Yang Terakhir

Yang Terakhir
142. Sah!


__ADS_3

Dana menatap lekat Arga. Pria bergelar dokter itu masih terkejut dengan keinginan Arga yang ingin menikahi kekasihnya besok di hadapan sang Ibu, yang berarti beberapa orang akan berada di dalam ruangan steril tempat sang Ibu dirawat.


"Kenapa ngga nunggu ibu sadar dari komanya dulu sih? Sebegitu kebeletnya sampe ngga sabaran gitu." cibir Dana yang hanya disambut kekehan oleh Arga.


"Ibu 'kan juga pingin liat kamu nikah, bro. Beliau yang paling berharap kamu secepatnya punya pendamping lagi." lanjut Dana yang masih belum mengerti jalan pikiran adik angkatnya itu.


Arga hanya menanggapi protes Dana dengan tersenyum atau terkekeh. Tidak mungkin dirinya mengatakan alasannya pada kakak angkatnya itu. Pria berwajah teduh itu pasti akan langsung menentangnya. Mengatainya egois dan tidak memikirkan pandangan orang tentang pernikahannya yang terkesan buru-buru.


"Aku cuma pingin cepet-cepet nikahin Hania, Bang. Kali aja, dengan aku nikah, Ibu cepet bangun." Arga berusaha meyakinkan Dana.


"Ck! Teori dari mana itu? Ngga ada hubungannya antara mendengar kamu nikah sama Ibu yang cepet bangun dari koma." sergah Dana.


"Kata Abang. Ibu kalau denger berita-berita bagus bisa cepet bangun." sahut Arga membela diri.


Dana menghembuskan napas berat. Ya. Dirinya pernah menyarankan Arga dan Hania untuk berbagi kabar atau cerita yang bagus yang baik untuk merangsang saraf di otak-otaknya, sama sekali tidak pernah mengatakan sang Ibu akan cepat sadar dari komanya. Dana menggeleng-gelengkan kepalanya. Adiknya yang cerdas mandraguna itu kenapa suka sekali menyalah artikan maksudnya.


"Bukan begitu maksudku! Kamu jangan suka 'ngambil kesimpulan sendiri ya!" kesal Dana seraya melemparkan tutup bolpoin ke arah Arga yang tepat mengenai jidatnya.


Arga terkekeh melihat Dana yang tampak emosi itu. Terlihat lucu ketika Dana mulai terpancing begitu. Dokter tampan itu biasanya tenang dan datar-datar saja.


"Jadi, gimana Bang? Aku ngga mungkin nikah di kua. Apa perlu kutelponin Darren?" tuntut Arga membuat Dana meliriknya tajam.


"Ck! Anak itu pasti ngga mau ribet. Urusan pasien itu urusanku, urusan dia bisnis." sergah Dana.


Arga terkekeh lagi.


"Ya, terus? Aku bisa aja ngelakuin semua sendiri tapi aku punya kamu, Bang. Abang yang paling tau kondisi Ibu." ucap Arga mulai menekan Dana.


Dana yang sudah hafal luar kepala karakter Arga hanya bisa mendesah. Pria tampan di depannya itu memang pandai mengintimidasi orang. Tapi dirinya tidak mudah merasa terintimidasi. Sebagai kakak laki-laki dia lah yang menjadi pendukung adiknya.


"Dukung aku, Bang. Aku cuma menyegerakan niat baik. Kali ini aku ngga akan mundur." tegas Arga.


Dana mendesah lagi. Berurusan dengan Arga jadi membuatnya sering mendesah.


"Besok jam berapa?" senyum lebar Arga seketika merekah mendengar pertanyaan Dana.


Pria karismatik itu langsung merangsek maju, memeluk Dana.


"Thank you, Bang. I know you feel me." ucap Arga dengan wajah berbinar.


Cup. Arga mencium pipi Dana. Reaksi yang ditunjukkan Arga pada Dana sejak kecil. Pria tampan itu tahu Dana tidak suka tindakan dramatis itu dilakukan padanya. Arga hanya suka usil pada dokter dingin itu.


"Apaan, sih!? Ga!" sentak Dana risih dan berusaha melepaskan pelukan Arga padanya.


