Yang Terakhir

Yang Terakhir
186. Hania Atau Mirip Hania?


__ADS_3

"Lho, Bu Hania udah di sini aja, pasti ngebut ya nyetirnya?" sembur Lisa yang sedikit terkejut melihat Hania tengah duduk santai bersama Ferry di gazebo di bagian belakang restoran tempat biasa bagi karyawan berkumpul santai.


Siang itu panas sedikit terik dan duduk-duduk di tempat itu adalah pilihan yang tepat. Dimana banyak pohon yang di tanam Hania dulu, yang kini sudah tumbuh menjulang tinggi dan rimbun menghadirkan angin sepoi-sepoi yang sejuk. Apalagi jam makan siang sudah berlalu. Segala bentuk kericuhan di bagian dapur sudah terlewati. Saatnya bagi mereka bersantai sejenak sambil menikmati buah tangan yang dibawa Hania.


Kedatangan Hania disambut suka cita oleh para karyawannya. Meski ada beberapa karyawan baru tapi tidak mengurangi keseruan mereka.


"Saya udah dari tadi di sini, tuh. Kamunya aja yang ngider kayak setrikaan. Darimana emang?" sahut Hania meluruskan sangkaan Lisa.


"Tapi tadi saya lihat Bu Hania lagi di mall xx lho. Lagi belanja di sana. Malah saya yang duluan keluarnya." keukeuh Lisa yang merasa yakin melihat Hania dalam perjalanannya kembali ke restoran.


Hania mengerjap. Benarkah? Dirinya memang tadi mampir di mall yang dimaksud Lisa dan melihat wanita yang mirip dengannya. Apakah Lisa juga melihat wanita itu?


"Ah. Salah liat kali, lu, Kak!" sergah Anja.


"Makanya kalau jalan itu fokus!" cibir Ferry ikut menimpali.


"Beneran! Gue liat Bu Hania di sana. Barusan aja, sebelum gue balik ke sini." Lisa masih pada dugaannya.


"Ngga mungkin lah, Kak. Pasti salah liat. Bu Hania itu di sini dari sebelum jam makan siang." timpal karyawan yang lainnya.


"Tapi.... Masak sih gue salah liat. Orang tadi jelas banget itu Bu Hania." Lisa menggumam tak jelas seraya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Udah. Sana minum dulu. Butuh aqui lu!" ucap Ferry membalikkan tubuh Lisa menjadi membelakangi gazebo lalu mendorong pelan tubuh langsing itu.


Dengan ragu Lisa meninggalkan tempat itu sambil sesekali menoleh ke belakang menatap ke arah Hania. Sambil terus berpikir. Tidak mungkin dirinya salah lihat. Dia yakin jika wanita tadi itu adalah Hania. Mendadak dia menyesal kenapa tadi tidak menyapanya. Bikin penasaran saja. Iih! Tuh 'kan, malah bikin kesal.


Melihat bagaimana Lisa begitu keukeuh mempertahankan dugaannya, membuat Hania jadi kepikiran kembali akan pertemuannya dengan wanita yang mirip dirinya tanpa wanita tadi sadari.


"Apa mungkin ada orang yang sama miripnya sampai dikira orang itu adalah orang yang sama?" tiba-tiba Hania melontarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


Ferry dan Anja saling lirik. Lalu menoleh ke arah karyawan lainnya yang juga saling melirik.


"Umm.... Belum pernah ketemu sih, Bu, orang yang mirip banget kecuali orang itu kembar." sahut Anja yang diangguki karyawan yang lain.

__ADS_1


Sementara itu, Ferry malah kepikiran akan ucapan Iden yang tak sengaja dicuri dengar olehnya saat berbicara pada Kelik beberapa waktu yang lalu sewaktu mengunjungi Hania di rumah sakit.


