Yang Terakhir

Yang Terakhir
155. Tertolong


__ADS_3

Hania memasuki kafe resto terlebih dahulu, meninggalkan Arga yang sedang menerima panggilan di ponselnya. Diedarkannya pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang sudah dipenuhi pengunjung, karena memang saat ini adalah jam-jam krusial bagi orang yang membutuhkan pengganjal perut penunda lapar sebelum jam makan malam tiba. Wanita cantik itu pun mulai melangkah menuju tangga berletter L di sudut kanan ruangan.


Rosa yang baru sampai di pertengahan anak tangga, tidak sengaja melihat Hania yang berjalan ke arahnya langsung menyunggingkan senyum sinisnya. Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah yang dirasakan wanita cantik dan seksi itu. Sepertinya dewi fortuna sedang memberinya kesempatan untuk mewujudkan keinginannya dan dia tak boleh menyia-nyiakannya. Wanita itu tetap diam berdiri di sana menanti Hania.


"Hai, Hania." sapa Rosa dengan senyum seringainya.


Hania yang tadinya menunduk, mendongakkan kepalanya. Wanita cantik itu sempat sedikit terbelalak saking terkejutnya ketika tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Rosa?" gumamnya di dalam hati.


"Hai juga." balasnya ketika sudah bisa menguasai rasa terkejutnya, tak lupa menyunggingkan senyum semanis madunya.


"Kudengar, kalian akhirnya menikah. Kamu sama Arga." ucap Rosa sinis.


Hania hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dirinya sebenarnya enggan bertemu wanita seksi itu. Wanita yang pernah memfitnah Arga dulu, yang hampir membuatnya salah paham. Apalagi harus bertegur sapa begini, Hania sangatlah malas meladeninya.


"Tapi aku kasihan sama Arga. Perempuan yang dia puja ini ternyata menghianatinya. Diam-diam bermain dengan sahabat suaminya sendiri. Sok kalem kamu!" tuduh Rosa seenaknya.


"Ngomong apa kamu? Jangan mencoba untuk membuat isu yang ngga jelas kebenarannya!" sergah Hania seraya menggeserkan tubuhnya menjauhkan dirinya dari tubuh Rosa yang tadinya hanya berjarak satu depa.


"Cih! Janda gatel ya tetep aja janda gatel! Jangan serakah jadi orang. Kalau sudah sama Arga kenapa masih ngelirik Raka?" ucap Rosa seraya tersenyum sinis.


Deg!


Hania membelalakkan matanya. Seketika jantungnya berdetak kencang dan napasnya seolah tercekat membuatnya sesak.


"Raka?" lirihnya seraya menatap Rosa dengan sorot mata gamang.


"Iya. Raka! Dan sekarang kamu sedang hamil anak dia 'kan?" lanjut Rosa lagi terus-terusan menyudutkan Hania.


Hania hanya terdiam. Mendengar nama Raka, seketika membuatnya gemetar ketakutan. Bayangan dimana pria tampan yang dibencinya itu menyentuhnya berkelebat di benaknya lagi. Dan kini matanya sudah mengembun.


"Kenapa? Kamu kaget aku tau?" sinis Rosa.


"Denger ya, yang namanya bangkai, ditutupi serapi apapun akan tetap tercium baunya." lanjutnya lagi.


"Umm... Gimana ya, kalau Arga tau?" cibir Rosa berasumsi sendiri seraya melangkah meninggalkan Hania yang masih menatapnya lekat dengan mata yang berkaca-kaca.


Rosa tertawa lirih saat melewatinya. Tak hanya itu, wanita seksi itu sengaja menyenggol tubuh Hania dengan sedikit keras, membuat tubuh ramping yang berdiri di tengah anak tangga itu sempoyongan dan terhuyung mundur. Namun naas, pijakan kakinya meleset dan tubuh ramping itu terjengkang. Tubuh Hania terguling hingga bagian bawah tangga.


