Yang Terakhir

Yang Terakhir
143. After Merit


__ADS_3

Hari itu, orang yang paling berbahagia adalah Arga Pramana Adiwangsa. Selain keinginannya mempersunting kekasihnya menjadi istri, sang Ibu juga sudah terbangun dari tidur panjangnya. 2 hal yang sangat disyukurinya saat itu. Senyumnya tak pernah memudar barang sedetik pun. Setelah tadi mengurai emosi dengan cucuran air mata bersama Hania, selepas kata 'sah' menggaung di penjuru ruangan.


Kecuali penghulu yang sudah undur diri setelah menyelesaikan tugasnya, dan ibunda Arga yang sudah kembali ke ruang perawatannya, kedua pasutri baru itu masih berada di ruangan yang disulap jadi indah dengan berbagai bunga segar dan kain yang menjuntai itu, ditemani beberapa sahabat.


"Siap tempur, bro?" tanya Darren yang tiba-tiba muncul membuat Arga tergelak.


Pria keturunan Tionghoa dan Perancis itu juga menunjukkan sebuah botol kecil berisi beberapa butir pil dari dalam saku jasnya. Membuat Arga mengumpatinya.


"B*ngke lu! Lu pikir gue lemah syahwat! Gue masih percaya sama kekuatan dan keperkasaan 'jendral jack', si*lan!" kesal Arga seraya menghunus tatapan tajam.


Bukannya tersinggung, Darren malah tergelak membuat Hania dan beberapa sahabat menoleh ke arah mereka berdua. Darren berdehem dan langsung membenarkan posisi duduknya ketika mendadak menjadi pusat perhatian. Tawanya juga langsung lenyap berganti dengan wajah datar.


"Gue ngga nyangka cinta lu ngga kaleng-kaleng sama Hania, man. Setelah perlakuan si br*ngs*k Raka? Gue bener-bener angkat topi buat lu. Salut." puji Darren mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya. Harus gue akui, gue jatuh cinta sama istri gue begitu dalem. Apa yang gue cari selama ini ada di dia. Dia melengkapi kehampaan dalam diri gue. Sayang banget kalau semua yang udah gue temuin di dia harus di tuker dengan permasalahan sel*ngk*ngan. Itu cuma bonus. Gue ngga cuma nyari begituan, kalau cuma sebatas sel*ngk*ngan gue bisa aja dqpet dari perempuan-perempuan yang ngelempar tubuhnya ke gue secara cuma-cuma selama ini. Tapi dia lebih penting dari itu semua." ucap Arga panjang seraya menatap Hania yang sedang tersenyum menatapnya, dan senyum Hania itu menular pada Arga.


"Emang lu pernah ngerasain begituan sama perempuan-perempuan itu? Sok lu!" cibir Darren.


"Gue ngga suka, gimana bisa!? Ngeliatnya aja gue jijik, gimana bisa tegak berdiri 'jendral jack' gue!?" sarkas Arga.


"Gue udah insyaf, man! Ya, kadang kalau mabuk khilaf juga, sih." Darren meringis merasa tersindir.


"Hati-hati lu! Jangan sampe Stela tau. Saran gue ajak istri lu kemanapun lu pergi." Arga mengingatkan sahabatnya itu.


Arga mendekati Hania yang sedang berbincang dengan Galih setelah Darren pamit untuk kembali lagi ke luar negeri. Padahal dirinya baru saja tiba. Pria yang tak kalah tampannya dengan Arga itu memang sedang sibuk sekali mengurusi bisnis barunya. Tak lupa sahabat Arga itu memasukkan botol kecil berisi pil tadi ke saku jas Arga. Buat jaga-jaga katanya.


Hania tengah tersenyum pada Galih saat Arga merengkuh pinggang Hania dari belakang dan mengecup pipi kanan wanita cantik itu, seolah menunjukkan Hania kini sudah menjadi miliknya. Sah!


Galih menghembuskan napas berat. Sakit hatinya melihat pemandangan di hadapannya tapi tak urung membuatnya tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, tanpa menunjukkan kemesraan pun dirinya juga tahu sejak awal dia sudah tidak punya kesempatan memiliki Hania. Ada sedikit kesal melihat kelakuan Arga yang kekanak-kanakan.

__ADS_1


Sejak dulu, sejak awal kedekatannya dengan Hania, Galih sudah memutuskan untuk hanya bersahabat dengan Hania meski hatinya berkata lain. Pria gagah itu sangat menyayangi Hania hingga tidak ingin membuat wanita cantik itu terluka. Jadi pria itu nyaman-nyaman saja dengan status persahabatan di antara mereka. Mencintainya suatu ketika bisa saja terpisah, karena ketika itu emosinya masih labil dan tak yakin dengan perasaanya, Galih memilih untuk berteman saja selamanya. Meski ternyata cintanya begitu dalam dan kini hatinya harus berkorban.


"Selamat, Pak Arga. Semoga bahagia dan selalu bisa membahagiakan Hania." ucap Galih seraya tersenyum dan menjabat tangan suami Hania itu.


Tak hanya berjabat tangan, Galih menarik Arga hingga mereka berpelukan khas pria dewasa.


"Jangan sampe nyakitin Hania! Karena gue akan selalu siap membahagiakannya kapan aja!" tekan Galih lirih.


