidur nyenyak." gerutunya seraya memberengut.


Cup. Arga yang gemas melihat ekspresi Hania, langsung mengecup bibir wanita itu sekilas.


"Aku kangen, hon. Pengen peluk kamu." ucap Arga nyaris berbisik.


Hania seketika membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Arga. Dapat didengarnya detak jantung pria itu. Juga tercium aroma maskulin dari tubuh atletis suaminya yang tercampur dengan parfum yang sangat dihapalnya.


Arga semakin mengeratkan pelukannya ketika mendengar Hania terisak. Dirinya pun tidak sanggup menahan air matanya lagi yang sedari tadi ditahannya. Tanpa berbicara, Hania dan Arga menumpahkan seluruh gundah gulananya melalui air mata dan saling menguatkan.


"Maaf." lirih Hania di sela isak tangisnya masih seraya membenamkan wajahnya di dada Arga.


Arga sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Pria tampan itu hanya mengeratkan pelukannya. Hatinya terasa sakit mendengar Hania mengatakan maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya.


"Aku, aku hamil." senyum Arga mengembang meski hatinya sakit.


"Ini... Dia... anak Raka." suara Hania bergetar, matanya sudah mengembun lagi.


Sungguh wanita cantik itu merasakan hatinya sakit. Betapa mirisnya dirinya dan sang suami. Di saat setiap pasangan akan berbahagia menyambut berita yang seharusnya bagus itu, dirinya dan Arga harus merasakan getir dengan kenyataan yang terjadi. Mereka adalah pasangan, tapi anak yang dikandungnya bukan benih dari pasangannya. Lebih nelangsa lagi saat melihat Arga hanya diam dan tersenyum. Terlihat sekali pria tampan itu berusaha sekuat tenaga menerima kenyataan itu. Berusaha menenangkannya dengan senyumnya sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Pria itu tidak marah. Ataupun memutuskan sesuatu.


"Dia... Tetap bagian dari kamu, honey. Maafkan aku yang ngga bisa jagain kamu seperti janjiku." hati Hania mencelos mendengar ucapan Arga.


Tangisnya pun pecah seketika. Antara senang dan sedih. Pria tampan itu masih menerimanya? Bahkan masih menyalahkan dirinya karena lalai menjaganya.


"Aku harus gimana, Mas?" tanya Hania di sela isak tangisnya di dalam dekapan Arga.


"Apa yang kamu khawatirkan?" balas Arga seraya mengusap-usap punggung Hania.


"Kamu pasti kecewa." lirih Hania.


Arga memejamkan matanya. Ya. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia memang kecewa. Tapi bukan pada Hania. Rasa kecewanya lebih ditujukan untuk mantan sahabatnya yang lancang mengambil haknya.

__ADS_1


"Jangan khawatirkan aku, honey. Aku akan tetap baik-baik saja selama kamu ada di sampingku." ucap Arga. Kali ini tatapannya lekat pada mata Hania.


"Don't be over thinking. I'll always love you as the way you are." lanjutnya lirih lalu mengecup bibir merah jambunya Hania yang sedikit pucat itu.


Hoek! Hoek!


Sementara itu, Raka yang sudah lemas masih terus memuntahkan isi perutnya yang sudah kosong, seraya menahan rasa sakit dari lukanya yang belum kering.


"Lu kenapa sih, Ka? Udah 2 hari ini muntah-muntah terus. Kata dokter lu sehat-sehat aja tuh." gerutu Rosa yang sedang menungguinya di ranjang.


Rosa kesal karena merasakan perhatian Raka tidak seperti sebelumnya. Pria tampan itu lebih banyak melamun dan dingin padanya. Raka seperti tidak bernafau padanya meskipun dirinya sudah memakai pakaian pusakanya sekalipun. Tidak dipungkirinya, Rosa merindukan sentuhan Raka yang selalu bisa membuatnya terbang melayang. Begitu juga dengan sikap pria itu yang selalu memanjakannya.


"Tolong tinggalin gue. Gue pengen sendiri." ucap Raka datar setelah pria tampan itu kembali ke kamarnya.


"Tapi aku kangen, Ka." Raka menyeringai tipis mendengar ucapan Rosa.


Kangen? Benarkah? Selama ini Raka mencintai Rosa. Tapi selama itu pula wanita cantik dan seksi itu mencintai Arga, mantan sahabatnya.


Dulu, Raka cinta mati pada mendiang Rindy yang tak akan pernah bisa digapainya. Tapi perasaan itu terobati dengan kehadiran Rosa. Gadis cantik dan seksi, populer di kampusnya. Tapi ternyata gadis itu telah menjadi kekasih Arga. Meski begitu, Raka tetap menyimpan perasaan itu dalam hatinya. Dan rela menjadi pelarian Rosa ketika gadis itu tidak mendapatkan sentuhan Arga. Bahkan, dialah pria pertama yang menyentuh Rosa.


"Gue ngga bisa! Lu tau gue ngga fit, 'kan?" ucap Raka dingin seraya melepas tangan Rosa yang memeluknya dari belakang.


Entahlah. Dulu, sentuhan Rosa selalu dinantikannya. Raka suka jika Rosa bermanja-manja padanya. Gairahnya langsung naik ketika tubuh Rosa menempel padanya. Dia suka Rosa yang mengerang nikmat di bawah kungkungannya. Tapi sejak dirinya menyentuh Hania, yang terbayang di benaknya hanya wajah ayu wanita itu. Bahkan pria tampan itu masih bisa mengingat dengan jelas rasa tubuh Hania. Hanya semalam, tapi dia ingat, bagaimana tubuh ramping itu membuatnya tak berdaya.


Sepeninggal Rosa, Raka merasakan perutnya mual kembali dan dengan langkah panjangnya kembali ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya lagi. Dia sampai frustrasi karena sudah tidak ada lagi bisa dikeluarkan tapi perutnya serasa diaduk-aduk.


"Gue kayak perempuan ngidam aja." kekeh Raka seraya menatap bayangan wajahnya di cermin.


*******


Thanks for reading!


Mohon di sorry ya, lama up nya karena banyak tanggungan di dunia nyata, cari cuan dari lahan yang lain untuk kelangsungan berhalu di sini 😁


Terus dukung karya ini ya... Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2