Yang Terakhir

Yang Terakhir
15. Menunggu Kabarmu


__ADS_3

Tok tok tok.


Terdengar ketukan di pintu ruangan Arga, lalu muncullah seorang wanita cantik dan tak kalah seksi dari Dian. Dialah sektetaris Direktur di perusahaan cabangnya Arga. Arga hanya meliriknya sekilas lalu fokus kembali pada laptopnya.


Sejak awal sekretaris direktur itu sudah terpesona oleh ketampanan Arga. Apalagi dirinya tahu jika Arga belum lagi menikah setelah perceraiannya dengan sang mantan istri. Semakin ingin merayunya saja.


Dengan gaya sensualnya, sekretaris direktur itu berjalan mendekati meja Arga sambil meleggak lenggokkan tubuhnya bak model catwalk. 2 kancing kemeja teratasnya sengaja dibukanya menambah kesan seksi.


"Maaf Pak, saya mengganggu, saya ingin mengantarkan berkas-berkas dari divisi keuangan." ucap sekretaris direktur itu dengan nada sensualnya.


"Saya letakkan disini ya, Pak." lanjutnya.


Diletakkannya berkas-berkas yang dibawanya tepat di depan Arga sambil membungkukkan badannya sedemikian rupa hingga menampakkan belahan dadanya yang agak besar itu. Arga mengangkat wajahnya. Tanpa sengaja mata Arga melihat pemandangan yang seharusnya sangat menggoda.


Ya. Sekretaris itu sengaja menggoda Arga. Dia sangat percaya diri dengan kecantikan dan keseksiannya. Dia selalu berhasil mendekati bos bos muda nan tampan dengan pesona tubuhnya itu. Pria mana yang tidak tertarik dengan tubuh seindah miliknya, paling tidak pria-pria tampan itu akan menatapnya dengan tatapan mendamba. Tapi ini Arga. Pria dingin yang menutup akses untuk wanita manapun untuk mendekatinya. Yang kini sedang mengincar seorang wanita cantik bermata kelinci.


"Dasar murahan!" gumam Arga dalam hati.


Pria itu menaikkan wajahnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, benar-benar menatap sekretaris direktur itu dengan ekspresi datar yang dingin. Seketika senyum sekretaris direktur itu mengembang. Dipikirnya umpannya termakan. Dia menegakkan tubuhnya. Menggerak-gerakkan tubuhnya dengan gerakan menggoda. Jika saja Arga bukan pria dingin, dia pasti akan tergoda juga.


Wanita itu memanglah cantik dan seksi, didukung dengan pakaiannya yang serba ketat, membuat bagian tubuh vitalnya menyembul sempurna. Arga menaikkan sebelah alisnya. Dipindainya wanita didepannya itu. Ada rasa jijik bercampur geram.


"Berani-beraninya dia bertingkah begini di depanku. Menjijikkan!" rahangnya mengeras.


"Siapa namamu?" tanya Arga datar dan tanpa ekspresi.


"Saya Siska, Pak." sahut sekretaris direktur dengan senyum seksinya.


Siska sudah senang saja. Dirinya merasa bosnya mulai tertarik padanya.


"Oke Siska, setelah ini, kamu temui Kepala HRD. Sampaikan padanya, saya memintamu pindah ke divisi mana saja asal tidak jadi sekretaris saya selama saya disini." perintah Arga lugas dengan suara yang ditekan.


"Sa.. Saya, Pak?" tanya Siska masih tidak percaya dengan pendengarannya


"Iya, kamu!" tegas Arga.


"Ta.. Tapi sa lah saya apa, Pak?" Siska masih belum tahu alasan bosnya itu memindahkan dirinya.


"Kamu berani bersikap lancang pada saya. Merendahkan saya dengan menggoda saya. Kamu pikir saya tidak memperhatikanmu? Harusnya kamu menghormati saya selaku atasan kamu. Bukannya malah tebar pesona di hadapan saya!" ucap Arga dingin.

__ADS_1


Seketika nyali Siska mengkerut bagai kerupuk tersiram air. Kemana perginya sikap percaya dirinya yang berlebihan tadi?