"Gue pastiin lu ngga akan pernah punya kesempatan itu!" balas Arga, lalu melepaskan pelukan mereka seraya kompak menampilkan senyum palsu.


"Makasih." ucap Arga seraya tersenyum miring begitupun Galih.


Melihat suami dan sahabatnya itu berpelukan, hati Hania menghangat. Senyumnya terulas manis di bibir merah jambunya. Dia tidak tahu jika kedua pria yang sama-sama memiliki arti dalam hidupnya itu sedang beradu gertakan dengan sengit di balik sikap rukunnya.


"Lu datang untuk ikut ngerayain hari bahagianya Hania 'kan?" sindir Arga sekaligus mengusir halus Galih.


"Kebetulan besok gue ada pertemuan bisnis di sini, jadi gue punya banyak waktu untuk di sia-siain bareng Hania sebelum lu bawa dia pulang." sahut Galih merasa tersindir tapi tidak mau terintimidasi.


Hari beranjak siang ketika Arga memutuskan membawa Hania meninggalkan ruangan tempat dihelatnya akad nikahnya barusan. Pun Galih yang langsung turut meninggalkan ruangan itu. Hanya tersisa Reza, Ferry dan Lisa, dan beberapa pekerja di rumah Arga dan sang Ibu yang tengah menyantap hidangan yang sudah tersedia. Lalu bersama-sama membantu petugas EO membereskan ruangan itu.


"Kamu cantik banget, honey." bisik Arga di telinga Hania ketika mereka hanya berdua saja di dalam lift yang membawa mereka turun ke lantai di mana ruang rawat sang Ibu berada.


Hania tersipu. Bisikan Arga di telinganya membuatnya merinding. Apalagi setelah itu Arga menatapnya penuh damba. Lalu perlahan ******* bibir merah jambunya Hania. Lagi-lagi bayangan Raka menelusup di benak Hania dan mengganggu aktifitas mesranya bersama suami barunya. Namun, sepertinya Arga juga merasakan perubahan Hania.


"Ingat aku aja, honey. Balas aku. Kamu harus bisa ngelawan bayangan itu." bisik Arga memberi dukungannya.


Pria tampan itu kembali ******* bibir kenyal nan legit itu dengan lembut dan semakin lama semakin menuntut. Namun, pag*t*n panas itu harus berakhir ketika pintu lift sudah terbuka. Dengan menahan hasratnya, Arga merangkul Hania keluar dari kotak pengangkut itu.


"Kalian masih di sini?" suara lemah dan serak sang Ibu yang baru bangun dari tidurnya karena pengaruh obat, mengalihkan pandangan Arga dan Hania yang sedang menyantap makan siang yang dibawakan Bi Sumi.

__ADS_1


"Memangnya kita mau kemana, Bu?" bukannya menjawab tapi malah balik bertanya.


Arga bukannya tidak tahu maksud dari pertanyaan sang Ibu. Hanya saja dia menuruti Hania yang ingin menjaga sang Ibu terlebih dahulu.


"Ck! Kalian 'kan baru merit! Ya mau ngapain lagi!?" decak wanita paruh baya itu kesal, meski bicaranya masih lemah tapi terdengar menuntut.


Arga tersenyum simpul sementara Hania sudah tersipu. Entah kenapa membahas perkara kegiatan pasutri membuatnya malu. Di wajahnya yang masih pucat itu, pipinya terlihat merona. Arga yang meliriknya dibuat gemas. Ingin rasanya menggigit pipi itu sekalian melahap orangnya.


"Aku sama Hania masih pingin di sini nemenin Ibu. Nanti malam baru kuajak dia pulang. Udah lebih dari seminggu dia tidur di sini. Setidaknya aku sama Hania udah lega Ibu udah bangun." ucap Arga yang sudah duduk di samping ranjang ibunya.


Drrrt drrrt drrrt!


Ponsel Hania yang bergetar membangunkan wanita cantik itu dari tidurnya. Saat itu dia dan Arga sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman Arga.


"Mba Niken?" sapa Hania setelah hubungan ponselnya tersambung.


"Sayangku...! Maaf ya, aku ngga bisa pulang liat kamu nikah sama si Ganteng itu. Masmu ini sibuk banget. Ini aja kita baru balik dari Osaka, bayangkan!" suara melengking langsung menyahut di ujung ponsel Hania.


"Iya, Mba, ngga pa-pa. Aku 'ngerti kok." ucap Hania seraya tersenyum seolah-olah Mba Niken ada di hadapannya.


"Anyway, happy wedding, ya. Semoga sakinah mawaddah warohmah. Bahagia terus sampe kakek nenek, sampe mati. Secepetnya di kasih adek-adeknya Tiara." hati Hania berdenyut nyeri ketika nama Tiara disebut, langsung teringat putri kecilnya yang sudah tenang 'disana'.


"Aamiin... Makasih, Mba." Arga langsung menoleh mendengar perubahan suara Hania yang sedikit bergetar, meski hanya sedikit perubahan tapi Arga mulai peka pada istrinya itu.


Tangan Arga langsung mengusap kepala Hania membuat wanita cantik itu menoleh dan melemparkan senyumnya. Merasa diperhatikan dan di mengerti. Bagaimana dia tidak tersentuh jika sikap suaminya begitu manis?


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2