
Setelah selesai berkutat dengan pekerjaannya, Arga hanya berdiam diri di ruang kerjanya sambil memikirkan Hania. Dan mengabaikan Bi Sumi yang mengingatkannya makan siang. Dirinya sudah kenyang hanya dengan membayangkan wajah Hania.
Setelah merenung cukup lama, akhirnya Arga memutuskan untuk menemui Hania, wanita cantik bermata kelinci yang entah dengan kekuatan apa mampu memikatnya secepat kesadarannya yang menurun. Dirinya jatuh dalam pesona wanita cantik itu.
Dan di sanalah dia sekarang. Di halaman parkir sebuah restoran tempat Hania bekerja. Suasana restoran masih lengang karena jam makan siang sudah lama berlalu. Hanya ada beberapa pengunjung. Mungkin juga baru sempat makan setelah tadi melewatkan jam makan siangnya, sama sepertinya. Atau hanya duduk santai bersama rekan sebelum pulang setelah seharian bekerja.
Baru akan keluar dari mobilnya, matanya menangkap sosok wanita yang ingin ditemuinya. Hania. Wanita cantik itu berjalan agak tergesa-gesa menuju mobil yang terparkir tidak jauh darinya.
Melihat mobil Hania meninggalkan restoran, Arga segera menyalakan mesin mobilnya, mengikutinya dari jarak aman. Hanya terselingi dua mobil. Hampir saja dia kehilangan mobil Hania di traffic light yang hampir memerangkapnya di sana. Entah kenapa Arga merasa lampu hijau cepat sekali berubah warna menjadi merah. Dirinya terpaksa memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata dan banyak menekan klaksonnya.
Mobil Hania berhenti di sebuah sekolah dasar. Arga masih memperhatikan dari jarak aman. Tak lama berselang Hania muncul bersama seorang gadis kecil yang menggenggam tangannya. Sesekali terlihat gadis kecil itu tertawa riang. Arga memicingkan matanya mempertajam penglihatan. Gadis kecil yang cantik. Apakah itu putri Hania? Tiba-tiba kata-kata Iden terngiang. Bukannya kesal, dia malah tersenyum.
"Sepertinya anak perempuan lebih mudah di dekati." pikirnya.
Dia pernah punya anak laki-laki. Dirinya juga laki-laki. Menurutnya anak laki-laki lebih protektif pada ibunya. Selalu ingin melindungi ibunya. Dan tidak rela jika ada pria yang mendekatinya karena takut kehilangan perhatian ibunya. Seperti dirinya.
Arga segera mengikuti mobil Hania lagi yang telah meninggalkan sekolah dasar itu. Lalu lintas sangat padat di sore hari bersamaan dengan jam pulang kerja. Dan saking padatnya mobil Arga terpisah cukup jauh dari mobil Hania.
Beruntung dia melihat mobil abu-abu metalik itu terparkir di sebuah minimarket. Dia memarkirkan mobilnya dan menunggu Hania hanya berjarak beberapa motor.
"Pokoknya Mama janji ya, minggu besok kita nginep di rumah Mba Binar." tuntut Tiara.
"Iya deh iya Mama janji." ucap Hania menenangkan putrinya.
Dari tempat mobilnya terparkir, Arga dapat mendengar percakapan ibu dan anak itu. Jadi benar, Hania memiliki seorang putri? Arga memperhatikan wajah gadis kecil itu, Iden benar, dia mirip Hania. Dia berharap semoga saja sifatnya tidak mirip.
Mengingat sulitnya mendekati Hania, dia mulai memikirkan bagaimana mendekati putrinya Hania itu. Baiklah. Dapatkan dulu anaknya baru ibunya. Senyumnya mengembang.
__ADS_1
Lagi-lagi Arga mengikuti mobil Hania. Tapi ketika tiba di traffic light, lampu hijau itu tidak meloloskannya. Dia terjebak dengan lampu merah di deretan pertama. Jelas saja dia kehilangan mobil wanita cantik itu. Arga mengacak rambutnya. Dengan kesal, dia memukul setirnya. Aaargh!
Arga sempat berputar-putar mengharapkan keberuntungan, siapa tahu melihat mobil abu-abu metalik itu melintas. Tapi semakin tidak menemukannya, dirinya semakin emosi.
Arga tiba di kediamannya ketika adzan maghrib mengumandang ke penjuru langit. Dengan langkah gontai, dia memasuki rumah besar bergaya minimalisnya. Seperti biasa tidak ada yang menyambutnya. Di ruang makan hanya ada Bi Sumi yang sedang menata makanan di meja makan. Arga menaiki tangga menuju kamarnya.
Bi Lastri yang baru masuk ruang makan memperhatikan majikannya itu dengan heran sambil berjalan mendekati Bi Sumi. Disenggol-sengolnya lengan Bi Sumi yang berdiri di sampingnya dengan sikunya.
"Ono opo sih Tri?" tanya Bi Sumi lirih sambil menoleh ke arah Bi Lastri. (Ada apa sih Tri).