"Keluarlah!" perintahnya dengan intonasi yang mulai meninggi.


Arga sudah tidak tahan lagi melihat sekretaris direktur itu di sana. Bisa-bisa lidahnya yang kadang terlalu pedas itu mencabik-cabik perasaan wanita itu.


Arga memang jarang berbicara panjang lebar diluar urusan pekerjaan. Jika melihat atau mengalami situasi yang tidak menyenangkannya, dirinya lebih memilih diam. Tapi dirinya akan sangat tidak terima jika ada wanita yang menggodanya. Dia merasa direndahkan. Sehingga tak jarang kata-kata pedas meluncur lancar dari bibirnya yang bisa melukai perasaan wanita manapun.


Setelah Siska meninggalkan ruangannya, Arga kembali fokus pada pekerjaannya. Dia masih sangat kesal karena harus mendapat godaan dari karyawannya sendiri. Ya, dirinya tidak percaya jika karyawannya berani menggodanya. Diraihnya ponselnya yang tergeletak. Dia ingin mengalihkan rasa kesalnya. Dirinya teringat Hania. Wajah wanita cantik bermata kelinci itu selalu bisa mengembalikan moodnya. Arga membuka-buka galeri fotonya.


Ah, sial! Dirinya baru menyadari bahwa tidak memiliki satupun foto Hania di sana. Satu-satunya tentang Hania yang dimilikinya hanya nomor ponselnya. Foto profil aplikasi chatnya pun hanya setangkai bunga lily.


Arga mendesah frustrasi. Meletakkan ponselnya ke atas meja, namun sejurus kemudian meraihnya kembali. Mengetikkan pesan pada Hania. Centang 1. Wajahnya masam. Tapi tak lama kemudian berubah menjadi centang 2, membuat senyumnya merekah.


Arga masih menatapi pesan yang dikirimnya pada hania beberapa menit yang lalu. Diterima. Tapi kenapa tak kunjung membalas? Diliriknya jam tangannya. Jam 2. Sudah lewat jam makan siang. Harusnya wanita yang diam-diam mulai mengikat hatinya itu sudah tidak sibuk lagi. Arga gusar. Hah! Baru kali ini dirinya merasa tidak tenang menunggu balasan pesan dari seseorang.


Dia mengacak-acak rambutnya, melonggarkan dasinya, membuka 2 buah kancing teratas kemejanya, dan melipat lengan kemejanya sebatas siku. Dirinya merasa gerah. Arga sungguh gelisah.


Menjelang malam, pesan Arga tidak dibalas Hania padahal pesan sudah diterima. Lalu mencoba meneleponnya. Lagi-lagi panggilannya tidak terjawab. Sekian kali mencoba, hanya suara mesin penjawab yang terdengar. Pikiran buruk Arga mulai melayang-layang dibenaknya. Hingga larut malam pun pesan itu tak berbalas. Membuatnya tidak bisa tidur. Ada apa dengan Hania?


Mencoba untuk berpikir positif, Arga mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan yang dibawanya pulang tadi.


Keesokan pagi, Arga terbangun dengan posisi telungkup di meja kerjanya. Dirinya tertidur beralaskan kedua tangannya. Terasa sekali tubuhnya sakit. Dirinya bahkan merasa tangan kanannya tidak bisa digerakkan.


"Lihat Hania, aku terlalu sibuk mengalihkan perhatianku darimu sampe tertidur begini." keluh Arga kemudian terkekeh.


Pagi itu, Arga sedikit malas berangkat ke kantornya. Hingga jam di dinding ruang keluarga apartemennya menunjukkan angka 9, dirinya masih saja asik menatap televisi berukuran 54 incinya. Hanya menatap karena Arga pun tidak peduli dengan tayangan yang tengah disiarkan.


Pikirannya masih melayang pada Hania. Dirinya masih menunggu Hania membalas pesannya. Hingga tanpa disadari, puluhan pesan sudah dikirimkan pada Hania. Matanya sebentar-sebentar menatap layar ponselnya. Bahkan ketika Reza menghubunginya, panggilan itu langsung di reject.


