Yang Terakhir

Yang Terakhir
115. Penyesalan Ryan


__ADS_3

Dari balik kaca mata hitamnya, Arga menatap gundukan tanah basah di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa pilu dan kehilangan yang besar, seolah menghimpit dadanya. Ada amarah yang besar dan ingin segera membalaskan kesedihan yang dialaminya. Pada 'dia' yang harusnya bertanggung jawab.


Sementara Hania, wanita cantik yang kondisinya belum pulih benar itu, menangis terus hingga matanya membengkak dan wajahnya sembab. Bahkan beberapa kali jatuh pingsan tapi tetap ngotot ingin mengantar putrinya ke peristirahatan terakhirnya.


Melihat Hania yang terpuruk, ada rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya. Semua karena kesalahpahaman antara dirinya dan sahabatnya yang berubah menjadi dendam. Tapi sangat disesalkan Arga karena Hania dan Tiara yang menjadi korbannya. Orang-orang yang kini menjadi bagian terpenting di hidupnya.


"Ayo, nak. Kita pulang dulu, ini sudah hampir senja. Ngga baik lama-lama di sini. Kamu juga masih butuh perawatan." bujuk ibunya Arga.


Sang ibu masih di Singapura ketika mengetahui Hania dan Tiara sedang dirawat di klinik di luar ibukota.


"Ga, mana cucu ibu?" tanyanya pada Arga ketika mengetahui jawaban Arga yang sedang menunggui Tiara melalui ponselnya.


"Ibu mau beliin dia tas, suka yang warna apa anak itu?" ujar sang ibu.


Bukan jawaban yang didengarnya tapi suara Arga yang sesenggukkan. Sungguh pria tampan itu terdengar sangat menyedihkan. Membuat sang ibu mengernyitkan keningnya dan bingung kenapa putranya malah menangis.


"Apa? Dia kritis?" suara sang ibu melemah mendengar cerita Arga.


Hilang sudah suara yang tadinya terdengar bahagia dan semangat. Wanita paruh baya itu hanya bisa terdiam. Arga sampai harus memanggilnya berulang kali.


Dan sesampainya di tanah air, Tiara sudah berpulang. Sang ibu yang baru mengenalnya beberapa minggu merasa sangat terpukul dan kehilangan. Rasanya seperti kehilangan cucunya dulu, Devan. Pasalnya, wanita oaruh baya itu langsung jatuh sayang pada gadis kecil berlesung pipi itu sejak pertama kali berjumpa. Kerinduannya pada kehadiran cucu membuatnya menyukai Tiara. Selain itu, tidak sulit menyukai gadis kecil itu karena Tiara memang menyenangkan.


Siapapun yang melihatnya akan menyukainya. Gadis kecil itu mirip boneka jika diam saja. Matanya yang bulat berbulu mata lentik, hidungnya yang mancung yang diturunkan ayah kandungnya, pipi gembilnya yang kemerah-merahan jika kepanasan, bibirnya yang mungil berwarna merah jambu, dan rambut bergelombangnya. Benar-benar membuat gemas.


Namun, gadis kecil yang mirip boneka itu kini tinggal kenangan. Mengingatnya, membuat hati serasa diremas.


"Dek?" Hania menoleh ke arah suara yang masih dikenalnya dengan baik.


"Mas Ryan?" gumam Hania tapi tetap bergeming di tempat duduknya.

__ADS_1


Arga yang juga menoleh ke arah suara. Mode posesifnya langsung aktif. Pria tampan itu merasa tak suka jika pria di masa lalu Hania muncul di hadapannya. Tangannya langsung melingkar di pundak Hania dan mengusapnya lembut.


"Maaf, aku baru datang." ucap pria itu yang tak lain adalah ayah kandung Tiara seraya menatap Hania dengan mata merah yang masih basah.


Bukannya Ryan tidak sempat menjenguk mantan istri dan putrinya, tapi pria itu bahkan baru mengetahui keadaan Tiara ketika Hania menghubunginya pagi tadi. Saat itu dirinya sedang di luar pulau.


Meski Ryan tidak dekat dengan putrinya, tapi sebagai ayah kandungnya, pria yang juga tampan itu sangat terpukul. Mengingat usahanya untuk mendekatkan diri pada putrinya selalu mengalami penolakan baik dari Hania maupun putrinya sendiri, hatinya berdenyut nyeri.


Ya. Ryan juga menyayangi putrinya, apalagi setelah melihat kembali Tiara yang tumbuh menjadi gadis kecil yang menggemaskan. Dirinya juga ingin melimpahi kasih sayangnya pada gadis kecil itu untuk menebus kesalahannya dulu. Ada penyesalan yang kerap menghantuinya karena dulu mengabaikan Hania dan putrinya. Harusnya dia bertahan bersama keluarga kecilnya.


