
Iden langsung menuju ruang rapat begitu sampai di kantor. Sekretaris seksinya sudah menunggunya. Iden masuk setelah mengetuk pintu lalu duduk dengan tenang. Tidak menghiraukan tatapan tajam Arga yang menyorot padanya.
"Ngapain lo kesana?", serang Arga to the point begitu ruang rapat itu tinggal dirinya dan Iden.
"Slow, man", ucap Iden santai.
Arga mendengus.
"Gue nganter anaknya Hania", jelas Iden datar
"Kok bisa anaknya Hania sama lo?", cecar Arga tak suka.
"Anak Hania itu temennya Cindy, dia belum dijemput, karena Cindy ngerengek minta gue juga nganterin anaknya Hania, jadilah gue ketemu Hania", terang Iden yang sedang malas mengusili Arga.
Arga hanya diam saja mendengarkan Iden. Entah kenapa mendengar Iden bersama Hania, dirinya tidak rela.
Tadi, setibanya di kantor, Arga mencari Iden, tapi sahabat sekaligus wakilnya itu tidak ditempat sedangkan rapat yang sudah molor dari waktunya itu akan dimulai. Dia membutuhkan Iden untuk mengkroscek data keuangan perusahaan. Dikeluarkan ponselnya dari kantongnya.
"Lo dimana?", tanyanya setelah ponselnya terhubung.
"Sama Hania dong", jawabnya sengaja mengusili Arga.
"Apa!? Awas aja kalau macam-macam!" ancam Arga, emosinya terpancing.
"Gue ngga macam-macam, semacam doang. Mengagumi Hania", balas Iden sambil terkekeh.
"Don't seduce her. I'm serious!", mode posesif Arga aktif.
"What are you thinking about, man? Ya ngga mungkinlah. You know me!", tekan Iden.
"Ya, karena gue tau lo makanya gue ingetin batasan lo!" peringat Arga.
"Hell Arga! Lo pikir gue temen apaan!? Lo tau prinsip gue soal cewek. And sorry to say, Hania memang mempesona dan gue kagum sama dia tapi dia bukan tipe gue!", omel Iden.
Arga masih merasa was was Iden akan mengganggu Hania. Menjauhkan pria casanova dari wanita cantik itu akan lebih baik.
"Buruan balik kantor lo. Lo ngga lupa kan kita ada meeting sore ini? Dan lo sudah terlambat", pungkas Arga lalu memutuskan sambungan ponselnya.
Arga melempar ponselnya ke atas tumpukan kertas yang tercecer di mejanya, membuat Adi dan Dian yang sedang menyiapkan berkas di meja sofa menoleh padanya. Keduanya lalu saling melirik dan mengendikkan bahu mendapati wajah Arga yang sedang kesal.
"Kalau ngga ada lagi yang lo keluhkan, gue mau pulang", ucap Iden, menarik Arga dari lamunannya.
Arga hanya menatap sahabatnya itu. Lalu mendesah.
"You know me, man. Ini ngga mudah buat gue. Ngga mudah buat gue membuka hati gue untuk cinta yang baru", ucap Arga sendu.
Arga adalah pria matang dan mandiri. Selalu tampak tegar dan kokoh. Tapi dirinya tidak akan malu memperlihatkan sisi rapuhnya pada Iden, hanya pada Iden. Dirinya merasa pria casanova sahabatnya itu selalu bisa membuatnya percaya diri lagi. Ya. Iden adalah pria dengan tingkat percaya diri yang over dosis. Menularkan sedikit pada Arga, tidak akan mengurangi kadarnya.
Berkaca dari pria casanova itu membuatnya merasa lebih beruntung bisa merasakan hangatnya cinta dan bisa menghargai perasaan wanita.
__ADS_1
Mendengar suara Arga yang berubah sendu, dirinya menjadi tidak tega untuk tetap kesal pada sahabatnya yang karismatik itu. Kata kata sendu Arga dianggapnya sebagai permintaan maaf sahabatnya itu. Iden mendekat lalu menepuk bahu Arga memberi semangat.