Sementara Dana masih berusaha menjauhkan Arga darinya, tiba-tiba seorang perawat yang menjadi asistennya memasuki ruangannya. Perawat itu sedikit terkejut melihat dokter karismatik itu sedang berpelukan dengan Arga, namun sejurus kemudian hanya bisa mengulum senyum. Dia tahu Arga adalah adik dokter Dana, dan merasa lucu ketika melihat dua pria dewasa yang dikenalnya dingin dan datar itu berpelukan.


"Maaf, dok. Pasien, eh, Ibu anda sudah...." ucapan sang perawat terpotong.

__ADS_1


Mendengar perkataan perawat yang belum selesai tadi Arga dan Dana langsung berlari keluar ruangan seolah berlomba mencapai ruang icu. Rasa khawatir lebih mendominasi setiap mendengar perawat menyampaikan perihal kondisi sang Ibu. Membuat sang perawat itu melongo.


Sesampainya di depan ruang icu. Arga berhenti dan Dana langsung menerobos masuk seraya memakai baju khususnya dibantu perawat yang sudah ada di sana. Sudah ada Hania yang menunggu di luar ruangan itu, duduk di sofa yang tersedia di sana.


"Mas." ucap Hania ketika melihat Arga menghampirinya.


"Ibu kenapa?" tanya Arga lirih seraya mendudukkan tubuhnya di samping Hania.


"Tadi Ibu buka matanya, Mas." sahut Hania seraya tersenyum.


"Alhamdulillah." lirih Arga.


Pria tampan itu langsung memeluk Hania dan menumpahkan segala gejolak di hatinya. Dia menangis sesenggukkan menumpahkan rasa harunya, sementara Hania mengusap punggung kekar pria itu.


Berselang setengah jam, Dana baru keluar dari ruangan dimana sang Ibu dirawat dengan senyum sumringah.


"Kayaknya keinginanmu, Ibu nyaksiin kamu nikah terwujud deh." goda Dana seraya meninju pelan lengan Arga.


"Masuk sana!" perintahnya kemudian lalu melemparkan senyumnya pada Hania.


"Selamat, ya." ucapnya pada Hania.


"Iya, dok. Makasih." sahut Hania seraya tersenyum manis.


Arga segera menemui sang Ibu yang sudah tersadar dari komanya sepeninggal Dana. Meski sudah sadar, sang Ibu masih harus diobservasi di ruang icu itu. Dilihatnya sang Ibu menatapnya sekilas lalu terpejam lagi.


"Arga." Arga menangis lagi mendengar wanita paruh baya itu memanggil namanya dengan suara yang masih lemah, nyaris tak terdengar.


Arga menundukkan kepalanya bertumpu pada tepian ranjang seraya terisak. Pria itu begitu merindukan ibunya. 8 hari tidak mendengar suaranya membuatnya seperti kehilangan orangtua. Dan semakin sesenggukan ketika wanita paruh baya itu mengusap rambut hitamnya yang lebat dengan lembut. Hatinya terasa hangat.


Reza sedang menunggu di luar ruangan ketika Arga baru selesai berbincang dengan sang Ibu. Kondisinya yang masih lemah, membuatnya tidak bisa berlama-lama berada di dalam sana. Wanita paruh baya itu masih membutuhkan waktu beristirahat yang lebih banyak. Terlihat pria itu sedang menyapa Hania.


"Selamat sore, Bu. Apa kabar?" sapa Reza seraya menganggukkan kepalanya tanda hormat.


"Sore juga, Mas Reza. Alhamdulillah saya lebih baik sekarang. Makasih." sahut Hania seraya tersenyum manis membuat Reza kikuk membalasnya.


"Um... Maaf ya, Mas, Saya dan Mas Arga jadi ngerepotin Mas Reza untuk 'ngurus keperluan kami." ucap Hania dengan tulus.


Ucapan Hania membuatnya semakin salah tingkah. Pria berkacamata itu hanya bisa mengusap tengkuknya seraya meringis. Pria itu malah merasa tidak enak karena kekasih bosnya yang sebentar lagi akan menjadi bosnya juga, malah meminta maaf karena merepotkannya. Ya memang merepotkan sih. Tapi memang itu sudah tugasnya bukan?


"Sudah tugas saya Bu. Tidak perlu sungkan." ucap Reza yang sudah kembali ke mode normalnya dengan wajah dan suara datar ketika melihat Arga mendekat.


"Selamat sore, Pak." sapa Reza seraya mengangguk hormat yang hanya dibalas anggukan oleh Arga.


