Yang Terakhir

Yang Terakhir
118. Really Miss You


__ADS_3

Seorang pria kekar mendatangi mobil Arga.


"Bos." sapanya ketika Arga keluar dari mobilnya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu menatap mobil yang sudah ringsek tadi dengan tatapan nanar.


"Apa ada yang kamu kenali, Lik?" tanya Arga.


"Mereka anak buah Pak Aris, bos." lapor pria kekar yang dipanggil Kelik itu.


"Ck! Kenapa selalu mengarah ke pamanku? Apa ngga ada bukti lain yang menunjukkan keterlibatannya?" Arga penasaran lawannya itu selalu bersembunyi di balik pamannya.


Kelik menggelengkan kepalanya. Pria bertubuh kekar itu juga bingung mengaitkan setiap kejadian yang menimpa bosnya itu dengan lawannya. Ujung-ujungnya selalu mengarah pada paman bosnya.


"Bereskan semua. Jangan ada yang mencurigakan!" perintah Arga.


Pria yang dikenal dingin dan arogan oleh lawannya itu benar-benar menampakkan taringnya malam itu. Memerintahkan anak buahnya menyingkirkan mobil ringsek itu beserta isinya tanpa meninggalkan jejak. Termasuk meretas kamera cctv lalu lintas dan menghapus rekaman kejadian barusan. Tentu saja hal itu bukan hal yang sulit. Anak buah Arga adalah orang-orang pilihan. Berbadan kekar, berotak encer dan menguasai keahliannya masing-masing.


Fajar menjelang ketika Arga tiba di apartemennya. Pria itu pulang ke sana karena tidak ingin Hania dan ibunya melihat kondisi mobilnya yang ada bekas tembakannya.


Sayup-sayup terdengar adzan mengumandang ketika dirinya memasuki unit apartemennya. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, Arga segera kembali ke kediamannya dengan mobilnya yang lain.


"Mas Arga baru pulang?" tanya Bi Sumi yang membukakan pintu.


"Iya bi. Ibu sama Hania sudah bangun?" tanya Arga.


"Sudah, Mas. Ibu lagi nemeni Mba Hania berjemur." sahut wanita paruh baya itu.


"Hania berjemur?" Arga mengulang ucapan Bi Sumi.


"Iya Mas. Semalam Mba Hania sempat histeris. Badannya sampe menggigil. Makanya ibu ngajak Mba Hania berjemur biar hangat." terang Bi Sumi.


Hania histeris lagi? Selama tinggal di rumahnya, wanita cantik itu baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba histeris? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Dengan langkah tergesanya pria bertubuh proporsional itu menuju halaman belakang rumahnya. Mengintip sejenak dari balik gorden. Lalu keluar menghampiri Hania dan ibunya.


Arga mencium punggung tangan ibunya dengan takzim lalu mengecup kening Hania dengan lembut membuat Hania merona karena malu. Sang ibu yang duduk di sebelah Hania hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu baru pulang, Ga?" tanya sang ibu.


"Iya Bu, ada masalah di perusahaan. Tapi masih terkendali." dusta Arga sembari mendudukkan dirinya di samping Hania.


Pria itu tidak mungkin menceritakan kemana dirinya semalam apalagi kejadian dinihari tadi.


"Mas udah sarapan?" tanya Hania.


"Belum. Dari kantor aku langsung pulang. Pengen sarapan di rumah aja." jelas saja belum sarapan, tepatnya tidak sempat karena harus segera tiba di rumah agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Ya udah ayo. Kita juga belum sarapan." ucap ibunya Arga lalu berjalan mendahului pasangan itu.

__ADS_1


Arga mengulurkan tangannya pada Hania yang disambut dengan suka cita wanita itu. Pria tampan itu menarik tubuh Hania hingga menempel di tubuhnya. Dilingkarkannya tangan kirinya ke pinggang ramping Hania. Lalu mengecup bibir merah jambunya Hania yang sedikit pucat. Tak hanya itu, pria bertubuh seksi itu bahkan mel***t bibir Hania yang sudah membuatnya ketagihan. Semalaman meninggalkan wanita cantik itu dan tidak tahu jika kekasihnya itu demam membuatnya merasa bersalah.


