Yang Terakhir

Yang Terakhir
161. Buket Bunga Lili


__ADS_3

"Sayang, mama kangen." lirih Hania dengan mata mengembun, tangannya memegang bingkai foto seorang gadis kecil yang mirip dengannya.


"Selamat ulang tahun ya, sayang." ucapnya lalu mengecup foto itu.


Hari ini adalah ulang tahun Tiara, putri Hania yang sudah lebih dulu berpulang ke pangkuan Ilahi. Kali ini adalah ulang tahun gadis kecil itu tanpa kehadiran yang empunya acara untuk pertama kalinya. Mengingat Tiara, hati Hania berdenyut nyeri. Kepergiannya meninggalkan luka yang teramat dalam yang membuatnya larut dalam kesedihan dalam waktu yang cukup lama. Tapi dirinya bersyukur, di akhir hidupnya, gadis kecil itu akhirnya merasakan kebahagiaan. Kerinduannya pada sosok ayah dapat dirasakannya melalui Arga. Pria karismatik itu sudah mewujudkan impian gadis kecilnya.


Semalam Hania bermimpi bertemu putrinya itu. Gadis kecil yang mirip dengannya itu tampak tersenyum manis dan wajahnya berseri-seri. Memakai gaun berwarna pink dan rambut dikuncir 2, Tiara berlarian kesana kemari, membuat rambutnya yang keriting gantung itu bergerak-gerak lucu. Semakin lama semakin menjauh, tidak menoleh saat dirinya memanggil dan lama-lama menghilang.


Hania sampai harus dibangunkan Arga karena mengigau memanggil-manggil Tiara sesaat sebelum azan subuh mengumandang.


"Kamu kangen Tiara?" tanya Arga lembut seraya menarik Hania ke dalam pelukannya.


Hania menganggukkan kepalanya, sesekali mengusap air mata yang mengalir begitu saja.


"Nanti kita ziarah ke makamnya setelah aku meeting, gimana?" ajak Arga membuat wajah Hania seketika berbinar.


Hania menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Dadanya sesak seperti terhimpit beban besar. Dikecupnya lagi foto putrinya yang tersenyum manis hingga menampakkan lesung pipinya, lalu mendekapnya di dada. Hania mulai sesenggukan.


Sementara itu, seorang kurir sebuah toko bunga datang mengantarkan buket bunga bertuliskan inisial R dalam huruf kapital seperti biasa. Sejak kehamilannya, Hania selalu mendapat kiriman buket bunga yang dirinya tidak tau siapa pengirimnya. Dan tidak ingin terlalu memikirkannya. Begitu pula Arga.


Tepat jam 10, Arga tiba di kediamannya kembali. Seperti janjinya pada Hania, dia akan mengajak istrinya itu menziarahi makam gadis kecil yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri.


Agak kesiangan memang tetapi karena pertemuan bersama jajaran direksi perusahaannya tidak dapat ditunda dan harus dihadiri sendiri olehnya, membuatnya meninggalkan Hania pagi-pagi sekali. Dan begitu rapat berakhir, pria karismatik itu langsung bergegas meninggalkan perusahaannya. Pulang.


"Hania dimana Bi?" tanya Arga pada Bi Lastri yang membukakan pintu.


"Ada di kamar, Mas." sahut Bi Lastri.


"Anu, Mas. Itu. Ada bunga kiriman kayak biasanya. Bibi taruh di ruang tengah." tambah Bi Lastri.


Arga mengernyitkan keningnya. Baru kali ini dirinya mendapati buket bunga yang baru dikirimkan. Biasanya dirinya hanya mendengar cerita dari istrinya saja tapi tidak pernah melihat buket bunga itu langsung. Rasa penasaran mengantarkannya ke ruang tengah dimana buket bunga kiriman itu diletakkan. Rangkaian bunga lili. Bunga kesukaan Hania. Mendadak Arga penasaran juga dengan pengirimnya. Diambilnya memo yang tertera di buket bunga itu. R. Hanya huruf itu yang tertulis di kertas itu. Melihat bentuk huruf yang ditulis tangan itu, dia seperti merasa pernah melihat bentuk tulisan itu. Tapi dimana?


