
"Mba? Itu bukannya Pak Ferdi yang dulu pernah kerjasama sama kita 'kan?" tanya Ferry sambil menatap punggung Ferdi yang sudah menjauh.
Hania menoleh ke arah Ferry yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Dia hanya menjawab dengan anggukan dan helaan napas. Wanita cantik itu enggan membicarakan Ferdi. Meskipun hanya memberikan komentarnya.
"Kayaknya dia masih suka sama Mba deh." ucap Ferry lagi, kali ini matanya menatap Hania.
"Tapi aku ngga." sahut Hania malas.
"Aku denger dia udah nikah." Hania membenarkan dengan anggukan lagi.
Ferry menatap Hania lagi. Pria macho itu tak memungkiri pesona Hania yang kalem dan lembut yang membuat 'adem' yang memandangnya. Wanita cantik itu tidaklah secantik para selebriti papan atas negri ini, atau memiliki tampang blesteran nan rupawan. Pun tubuhnya juga tidaklah seseksi para model pakaian dalam. Hania memiliki paras wanita pribumi yang cantik alami, ayu, menurutnya. Tubuhnya juga ramping dan menonjol dengan ukuran yang pas di bagian tertentu, tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar. Proporsional.
"Jangan ngeliat aku kayak gitu, Fer. Nanti kalau kamu juga suka, aku yang repot." tegur Hania berseloroh seraya menampilkan senyum mengejeknya.
"Ck! GeEr!" cibir Ferry seraya melirik Hania sinis.
Hania tergelak melihat reaksi Ferry. Dia tahu pria macho itu akan langsung menolak dikatakan tertarik secara seksual padanya.
Sikap Ferry sudah jelas. Pria tampan itu memang menyayangi Hania, bahkan mereka terlihat seperti kakak perempuan dan adik laki-laki. Sejak awal chef kesayangan Hania itu mengagumi Hania bukan karena paras atau bentukan Hania tapi pada kemampuan wanita itu. Ditambah karakter Hania yang lembut dan penyayang. Yang selalu bersikap ngemong terhadapnya, membuatnya semakin menyayangi wanita itu. Apalagi keadaan psikis wanita cantik itu yang sejak awal melibatkannya, membuatnya ingin terus melindunginya, hingga secara tidak langsung mereka terikat secara emosional. Kecuali dalam kondisi tertentu yang bisa membuat mereka seperti anjing dan kucing.
"Aku ngga suka dia deket-deket sama Mba." akhirnya protes Ferry muncul.
Hania menoleh ke arah Ferry. Pria itu mengalihkan tatapannya ke arah pantai yang semula menatap Hania. Wanita cantik itu menghela napasnya perlahan.
"Aku juga ngga suka. Tapi dia deketin terus. Aku kasian sama istrinya." ungkap Hania ikut menatap bibir pantai.
"Kenapa Mba ngga cepetan kawin aja sih sama Mas Arga." tukas Ferry kembali menatap Hania.
"Kawin? Nikah aja belum!" sergah Hania kesal seraya mendelik.
Hania meninggalkan Ferry melanjutkan menata peralatan memanggangnya. Ferry mendekati Hania dan membantunya menyiapkan peralatannya.
"Iya, itu maksudku. Nikah." sahut Ferry seraya menggaruk rambutnya yang mendadak gatal.
"Emang Mba belum pernah begituan sama Mas Arga?" tanya Ferry dengan senyum tengilnya.
"Begituan gimana!?" Hania melotot ke arah Ferry, dia makin kesal saja.
"Ya. Itu. Ngng... Kawin?" Ferry meringis begitu melontarkan pertanyaan keramatnya.
Pria macho itu sebenarnya tahu Hania itu wanita seperti apa. Tapi entah kenapa dirinya selalu penasaran ketika Hania mulai membuka hatinya pada Arga. Dari sekian pria single yang mendekatinya, hanya Arga yang bisa diterima baik oleh Hania. Dan kini mereka tengah menjalin hubungan. Apakah Arga tidak bersikap macam-macam pada wanita kesayangannya itu? Dia tahu Arga menduda cukup lama dan sensitif dengan wanita kecuali Hania. Apakah pria yang lebih tua 5 tahun darinya itu tidak berhasrat ketika berdekatan dengan Hania?
