
Paksaan Arga yang memintanya menemui Ryan di makam putrinya tadi menimbulkan perasaan lega. Hania tidak mungkin terus-terusan memendam lara di hati karena perbuatan mantan suaminya dulu. Bukankah dia sudah memiliki Arga? Pria baik hati yang mencintainya dengan segala keposesifannya. Pria yang selalu memberikan rasa aman dan nyaman padanya. Jadi, kini, apalah artinya penghianatan mantan suaminya dulu yang selalu membayanginya?
Sepulang dari makam, Arga membawa Hania mengunjungi kediaman keluarga Pratama, kediaman kedua orangtua kandung Hania. Ibu Irene ingin makan siang di hari minggu itu bersama seluruh anak dan menantunya.
"Sayang, kamu udah sampe?" sambut Ibu Irene seraya memeluk Hania lalu beralih pada Arga.
"Kenapa ngga ngajakin Mama kalau mau ziarah ke makam cucu Mama. Mama 'kan juga pengen tau dan ikut doain." protes serupa juga sudah dilayangkannya tadi sewaktu wanita paruh baya itu menelepon Hania.
"Maaf, Ma. Ngga ada rencana, tiba-tiba aja pengen ke sana." alasan ini juga sudah diberikan Hania tadi sewaktu mama kandungnya protes di telepon.
"Tadinya mau ngga jadi kar'na Hania tiba-tiba mual muntah. Tapi dia ngotot, Tan." timpal Arga seraya mengekori kedua wanita beda generasi itu.
"Ma." Arga segera meralat pangilannya saat mendapat lirikan Ibu Irene.
"Kamu sakit, sayang? Iya lho, mukamu keliatan pucet. Kenapa ngga istirahat aja, sih?" omel Bu Irene seraya menuntun Hania dan mendudukkannya ke sofa panjang di ruang keluarga.
"Siapa yang sakit?" tanya Pak Pratama yang sudah duduk di ruangan itu sambil memangku cucu bayinya, anak bungsu Rendy.
"Ini lho, Pa, Hania. Kata Arga dia sedang ngga enak badan. Ayo, sayang duduk sini. Mama bikinin teh lemon, atau teh chammomile. Kamu suka teh itu 'kan? Atau kamu mau yang lain?" Bu Irene terus saja berbicara membuat rumah besar itu terkesan ramai.
"Ngga usah, Ma. Ngerepotin mama aja. Aku ngga apa-apa kok. Mas Arga aja yang lebay." tolak Hania yang tidak terbiasa dilayani.
"Ngga, Mama ngga ngerasa repot kok. Mama malah seneng, sayang." ucap Bu Irene seraya mengusap rambut Hania.
Ibu Irene berlalu dari ruang keluarga berniat membuatkan putrinya yang baru kembali itu minuman kesukaannya.
"Hai, Bro." sapa Galih yang masuk dari halaman belakang bersama Iden dan Syana.
"Lu di sini?" sapa Arga saat melihat Galih.
Ibu Irene meminta Galih juga datang ke kediamannya dan sepertinya akan menjadikan pria berwajah manis itu bagian dari keluarganya. Dari Iden, dia mengetahui bahwa Galih adalah sahabat Hania. Pria gagah itulah yang menemani Hania selama masa-masa sulit putrinya. Wanita paruh baya itu merasa berhutang budi karenanya. Sekali lagi Bu Irene merasakan lega karena Hania dikelilingi orang-orang baik hati.
Arga menyambut sahabat Hania itu dengan ber-tos ria ala pria dewasa. Lalu menganggukkan kepalanya menyapa Syana. Sementara Iden langsung mendudukkan dirinya di samping Hania.
"Kamu keliatan pucet, Dek?" sapa Iden yang spontan memanggil Hania dengan sebutan 'dek'.
"Masak, sih, Mas? Keliatan banget ya?" bukannya menjawab pertanyaan Iden, Hania malah bertanya balik.
"Lu apain adek gue, Ga?" tanya Iden beralih pada Arga yang tengah berbincang dengan Galih.
Pria tampan itu hanya menoleh sekilas ke arah Iden, sahabatnya dan sekarang menjadi kakak iparnya. Lalu mengabaikannya dengan melanjutkan obrolan bersama Galih. Arga tahu, Iden hanya memprovokasinya.
"Lu nyuekin gue? Sekarang gue kakak ipar lu, kalau lu lupa. Ngga sopan banget, sih, adek ipar gue!" cerocos Iden terus menyindir Arga.
"Suka-suka gue lah, dia istri gue! Sibuk aja lu ngurusin gue sama Hania. Nikah sono! Supaya ngga kepo sama rumah tangga orang lain!" cibir Arga membalas sindiran Iden.
Kontan saja ruang keluarga itu bertambah ramai dengan tema pernikahan. Dan yang menjadi sasaran ejekan sudah pasti para jomblo yang usianya sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga. Iden dan Galih. Syana tidak termasuk. Gadis itu masih berusia 25 tahun. Bukan usia darurat menikah.