Pria karismatik itu masih mengamati huruf itu sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Satu tangannya menenteng paper bag besar berwarna biru bergambar bintang-bintang kecil berwarna kuning. Sesampainya di depan kamarnya, Arga memasukkan kertas tadi ke saku celananya. Nanti dia akan meminta Reza menyelidikinya. Instingnya mengatakan ada yang tak beres berkaitan dengan buket bunga dari pengirim rahasia.


Klek!


"Honey?" seru Arga yang tidak melihat Hania di kamarnya.


Arga memasuki kamar besarnya bersama Hania tapi tidak menemukan wanita cantik itu di sana. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya baru keluar dari kamar mandi. Sudah rapi dan selalu terlihat menawan di matanya. Senyumnya melebar. Pria tampan itu langsung memeluk istrinya ketika Hania sudah di dekatnya.


"Lama menungguku ya?" ucap Arga.


Hania menggeleng seraya tersenyum.


"Kamu nangis lagi?" tanya Arga, matanya menatap lekat sang istri.


Mata Hania yang membengkak memang tidak bisa berbohong. Nyatanya memang dirinya menangis sepanjang pagi tadi.

__ADS_1


"Maaf, honey. Aku kelamaan. Aku nyari ini dulu tadi." ucap Arga seraya menunjukkan paper bag yang masih ditentengnya.


"Apa ini?" tanya Hania menunjuk paper bag yang dibawa Arga.


"Hadiah untukmu dan Tiara." sahut Arga seraya menyerahkan paper bag itu pada Hania.


"Untukku? Kenapa aku juga diberi hadiah?" tanya Hania.


Wanita cantik itu heran dengan kebiasaan sang suami yang suka mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting menurutnya.


"Karena kamu sudah melahirkan Tiara, dan tetap berada di sisiku sejauh ini." sahut Arga membuat hati Hania bergetar, dia terharu.


Hania menerimanya dan mengeluarkan isinya. Sebuah kotak kecil beludru berwarna merah, sebuah buket bunga lili.


"Itu untukmu." ucap Arga ketika Hania menatapnya.


Hania membuka kotak kecil itu. Sebuah kalung berlian yang sepertinya didesain khusus untuknya, terlihat begitu manis. Arga mengambil kalung itu lalu memasangkannya di leher jenjangnya. Sesuai prediksinya, kalung itu begitu cantik melingkar di leher Hania. Arga mengecup kening Hania cukup lama.


"Makasih." lirih Hania.


Kali ini Hania tidak protes atas pemberian Arga. Dirinya tersentuh akan perlakuan Arga yang menghargainya. Hadiah suaminya kali ini adalah sebagai bentuk ucapan terimakasih karena telah melahirkan putrinya, yang bahkan ayah kandung putrinya itu tidak pernah lakukan. Baginya hadiah itu merupakan wujud besarnya rasa sayang Arga padanya dan mendiang putrinya.


Hania kembali melongok ke dalam paper bag. Ada sebuah boneka beruang berwarna cream dengan bulu yang tebal tampak lucu, pasti nyaman dipeluk. Pasti untuk mendiang Tiara. Ah suaminya itu mengerti kesukaan mendiang putrinya.


"Makasih." lagi-lagi Hania mengucapkan ucapan terimakasih seraya memegang boneka beruang itu dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan ucapin makasih, honey. Tiara itu putriku juga. Aku ngelakuin ini untuk putriku." tegur Arga yang paham jika Hania merasa sungkan padanya.


Sesampainya di ruang tengah, Hania melihat bukat bunga lili yang masih tergeletak begitu saja di atas meja.


"Buket bunga lili lagi. Apa orang ini ngga bangkrut ya, tiap hari kirim bunga begini?" keluh Hania membuat Arga ingat kembali dengan kertas bertulis tangan huruf R yang tadi dikantonginya.


Hania dan Arga hanya melewati buket bunga itu. Hania sama sekali tak berminat untuk melihatnya lagi. Dia sudah bosan merasa penasaran tapi si pengirim tak jua muncul.


"Kamu beneran ngga punya bayangan siapa pengirim berinisial R ini?" tanya Arga menyelidik.


Hania menggelengkan kepalanya.


"Apa mungkin mantan suamimu?" tanya Arga lagi.


Hatinya berdenyut nyeri ketika melontarkan pertanyaan itu. Hah! Kenapa masih saja terasa sakit? Dia benar-benar tidak akan suka ada pria lain apalagi jika memang mantan suami istrinya itu mengganggunya. Arga menghela napas menetralkan perasaannya.


