
Mimpi semalam membuat Tiara merasa tidak nyaman hari ini. Gadis kecil itu tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Selain itu, dia tidak ingin membuat ibunya menjadi sedih. Bahkan kehadiran Galih yang biasanya selalu membuatnya senang, kini, tidak bisa mengusir perasaan tidak nyaman itu. Tawa yang terbit pun hanya untuk menutupi perasaan hatinya yang tidak nyaman. Gadis kecil itu tidak ingin Hania mencemaskannya.
Tiara senang-senang saja ketika Galih menawarkan diri mengantarnya ke sekolah. Akan lebih baik menghindari ibunya. Berada dekat-dekat dengan ibunya saat ini hanya akan membuat ibunya mencurigai sikapnya. Layaknya seorang ibu yang mengenal anaknya dengan baik, begitu pula dengan mamanya. Mamanya bisa langsung tahu jika Tiara sedang memikirkan sesuatu atau mengalami sesuatu. Kecuali dia bisa menutupinya dengan sikap cerianya tapi sepertinya mimpi semalam sangat mempengaruhi suasana hatinya.
Tiara sedang memperhatikan arah lain ketika Hania tiba di samping putrinya. Hania sampai ikut melihat ke arah yang dilihat gadis kecil itu. Seorang temannya yang sedang bercengkrama dengan seorang pria dewasa, terlihat akrab dan manja. Mungkin ayahnya. Pikir Hania. Hania juga melihat wajah Tiara yang muram. Ada kesedihan terpancar disana. Hania mendesah. Dia tahu yang sedang dipikirkan putrinya. Hatinya nyeri.
"Sayang?", sapa Hania, wanita itu tidak tega melihat Tiara menyaksikan pemandangan yang membuatnya iri.
Wanita cantik bermata kelinci itu langsung tersenyum begitu Tiara menoleh kearahnya. Kembali menyembunyikan rasa sedihnya kedasar hatinya. Tiara juga langsung membalas senyuman ibunya. Menyembunyikan rasa sedihnya dari ibunya.
"Udah dari tadi nunggunya? Maaf ya Mama telat lagi", Hania mendudukkan dirinya di samping putrinya.
Tiara menggeleng lalu memeluk ibunya.
"Kangen Ma...", rengek gadis kecil itu, membuat Hania terkekeh.
"Kamu ini, ada-ada aja deh. Baru tadi pagi kita pisahan sore udah ketemu lagi, masak kangen sih?", Hania membalas pelukan putrinya dengan erat.
Ada perasaan aneh yang menjalar dihatinya. Entahlah. Wanita cantik itu merasakan putrinya lebih manja dari biasanya, sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Apalagi melihat wajahnya yang muram, tidak biasanya Tiara begitu.
"Gimana tadi sekolahnya? Pasti seneng dong ketemu temen-temen", tanya Hania setelah mobilya melaju dijalan raya.
"Iya, seneng", sahut Tiara singkat.
Hania menoleh menatap wajah putrinya memastikan gadis kecil itu baik-baik saja. Wanita cantik itu memperhatikan ekspresi diraut wajah polos Tiara. Masih muram.
__ADS_1
Merasa diperhatikan ibunya, Tiara menoleh lalu tersenyum pada Hania. Gadis kecil itu sangat peka perasaannya. Dia seperti terlatih bersikap dewasa dan menyenangkan ibunya. Terbiasa menyembunyikan kesedihannya dan memaklumi kesibukan sang ibu.
Hania kembali fokus berkendara, sementara Tiara mengalihkan pandangannya keluar jendela disampingnya. Memperhatikan pengendara lainnya dan pejalan kaki di trotoar atau pedagang kaki lima di tepi jalan yang bahkan meluber ke trotoar dan mengganggu pejalan kaki. Sungguh pemandangan yang tidak bisa menghiburnya. Malah membuatnya semakin sesak.
Meski fokus berkendara, pikiran Hania tertuju pada Tiara. Gadis itu lebih pendiam sekarang. Biasanya putrinya itu akan terus berceloteh menceritakan kesehariannya disekolah bersama teman-temannya. Hania sesekali melirik Tiara yang sedang menatap keluar jendela mobil. Tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang muram terdiam termangu menatap kosong pemandangan didepannya. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya sakit. Hati Hania seperti teriris.
"Mau beli sesuatu? Snack? Susu? Es krim?", tawar Hania seraya menoleh pada Tiara ketika melewati sebuah supermarket. Kebiasaannya setiap pulang sekolah.
"Mau es krim aja, Ma", sahut Tiara setelah lama terdiam. Tentu saja gadis kecil itu tidak benar-benar menginginkannya. Dia hanya melakukan kebiasaannya saja. Jika dihari lain, dialah yang meminta sang ibu membelikan ini dan itu. Hari ini dia memilih satu kesukaannya saja.
Hania membelokkan mobilnya ke supermarket yang dilaluinya. Ibu dan anak itu melangkah sambil bergandengan tangan. Tiara masih dengan diamnya, hanya sesekali menyahut ketika Hania bertanya.
Disalah satu sudut sebuah kafe, Hania dan Tiara duduk berhadap-hadapan dengan semangkuk es krim rasa stroberi pesanan Tiara dan secangkir machiato milik Hania.