"Ngga! Puas!?" Hania makin mendelikkan matanya ke arah Ferry yang terus saja cengengesan sambil memanggang bahan makanan yang sengaja di bawa Hania tadi.
"Ya kali 'kan Mba, Mas Arga test drive. Uji kelayakan pusaka dia juga." Ferry terus menggoda Hania yang wajahnyanya sudah merona.
Hania merasa malu harus membahas hal seperti itu dengan Ferry. Dia jadi ingat bentuk tubuh Arga yang atletis dengan otot yang kekar namun tidak berlebihan, dada liatnya, perut kotak-kotaknya, dan, ya, senjata pusaka Arga. Meski tidak pernah melihatnya langsung, beberapa kali benda tumpul itu menempel di tubuhnya dan terasa jelas jika benda itu besar dan tidak jinak. Hania mengerjapkan matanya beberapa kali menyadari pikiran mesumnya.
"Emang kamu? Ngga bisa liat lahan nganggur langsung digarap?" balas Hania.
Ferry langsung tergelak. Ferry memang anak laki-laki yang baik dan sopan. Tapi dirinya bukanlah pria alim yang menjunjung tinggi konsep menikah dulu baru kawin kemudian. Pria itu termasuk jenis penyuka **** bebas. Hanya saja dirinya tidak terlalu maniak dan bermain aman. Tidak semua wanita bisa menikmati tubuhnya. Pria tampan itu juga termasuk tipe pemilih. Hanya beradegan panas dengan kekasihnya. Dan yang menjadi kekasihnya bukanlah wanita kaleng-kaleng.
Setelah semua hidangan siap, Hania meminta Tiara dan yang lainnya makan bersama. Main air sudah pasti membuat perut lebih terasa keroncongan. Tiara yang begitu menikmati momen liburannya kali itu tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Begitu selesai dengan makannya, gadis kecil itu kembali ke pantai. Diikuti dua gadis cantik dan kekasihnya Lisa dan Ferry. Sementara Hania sibuk membereskan bekas makan mereka. Membuang sisa makanan, dan menumpuk peralatan jadi satu lalu membungkusnya.
"Mba." Hania mendongakkan kepalanya ketika Ferry menyodorkan sebuah kelapa muda lengkap dengan sedotan ke arahnya.
"Makasih." sambut Hania.
Ferry memang selalu bersikap manis pada Hania. Pria macho itu kerap memberikan perhatian kecil pada wanita cantik itu. Kadang sampai membuat kekasih Ferry cemburu.
Chef tampan itu mendudukkan dirinya di sebelah Hania. Melakukan kegiatan yang sama dengan Hania. Menikmati kelapa muda dengan gula jawa sebagai pemanisnya.
__ADS_1
"Ngga ikutan nyebur?" tanya Hania yang melihat Ferry malah duduk di sebelahnya.
"Ngga. Nemeni Mba aja di sini." sahutnya manis.
"Ooh. Sweet banget sih?" ucap Hania tapi lebih seperti mencibir.
"Apa sih yang ngga buat Mba Hania." balas Ferry.
Hari sudah semakin sore ketika Tiara, Lisa dan kekasihnya, dan gebetan barunya Ferry mendekat.
"Yah. Malah tidur berdua." gerutu Lisa yang mendapati Hania dan Ferry tidur bersebelahan di karpet.
Lisa meraih botol minuman dan menyerahkannya pada kekasihnya yang duduk di sebelahnya. Dan meraih satu lagi untuk Tiara.
"Yang." Ferry membuka matanya ketika merasakan elusan di lengannya.
Pria itu langsung mendudukkan tubuhnya. Hania pun membuka mata karena merasakan gerakan di sebelahnya dan suasana yang mendadak berisik. Wanita bertubuh ramping itu langsung duduk mengikuti Ferry di sebelahnya.
"Udahan main airnya?" tanyanya pada Tiara yang duduk di sampingnya.
"Udah Ma, capek. Tiara laper." sahut gadis kecil itu.
"Ya udah, kita bilas dulu yuk, trus kita makan lagi." ajak Hania.