"Akh!" pekik Hania terkejut.


"Sssh!" dia mendesis merasakan perutnya keram dan berdenyut nyeri ketika tubuhnya sudah tidak berguling lagi.


Rosa yang melihat Hania terjatuh dan kesakitan seraya memegang perutnya hanya menyunggingkan senyum seringainya.


"Mam**s!" serapahnya lalu segera menaiki tangga ke lantai atas lagi agar tidak ada yang melihatnya.


"Astaga!" pekik seorang pengunjung yang melihat Hania terguling dan tergeletak di lantai seraya memegang perutnya.


Beberapa pengunjung yang terkejut karena pekikan salah satu pengunjung tadi juga ikut panik dan berteriak. Dan beberapa lainnya mendekat dan mencoba memberi pertolongan. Karena tak kuat menahan sakit pada perutnya dan rasa takut yang menguasai, Hania pun tak sadarkan diri. Membuat pengunjung lainnya semakin panik. Sementara itu, seorang karyawan kafe resto itu dengan sigap menghubungi rumah sakit terdekat meminta pertolongan petugas medis.


"Astaga! Apa dia hamil?" suara terkejut pengunjung lainnya yang ikut mendekat ketika melihat darah yang membasahi dress Hania.


"Siapa aja tolong! Apa dia datang sendiri? Ya ampun!" kata pengunjung yang lain.


"Ambulance akan datang sebentar lagi. Mereka sudah di jalan." ucap karyawan kafe resto tadi, membuat beberapa pengunjung itu sedikit bernapas lega.

__ADS_1


"Honey. Please!" lirih seorang pria tampan yang baru saja datang.


Tatapan para pengunjung tadi beralih pada seorang pria yang tiba-tiba berjongkok dan memeluk Hania sambil sesekali menepuk-nepuk halus pipi wanita itu agar kembali sadar. Kekhawatiran nampak jelas di wajahnya.


"Maaf, anda?" tanya seorang pengunjung yang mencoba menolong Hania tadi.


"Saya suaminya." sahut Arga tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Hania yang memucat.


"Hah. Syukurlah." ucap para pengunjung itu hampir bersamaan kompak menghela napas lega.


Arga langsung mengangkat tubuh Hania yang sudah terkulai. Dia tak ingin berlama-lama di tempat itu.


"Maaf, kami sudah meminta ambulance kemari." sela seorang karyawan kafe resto itu ketika melihat Arga akan membawa Hania pergi dari sana.


"Nah, itu sudah datang!" serunya ketika mendengar suara sirene mobil ambulance sudah terdengar di luar kafe resto itu karena memang jarak dari rumah sakit ke kafe resto itu hanya memakan waktu 15 menit.


Sudah setengah jam Arga menunggu di depan ruang bersalin. Pria itu terlihat sangat kacau. Rambutnya acak-acakan, kemejanya terkena noda darah yang terlihat kontras dengan warnanya yang putih dengan 2 kancing teratasnya terbuka. Matanya memerah, sedari tadi pria tampan itu tak dapat mencegah airmata yang lolos begitu saja di sudut matanya. Bahkan dirinya sempat sesenggukan di pelukan sang Ibu.


"Kamu harus kuat, Ga. Ibu yakin Hania akan baik-baik saja. Kita doakan janinnya masih bisa diselamatkan." hibur sang Ibu seraya mengusap punggung putra tunggalnya.


Wanita paruh baya itu tak kalah cemasnya. Dia juga takut kehilangan Hania dan calon cucunya. Ya. Ibu Anna tidak mengetahui perihal janin dalam kandungan Hania adalah benih Raka. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu mengira janin itu anak Hania dan Arga. Hania dan Arga memang tidak memberitahukannya pada sang Ibu. Apa jadinya jika wanita itu tahu kebenarannya? Bisa-bisa sang Ibu terkena serangan jantung lagi.


