
"Mas! Bawa keluar aja itu makanannya! Bikin mual!" pinta Hania seraya menutup hidungnya.
Arga mengerutkan keningnya. Pria itu heran dengan sikap Hania yang mendadak sensitif dengan bau makanan. Apa mungkin masakannya terlalu banyak bumbu hingga baunya menyengat di hidung? Ah iya, mungkin itu. Arga segera menyingkirkan makanan yang tadi dibawanya.
"Kalau gitu minum dulu tehnya ya, biar perut kamu hangat." Hania menerima uluran teh dari suaminya dan menyeruputnya, sementara Arga sudah berjalan keluar kamar mereka.
"Lho kok sopnya masih utuh, Mas?" tanya Bi Sumi yang sedang menyiapkan peralatan makan di meja makan.
Asisten rumah tangga paruh baya itu spontan merespon ketika melihat Arga meletakkan mangkuk sop yang belum tersentuh.
"Iya, Bi. Hania malah mual begitu nyium aroma sop ini. Emang baunya nyengat banget ya?" Bi Sumi langsung mendekat dan mengendus-endus mangkuk sop itu.
"Nggak kok, Mas. Ini baunya enak." ucap Bi Sumi.
"Ya udah, ini buat Bi Sumi aja. Aku mau bikinin makanan lainnya buat Hania." Arga meninggalkan mangkuk sop di meja makan.
Di dapur Arga langsung membuka kulkas dan mencari bahan makanan yang akan diolahnya lagi. Pria bertubuh atletis itu sempat terdiam setelah memakai apron dan mengeluarkan bahan-bahan makanan yang dibutuhkannya. Memikirkan kira-kira makanan apa yang tidak membuat mual.
"Mau dibantu, Mas? Biar cepet selesainya." tawar Bi Sumi yang mengikuti Arga ke dapur setelah menyimpan sop daging tadi.
"Kira-kira bubur bikin mual ngga Bi?" Arga malah balik bertanya.
"Tergantung buburnya, Mas. Kalau bubur ayam, 'kan ada kaldunya. Kalau perutnya Mba Hania lagi bermasalah ya bisa eneg." komentar Bi Sumi.
"Apa Mba Hania lagi masuk angin ya, Mas? Kok mual muntah? Demam ndak, Mas?" Bi Sumi memberondong Arga dengan pertanyaan seputar mualnya Hania.
Sementara itu, Hania yang baru saja menyelesaikan ritual bersih-bersihnya sedang berdiri mematung. Ketika sedang memilih pakaian ganti, sebuah bungkusan kecil terjatuh dari dalam lemarinya. Kini, tatapannya tertuju pada sebuah bungkus pembalut ditangannya yang biasa dia gunakan ketika tamu istimewanya berkunjung.
"Bulan ini aku belum datang bulan. Padahal harusnya udah selesai. Apakah...? Ah, ngga mungkin!" Hania menggeleng-gelengkan kepalanya ketika terpikirkan sebuah kemungkinan yang tak diharapkannya.
"Pasti hanya terlambat. Iya. Terlambat karena belakangan ini aku memang kebanyakan pikiran." monolog Hania di dalam hatinya, lalu kembali menyimpan pembalut itu ke dalam lemarinya.
Meski sudah berusaha meyakinkan dirinya, namun pikiran tentang tamu bulanannya yang belum berkunjung tetap mengusiknya. Hania menjadi gelisah.
Klek!
Kemunculan Arga dengan sebuah nampan di tangan, mengalihkan perhatian Hania. Wanita itu tersenyum manis menyambut suaminya.
"Wah! Ada seblak! Buat aku ya?" Mata Hania seketika berbinar saat melihat makanan berkuah pedas itu.
Wanita cantik itu langsung mengambil mangkuk berisi makanan pedas yang disukainya itu. Hania memang penyuka makanan pedas. Selain mie yang direbus dengan sedikit kuah dan banyak irisan cabe rawitnya, seblak adalah yang sering diolahnya ketika dirinya menginginkan makanan berasa pedas.
Arga sampai tak jadi makan demi melihat Hania yang begitu lahapnya menyantap seblak buatannya. Seenak itukah? Atau istrinya itu sedang lapar karena sedari tadi pagi perutnya sudah kosong melompong akibat mual muntahnya?