"Lu yakin informsi yang lu dapet ini valid? Ngga mungkin 'kan Hania kembar 3? Gue yakin perempuan itu cuma mirip doang. Oplas kali! Gue yakin ini cuma akal-akalannya Handoko!" cecar Iden yang terdengar menekan setiap kata-katanya.


Ferry yang melintas di koridor sepi itu kebetulan mendengar nama Hania disebut seorang pria yang suaranya dia ingat sebagai suara Iden. Pria macho itu penasaran dan memutuskan untuk tinggal dan mendengar obrolan serius mereka.


"Iya, Bos. Bu Hania hanya memiliki 1 kembaran dan kembarannya pun sudah meninggal 28 tahun yang lalu. Sangat tidak mungkin tiba-tiba kembarannya muncul dan sudah berusia dewasa." terang Kelik saat itu.


"Menurut informasi yang gue dapat, Mba Syana, ehem, iya, dia tinggal di perkampungan itu sejak 6 tahun belakangan. Sebelumnya dia tinggal di pinggiran ibukota." lanjut pria bertubuh gempal itu, ada rasa tak enak hati menyebut nama Syana.


"Suatu kebetulan Pak Handoko bertemu dengannya. Entah mana yang duluan? Bos yang mencari keberadaan saudara kembar adek Bos atau Handoko yang tiba-tiba mendapat pikiran licik untuk memanipulasi bokap Bos begitu ketemu sama perempuan itu karna ada kemiripan dengan Bu Hania." panjang lebar Kelik menjabarkan pendapatnya.


"Mengingat dulunya mereka pernah dekat, banyak dikitnya informasi tentang keluarganya Bos, pasti dia tahu." ucap Kelik lagi.


Sementara Iden hanya terdiam mencerna setiap ucapan Kelik, Ferry yang ikut mencuri dengar dari tempat yang tak jauh dari posisi Iden dan Kelik, sangat terkejut. Beberapa kali chef tampan itu mengubah-ubah ekspresi wajahnya karena setiap kata yang didengarnya bagaikan rahasia besar yang terungkap.


"Woy! Mas Ferry! Yah. Malah ngelamun! Ditanyain Bu Hania, tuh!" seruan Anja yang cukup kencang menarik Ferry dari lamunannya sesaat tadi.


"Gimana?" tanya Ferry setenang mungkin.


"Gimana, Mba?" ulang Ferry tanpa menanggapi cibiran Anja.


"Menurut kamu gimana?" pertanyaan Hania membuat otak Ferry memutar ingatannya ke saat sebelum dirinya antara ada dan tiada di tempat itu.


Tadi, wanita cantik bermata kelinci yang sudah dianggapnya sebagai kakak perempuannya itu sedang membahas seberapa mirip seseorang dengan orang lainnya sampai disangka sebagai orang yang sama. Jikalau topiknya belum berubah, sih. Pasalnya, Ferry tidak tahu seberapa lama dirinya hanyut dalam ingatan kemarin pagi. Jadi dia sedikit bertaruh dalam menjawab pertanyaan bosnya itu.


"Oh, itu. Mirip. Mungkin aja bisa sampai 90% meski ngga kembar. Tapi gimanapun pasti tetap ada perbedaan, bahkan yang kembar pun pasti punya perbedaan itu. Terutama golongan darah, tabiat, bentuk tubuh, warna rambut, warna mata, kebiasaan dan lain-lain." sahut Ferry yang sebelumnya berpikir keras menemukan jawaban yang masuk akal.


"Mas Ferry udah pernah ketemu sama orang yang mirip sama Mas Ferry belum? Atau orang lain deh, yang mirip satu sama lain?" tanya Anja jadi ikut penasaran.


Terlihat Lisa sudah ikut bergabung dalam kelompok diskusi yang terbentuk dadakan itu. Tampak sekali jika wanita berkaca mata itu serius mendengarkan, lebih serius dibanding karyawan yang lainnya. Apalagi dirinya baru saja mengalami kejadian itu barusan. Tapi sungguh jengkel rasanya karena tidak ada yang mempercayainya.