Tak berselang lama, dokter Laras keluar dari ruangan dimana Hania mendapat pertolongan. Wanita itu menyunggingkan senyumnya. Hanya perlakuan standar untuk menenangkan keluarga pasiennya ataukah memang membawa kabar baik?


"Gimana istri dan anak saya, dok?" Arga langsung mendekati dokter obgyn yang baru saja ditemuinya bersama Hania siang tadi.


"Syukurlah, Bu Hania kondisinya sudah stabil dan kandungannya memang sedikit bermasalah tapi masih bisa diselamatkan, hanya saja harus bedrest selama trisemester pertama ini." terang dokter Laras


"Bu Hania sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Silakan." lanjut dokter obgyn itu mempersilakan Arga mengurus ruang perawatan untuk Hania, lalu masuk lagi ke dalam ruang bersalin.


Arga duduk di samping ranjang Hania. Tangannya terus menggenggam tangan Hania yang terasa panas. Sesekali mengecup punggung tangannya. Matanya lekat menatap wajah ayu Hania yang terlihat pucat.


Klek!


Arga dan sang Ibu yang masih menemani anak dan menantunya menoleh ke arah pintu bersamaan. Sosok pria karismatik lainnya muncul dari baliknya. Dana. Dokter tampan itu segera mendatangi rumah sakit ibu dan anak tempat Hania dirawat begitu jam prakteknya berakhir.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa jatuh?" tanya Dana setelah mencium punggung tangan sang Ibu.


"Mas?" suara lemah Hania yang baru siuman mengalihkan perhatian semua orang yang berada dalam ruangan itu.


"Honey?" lirih Arga.


Pria tampan itu langsung berdiri mendekat ke kepala ranjang, mengecup kening Hania dan mengusap kepala sang istri yang terbalut perban dengan lembut.


"Mau apa, honey?" tawar Arga.


"Mau minum?" tanyanya lagi yang diangguki Hania.


Arga mengatur posisi brankar Hania agar memudahkannya untuk meneguk minumannya dan tidak tersedak. Dengan cekatan pria tampan itu membuka segel botol air mineral dan membuka tutupnya, memberinya pipet dan mendekatkannya ke mulut Hania.


"Gimana perasaanmu, sayang?" tanya Ibu Anna setelah Hania menyelesaikan minumnya.


"Udah lebih baik, Bu." sahutnya lirih seraya tersenyum menatap ibu mertuanya.


Seperti tersadar Hania mengalihkan tatapannya ke arah perutnya. Tangannya pun ikut meraba di sana.


"Dia kuat, honey. Dia baik-baik aja." ucap Arga yang tahu maksud Hania, seraya mengusap tangan Hania yang mengusap perutnya.

__ADS_1


Ada rasa lega menelusup di hatinya saat mengetahui janin dalam rahimnya dalam keadaan baik-baik saja. Meski awalnya dirinya sempat merasa masygul dan kecewa karena dirinya mengandung benih pria yang menodainya, tapi demi melihat Arga yang harusnya lebih berhak memiliki rahimnya sebagai tempat benihnya bersarang, malah lebih bisa menerima keberadaan janin itu. Membuat perasaannya lebih legowo menerima dan menyayangi janin itu. Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingnya.


"Siapa yang buat Hania dan anakku celaka!?" Bentak Raka pada seorang anak buahnya yang berada di seberang ponselnya.


"Belum tau, bos. Gue, gue baru dapat infonya barusan. Gue akan selidiki lagi." sahut seorang pria dengan nada datar.


"Apa yang lu sembunyiin!?" tanya Raka dengan nada mengancam.


"Ngng... Ngga ada, Bos. Suer!" sahut pria itu gugup.


"Awas aja kalau sampe gue tahu lu nyembunyiin sesuatu di belakang gue!" ancam Raka.


"Iya, Bos." sahut pria bersuara serak itu.