Lum***n Arga menjadi semakin liar ketika Hania membalasnya. Hah. Sudah lama sekali dirinya tidak merasakan bibir Hania mel***t bibirnya. Dirinya menanti Hania 'nakal' padanya seperti itu. Membuatnya bergairah. Arga melepaskan ciumannya ketika merasakan 'jendral jack'nya mulai menegang.


Wajah Hania semakin merona. Seraya menyunggingkan senyum semanis madunya, Arga mengusap bibir Hania yang basah karena ulahnya. Kini bibir pucat itu kembali terlihat segar.


"Mas ih... Nekat deh. Kalau dilihat orang gimana? Ngga sopan." protes Hania yang membuat Arga terkekeh.


"I really miss you, honey." ucap Arga lembut.


"Lagian siapa yang berani liat-liat? Paling juga ibu. Beliau pasti maklum." Arga menjawab protesnya Hania dengan santai, membuat Hania meliriknya.


"Ayo. Kita sudah ditunggu." Arga menarik Hania masih dengan tangan yang melingkar di pinggang ramping wanita itu.


Setelah sarapan dengan suasana tenang, sang Ibu pergi melakukan kegiatan yang dilakukannya bersama teman-teman sosialitanya sampai siang nanti. Sementara Arga akan mengerjakan pekerjaan kantornya dari rumah sekaligus menemani dan mengawasi Hania.


Tadi ibunya sempat bercerita tentang Hania yang histeris semalam hingga menyebabkan wanita itu demam.


"Ibu langsung masuk ke dalam kamarnya begitu denger Hania berteriak. Dia udah demam saat itu. Pas ibu tanya, dia bilang lagi kepikiran kamu. Perasaannya ngga enak sejak dia berangkat tidur. Hania mimpi kamu lagi dikejar sekelompok gorila sampai mengigau. Makanya dia teriak." Arga mendesah mendengar cerita ibunya.


"Kamu semalam ngga kenapa-kenapa 'kan? Mungkin Hania khawatir banget karena kamu ngga pulang semalam sampai kebawa mimpi." tanya wanita paruh baya itu seraya menatap Arga.


"Ibu jadi takut terjadi apa-apa sama kamu, Ga. Apalagi masalah perusahaan itu sepertinya ngga ada habisnya. Sebaiknya kamu juga hati-hati." pesan sang Ibu seraya mengusap lengan Arga yang berotot itu.


"Ibu tenang aja. Aku pasti akan berhati-hati." Arga tersenyum menenangkan ibunya yang sepertinya mulai risau.


"Maaf, aku ngga pulang semalam. Reza ngabarin kalau ada sedikit masalah di perusahaan. Jadi aku dan beberapa karyawan harus lembur tadi malam." Arga tidak berbohong, semalam memang dia dan anak buahnya sedang mengurus masalah tapi bukan masalah perusahaan seperti yang disebutnya.


"Aku ngerti, Mas. Pekerjaanmu emang ngga mudah. Aku aja yang over thinking. Takut terjadi sesuatu sama kamu. Ya, cuma perasaanku aja yang ngga enak." Hania terkekeh namun tidak bisa menutupi raut cemas di wajahnya.


"Aku sampai mimpi buruk segala." Hania menatap Arga sendu.


Arga meraih tubuh Hania ke dalam dekapannya lalu mengecup puncak kepala wanita yang dikasihinya itu.


"Maaf." bisik Arga seraya membelai rambut panjang Hania yang dibiarkan tergerai.


Hari ini, tepat sebulan Hania tinggal di rumah Arga. Dan selama itu pula, wanita cantik itu tidak pernah keluar rumah. Aktifitasnya hanya disekitar kediaman Arga. Dengan setia Arga menemaninya, namun kadang meninggalkannya di rumah bersama sang Ibu yang juga ikut tinggal di sana.


Rencananya wanita cantik itu akan kembali ke rumahnya. Dirinya merasa sudah bisa menerima kepergian Tiara. Dan juga akan mulai mengelola restorannya yang selama ini di tangani Ferry dan Lisa. Meski masih merasa khawatir, Arga hanya bisa mendukung yang menjadi keputusan kekasihnya itu.