"Aku ngga pernah lagi tahu kabarnya dan ngga mau tau. Tapi ngga mungkin dia, Mas Ryan bukan tipe orang yang sok misterius begini." terang Hania gamblang, dia tidak menyadari jika Arga sedang cemburu.


"Kamu bahkan masih ingat kebiasaannya." ucap Arga seraya membukakan pintu untuk Hania.


Hania seketika menoleh ke arah suaminya. Bukannya masuk ke dalam mobil, wanita cantik itu malah berbalik, membuatnya berhadap-hadapan dengan suaminya. Suara Arga yang berubah dingin dan terkesan tak suka, menyadarkannya akan ucapannya barusan. Dia tahu Arga sedang cemburu.

__ADS_1


"Mas cemburu?" tanya Hania seraya melirik nakal pada Arga.


"Kamu tahu aku ngga suka kalau ada lelaki lain yang nyoba nyari perhatianmu." sahut Arga seraya berusaha tidak menatap mata Hania.


"Aku tahu. Dan aku suka kalau Mas cemburu." ucap Hania lalu tersenyum.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bibir Arga, membuat pria tampan itu membelalakkan matanya. Dia terkejut karena tidak menyangka Hania akan mengecup bibirnya di luar kamar mereka. Di halaman rumahnya!


Arga menatap lekat Hania yang sudah duduk manis di kursi penumpang di samping kemudi. Ingin rasanya membalas kecupan kejutan barusan. Tapi bisa-bisa dirinya kebablasan. Bukannya berangkat menziarahi makam Tiara, yang ada dirinya akan menjelajahi surga dunia.


"Tunggu balasanku, honey." ancam Arga setelah duduk di belakang kemudi dan mendekatkan bibirnya ke telinga Hania dengan suara berat yang terdengar seksi membuat Hania meremang.


"Dengan senang hati, suamiku." ucap Hania semakin menggoda Arga seraya mengerlingkan matanya dan tersenyum semanis madu.


Melihat Hania bertingkah genit menggodanya, Arga semakin gemas dan semakin berhasrat. Pria karismatik itu hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan menahan diri agar tidak menerkam Hania saat ini.


Arga menahan tubuh atletisnya di atas tubuh ramping Hania dengan kedua tangannya. Napasnya memburu. Dirinya baru saja menyelesaikan pergulatan panas bersama sang istri yang kini terkulai lemas dengan napas yang sama memburunya.


"Ini hukuman untuk istri yang suka genit sama suaminya." bisiknya di telinga Hania.


"Uhum. Aku suka dihukum begini sama suamiku." Hania memamerkan senyum menggodanya lagi seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Dasar nakal! Belajar darimana sih? Hum?" Arga semakin gemas saja.


"Dari suamiku dong." sahut Hania menahan tawanya.


"Aku mau lagi." ucapan Arga dengan wajah serius penuh hasrat yang seketika membuat Hania melongo.


"Hah!? Tapi aku masih capek, Mas." rengek Hania.


Ya. Wajarlah jika Hania merasa lelah. Arga sudah menggempurnya 2 kali. Dan baru sampai di puncak, suaminya itu sudah menginginkannya lagi. Benar-benar tidak ada capeknya.


Sepulang dari makam Tiara tadi, Arga sempat mengajak Hania singgah ke restoran miliknya yang kini sudah sepenuhnya di kelola karyawan dengan Ferry sebagai penanggung jawabnya. Wanita cantik itu sempat memasakkan menu pesanan pelanggan restorannya alih-alih memasak untuk dirinya dan sang suami. Sebelum akhirnya Arga mengurung Hania di kamar besar mereka. Dirinya sudah menahan diri cukup lama sejak pagi tadi dan ingin langsung melepaskannya bersama istri tercintanya.


Drrrt drrrt drrrt!


Suara ponsel yang bergetar bagai lebah yang mendengung itu membuat Arga terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan perlahan pria tampan itu meraih ponselnya di atas nakas di sampingnya. Dia tidak ingin Hania yang masih terlelap pulas berbantal lengan kirinya sambil memeluknya ikut terganggu.


"Gimana?" tanya Arga begitu tahu Reza lah yang mengganggunya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Pengagum rahasia Bu Hania bukan Pak Ryan, Pak. Kiriman bunga itu dilakukan oleh Pak Raka." Arga mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal dan sorot matanya berubah setajam silet begitu mendengar laporan Reza.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2