Raka melempar ponselnya ke atas meja kerjanya. Pikirannya sedang kacau. Arga sudah memutus semua kerjasama dengan perusahaannya, bahkan mantan sahabatnya itu membuat sahamnya merosot tajam. Belakangan ini, pria itu berfokus mencari suntikan dana untuk mengembalikan kondisi keuangan perusahaannya. Semua pebisnis potensial yang dikenalnya sudah dihubunginya. Tapi karena sebagian besar pebisnis itu sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan Arga, mereka enggan menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan miliknya. Dan kini, keselamatan Hania dan anaknya ikut mengacaukan pikirannya.


"Honey?" Arga menyadarkan Hania dari lamunannya.


Entah sudah kali keberapa Arga menyadarkan Hania dari lamunannya. Sejak insiden yang hampir merenggut nyawa dan janinnya, Hania terlihat sering melamun dan berubah menjadi lebih pendiam.


"Kamu mikirin apa, hon? Sejak pulang dari rumah sakit kamu jadi sering ngelamun." tegur Arga ketika menemani sang istri di kamar besar mereka.


Sudah hampir seminggu Hania diperbolehkan pulang dari rumah sakit tapi harus istirahat total untuk beberapa minggu ke depan. Arga merasa terganggu dengan sikap sang istri. Instingnya mengatakan istrinya yang lembut itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Hania. Ngomong sama aku apa yang kamu pikirin. Jangan disimpan sendiri. Aku ngga akan suka kalau aku malah taunya dari orang lain!" tegas Arga.


Kali ini pria itu harus tahu masalah yang mengganggu pikiran sang istri. Pria itu tidak ingin Hania tertekan dan frustrasi lagi.


"Kamu masih percaya aku 'kan?" Hania menoleh pada Arga dan menatap manik hitam mata pria tampan itu, lalu mengangguk.


Mata Hania mulai mengembun dan dapat dipastikan dalam sekali kedip saja airmatanya akan berjatuhan. Wajah pucatnya juga mulai bersemu merah. Sebenarnya dia ingin mengatakan kegelisahannya itu pada Arga tapi dia ragu.


"Hei? Ada apa?" tanya Arga dengan suara lembut.


"Mas? Gimana kalau Ibu dan orang lain tau tentang anak yang kukandung ini bukan anakmu?" airmata Hania terjun bebas seiring meluncurnya pertanyaan yang mengganggunya beberapa hari belakangan.


Arga terkesiap mendengar pertanyaan Hania. Pria karismatik itu kelu. Dia tidak tahu. Dan tidak pernah memikirkannya. Dirinya sudah bertekad untuk menutup rapat kebenaran tentang anak yang dikandung Hania.


"Aku harus gimana, Mas? Aku ngga akan sanggup liat ibu kecewa. Trus kamu gimana nanti?" ucap Hania di sela isak tangisnya.


Arga menarik tubuh Hania ke dalam dekapannya. Ya. Dia tidak akan sanggup melihat kekecewaan sang Ibu. Tentang dirinya, dia tidak peduli. Dia lebih mengkhawatirkan istrinya itu.


"Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah ini? Kita udah sepakat 'kan untuk ngga ngungkit-ngungkit kejadian itu?" ucap Arga menenangkan Hania.


Hania mendongakkan kepalanya menatap Arga yang tengah menatapnya.


"Rosa tau aku hamil anak laki-laki itu, Mas. Kemarin aku ketemu dia di kafe resto itu." sahut Hania.


Rosa? Di kafe resto itu? Hah! Kenapa dirinya tidak terpikirkan untuk memeriksa cctv tempat itu? Kenapa dirinya sama sekali tidak curiga pada orang lain? Bukankah selama ini ada yang ingin mencelakai Hania?


Arga menarik Hania kembali ke dalam dekapannya. Matanya menyorot tajam, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal. Kini emosinya kembali memuncak.


"Masih mau main-main rupanya!" geramnya dalam hati.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2