"Biar sama aku aja Bu." tawar Lisa yang diangguki gebetan barunya Ferry.
Semburat jingga terlihat jelas di ufuk barat ketika Hania dan rombongannya meninggalkan pantai. Dengan mengendarai kendaraan masing-masing, mobil Hania berjalan di tengah-tengah mobil kekasih Lisa dan Ferry dibelakangnya dengan motor belalang tempurnya.
"Ma, mau es krim." pinta Tiara.
"Sebentar ya sayang, nanti kalau ada minimarket di depan kita singgah." sahut Hania, matanya tetap fokus menatap jalan raya di depannya yang semakin gelap.
Tiara yang kesal akhirnya terlelap dalam tidurnya. Gadis kecil itu tampak kelelahan setelah seharian bermain air. Suasana dalam mobil berubah hening, hanya terdengar lagu-lagu pop modern yang diputar menemani Hania berkendara.
Hingga tiba di tanjakan, Hania harus mengubah persnelingnya dan menginjak pedal gas agak dalam dan berhasil melewati tanjakan itu tanpa kesulitan yang berarti. Tapi masalah timbul ketika mobil Hania meluncur bebas tanpa bisa dikurangi kecepatannya. Untung malam itu jalanan cenderung lengang karena hampir maghrib.
Ferry yang berjalan di belakangnya melihat kejanggalan pada mobil Hania. Jalanan menurun tapi Hania tidak mengurangi kecepatan. Dengan cemas, Ferry segera mensejajari mobil Hania.
Duk duk duk!
Ferry mengetuk jendela mobil Hania yang melaju kencang begitu juga dirinya. Hania membuka kaca jendelanya. Wajahnya tampak panik.
"Rem, Mba!" seru Ferry sambil mengendalikan tuas gas motornya agar tetap sejajar dengan mobil Hania.
"Ngga bisa, Fer! Remnya ngga fungsi!" seru Hania, wanita cantik itu terdengar ketakutan.
Deg!
Ferry terkejut dan bertambah panik. Sesekali pria macho itu mengendurkan tuas gasnya karena bersisipan dengan kendaraan lain. Mobil Hania masih melaju dengan kencang dan jalanan masih menurun. Dirinya tidak bisa menyarankan apa-apa lagi. Yang Ferry takutkan jika Hania tidak bisa mengendalikan mobilnya, mobil itu akan terperosok masuk ke perkebunan yang agak menjorok ke bawah. Karena sisi kanan dan kiri jalanan itu terdiri dari perkebunan kayu yang letaknya lebih rendah dari jalanan beraspal.
Baru saja dirinya akan membukakan jalan untuk Hania dan memberi peringatan pada pengendara lain tentang rem blongnya mobil Hania, sebuah mobil tampak mendahului mobil lainnya dari arah berlawanan. Hania yang panik dan tidak fokus segera membanting setir mobilnya ke kiri. Bember mobilnya sempat menyenggol motor Ferry, membuat belalang tempur itu oleng dan jatuh. Mobil Hania juga tidak berhenti disitu. Bahkan mobil itu terperosok ke perkebunan yang agak dalam dan beberapa kali terguling.
"Mba Hania!" jerit Ferry dan gebetan barunya bersamaan.
Pria macho itu dengan susah payah bangun dari posisinya yang juga terguling bersama belalang tempur dan gebetannya. Berlari terseok-seok mendekati mobil Hania. Air matanya sudah berderai, tidak peduli dirinya pria bertubuh kekar sekalipun. Rasa khawatir lebih mendominasinya.
Sementara itu, kendaraan yang melintas ikut berhenti dan memberi pertolongan. Karena lokasinya yang jauh dari pemukiman, penerangan hanya berasal dari dari lampu merkury di sepanjang jalan. Ada juga yang memanggil bantuan medis dan menghubungi kantor polisi terdekat.
Brak!
Ferry menabrakkan tubuhnya pada mobil Hania. Sungguh pria itu berlari seperti orang kesurupan dan tidak dapat menghentikan dirinya hingga menabrak badan mobil abu-abu metalik itu.
__ADS_1
"Mba! Bangun!" Ferry mencoba membuka pintu mobil di sebelah Hania. Agak sulit karena penyok akibat terguling tadi.