"Gue akan selalu bantu lo, semampu gue, sekuat tenaga dan pikiran gue", ucapnya menenangkan Arga.
Iden sangat mengenal sifat Arga. Pria itu jika sudah menyukai seseorang, tidak akan melepaskannya lagi.
Keesokan harinya, Iden melancarkan aksinya lagi. Jam istirahat, dirinya sudah duduk manis di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah Hania yang alamatnya didapatnya dari Cindy. Kemarin dia juga mengajak Cindy untuk menunjukkan dimana rumah Tiara. Tentu saja setelah memastikan bahwa Hania tidak berada di rumahnya.
Keberadaan mobil mewah yang kinclong yang terparkir lama dan si empunya tidak kunjung turun, kontan membuat warga yang lewat jadi memperhatikannya. Bahkan ada warga yang lewat beberapa kali untuk memastikan. Namun, mobil mewah itu masih diam disana.
Tok tok tok.
Jendela kaca mobil Iden akhirnya diketuk seorang warga yang sedari tadi mondar mandir memperhatikan. Senyum tengilnya terbit. Tujuannya berhasil. Menarik perhatian. Dia membuka jendela mobilnya seraya menganggukkan kepalanya.
"Maap ya tong, lo ngapain diam aja dimari?", tanya bapak paruh baya itu dengan logat betawi.
Iden segera keluar dari mobilnya. Lalu menyalami bapak paruh baya itu. Jangan lupakan senyum semanis gulanya yang tersungging dibibir tipisnya. Si bapak menerima uluran tangan Iden. Kepalanya mendongak menelisik wajah semi blesteran milik Iden.
"Maaf ya Pak, saya mengganggu. Hmm.. Saya sedang menunggu pemilik rumah itu", tunjuk Iden menunjuk rumah Hania.
"Ooh... neng Hania?", tegas bapak itu, Iden mengangguk.
"Situ temen ato pacarnye? Soalnya dari dulu ntu banyak yang ngaku ngaku tong. Yang temen lah, pacar lah, calon suami lah. Maklum neng Hania janda kembang. Ya walaupun udah ada anaknye sih. Hehe... Dari cere sampai sekarang masih betah sendiri. Banyak itu yang mau tapi si eneng sih sante sante aje, padahal udah 5 taunan menjanda. Si Tiara juga udah gede aje", si bapak malah menggosip, lupa tujuannya mendekati Iden.
Iden mendengarkan sambil menggeleng tak percaya si bapak paruh baya itu malah mengajaknya berghibah. Haduh. Hania. Tetangga macam apa yang kamu punya ini?
"Emang dari dulu Hania tinggalnya disini ya Pak?", korek Iden.
"Kasian bener nasib si eneng. Dia sama orangtuanye pendatang dimari. Pas dia kelas 3 SMP, bapaknye meninggal. Dia udah kerja bantu bantu ibunye yang buka warung makan. Terus pas dia kuliah mau lulus apa ye dulu itu, ibunye meninggal. Dia berjuang sendirian. Istri bapak ini sampe kagak tega, tiap hari nyambangin si eneng", si bapak mengenang masa lalu Hania, Iden masih menyimak.
"Tapi syukur Alhamdulillah, kerja keras si eneng berbuah manis. Dia sukses bikin restoran gede, karyawannya banyak. Bisa buka cabang juga.", si bapak tersenyum senang menceritakan kesuksesan Hania.
Iden ikut tersenyum. Dalam hati dia makin mengagumi Hania.
"Maaf, bapak ini apanya Hania? Paman atau...?, tanya Iden sengaja menggantung kalimatnya.
"Ooh, bapak ini cuma tetangganya doang, noh rumah bapak yang pagernya warna ijo", tunjuknya pada rumah yang dimaksud.
"Cuma ya udah kayak keluarga. Dari dulu udah deket, keluarga bapak sama orangtua si eneng. Si eneng juga udah bapak anggep anak sendiri", terangnya.
Puas bertanya, Iden pun undur diri. Pikirnya lebih cepat lebih baik, sebelum bapak paruh baya itu tersadar dan bertanya tanya tujuannya mencari Hania.
