
Iden hanya terkekeh menanggapi sikap Arga. Pria flamboyan itu tidak ingin bereaksi berlebihan. Dia tidak ingin memancing di air yang sudah keruh. Entah apa yang akan didapatnya nanti. Bukannya ikan, bisa-bisa ular yang akan mematuknya.
"Tunggu sampai lu tahu." pungkasnya lalu duduk di kursi kerjanya.
Seraya menyandarkan tubuh atletisnya, Iden membuka 2 kancing teratas kemejanya. Napasnya terasa sesak. Serasa ada yang menghimpit. Sementara Arga menatapnya penuh emosi.
"Awas aja kalau ada apa-apa sama istri gue! Lu orang pertama yang gue kejar!" ancam Arga lalu beranjak dari ruangan Iden.
Reza langsung menganggukkan kepalanya ketika Arga muncul dari balik pintu. Pria berkacamata itu langsung menunggu di luar ruangan Iden begitu Iden memasuki ruangannya tadi. Menghalangi siapapun yang akan menginterupsi kedua sahabat yang sedang menyelesaikan masalahnya.
Lebam di wajah tampan Arga tak urung menimbulkan tanda tanya di benak sang asisten manis itu. Tapi seperti biasa, pria itu tidak mengungkapkannya. Dirinya hanya menduga-duga keadaan Iden yang pasti lebih parah dari atasannya itu.
Tak hanya Reza yang terkejut dengan pemandangan pagi itu, Bela pun demikian. Wanita cantik dan seksi itu sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Kamu urus Iden!" perintah Arga datar ketika melewati meja kerjanya Bela, tanpa berhenti.
Tentu saja wanita itu hanya mengangguk. Dalam benaknya muncul beragam pertanyaan seputar kondisi wajah rupawan pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.
Jentikan jari Reza di depan wajahnya yang bengong, menarik Bela dari pikirannya yang melayang kemana-mana. Wanita seksi itu bergegas menuju ruangan Iden ketika Reza mengulang perintah Arga melalui isyarat dagunya yang menunjuk pintu ruangan yang tak jauh dari meja kerjanya.
Reza bergegas menyusul Arga yang berjalan lebih dulu menuju ruangannya. Lagi-lagi, dirinya melihat seorang lagi yang terkejut ketika melihat wajah tampan atasannya itu babak belur di pagi hari. Dian sampai melongo dibuatnya. Wanita cantik itu juga tidak menyadari kedatangan Reza di sebelahnya karena fokus memperhatikan atasannya.
"Ekhem!" tegur Reza.
"Eh. Pak Reza. Pak Arga kenapa? Datang-datang mukanya babak belur begitu? Abis tarung sama siapa?" cecar Dian berbisik seraya mencekal lengan Reza membuat pria itu menghentikan langkahnya lagi.
"Urusan pribadi. Bukan untuk konsumsi publik." sahut Reza sekaligus menegur Dian agar tidak ikut campur.
"Hilih! Dulu aja, setiap ada masalah, saya juga yang keseret-seret." gerutu Dian seraya mencebikkan bibirnya.
"Siapkan kopi buat Pak bos! Jangan lupa kotak obatnya!" perintah Reza tanpa menanggapi gerutuan partner kerjanya itu lalu bergegas menyusul Arga yang sudah memasuki ruang kerjanya.
Dian hanya melirik gemas seraya mengacungkan kepalan tangannya ke arah Reza hingga pria manis berkacamata itu masuk ke ruangan Arga.
Jam 11 siang setelah memimpin rapat, tentu saja dengan diiringi tatapan penuh tanya yang mengarah padanya dan juga Iden yang turut mengikuti rapat itu karena penampilan keduanya yang tidak jauh berbeda, Arga langsung pulang ke kediamannya. Keinginannya untuk memeluk erat sang istri sudah tidak terbendung.
Setelah membaca kertas-kertas dalam amplop coklat berukuran besar yang diberikan Iden padanya tadi pagi, otaknya gagal fokus pada pekerjaannya. Bayang-bayang Hania yang tersenyum semanis madu lalu menangis pilu, berkelebat bergantian di benaknya. Pria karismatik itu larut memikirkan reaksi wanita bermata kelinci yang sangat dicintainya itu ketika mengetahui kenyataan yang sangat mengejutkan itu.
Tiiiin!