"Pak, anda dimana? Rapat akan segera dimulai." pesan Reza menanyakan keberadaan Arga.


"Saya on the way." balas Arga.


Akhirnya meski dengan separuh semangat 45 nya, Arga berangkat juga. Dirinya bertekad segera menyelesaikan masalah di kantor cabangnya meski dengan fokus yang terbelah.


Selesai dengan rapatnya, Arga bergegas kembali ke ruangannya. Membuka kancing pada pergelangan tangan kemejanya lalu menggulungnya hingga ke siku. Penampilannya sedikit bergeser dari kata rapi. Rambutnya awut-awutan, lingkar matanya menghitam, wajahnya muram.


Reza masuk ke ruangan Arga setelah atasannya itu memanggilnya. Wajah atasannya itu semakin kusut saja. Membuatnya semakin heran. Apalagi, lagi-lagi Reza hanya dibiarkan saja. Atasannya itu masih bersandar pada kursinya yang nyaman sambil menutup matanya.

__ADS_1


"Pak bos kenapa lagi sih? Biasanya selelah dan setertekan apapun penampilan bos tetap sempurna." monolognya dalam hati.


"Apalagi kalo nyangkut pekerjaan, pantang pulang sebelum tumbang." batinnya lagi.


"Dia kacau sekali. Ini aneh." pikirnya.


"Pasti pak bos lagi mikirin wanita itu?" tebaknya.


"Selalu aja kalo masalahnya menyangkut wanita, pak bos pasti begini." Reza mendesah.


"Sepertinya aku benar-benar melewatkan sesuatu", pikirnya.


Sang asisten menatap atasannya. Mencoba mengingat setiap kejadian yang mereka lalui. Sejak pagi hingga jam kerja usai, Reza selalu menemani sang atasan. Belakangan mereka sering bekerja hingga larut malam.


Di restoran, Lisa memanggil Hania begitu melihatnya hendak memasuki ruangan yang juga ruangan kerjanya.,


Hania menoleh dan urung memasuki ruangannya. Menunggu Lisa mendekat. Lalu bersama sama masuk ke dalam ruangannya setelah Lisa berjarak 3 langkah darinya.


Hania mendudukkan dirinya pada kursi empuknya lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Ponsel Ibu." ucap Lisa seraya meletakkan sebuah ponsel di atas meja kerja Hania.


Hania mengernyitkan alisnya. Seingatnya, seharian kemarin dirinya sibuk menghandle katering untuk acara pernikahan di sebuah gedung. Dirinya tidak merasa menitipkan ponselnya pada Lisa. Hanya Ferry dan beberapa karyawan yang bersamanya.


"Mas Ferry pagi tadi mampir kesini Bu, nitipin ponsel itu." terang Lisa menyadari ekspresi atasannya.


Hania kembali mengernyitkan alisnya. Diapun tidak merasa menitipkannya pada Ferry atau karyawan lainnya.


"Kata Mas Ferry, Tiara yang ngasih ponsel itu ke Mas Ferry." terang Lisa lagi.


Meski masih penasaran bagaimana ceritanya sampai ponselnya berada ditangan Ferry, dirinya merasa senang karena akhirnya si ponsel ditemukan. Padahal dia sudah ihklas saja jika si ponsel hilang. Yang membuatnya uring-uringan adalah nomor kontak yang tersimpan di dalamnya. Semua dianggap nomor penting oleh Hania.


Sekembalinya dari gedung tempat berlangsungnya resepsi kemarin, Hania memang kebingungan mencari ponselnya. Dirinya baru menyadari bahwa ponselnya tidak ada didalam tasnya ketika ingin mengabari guru putrinya.


Semua sudut restoran, rumah, dan bahkan Hania dan Lisa rela kembali lagi ke gedung tempat resepsi diadakan. Tapi ponselnya tidak ditemukan juga. Sedangkan Ferry, seusai acara pulang terlebih dahulu tanpa menunggu Hania karena mendapat kabar bahwa adiknya mengalami musibah.


*******


Happy Reading Novelians...

__ADS_1


Dukung terus dengan like, vote, dan komen ya...


🤗🤗🤗


__ADS_2