Ting! Ting!
__ADS_1
Ibu Irene menarik perhatian seluruh tamu di meja makannya. Setelah makan, wanita paruh baya itu melarang semua orang meninggalkan tempat duduknya. Ibu Irene menggenggam tangan Hania yang duduk di sampingnya.
"Selamat datang kembali putri mama dan papa, Hania. Mama ngga tau mau ngomong apa lagi. Rasanya ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata." ucapnya seraya menatap Hania dengan mata berkaca-kaca.
Rupanya Ibu Irene ingin merayakan kembalinya putri keluarga Pratama yang lama hilang dengan acara makan-makan keluarga.
Di ujung meja, di sebelah Galih, Syana menundukkan wajahnya. Ada rasa sedih dan senang yang menyelip secara bersamaan ke dalam hatinya. Galih yang menyadari perubahan sikap Syana, menggenggam tangan gadis itu yang tersimpan di bawah meja. Menunjukkan, gadis itu tak sendiri. Entah kenapa dia bisa sepeduli itu pada Syana.
Selama ini, hanya Hania yang bisa menggerakkannya untuk melakukan tindakan semacam itu. Biasanya pria gagah itu hanya akan menunjukkan kepeduliannya pada orang lain hanya dengan bersimpati saja tanpa kontak fisik.
Diberi perhatian seperti itu, Syana menoleh ke arah Galih dan memaksakan senyumnya ketika melihat Galih yang tersenyum padanya. Gadis itu tidak merasa besar kepala atas perhatian pria yang katanya atasannya di kantor tempatnya bekerja. Galih hanya berempati padanya mungkin karena pria itu mengenalnya. Iya. Pasti begitu.
"Mama dan papa secara pribadi juga ngucapin terimakasih yang tak terhingga pada Nak Galih. Mama sama papa ngga tau gimana keadaan Hania kalau ngga ada kamu di saat-saat tersulitnya." Syana membalas genggaman Galih seraya tersenyum tulus menatapnya sebagai ungkapan ikut bergembiranya dia saat mendengar ungkapan Ibu Irene yang ditujukan pada pria berwajah teduh itu.
"Datang aja ke sini kalau kamu butuh sesuatu, ya , Nak Galih." lanjut Ibu Irene.
"Ohya, panggil saya mama dan suami mama, papa. Kamu udah seperti keluarga bagi kami." kekehan terdengar dari semua orang yang hadir karena Galih selalu lupa memanggil Ibu Irene dengan sebutan tante dan Pak Pratama dengan sebutan Oom, padahal sudah ditegur beberapa kali.
Sementara Galih hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu Irene.
"Dan, mama sama papa udah mutusin untuk membantu Syana menjalani terapi amnesianya. Dan mengangkatnya jadi salah satu bagian dari keluarga ini." lanjutnya seraya menatap Syana dengan senyum terkembang.
Terkejut? Sudah pasti. Baru saja gadis itu merasa gelisah untuk memulai hidup dengan wajah yang berbeda namun identitasnya lama. Dia sudah khawatir tidak bisa menjalani kehidupan dengan amnesia yang dideritanya.
"Kalau aku sih ngga masalah. Papa sama mama mampu banget untuk bantuin Syana terapi. Lagipula kata Galih, gadis itu sebatang kara. Dia udah ngga punya siapa-siapa lagi. Ya, itupun kalau Syana nya mau tinggal di sini. Dia keras kepala dan mandiri katanya." ucap Iden beberapa hari yang lalu saat kedua orangtuanya mengajaknya berdiskusi tentang Syana.
"Mama kasian sama dia. Ngga tau apa-apa tapi harus jadi korban keserakahan orang lain." lanjutnya berempati.
Setelah pengumuman di meja makan, satu persatu membubarkan diri. Para pria sudah merapatkan diri di taman belakang rumah. Sementara para wanita memilih duduk di ruang keluarga. Pak Pratama hanya bergabung sebentar dengan para pria. Pria paruh baya itu memilih beristirahat di kamarnya. Dan Rendy sudah pulang bersama keluarga kecilnya karena akan mengantar Cindy menghadiri pesta ulangtahun temannya.
"Menurut lu, apa wajah Syana bisa dikembalikan lagi?" tanya Galih setelah hening beberapa saat.
"Emang kenapa sama wajah dia yang sekarang? Dia tetep cantik. Mirip Hania. Gue malah kayak ngerasa dia itu mendiang Inka." seloroh Iden.
"Gue cuma aneh aja. Gue kenalnya Syana dengan dagunya yang kebelah. Manis." sahut Galih tanpa sadar memuji gadis itu.
"Iya. Kalau bisa dibalikin ke wajah aslinya mending dibalikin aja. Gue kkawatir kalau mukanya masih mirip Hania, lu ngga bakal move on-move on lagi." cibir Arga yang langsung mendapat decakan dari Galih.