"Boleh aku...?" ucapan Ryan terpotong karena suaranya tercekat.


"Iya, Mas. Silakan." Hania langsung mempersilakan karena tahu maksud mantan suaminya itu seraya mengusap air matanya.


Arga dan Hania menggeser duduknya agar Ryan dapat mendekat ke pusara Tiara. Mantan suami Hania itu langsung bersimpuh di hadapan peristirahatan terakhir putrinya. Pria yang juga tampan itu menangis sesenggukan bahkan suaranya terdengar menyayat hati. Rasa sesal dan kehilangan bercampur menjadi satu menimbulkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hania dan Arga yang tadinya sudah tenang jadi ikut larut dalam kesedihan mendalam lagi. Begitu juga dengan orang-orang terdekat mereka.


Ryan mengusap nisan Tiara seraya merapalkan doa di dalam hatinya. Lagi-lagi ayah kandung Tiara itu menangis. Rasanya ada bagian hatinya yang hilang.


"Harusnya papa ngga ninggalin kamu sama mamamu. Maafkan papa. Selama ini kamu ngga ngerasain kasih sayang papa. Kamu juga ngga kenal dan takut sama papa. Tapi papa ngerti. Itu juga karena papa yang salah. Maafkan papa." Ryan terus meratapi kesalahannya dalam hati.


Karena keegoisannya dulu, dirinya meninggalkan wanita cantik berhati lembut yang dicintainya dan juga putri semata wayang mereka yang belum genap berusia 1 tahun.


Harusnya dirinya tidak tergoda cinta yang lain yang tak lain adalah cinta masa lalunya. Yang bahkan meninggalkan luka teramat dalam untuknya. Harusnya dia mempertahankan mantan istrinya dulu karena Hanialah dirinya merasakan jatuh cinta lagi. Harusnya putri kecilnya bisa menjadi alasan yang kuat untuk bertahan.


Meski tak lagi mencintai mantan istrinya tapi rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatinya semakin lama semakin besar demi melihat wanita cantik itu harus berjuang sendiri membesarkan putri mereka. Dan kehadirannya justru mendapat penolakan dari wanita yang pernah menjadi prioritasnya.


Kini, semua sudah terlambat. Sangat terlambat. Tidak ada lagi kesempatan untuknya melimpahkan kasih sayangnya pada putrinya. Apalagi meminta maaf.


"Dek, maafin aku. Aku ngga pernah bener-bener bisa menjadi papa yang diharapkan putriku. Maafin aku." ucap Ryan ketika mereka akan meninggalkan pemakaman itu.

__ADS_1


Mata merah Ryan yang masih menyisakan titik air itu menatap Hania dengan tatapan teduhnya penuh harap. Tangannya sudah menggenggam tangan Hania. Arga yang melihat sikap Ryan yang dianggapnya lancang itu langsung menarik tangan Hania perlahan dengan mata yang menyorot tajam ke arah mantan suami kekasihnya itu.


Ryan berdecak. Arga benar-benar mengganggunya. Pria itu membalas tatapan tajam Arga dengan tak kalah tajam.


"Ehem!" Hania berdehem untuk menghentikan perseteruan kedua pria yang sama-sama bertubuh tinggi kokoh itu dan itu berhasil.


Ryan langsung menoleh ke arah mantan istrinya. Sementara Arga langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Hania. Posesif.


"Kalau memaafkan, aku udah maafkan, Mas. Tapi yang namanya luka itu pasti ada bekasnya. Dan bekas itu yang selalu ngingetin aku bahwa orang yang pernah kucintai setulus hati tega menghianatiku." sindir Hania.


Ryan menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu mengerti sikap Hania yang selalu menolak kehadirannya.


"Udah selesai 'kan ngobrolnya?" sela Arga yang selalu tidak suka jika Hania dekat-dekat dengan pria lain, apalagu dengan mantan suaminya itu.


"Udah hampir gelap, honey. Kita harus balik ke klinik lagi. Kamu udah seharian berada di luar. Kamu harus banyak istirahat." bujuk Arga yang diangguki wanita cantik itu.


Arga setengah menarik Hania agar menjauh dari mantan suaminya itu. Mereka berpisah jalur ketika meninggalkan pemakaman.


Di dalam sedan mewahnya, Arga masih merangkul pundak Hania yang tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Arga bergetar. Pria itu langsung mengernyitkan keningnya demi membaca pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal. Tangannya mengepal erat. Sorot matanya seketika berubah penuh amarah.


"Brengsek! Kemanapun lu lari, bakal gue kejar sampai dapat. Bahkan kalau lu sembunyi di lubang semut pun, pasti gue temuin!" geram Arga dalam hatinya.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh dong, untuk dukung karya author ini.


🤗🤗🤗


__ADS_2