"Honey, kamu yakin?" tanya Arga untuk yang ke sekian kalinya.


Hania mengangguk mantap. Wanita cantik itu yakin dengan keputusannya. Dia harus bisa melangkah maju. Bukan hidup dalam bayang-bayang Tiara.


"Ga, buruan dilamar deh, Hanianya. Biar dia bisa tinggal di sini, trus ada kamu yang jagain dia." celetuk ibunya Arga.


Uhuk! Uhuk!

__ADS_1


Hania mendadak keselek makanan yang baru saja akan ditelannya demi mendengar ucapan wanita paruh baya yang masih cantik itu.


"Aku maunya begitu Bu, tapi aku masih nunggu Hania siap." sahut Arga seraya menatap Hania penuh arti.


Hania yang ditatap Arga hanya diam mematung. Entah apa yang membuatnya sulit menerima ajakan menikahnya Arga. Pikirannya yang over thingking selalu mengaitkan hal-hal yang tidak penting.


"Nunggu apa lagi, sih, sayang? Arga udah siap tuh. Belum pernah ibu liat dia begitu semangat dan niat banget untuk nikah." Hania hanya tersenyum sebagai ganti jawaban dari pertanyaan yang tidak dia punyai jawabannya.


Arga menggenggam tangan Hania dan sedikit meremasnya dengan lembut. Menyadarkan Hania dari lamunannya.


"Maaf." ucap Hania hanya melalui gerakan bibirnya.


Arga hanya menyunggingkan senyumnya yang menawan, membuat wanita cantik itu merasa bersalah karena tak kunjung memberi kepastian.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian seorang pria tampan yang sedang fokus memeriksa berkas keuangan yang baru saja diterimanya dari manager keuangannya. Melirik sekilas ke arah pintu yang terbuka. Mengetahui asistennya yang datang, pria itu kembali fokus pada kertas-kertasnya.


"Ini, Pak." Hendry, sang asisten menyerahkan berkas lain pada pria itu.


Pria tampan itu langsung menyambar berkas yang tergeletak di depannya dan membukanya satu persatu. Matanya memicing dan rahangnya makin mengeras setiap pria itu membuka lembar berikutnya.


"Kenapa bisa sedrastis ini? Kita bisa rugi kalau terus turun begini." pria itu menatap Hendry.


"Benar. Ini bukan penurunan biasanya. Sepertinya ada yang sedang bermain-main dengan saham perusahaan anda, Pak." ucap Hendry sambil memeriksa tabletnya.


"Begitu? Apa Arga sudah mulai mencurigaiku? Atau sudah mengetahui campur tanganku?" pria tampan itu menduga-duga.


"Sepertinya begitu, Pak. Ini sudah berlangsung selama hampir 2 minggu ini. Tidak mungkin perusahaan itu menghancurkan saham anda lalu membelinya, kalau memang tidak bermaksud membalas anda." Hendry memberikan pendapatnya.


Pria tampan itu mendesah. Divisi IT sudah berusaha menstabilkan website perusahaan yang diretas hacker lawannya. Dan kondisi sahamnya kembali terkendali. Tapi, hari berikutnya, saham perusahaan kembali anjlok, lebih parah dari hari-hari sebelumnya. Sepertinya tenaga dan pikiran pria itu tercurah pada masalah saham. Dirinya benar-benar disibukkan untuk nengurusi masalah itu-itu saja. Arga benar-benar menyambut perangnya.


Drrrt drrrt drrrt!


Ponsel pria itu bergetar. Pria itu langsung menerima panggilan yang ternyata dari orang suruhannya.


"Kami sudah memantaunya Pak. Hanya ada 2 orang yang mengikutinya kemanapun dia pergi." lapor seorang pria di ujung ponselnya.


"Bagus. Tunggu mereka lengah. Lalu bawa perempuan itu!" perintah pria itu.


Seringainya muncul. Bayangan Arga yang hancur berputar-putar dalam benaknya.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like favoritkan, vote,, dan kasih hadiah ya ... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2