__ADS_1
"Honey. Pelan-pelan, sayang. Itu juga masih panas." peringat Arga yang malah menjadi khawatir istrinya tersedak kuah panas dan pedas itu.
Hania masih mengunyah dan hanya menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf 'o' sebagai jawabannya yang mengisyaratkan 'oke'. Arga hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Hania yang dirasanya berbeda hari ini.
Keesoksn harinya pun Hania akan terbangun dengan perut mual dan berakhir dengan memuntahkan isi perutnya tanpa sisa. Dan lagi-lagi, hanya makanan berasa pedas lah yang bisa masuk dengan aman ke dalam perutnya, menggantikan segala makanan yang sudah keluar dari perutnya.
Tiada pagi tanpa mual muntah. Itulah yang dilihat Arga. Pria tampan itu selalu terbangun di pagi buta karena mendengar Hania muntah-muntah di kamar mandi. Lama-lama kondisi istrinya itu membuatnya menjadi khawatir. Terlebih pagi ini. Hania sampai tidak bisa berjalan dengan benar ketika keluar dari kamar mandi sehingga Arga harus menggendongnya. Tapi istrinya selalu menolak ketika diajak memeriksakan diri ke dokter.
Drrrt drrrt drrrt!
Arga menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Tak biasanya nomor telepon rumahnya menghubunginya, kecuali ada kepentingan yang mendesak. Lagipula di rumah ada istrinya. Kecuali istrinya sedang bepergian dan asisten rumah tangga membutuhkan sesuatu. Atau jangan-jangan....
"Halo!" Arga langsung menghentikan pikirannya yang melayang kemana-kemana, mengingat istrinya sedang tidak sehat hari ini.
Tadi pagi, kondisi Hania masih lemah bahkan bertambah lemah. Bertolak belakang dengan sikap keras kepalanya yang kukuh menolak memeriksakan kesehatannya. Sedangkan dirinya harus berangkat ke perusahaannya karena salah satu mitranya yang dari luar negeri itu hanya mau bertemu dengannya saja untuk memperpanjang masa kontrak kerjasama perusahaan mereka. Dan tepat setelah dirinya kembali ke ruangannya ponselnya bergetar.
"Mas... Anu... Itu..." sahut suara di seberang ponselnya malah panik dan tergagap.
"Bi Lastri? Ada apa, Bi? Bicara yang jelas!" suara Arga jadi terpancing meninggi karena ikutan panik.
Jelas saja panik. Dirinya mengkhawatirkan Hania. Sejak meninggalkan wanita cantik itu, hati Arga sudah ketar-ketir. Dirinya tidak bisa tenang. Sebentar-sebentar melihat jam tangan mahalnya lalu dia akan mendesah. Sampai-sampai mitranya menegurnya.
"Maaf atas sikap saya. Saya hanya sedang mengkhawatirkan istri saya yang sedang tidak sehat belakangan ini." ucap Arga yang menyadari kegelisahannya yang begitu kentara.
"Iya. Anda benar. Saya sangat beruntung memilikinya jadi saya sangat mencintainya." sahut Arga seraya tersenyum.
"Boleh nih, kapan-kapan kita agendakan ketemuan bareng istri-istri kita. Sekali-kali pertemuan kita konsepnya kekeluargaan, pasti lebih seru." usul mitranya Arga yang usianya sebaya dengannya.
"Boleh-boleh. Ide yang bagus." timpal Arga.
Dan sisa waktu dari pertemuan Arga dengan sang mitra hanya digunakan untuk membahas tentang keluarga. Biasanya, setelah membahas pekerjaan, Arga dan mitranya hanya membahas seputar bisnis dan hobi.
"Ada apa, Bi?" Arga bertanya lagi lantaran Bi Lastri tidak kunjung menjawab, hanya sibuk berkata anu, itu.
"Mba Hania, Mas...." belum juga Bi Lastri menyelesaikan kalimatnya, Arga sudah mematikan sambungan ponselnya dan berlari meninggalkan ruangannya.