Tiara terus menyantap es krim itu tanpa mengeluarkan suara seperti biasanya. Dan hal itu membuat Hania tidak tahan lagi. Wanita cantik itu mendesah.
"Ma, rasanya punya papa itu apa kayak aku dekat sama Oom Arga ya?", pertanyaan polos Tiara seketika membuat mata Hania terbelalak. Hatinya seperti disayat sembilu.
Diakuinya, Tiara memang tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. Sejak lahir hanya Galih lah pria yang selalu memberi dukungan dan menemani. Memberikan kasih sayangnya pada bayi merah yang dilahirkan Hania. Hingga bayi itu beranjak besar tumbuh menjadi anak-anak yang tidak kurang kasih sayang. Tapi walau bagaimanapun, Galih tetaplah orang luar. Dan kini, putrinya dekat dengan Arga. Mungkin gadis kecil itu merasa lebih nyaman bersama pria tampan itu. Mungkin gadis kecil itu lebih merasakan kasih sayang seorang ayah dari Arga.
"Ngga sayang, itu beda. Oom Arga sama dengan Oom Galih. Sama-sama sayang sama Tiara tapi mereka bukan keluarga kita", sangkal Hania.
"Tapi Oom Arga sayang banget sama kita", kukuh Tiara.
Ah, putrinya itu membuatnya bingung. Disaat dirinya sibuk menyangkal perhatian Arga yang berlebihan agar dirinya tidak salah paham, eh, putrinya itu malah berandai-andai. Apakah gadis kecil itu ingin bertemu ayahnya? Merasakan kasih sayang ayahnya? Apakah selama ini dirinya egois tidak mempertemukan Tiara dengan ayah kandungnya? Atau gadis kecil itu berharap Arga menjadi ayahnya? Hania terbelalak karena pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba Tiara mikir begitu?", Hania menekan egonya. Ingin sekali melarang Tiara untuk membicarakan sosok bernama ayah.
"Kata temenku, punya papa itu enak. Kita bisa minta apa aja sama papa. Papanya temenku sering ngajak temenku jalan-jalan. Ngajak main juga. Terus kita akan selalu dibela kalau ada yang ganggu kita", kata demi kata yang terucap dari bibir mungil Tiara terasa mengiris hatinya.
"Oom Arga juga gitu, ya kan, Ma? Ngajakin kita jalan-jalan, ngajakin aku main, nurutin aku. Oom Arga juga pernah bilang kalau sayang sama aku", lanjut gadis kecil itu tanpa tahu bahwa setiap ucapannya bagai sebuah silet tajam yang menyayat hatinya.
Tiara sudah semakin besar jadi mungkin bisa merasakan perlakuan istimewa Arga padanya dan menganggapnya sebagai perlakuan seorang ayah pada putrinya. Begitu pikir Hania. Wanita cantik itu jelas tidak akan membiarkan putrinya memiliki harapan yang tidak mungkin tercapai.
"Apa Tiara pengen ketemu papa?", Hania terpaksa menanyakan kemungkinan itu.
Meski rasanya sakit tapi akan lebih baik jika menuntut pada mantan suaminya. Bukankah Ryan ingin mengenal putrinya? Meski akhirnya dia jadi teringat kembali penolakan yang dilakukan Ryan, mantan suaminya sekaligus ayah kandung Tiara yang berbentuk penghianatan.
Dirinya tidak akan berharap pada Arga. Dia jadi takut berharap pada Arga. Pria tampan dan mapan yang dipuja banyak wanita cantik yang sepadan dengan pria itu. Sangat jauh jika dibandingkan dengannya. Sungguh Hania tidak ingin salah paham dan mengartikan lain semua perhatian Arga padanya maupun pada Tiara, putrinya. Tanpa sadar air mata lolos membasahi pipi mulus Hania. Tiara yang melihatnya jadi terkejut.
"Ma? Mama kenapa nangis? Maafin aku ya Ma. A aku ngga akan begitu lagi, aku janji Ma. A aku ng ngga apa-apa ngga punya papa asal mama ngga sedih", Tiara ikut menangis sambil mengucapkan kata-kata penghiburan untuk Hania.
Bukannya surut, air mata Hania terus lolos dari mata kelincinya. Sesekali wanita cantik itu mengusapnya. Wanita itu menangis tanpa suara, menatap wajah putrinya. Dia bersyukur wajah itu mirip dengannya, kecuali bentuk hidungnya yang bangir seperti ayah kandungnya. Suara tangis Tiara yang terisak menarik perhatian pengunjung yang lainnya. Awalnya Hania tidak memperhatikan namun kasak kusuk semakin terdengar jelas dan hampir semua mata menatap kearahnya dan putrinya.
"Sayang, udah ya, jangan nangis lagi. Mama ngga apa-apa", rayu Hania seraya menggenggam jemari putrinya.
"Mama ma maafin a aku ka kan?", ucap Tiara sesenggukan.
Hania hanya mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya. Air matanya sudah mengering menyisakan bulu mata yang basah dan mata yang sembab. Tiara langsung menghapus air mata yang mengalir dipipi gembilnya dibantu Hania sambil sesekali menahan isak. Setelah tenang, Hania mengajak Tiara pulang. Rasanya wanita itu sangat lelah hari ini.
*******
__ADS_1
Thanks for reading!