"Mba! Ayolah! Bangun!" teriaknya membangunkan Hania.
Tangis Ferry semakin pecah manakala dia tidak dapan membuka pintu di samping Hania. Tatapannya tertuju pada Tiara yang juga diam saja. Pria tampan itu memutari mobil sedan itu dan mencoba membuka pintu di sebelah Tiara. Lagi-lagi nihil. Pintu itu kondisinya lebih parah.
"Sebelah sini!" teriak seseorang yang berada di dekatnya.
Ferry sudah merasa tak bertenaga lagi hingga dia mendengarkan beberapa orang datang sambil membawa lampu emergency. Dari situ dia bisa melihat keadaan Hania dan Tiara yang bersimbah darah. Hatinya terasa berdenyut nyeri ketika enatap wajah Hania yang semakin pucat.
"Ya Tuhan." gumamnya dalam hati.
Selang beberapa jam evakuasi terhadap Hania dan putrinya berhasil dilakukan. Penyelamatan memang berjalan lambat karena terkendala lokasi dan alat yang digunakan cenderung manual.
Drrrt drrrt drrrt!
Arga melihat layar ponselnya. Pria itu tidak mengenal nomor kontak yang menghubunginya. Biasanya dirinya akan mengabaikan panggilan tak bertuan itu. Tapi sudah beberapa kali nomor yang sama terus menghubunginya, membuatnya menerima panggilan itu juga meski enggan.
"Pak Ganteng!?" Arga menjauhkan ponsel itu dari telinganya ketika suara cempreng Lisa yang mulai dihapalnya menelusup menusuk genderang telinganya.
Selain suara cempreng itu, panggilan 'Pak Ganteng' adalah julukan yang diberikan Lisa padanya. Arga menghela napasnya dalam.
"Hum?" sahutnya.
"Kenapa baru diangkat Pak Ganteng!? Bikin kesel aja!" omel Lisa, membuat Arga menaikkan sebelah alisnya.
"Kalau ngga ada yang penting kenapa telepon, Lis!?" sentak Arga yang merasa dipermainkan.
Eh? Seperti tersadar tujuannya menghubungi Arga, Lisa memukul-mukul pelan bibirnya yang lemesnya kelewatan
"Apa!? Gimana bisa terjadi? Sekarang kalian dimana!?" tanya Arga yang mendadak panik.
Reza yang duduk di seberang meja Arga langsung menatap Arga lekat. Ekspresi atasannya itu sudah menjawab adanya kejadian genting. Tapi menimpa siapa?
Begitu pula Iden yang sedari tadi fokus dengan email di tabletnya, langsung menoleh ke arah Arga. Pria blesteran itu tampak tenang menunggu Arga.
Arga langsung bangkit dan meninggalkan pekerjaannya. Iden dan Reza langsung mengekor di belakangnya. Keduanya saling bersitatap seolah bertanya, dia kenapa? Tapi keduanya langsung mengendikkan bahu hampir bersamaan.
"Kita ke Mitra Husada." perintah Arga ketika Reza sudah duduk di belakang kemudi.
"Sekarang? Siapa yang sakit?" tanya Iden.
"Itu 'kan klinik di luar kota, Pak?" sahut Reza membuat Iden mengalihkan tatapan padanya.
"Kenapa kita ke sana?" Iden menoleh pada Arga lagi.
"Hania dan Tiara kecelakaan." ucap Arga datar dan dingin, pria itu berubah jadi pendiam seketika.
"Kecelakaan?" lirih Iden membeo.
Reza terkesiap. Pria berkacamata itu menatap Arga dari kaca visioner. Dia ingat, pagi tadi, Arga memberitahukannya sebuah pesan yang mengancamnya. Apakah ini yang dimaksud? Sang asisten menatap Arga lagi. atasannya itu masih bergeming. Matanya nanar menatap jalanan melalui kaca jendela di sampingnya. Tangannya mengepal erat.
"Maafkan aku, honey." batin Arga.
Pria karismatik itu menyesal karena terlambat menyadari ancaman yang datang.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh dong. Untuk dukung terus karya otor 😘😘😘
__ADS_1