"Saya ikut senang, Ibu negara sudah tersadar dari komanya. Semoga lekas pulih." lanjut Reza.


"Makasih." sahut Arga singkat.

__ADS_1


"Ibu ingin ketemu kamu, honey. Kamu masuk pelan-pelan, ya." pinta Arga yang diangguki Hania.


"Saya ke dalam dulu, Mas Reza." ucap Hania kemudian berlalu meninggalkan Arga dan Reza.


Reza masih terpukau dengan sikap Hania yang juga memperlakukannya dengan baik. Berbeda dengan mantan istri atau wanita-wanita yang pernah dekat dengan atasannya. Pantas saja bosnya kasmaran maksimal pada wanita berhati lembut itu.


"Ehem!" Arga berdehem seraya menghunuskan tatapan tajamnya menyadarkan Reza yang masih menatap Hania yang berjalan menuju ruang icu membuat Reza terkesiap dan menyadari kelancangannya, secara impulsif pria manis itu menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Ini, Pak. Dokumen yang anda butuhkan. Besok akad nikah anda jam 9 pagi." ucap Reza menyerahkan sebuah amplop coklat pada Arga, bermaksud mengalihkan perhatian bosnya itu.


Arga menerima amplop itu dan memeriksa isinya, lalu menganggukkan kepalanya.


"Makasih. Tolong kamu atur semua. Aku hanya ingin akad nikah ini dihadiri keluarga saja. Hubungi Darren dan Rizal. Itu saja. Tidak perlu mengundang siapa-siapa lagi. Termasuk keluarga Ibu." perintah Arga.


"Dari pihak Ibu Hania, Pak?" mendengar pertanyaan Reza seketika pria karismatik itu teringat Galih dan dia tak suka itu, tapi dia sudah berjanji mengizinkan Galih hadir.


"Undang Ferry dan Lisa aja!" perintah Arga lagi yang diangguki Reza.


"Oh iya, Mas Harry apa masih di Jepang? Hania pasti ingin mereka hadir juga." imbuhnya.


"Menurut kabar terakhir, Pak Harry dan Ibu masih berada di Jepang, Pak. Terakhir saya kontak dengan beliau 2 minggu yang lalu saat beliau menanyakan kabar Bu Hania. Nanti saya konfirmasi lagi." terang Reza, Arga hanya mengangguk.


Keesokannya, Hania tercengang mendapati ruang pertemuan di dalam rumah sakit itu disulap menjadi tempatnya melangsungkan akad nikah bersama Arga. Ruangan seluas 10x8 meter persegi itu sudah seperti hall hotel yang dihias untuk resepsi pernikahan hanya saja sedikit lebih sederhana.


"Ayo, Bu. Pak Ganteng udah nungguin, kayaknya udah ngga sabar tuh." ajak Lisa yang mendampinginya.


Hania menatap Arga yang terlihat berkali lipat lebih tampan dan berkarisma dari biasanya dengan setelan jas putih tulang dan celana bahan dengan warna yang sama dengan atasannya. Senada dengan kebaya yang membalut tubuh rampingnya yang membuatnya anggun dan semakin menampilkan aura cantiknya. Riasan natural membuatnya tampak lebih muda.


Arga menatap lekat wanita pujaannya yang berjalan ke arahnya tanpa berkedip. Pria tampan itu begitu terpesona. Aura Hania terpancar sempurna membuatnya merasa jatuh cinta berkali-kali pada wanita berhati lembut itu.


Galih hadir juga di sana. Hania sendiri yang memintanya datang untuk menyaksikan hari bahagianya. Meskipun hatinya rasanya sakit seperti diiris-iris sembilu, tapi pria gagah itu tetap tersenyum untuk Hania.


Sang Ibu datang belakangan. Dengan selang oksigen dan infus yang masih terpasang, wanita paruh baya itu tak kalah bahagianya. Senyumnya selalu terukir di wajah cantiknya. Sesekali ibunya Arga itu mengusap air mata yang tidak sopan meluncur di pipinya yang mulai keriput.


Akad nikah berlangsung sakral dan khidmat. Arga benar-benar menjadikan acara itu begitu intim. Hanya orang-orang terdekat saja yang hadir. Bahkan Darren yang sedang berada di luar negeri langsung terbang saat itu juga. Pulang ke tanah air. Dan baru tiba sejam sebelum acara berlangsung.


Sah!


Sah!


Sah!


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya...

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2