Iden kembali ke kantornya. Langsung menuju ruangan Arga.
"Cantik", Iden menyapa Dian seraya melemparkan senyum semanis gulanya.
"Selamat siang Pak", balas Dian formal.
Sekretaris Arga itu memang menjaga jarak dengan Iden. Dulu mereka sempat menjalin hubungan asmara, tapi Iden yang casanova tidak pernah bisa menghargai Dian sebagai pasangannya. Setelah Dian memutuskan hubungan, Dian berubah seolah tak kenal dengan Iden.
__ADS_1
"Tambah seksi aja mantan gue ini, jadi makin nyesel gue putus dari lo", Iden mulai merayu.
"Maaf, apa bapak ada perlu dengan Pak Arga? Mohon ditunggu, Pak Arga belum kembali", Dian jengah.
Baru akan merayu lagi, pintu lift terbuka, keduanya menoleh ke arah lift, lalu muncullah sosok yang ditunggunya. Iden menatap Arga yang menyorotnya tajam.
"Panjang umur", celetuknya, Arga berdecih.
"Jangan ganggu sekretaris gue, ato sekretaris lo gue pecat", kini giliran Iden yang mendecih.
Arga berjalan melewati Dian diikuti Iden. Adi yang mengekor berhenti didepan meja Dian. Meminta agenda atasannya itu lalu masuk ke ruangan Reza yang juga ruangannya.
"Ada apa?", tanya Arga setelah duduk di kursinya lalu menyandarkan tubuhnya.
Iden duduk di depan meja kerja Arga lalu memberikan ponselnya yang mulai terdengar suara Cindy. Arga langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar nama Tiara disebut, mendengar isi rekaman itu sambil menatap Iden sekilas lalu kembali menatap ponsel itu.
Dia mendengar dengan serius. Hingga suara Cindy hilang lalu berganti suara bapak bapak. Arga mengernyitkan alisnya, lalu menatap Iden. Iden hanya menunjuk ponselnya dengan dagunya. Seolah berkata, dengarkan saja!
Arga patuh. Ekspresi wajahnya berubah ubah. Tapi yang jelas ada rasa nyeri yang menusuk hatinya. Dia dan Hania memiliki masa lalu yang sama. Dia saja sulit membuka hatinya apalagi Hania? Arga mendesah setelah rekaman itu berakhir. Seperti kehilangan kata kata, Arga hanya diam mematung.
"Ini valid?", tanya Arga memastikan.
"Of course, demi lo, man, gue sendiri yang turun tangan", ucap Iden.
"Thanks", ucap Arga seraya mengulum senyum.
Senyum Arga yang terbit tidak luput dari perhatian Iden. Ditatap lekat oleh sahabatnya yang pria casanova itu membuatnya risih.
"Gue penyuka wanita, jangan mikir aneh aneh", ujar Arga.
Iden yang mendengar ucapan Arga seketika merasa jijik.
"Kamp**t lo! Ngga nafsu gue sama lo juga!", balas Iden kesal sambil melempar bolpoinnya.
"Ya abis lo ngeliatin gue kayak lo mau nerkam gue", tukas Arga sambik terkekeh.
"Si**an lo!", umpat Iden sambil mengalihkan pandangannya.
"Gue emang laper. Belum makan gue", keluh Iden sambil menatap Arga penuh damba, mendamba ditraktir.
Arga hanya mendesah mendengar keluhan sahabatnya itu. Lalu menghubungi Dian.
"Kenapa lo? Jatuh miskin sekarang? Sampe ngga bisa beli makanan?", ejek Arga dengan ponsel sudah menempel ditelinganya menunggu jawaban.
"Halo, Dian, tolong pesenin makanan ditempat biasa. Menu yang biasa saya pesan. Satu porsi saja", perintah Arga begitu panggilannya terhubung.
"You're the best!", ucap Iden sambil mengacungkan jempolnya.
Hari itu Arga dapat tersenyum lebar. Merasa jalannya menggapai Hania terbuka.
__ADS_1
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, hadiah, dan vote nya 🤗🤗🤗