Lagi-lagi Arga disadarkan dari lamunannya oleh bunyi klakson mobil yang terhalang di belakangnya saat lampu sudah berubah hijau di traffic light, atau dirinya yang tidak fokus mengendarai mobilnya yang tiba-tiba berjalan di bawah batas kecepatan dengan posisi menghalangi kendaraan lain untuk mendahuluinya.
Aroma masakan yang menggugah selera menyambut kedatangan Arga. Pria tampan itu seketika melebarkan senyumnya. Pujaan hatinya sedang dalam suasana hati yang baik rupanya. Beberapa hari ini, sang istri mengeluh kelelahan dan tidak ingin melakukan apapun. Termasuk memasak untuknya.
"Akh!" pekik Hania ketika tiba-tiba lengan berotot Arga melingkari pinggangnya.
"Mas Arga! Ngagetin aja! Aku lagi masak nih, kalau tumpah gimana!?" omel Hania seraya menolehkan wajahnya ke belakang.
Cup. Kecupan singkat Arga mendapat lirikan tajam yang dibalas senyum tengilnya seraya menaik turunkan alisnya hingga melayanglah cubitan menyelekit di perut kotak-kotaknya yang sudah mulai kehilangan bentuknya. Rupanya jari jemari sebelah tangan Hania gesit menggapai perut pria tampan yang masih melingkarkan lengannya di pinggangnya itu.
"Aw! Sakit, honey." lirih Arga seraya memegangi tangan Hania.
__ADS_1
"Makanya jangan ganggu orang lagi fokus! Rasain! Whlek!" ejek Hania menjulurkan lidahnya lalu kembali fokus pada masakannya.
"Udah ah, Mas tunggu aja di meja makan, atau mau istirahat dulu di kamar? Nanti aku panggil kalau udah siap." saran Hania seraya melepaskan tangan Arga yang melingkar nyaman di pinggangnya lalu berbalik menghadap ke arah Arga.
"Astaghfirullah! Mas! Ini kenapa?" cecar Hania ketika melihat wajah Arga yang tertutup perban.
"Ini juga! Ini!?" Hania langsung memindai tubuh sang suami dan mendapati beberapa luka lebam dan lecet lainnya di sepanjang pergelangan tangan pria tampan itu.
Airmata wanita cantik itu sudah mulai menggenang. Dirinya tidak sanggup melihat sang suami babak belur seperti itu. Enahlah. Semenjak kejadian pahit yang beruntun dialaminya beberapa bulan belakangan ini, dirinya mendadak menjadi lebih sensitif.
"Honey. Ini cuma luka kecil. Aku ngga apa-apa. Beneran. Ini tadi cuma salah paham aja sama Iden. Ya, jadi berantem dikit." Arga mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jempol yang didekatkan satu sama lain menekan kata sedikit.
"Ya, tapi...." ucapan Hania terpotong.
"Ngga apa-apa, honey. Luka kecil gini ngga bakal mengurangi keperkasaanku kok." goda Arga memotong ucapan Hania, membuat wanita itu berdecak.
Cup. Arga mengecup bibir Hania sekilas. Menenangkan wanita cantik itu.
"Mas.... Sempet banget, sih? Aku lagi khawatir juga." rengek Hania manja.
Mendengar suara manja Hania, Arga malah kembali mengecup bibir merah mudanya Hania, bahkan **********.
"Love you." ucapnya lembut.
"Udah, ya, ngga usah khawatir lagi." hiburnya seraya membelai pipi Hania yang mulai sedikit berisi lalu mengecupnya sekilas.
"Aku ganti baju dulu. Nanti aku bantu." putus Arga.
"Aku kerja dari rumah aja. Biar bisa deket terus sama kamu." Arga mengedipkan sebelah matanya dengan senyum yang melengkung di bibirnya seraya berjalan meninggalkan Hania yang mencebikkan bibirnya.
"Bucin!" gumam Hania mencibir.
"I heard it, honey! And, yes i do!" seru Arga yang menaiki tangga tanpa menoleh pada Hania.
Eh? Hania menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan mengerjapkan matanya. Apa suaranya selantang itu hingga suaminya sampai bisa mendengarnya? Wanita cantik itu menghela napas lalu berniat melanjutkan acara memasaknya. Ditolehkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tatapannya menyapu area ruang makan dan dapur. Tidak ditemuinya Bi Sumi ataupun Bi Lastri yang tadi membantunya memasak. Kenapa dirinya tidak menyadari kepergian kedua wanita paruh baya itu tadi? Hah! Pasti ulah suaminya.
