
Deg!
Arga berusaha menguasai rasa terkejutnya padahal jantungnya seperti akan melompat dari tempatnya. Pria itu bahkan menatap pantulan bayangan Hania di cermin tanpa berkedip beberapa saat. Sedikit lega karena sepertinya istrinya tidak terlalu ambil pusing dengan pertemuan tadi.
"Jadi yang dibilang Iden itu bener. Bahkan Hania pun bilang kalau mereka mirip banget. Hum, jadi penasaran." batin Arga.
Ingin sekali menyelesaikan masalah ini secepatnya. Hah. Arga jadi kepikiran bagaimana usaha Galih menjebak Rosa. Pria tampan itu sangat berharap pada rivalnya itu sekarang. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia mendapat persetujuan pria itu. Arga sangat berharap Galih berhasil mengorek informasi dari Rosa. Syukur-syukur bisa membawa wanita itu kembali ke tanah air.
Di sebuah club malam ternama di negara singa putih itu, Galih masih terpekur dalam diam sambil menatap wanita cantik yang mengekspos tubuh mulusnya dalam balutan gaun malam minim bahan yang semakin menunjukkan bentuk tubuh seksinya. Dalam keremangan malam, matanya memperhatikan tiap gerak gerik Rosa. Sebagai wanita, Rosa memiliki aset yang luar biasa. Bohong jka Galih tidak suka. Sebagai pria normal, dia tertarik. Tapi tidak dengan hatinya.
"Rosa itu mantannya Arga. Tapi dia hianatin Arga karena kepincut sama laki-laki yang lebih mapan pada waktu itu. Arga ngga ada apa-apanya karena masih belajar dan belum jadi seperti sekarang." Galih terngiang kata-kata Darren sebelum pria pulang.
"Setelah sukses, Arga ngga pingin balikan sama dia?" selidik Galih.
"Beneran!?" pria berwajah manis itu tidak percaya ketika Darren menggelengkan kepalanya.
"Rosa yang mencoba masuk lagi di kehidupan Arga. Tapi hatinya terlanjur beku kayak es di kutub utara. Arga paling benci sama penghianatan. Hidupnya hancur gara-gara dihianatin mantan istrinya dan anaknya meninggal. Udah jelas dia ngga mau itu terulang lagi." terang Darren.
"Saat itu Arga juga sedang bucin sama Hania." Darren terkekeh, sementara Galih tersenyum kecut.
Dia jadi ingat bagaimana cemburunya Arga saat dirinya dekat-dekat dengan Hania. Padahal 'kan dia sahabatnya Hania.
"Baru kali ini gue liat Arga jatuh cinta sampai posesif begitu. Bahkan sama mantan istrinya aja dia ngga begitu." lanjutnya.
Galih mengerjapkan matanya lalu meminum minuman berwarna bening yang tinggal setengah sloki itu dalam sekali teguk. Rasa getir dan panas langsung menyergap kerongkongannya.
Galih sendirian sekarang. Darren sudah meninggalkannya setengah jam yang lalu karena tiba-tiba ibu mertuanya datang berkunjung ke rumahnya.
Sambil memutar-mutar sloki yang baru diisi lagi, Galih memutar otak cerdasnya. Permintaan Arga barusan membuatnya mau tak mau melibatkan diri dalam masalah pria itu. Pasalnya, masalah pria itu juga menyangkut Hania.
"John, lu tau siapa perempuan itu? Yang pake dress ijo." tanya Galih pada bartender yang beberapa bulan ini dikenalnya sebagai orang negeri sendiri yang sudah merantau lama di negara singa putih itu.
"Yang seksi itu? Tau! Namanya Rosa. Banyak yang suka, saingan lu banyak bos!" begitu sahut John.
"Maksud lu dia kupu-kupu malam?" selidik Galih.
"Bukan. Yaa, karna dia cantik, seksi, jadi banyak yang pengen maen sama dia." terang si bartender itu.
"Berarti dia bisa dipake?" tegasnya lagi.
"Dia pilih-pilih, bos. Tapi...." bartender itu memutus ucapannya seraya memindai Galih dari atas ke bawah sebatas dada karena terhalang meja bar.
"Lu boleh lah, bos. Masuklah dalam itungan laki-laki keren yang bakal dilirik sama dia." lanjut John seraya tersenyum.