Dan langsung berlari ke luar begitu pintu lift terbuka bahkan belum terbuka sepenuhnya. Arga juga menabrak Iden ketika berpapasan dengannya di depan pintu lift tapi Arga seolah tak peduli padahal Iden sudah bersiap menyapanya. Pikirannya hanya tertuju pada istrinya, Hania.
Arga memarkirkan mobil mewahnya sembarangan di halaman rumah besarnya yang minimalis itu. Dengan berlari, Arga memasuki rumahnya. Ingin segera menemui Hania.
Brak!
Dilihatnya Hania sudah tertidur pulas di ranjang besar yang semalam menjadi tempatnya menumpahkan hasratnya bersama sang istri. Meski keadaannya tidak bugar, Arga merasa Hania begitu agresif belakangan ini. Termasuk tadi malam. Bahkan wanita cantik yang biasanya malu-malu itu memimpin 2 ronde pertarungan panas mereka semalam.
__ADS_1
"Dia lagi tidur." suara Dana membuatnya mengalihkan perhatiannya dari istri barunya.
"Ikut aku! Ada yang mau aku omongin." perintah Dana lalu mendahului Arga keluar dari kamar adik angkatnya itu.
Arga memasuki ruang kerjanya yang berselang 1 kamar dari kamarnya. Kamar yang disiapkannya untuk anaknya kelak.
"Abang di sini?" tanya Arga setelah Dana duduk di sofa di seberangnya.
"Tadinya aku mau nganter barangmu yang ketinggalan di ruang rawat Ibu. Tapi pas sampe sini, ponselku bunyi, ditelpon sama nomor rumahmu. Kebetulan 'kan?" terang Dana.
Arga menganggukkan kepalanya.
"Apa yang mau abang omongin?" tanya Arga seraya menatap kakak angkatnya itu.
"Kalian menikah baru seminggu 'kan?" Arga menganggukkan kepalanya ragu seraya mengernyitkan dahinya.
"Aku tau rasanya jadi duda. Apalagi punya kekasih yang cantik dan saling cinta. Aku anggap wajar kalau kamu lama-lama tergoda juga. Tapi kenapa kamu ngga mikir pake pengaman? Untung kalian sudah menikah. Atau karena itu, kalian memutuskan menikah?" Arga mengangkat sebelah alisnya, dia semakin tidak mengerti maksud Dana.
"Sebenernya abang mau ngomong apa? Kenapa ngga langsung ke intinya aja, sih?" kesal Arga.
Sejak dihubungi Bi Lastri, Arga sudah dibuat kesal. Bibi itu tidak langsung memberitahunya tentang keadaan Hania, membuatnya berpikir macam-macam. Kini, abangnya itu juga begitu. Berputar-putar.
"Kamu ngga tau?" Arga menggelengkan kepalanya.
"Istrimu itu sedang hamil." Arga membelalakkan matanya.
Bagaimana mungkin? Dia baru seminggu menikahi kekasihnya itu. Dan sebelum menikah Arga tidak pernah berbuat diluar batas. Apa mungkin itu anak Raka? Pikiran Arga langsung tertuju pada mantan sahabatnya itu. Jika dihitung-hitung jelas itu anak pria itu. Seketika Arga mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sorot matanya mengelam.
"Keliatannya dia sering muntah-muntah. Tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir kulihat. Tetap jaga asupan makanannya. Dan vitamin. Aku juga udah resepin obat untuk mengurangi mualnya." Dana terus menasehati Arga.
"Kamu pasti kaget. Tapi syukurlah kalian dapat rezeki lebih cepat dari yang kalian duga. Aku turut seneng. Selamat ya." ucap Dana yang mengira diamnya Arga sebagai ekspresi keterkejutan belaka.
Arga masih berada di ruang kerjanya sepeninggal Dana. Pria itu masih terkejut dengan fakta yang barusan diungkapkan dokter spesialis jantung itu. Dia percaya pada Dana. Meski bukan dokter spesialis kandungan, Dana adalah dokter. Yang tahu seluk beluk anatomi manusia. Yang pasti juga tahu ketika memeriksa Hania tadi.
"Aaargh!" pekik Arga lalu meninju meja kerjanya.
*******
Thanks for reading!
Untuk dukung terus karya ini. Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1