Sepulangnya dari perusahaannya, Arga langsung memasuki dapur diam-diam. Pria karismatik itu meletakkan telunjuknya di bibirnya ketika Bi Sumi dan Bi Lastri menoleh ke arahnya, meminta mereka tidak menyapanya. Dengan gerakan tangannya, Arga juga meminta kedua asisten rumah tangganya itu meninggalkannya berdua dengan Hania.
"Pantas aja, sikapnya kayak ngga ada orang lain di dapur ini. Ternyata memang ngga ada siapa-siapa." batin Hania seraya mengulum bibirnya.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Arga meraih ponselnya yang bergetar di atas meja rias Hania. Keningnya mengernyit. Nama Iden tertera di layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Arga seraya menatap pintu kamar mandi memastikan Hania masih membersihkan dirinya akibat ulahnya barusan.
"Gimana kalau lu ajak Hania ke rumah? Alih-alih ngunjungi nyokap gue, kita pertemukan aja mereka. Gue punya rencana." sahut Iden di ujung ponselnya.
"Kapan?" Arga menanggapi serius ide sahabatnya.
"Oke." Arga memutus sambungan ponsel bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi.
__ADS_1
Arga mengulurkan tangannya menyambut Hania yang masih menggunakan handuk kimono. Menarik tangan wanita cantik itu dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Kita ke rumah Iden malam ini. Ibunya mengundang kita makan malam di sana. Sekalian silaturahmi. Tante Irene sempat ngedrop dan aku belum ngunjungi beliau. Gimana?" tawar Arga.
"Ibunya Mas Iden sakit?" tanya Hania memastikan.
"Sekarang udah sehat, sih. Tapi udah lama aku ngga ngobrol-ngobrol santai sama keluarganya Iden. Mereka udah seperti keluarga bagiku." terang Arga, sementara Hania menganggukkan kepalanya.
"Aku ngerti. Pasti menyenangkan punya banyak orang yang nyayangi kamu ya, Mas. Dan udah seharusnya juga, sih, kita silaturahmi ke mereka." dukung Hania.
Ada getir yang terasa saat Hania menyampaikan dukungannya. Dirinya yang sudah tidak memiliki orangtua, juga tidak memiliki keluarga, merasakan betapa beruntungnya sang suami. Dikelilingi keluarga yang baik. Sedangkan dirinya hanya memiliki Galih dan karyawannya yang dianggapnya sebagai saudara. Hatinya mendadak sendu.
"Kamu kenapa?" tanya Arga yang melihat perubahan ekspresi wajah sang istri.
Meski bibirnya tersenyum namun Arga dapat merasakan suasana hati Hania yang mendadak pilu hanya dengan mendengar suara sang istri yang sedikit bergetar.
"Ngga. Ngga apa-apa. Berarti aku ngga perlu nyiapin makan malam dong, ya. Sebentar, aku kasih tahu Bi Sumi dulu biar ngga terlanjur nyiapin bahan. Tadi aku rencananya mau bikin beef steak." ucap Hania bermaksud menghindar seraya beranjak dari pangkuan Arga.
"Honey! Pakai baju yang bener!" tegur Arga mengingatkan Hania.
Spontan wanita cantik itu melihat ke arah tubuhnya yang masih mengenakan handuk kimono, lalu meringis.
"Iya, iya, sayangku." sahutnya sambil melenggang menuju ruang pakaian.
"Coba ulang!" seru Arga.
"Apanya yang diulang?" Hania memyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Iya, iya, apa tadi?" goda Arga seraya mengulum senyum.
Bukannya dia tidak mendengar. Hanya saja pria tampan itu menyukai panggilan baru itu. Entah sadar atau tidak ketika Hania menyebut kata sayang untuknya itu.
"Ish!" cibir Hania lalu kembali menutup pintu.
"Aku suka panggilan barumu, honey!" seru Arga lagi dari tempat duduknya.
Sedan mewah Arga berhenti di halaman sebuah rumah besar bergaya eropa klasik milik keluarga Iden. Di samping-sampingnya sudah berjejer mobil milik Iden dan Bang Rendy. Rupanya bukan hanya dirinya dan Hania yang diundang malam itu.
Arga menghela napas dalam-dalam. Dalam hatinya berharap Hania perlahan akan menyadari rencana yang Iden rancang untuknya. Pria karismatik itu sudah mewanti-wanti untuk tidak membuat Hania tertekan lagi.
Tring!
"Hania." lirih Ibu Irene.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1