Di saat bersamaan Syana muncul dan perhatian ketiga pria tampan itu teralihkan. Arga hanya menatapnya sekilas lalu mengalihkan kembali pandangannya. Diraihnya cangkir kopi yang sudah dingin miliknya lalu menyeruputnya. Sementara Iden dan Galih masih memperhatikan gadis itu berjalan mendekat.
"Gue ke dalam dulu, nyari Hania." Arga bangkit dari duduknya setelah menghabiskan kopi dinginnya dan meninggalkan kedua pria itu bersama Syana.
Arga berpapasan dengan Syana dan hanya menganggukkan kepalanya begitu pula Syana. Gadis itu bingung, mau menyapa tapi Arga bahkan meliriknya pun tidak. Pria itu begitu dingin hingga membuatnya serba salah dan kikuk saat bertemu. Syana menghela napasnya seraya menatap punggung Arga yang menjauh.
"Apa Kak Arga ngga suka sama aku karena aku mirip Kak Hania?" tanyanya polos pada kedua pria di hadapannya.
"Dia memang begitu kalau sama perempuan. Dingin. Ngga usah baper." saran Iden.
"Tapi aku jadi ngga enak." lirihnya.
__ADS_1
"Udah. Dibilang ngga usah baper juga. Kamu mau ngapain kesini?" sambar Galih.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Syana baru akan menjawab pertanyaan Galih, namun ponsel Iden yang terletak di meja kaca di depannya bergetar bagai lebah. Pria blesteran itu hanya menggerakkan bibirnya mengatakan, sorry.
Sambil berlalu, Iden mengangkat panggilan di ponselnya. Semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu
Tinggallah Galih dan Syana. Syana yang duduk berseberangan dengan Galih tampak ragu-ragu membuka obrolan.
"Ada apa Syana?" tanya Galih tak sabar dengan suara tenang
Hah. Pria berwajah manis itu tidak pernah merasa penasaran pada wanita selain Hania. Gadis itu yang kedua.
"Kak. Kapan kakak ke Bandung? Boleh aku ikut ke sana? Umm... Aku ngga inget mana-mana. Aku mau pulang ke rumahku." ucapnya to the point.
Galih mendesah. Pasalnya pria gagah itu tidak akan menetap lama di Bandung karena dia akan segera kembali ke Singapura. Dia bisa berada di tanah air lebih lama karena campur tangan Arga yang meminta Galih sebagai perwakilan dari perusahaan mitranya.
Keterlibatannya dalam masalah gadis itu membuatnya tidak tega membiarkannya sendirian di kota itu. Lagipula, keberadaannya yang tidak diketahui selama sebulan lebih ini, membuat perusahaan mengeluarkannya. Praktis gadis itu sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Bahkan kabar yang di dapatnya, gadis itu menjadi tersangka penggelapan dana perusahaan. Dia bimbang.
"Apa ngga sebaiknya kamu tetap di sini? Tinggal di sini. Bukankah mereka menerimamu sebagai anggota keluarga? Untuk apa kembali ke Bandung kalau kamu bisa bekerja di perusahaan keluarga ini?" saran Galih.
"Tapi aku kerjanya 'kan di sana. Aku harus 'ngasih penjelasan supaya mereka ngga mecat aku. Atau paling ngga aku bisa ngundurin diri dengan baik." ucap Syana tahu diri.
"Ngga perlu, Syana. Kamu udah dipecat. Dan parahnya lagi ada yang manfaatin ketidakhadiranmu dengan fitnah kamu 'nggelapin dana perusahaan." terang Arga.
"Apa!? Kakak tau dari mana? Kenapa ngga langsung 'ngasih tau aku?" protes Syana.
Gadis 25 tahun itu terkejut. Lagi-lagi dia dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Gadis itu menunduk, dalam hatinya meratapi nasibnya yang selalu tidak sesuai dengan harapannya.
"Sorry. Bukannya ngga mau 'ngasih tau. Tapi kamu bahkan ngga inget siapa kamu? Memangnya kalau aku ngomong ke kamu, apa yang bakal kamu lakuin?" Syana terdiam.
Benar. Dia bahkan lupa siapa dirinya. Bagaimana dia bisa membela diri?
"Trus aku harus gimana? Kakak mau bantuin aku 'kan? Aku harus bersihin namaku." pintanya dengan mata berkaca-kaca.
Galih mendesah lagi. Kenapa dia lemah saat melihat mata Syana yang berkaca-kaca? Dia tak habis pikir. Dirinya belum lama mengenal Syana, dan lagi hubungan mereka tidaklah dekat. Tapi kenapa seolah-olah dia merasa akan melakukan apa saja untuk gadis itu? Sama seperti pada Hania.
"Kamu ngga mau minta tolong sama keluarga Pratama?" tanya Galih lagi.
"Aku sungkan, rasanya ngga enak manfaatin mereka. Nanti malah ngerepotin." ungkapnya.
"Hum? Denganku kamu ngga sungkan? Ngga ngerasa ngga enak hati? Ngga ngerasa ngerepotin?" kekeh Galih.
Eh? Syana menundukkan kepalanya.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1