Yang Terakhir

Yang Terakhir
135. Arga VS Raka


__ADS_3

Klek!


Suara pintu terbuka dari luar, membuat Raka yang berdiri di dekat jendela mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang kini tengah terbuka dan menampilkan sosok pria yang sangat ingin dijumpainya. Arga. Tatapannya menyorot tajam dan penuh amarah.


"Cih! Lu datang?" Raka berdecih dan dan membalik tubuhnya berhadapan denganArga tapi tetap berdiri di tempatnya, tak beranjak sedikit pun.


Arga masih berdiri di depan pintu yang terbuka setengahnya. Pria itu masih berusaha mengendalikan emosinya yang meletup-letup. Mengingat perlakuan Raka padanya melalui Hania dan Tiara membuatnya ingin menghajarnya habis-habisan, bahkan ingin sekali melenyapkan pria yang tak kalah atletis itu. Sorot matanya tak kalah tajam dengan Raka. Hatinya berdenyut sangat nyeri menatap pria yang dulu adalah sahabatnya itu. Antara benci dan rindu.


"Apa maksud lu nyekap gue di sini? Kenapa ngga sekalian aja lu serahin gue ke polisi, hah!?" seru Raka dengan rahang mengeras.


Raka juga kesal karena Arga hanya menyekapnya dan tidak berbuat apapun padanya. Mantan sahabatnya itu seperti memasungnya.


"Kenapa? Apa luka-luka di muka sama badan lu udah sembuh? Jadi lu kangen sama bogem gue." Arga tidak berminat menjawab pertanyaan Raka, pria karismatik itu justru balik bertanya, pertanyaan yang membuat Raka terkekeh masam.


"Gue... Lu pikir dengan ngurung gue di sini, gue bakal minta lu maafin gue?" ucap Raka.


Arga menatap Raka dengan tatapan tak percaya. Sedalam itukah dendam yang bersarang di hatinya? Hingga melupakan persahabatan yang terjalin sejak lama di antara mereka? Pria karismatik itu tak percaya jika sahabatnya itu akan tega menyakitinya begitu dalam dengan sengaja. Tak tahukah mantan sahabatnya itu jika dirinya terluka sekarang?


"Gue bisa aja nyerahin lu ke pihak yang berwajib, atau langsung mukulin lu sampai mati! Tapi gue ngga akan puas kalau cuma begitu." ucap Arga penuh penekan dan dengan raut wajah yang dingin.


"Yang lu lakuin ke gue ngga sebanding dengan yang lu tuduhin ke gue!" tekan Arga.


Raka berdecak. Dia tidak terima kematian gadis yang dicintainya dianggap ngga ada apa-apanya jika dibandingkan perbuatannya pada Arga. Seolah perbuatannya lebih kejam.

__ADS_1


"Lu pikir selama ini gue baik-baik saja setelah cewe yang gue cintai mati karena lu!? Cih! Gue ngga baik-baik aja! Apalagi ngeliat kehidupan lu yang selalu baik-baik aja! Gue yang kehilangan dan terluka sementara lu ngga pernah ngerasa bersalah!" Raka meradang dan berucap penuh emosi.


"Lu buta, man! Apa hubungannya dengan penolakan yang gue lakuin ke cewe itu dengan keputusannya untuk bunuh diri!? Apa gue memprovokasi dia buat bunuh diri!? Apa gue nolak dia dengan cara yang buat dia malu!? Atau gue koar-koar kalau gue udah nolak dia!? Lu pikir, man! Pake otak lu yang encer itu buat mikir! Bukan cinta buta lu!" ucap Arga dengan emosi yang mulai terpancing.


Raka membuang wajahnya ke arah luar jendela. Menatap gelapnya malam yang dingin di luar sana. Dia mendesah. Iden juga pernah berkata begitu. Dirinya juga tahu jika Arga tidak langsung menolak ungkapan perasaan gadis cantik yang jadi pujaannya itu. Tapi tetap saja karena penolakan Arga, gadis pujaannya meregang nyawa.


Sementara Arga masih berdiri di depan pintu tapi kini sudah tertutup rapat. Anak buahnya siaga menanti di luar pintu. Sungguh pria itu setengah mati menahan emosi yang sudah siap meledak. Dirinya tidak ingin lepas kontrol. Mereka hanya berdua saja di dalam ruangan yang cukup luas itu. Arga takut jika sampai emosi menguasainya tidak akan ada yang menahannya.


"Gue ngga nyangka selama ini gue punya sahabat kayak lu. Yang tega nusuk gue dari belakang!" ucap Arga dengan sorot mata yang menatap tajam ke arah Raka.


Raka berdecih. Melirik Arga sekilas lalu menatap ke luar jendela lagi.