"Kalau ketemu yang mirip sama aku, sih, belum. Aku harap ngga ada yang ngembar-ngembarin wajah ganteng nan rupawan ini, sih." narsisnya seraya memegang dagu dan menaik turunkan alisnya, oh, jangan lupakan senyum tengilnya yang membuat Hania tak tahan untuk tidak menyentil dahinya yang mulus untuk ukuran seorang pria.

__ADS_1


"Aw! Mba! Sakit tahu! Itu jari, bentuknya aja yang lentik tapi energinya bagai kuli! Jari palsu, tuh!" gerutu Ferry seraya mengelus dahinya yang tampak memerah.


Melihat adegan yang naga-naganya bakal ada cuplikan tom and jerry lewat itu, tak ayal para karyawan sedikit terhibur. Mereka kompak menertawakan Ferry yang terdzolimi.


"Gitu!? Ketawa aja terus! Abis ini tunggu hukuman kalian!" ancam Ferry dengan wajah tegasnya.


Auranya sebagai pemimpin tidak dapat dipungkiri lagi. Jika sudah modenya begini, para karyawan langsung kompak mengheningkan cipta, posisi diam dan menundukkan kepala.


"Kalau ketemu orang lain yang mirip?" tanya Lisa memecah keheningan.


Wanita berpostur tinggi langsing itu begitu penasaran mendengar pengalaman orang lain yang sama dengannya. Bertemu orang yang mirip dengan orang yang dikenalnya. Saking miripnya, dia mengira wanita itu adalah Hania.


Ferry tampak berpikir. Mengumpulkan kembali ingatannya tentang orang-orang yang ditemuinya. Lalu menggelengkan kepalanya. Jawaban bahwa dirinya tidak pernah bertemu dengan orang yang mirip satu sama lain.


"Lu sendiri gimana? Lu yakin tadi yang lu lihat itu Mba Hania?" Lisa menganggukkan kepalanya dengan semangat ketika Ferry bertanya.


"Tapi 'kan Bu Hania udah di sini dari tadi. 'Kan ngga mungkin 1 orang bisa ada di 2 tempat berbeda dalam waktu yang sama." protes Anja lagi.


Ferry menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat Anja seraya menatap Lisa.


"Kecuali kalau orang itu orang yang berbeda." celetuk Hania membuat ketiga orang yang tersisa itu menoleh pada Hania sementara para karyawan yang tadi ikutan mendengar diskusi dadakan itu sudah kembali pada tugasnya masing-masing.


Di sebuah rumah yang cukup jauh terletak di pinggiran ibukota, Arga dan Iden tampak sedikit frustrasi. Rambut keduanya tampak acak-acakan karena seringnya kedua pria tampan itu melakukan gerakan menyugar dan mengacak-acak rambut karena kesal dan marah dengan fakta yang diperoleh anak buahnya.


Meski tampil dengan rambut berantakan, namun wajah tampan keduanya tetap memancar bagai bintang. Seperti biasa tetap tampan mempesona bahkan di mata anak buahnya yang notabene pria-pria bertubuh gempal dan berotot sekalipun.


"Gue ngga bisa diem aja! Lu pastiin si tua bangka itu ngga bakal nyentuh istri gue! Oh. Gimana kalau gue habisin aja dia jadi debu sekalian? Biar bahkan idenya ngga bisa nyelinap keluar dari liang lahatnya!" geram Arga seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.


Pria tampan itu merasa keputusannya untuk membiarkan Oom Aris tetap hidup dan hanya diberi hukuman penjara dalam kurun waktu yang lama akan membuat pria paruh baya itu bisa berpikir lebih baik lagi karena sudah diberi kesempatan adalah keputusan yang salah. Nyatanya, meski tubuhnya terpenjara, tapi kejahatannya masih berkeliaran. Hah. Kenapa dia melupakan Rosa?


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2