Bi Lastri hanya menunjuk ke arah majikannya yang sedang menaiki tangga dengan dagunya. Bi Sumi pun menoleh ke arah yang ditunjuk rekannya.
"Dengaren yo Yu, Mas Arga raine buthek." bisik Bi Lastri. (Tumben ya Yu, Mas Arga wajahnya kusut).
"Yo mungkin lagi ono masalah karo gaweane." jawab Bi Sumi sekenanya. (Ya mungkin sedang ada masalah dengan pekerjaannya).
"Gaweane wong sugih ki luwih ruwet yo Yu, ndadak nganggo mikir." lanjut Bi Lastri. (Kerjaannya orang kaya itu lebih ruwet ya Yu, pakai mikir).
Dibandingkan Bi Sumi, Bi Lastri lebih banyak bicara. Tapi meskipun begitu, dirinya tidak pernah nyinyir atau merasa iri dengan rekan kerjanya. Dirinya selalu tulus membantu siapa saja ketika sudah selesai dengan tugasnya. Dengan kata lain tidak bisa diam. Dia akan membantu Bi Sumi menyiapkan makan malam seperti sekarang ini, atau membantu Mang Diman menyiram tanaman dan menyapu halaman seperti tadi sore.
"Eh, ngomong-ngomong yo Yu, Mas Arga ki kan sing naksir akeh, ayu-ayu meneh, kok ora ono sing nyantol yo? Sakdine sing digoleki Mas Arga ki sing kepiye sih?"lanjut Bi Lastri menggosipi majikannya. (Eh, ngomong ngomong ya Yu, Mas Arga itu kan banyak yang naksir, cantik cantik lagi, kok ngga ada yang disukai ya? Sebenarnya yang dicari Mas Arga itu yang gimana sih?).
Bi Sumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi kicauan Bi Lastri.
Ketika akan berkicau lagi, Arga sudah muncul di ruang makan itu. Sambil menatap ke arah Bi Lastri yang pura-pura sibuk mengelap sendok padahal sendok-sendok itu sudah dilapnya tadi.
"Yang aku cari itu yang baik hati, Bi Lastri, melihat aku apa adanya bukan ada apanya, terus ngga suka ngomongin orang." jawab Arga setelah duduk di kursi, matanya masih menatap Bi Lastri.
__ADS_1
Tadi, saat langkahnya mendekati ruang makan, lamat-lamat dirinya mendengar obrolan ARTnya, Bi Lastri tepatnya. Dia sedikit mengerti bahasa Jawa. Mendengar kicauan Bi Lastri, Arga hanya mengulum senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya jadi bahan gosip?
"Eh, anu, Mas, ngapunten tadi Bibi ngomongin Mas Arga. Tapi bibi ndak ada maksud apa-apa kok Mas, beneran. Ya cuma ngobrol aja." kata Bi Lastri merasa bersalah dan salah tingkah. (ngapunten\=maaf)
"Ya sudah Bi, kumaafkan." sahut Arga.
"Maturnuwun Mas, saya ke belakang dulu." sahut Bi Lastri lalu bergegas meninggalkan ruang makan.
Bi Sumi hanya tersenyum geli melihat rekannya kepergok majikannya saat sedang menggosipinya.
"Mas Arga mau makan sekarang?" tanya Bi Sumi, yang diangguki Arga.
"Makan yang banyak Mas, bibi masak makanan kesukaan Mas Arga." ucap Bi Sumi sambil menuangkan air mineral ke gelas dan meletakkannya di samping kanan Arga.
"Kebetulan Bi, aku juga sudah lapar." timpal Arga sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
Malam itu Arga makan banyak dan lahap. Selain karena makanan yang dihidangkan adalah makanan kesukaannya, dia juga melewatkan makan siang tadi.
Arga benar-benar merasa kekenyangan. Sambil menurunkan perutnya, dia menyempatkan diri untuk menghubungi Reza menanyakan perkembangan kasusnya. Lalu kembali ke kamarnya. Seharian ini, dia hanya beraktifitas di rumah, sorenya baru keluar. Itupun hanya berputar-putar mengikuti Hania, tapi badannya serasa remuk. Emosinya benar-benar menguras energinya. Matanya terpejam dan tertidur.
Lain halnya dengan Arga yang menikmati makan malam seorang diri, Iden justru berkumpul dengan keluarganya. Sebenarnya, setengah hati dia menghadiri cara kumpul kumpul itu, namun dia juga tidak ingin mengecewakan orangtuanya.
"Den, mulai besok abang minta tolong anter jemput Cindy sekolah ya. 5 hari aja." pinta Rendy, dengan terpaksa Iden menyanggupinya.
Rendy akan ke luar kota selama 5 hari dan sang istri sedang hamil tua jadi tidak ada yang bisa mengantar jemput Cindy. Dirinya yang apartemennya searah dengan rumah dan sekolah Cindy lah yang akhirnya mengambil alih tugas itu. Dia belum tahu, jalan menuju tiket liburannya ada disana, di sekolah Cindy.
*******
__ADS_1
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote nya 🤗🤗🤗