"Lu ngga cuma ngehancurin gue tapi juga Hania. Dia ngga salah apa-apa, man." ucap Arga dengan suara bergetar.


"Salahnya cuma dia deket sama gue! Ngga ada hubungannya sama elu! Lu bahkan ngga kenal dia! Dan elu sukses hancurin kita berdua! Gue sama Hania sekaligus!" Arga menekan setiap kata-kata yang terucap dari bibir yang dianggap seksi oleh Hania itu.


Iya. Raka tidak mengenal Hania. Mereka bahkan baru bertemu ketika Arga harus dirawat karena over dosis obat perangsang. Pria itu langsung tahu jika Hania adalah wanita yang istimewa bagi Arga. Bagaimana kehadiran wanita itu memberi pengaruh yang tidak disukainya pada Arga. Menjadikan mantan sahabatnya itu pria yang berbahagia. Lagi.


Segala upaya pernah dilakukannya pada Arga. Termasuk menghancurkan pernikahannya dahulu. Tapi itu seperti gayung yang bersambut. Dengan istri yang tak setia dan Arga yang terlalu sibuk mengurus perusahaannya. Raka hanya perlu memberinya sedikit umpan. Dan boom! Umpannya meledakkan keharmonisan keluarga kecil itu.


Ditambah kematian Devan, putra semata wayang mantan sahabatnya itu, seperti bonus baginya. Keinginannya menghancurkan Arga tercapai. Tapi di luar dugaannya. Arga bangkit lebih cepat dari keterpurukannya. Bahkan melampaui pencapaiannya sebelumnya. Membuat dendamnya bersemi lagi.


"Hania memang ngga salah apa-apa. Sama seperti Rindy gue! Dia hanya terlalu depresi menerima penolakan lu! Harusnya lu bisa lihat dari ketulusannya dia waktu nyatain perasaannya ke elu. Tapi lu cuma diam! Lu diam, man! Sikap lu itu udah menjadi jawaban lu! Rindy merasa ditolak meski lu ngga ngomong saat itu juga!" ucap Raka penuh emosi dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


Lagi-lagi Arga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mantan sahabatnya itu terlalu dibutakan perasaan cintanya pada Rindy dan juga keras kepala.


"Udah gue bilang berapa kali ke elu. Gue tau lu cinta sama dia. Dan gue ngga! Gue ngga mungkin maksain perasaan gue ke dia yang jelas-jelas ngga cinta! Kalapun misalnya gue juga suka sama dia, gue juga ngga akan nerima dia. Gue ngga akan nyakitin sahabat gue. Gue ngga akan ngehancurin persahabatan kita cuma karena seorang cewe yang belum tentu bakal jadi poros hidup kita nantinya!" seru Arga tak kalah emosinya.


"Lu buta! Dibutain sama perasaan cinta lu ke dia! Tapi lu juga pengecut! Kenapa lu ngga bener-bener jagain dia termasuk perasaannya. Kenapa lu ngga tembak aja dia! Nyatain perasaan lu ke dia, brengsek!" maki Arga kesal.


"Seandainya dia tahu perasaan lu ke dia, bisa jadi 'kan saat ini dia masih ada dan kalian udah bahagia. Tapi sayang lu pengecut! Dan sekarang lu nyesel 'kan!? Trus lu limpahin semua penyesalan lu ke gue!" geram Arga seraya mencengkeram kerah kaos Raka.


Raka terkejut tiba-tiba Arga sudah berada di hadapannya dan kini tengah mencengkram kaosnya dan mendorong lalu menekannya ke arah jendela yang berteralis besi di belakangnya.


Bukannya melawan atau berusaha melepas cengkraman Arga, Raka justru terkekeh. Pria itu menertawakan dirinya yang dikatakan pengecut oleh mantan sahabatnya itu. Bukannya tidak pernah mencoba menyatakan perasaannya pada gadis pujaannya. Raka pernah melakukannya. Hanya saja memang terselubung.


Iya. Seandainya saja dirinya lantang menyatakan perasaannya pada Rindy waktu itu dan membiarkan gadis pujaannya tahu bagaimana besar cintanya, dan memperjuangkan gadis itu, menarik perhatiannya agar sepenuhnya tertuju padanya, mungkin apa yang dikatakan Arga itu benar.


Dan saat ini dirinya sedang menyesali tekadnya yang tidak sebesar rasa cintanya pada Rindy. Dia pengecut. Lagi-lagi Raka terkekeh. Dan sekali lagi pria yang memiliki kadar ketampanan di atas rata-rata itu harus mengakui jika yang dikatakan mantan sahabatnya itu benar. Dia menyesal.


"Maaf, Hania. Maafin aku." batin Raka.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah ya.... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2