"Gue emang keren, sial lu!" John terkekeh menanggapi gerutuan Galih.
Galih masih terus memperhatikan Rosa. Wanita itu benar-benar cantik dan seksi tapi akhlaknya tak baik. Wajar saja pernikahannya gagal dan Arga menolaknya. Ditambah lagi hatinya jahat. Berani-beraninya mencoba mengganggu Hania. Jelas dia tidak tinggal diam.
__ADS_1
"Good luck, bos!" seru John yang melihat Galih bangkit hendak mendekati Rosa.
Galih tersenyum ketika Rosa menatapnya. Melihat wanita itu menggeser duduknya, pria gagah itu langsung mendudukkan dirinya di samping Rosa.
"Hai. Sendirian aja?" tanya Galih berbasa basi.
"Apa!" tanya Rosa sedikit mengeraskan suaranya karena suara musik yang memekakkan telinga.
"Sendirian aja!?" ulang Galih juga ikut mengeraskan suaranya tapi pria itu sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Rosa.
Galih bahkan sedikit menempelkan bibirnya. Tercium aroma wangi parfum mahal yang menguar dari tubuh Rosa.
Rosa menoleh menatap Galih dengan tatapan mendamba sambil menganggukkan kepalanya. Terlihat dari gerakannya yang menyelipkan rambut sebahunya ke belakang telinga dan memperbaiki posisi duduknya, menunjukkan bahwa wanita itu grogi.
Tak butuh waktu lama bagi Galih untuk akrab dengan Rosa. Bahkan kini wanita itu sudah menempel-nempelkan pay*d*r*nya ke tubuh Galih. Namun pria itu tetap tenang. Dia bukannya tak tergoda. Ingin rasanya langsung membawa wanita seksi itu ke kamar dan mengajaknya berolahraga panas malam-malam jika tidak mengingat tujuannya mendekati wanita itu demi Hania.
Tak berselang lama, datang seorang waitres membawakan minuman ke meja mereka.
"Gue yang traktir malam ini." ucap Galih yang melihat Rosa hendak menolak minuman itu karena merasa tidak memesan.
"Gue ngga tau selera lu. Semoga lu suka." lanjut Galih lagi.
"Gue suka apa aja yang bikin enak." sahut Rosa dengan suara dibuat seksi seraya memeluk lengan Galih dan menci*m pipi kirinya.
Lagi-lagi Galih harus meningkatkan pertahanan dirinya. Aset wanita seksi di sebelahnya sungguh menggoda minta diremas. Apalagi wanita itu sudah mulai terang-terangan menggodanya.
Galih menyeringai tipis melihat Rosa meminum minuman yang disodorkan padanya hingga habis tak bersisa.
"Ini enak." ucap Rosa setelah menenggak isi gelas ya sampai habis.
"Racikan baru kata bartendernya." sahut Galih menanggapi komentar Rosa.
Seringai tipis di bibir Galih tiba-tiba memudar ketika tiba-tiba Rosa menempelkan bibir seksinya dan memberi sedikit gigitan di bibir Galih. Terbuai oleh sentuhan lembut bibir kenyal Rosa, Galih tak kuasa menolak. Dengan lembut pria gagah itu membalas setiap lum***n yang Rosa berikan. Cukup lama aksi saling ******* itu berlangsung. Hingga Galih melepas tautan bibir mereka.
"Gue mau lu." bisik Rosa seraya menahan hasratnya.
Galih menyeringai lagi. Rosa mulai masuk perangkap. Masalahnya sekarang, Galih juga panas dingin. Bingung mengamankan senjata pusakanya yang sudah siap menghunus.
Mata Galih melotot ketika tiba-tiba Rosa duduk di pangkuannya menghadap ke arahnya. Pay*d+r*nya yang tersembul tepat di depan hidung bangirnya jadi terlihat lebih menantang kini. Ditambah wanita itu menggerakkan tubuhnya dengan sensual membuat celana jinsnya yang sudah ketat semakin sempit saja.
"Sssh!" desis Galih menahan hasratnya.
"Sial! Kalau begini, ngga bisa tahan gue!" rutuknya dalam hati.
Meski jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir karena terus di goda Rosa, Galih tetap memasang wajah tenang seraya menyeringai.
"Tahan! Tahan!" ucapnya dalam hati seraya mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Akh! Sial!" umpatnya.
Galih langsung mengangkat tubuh Rosa dalam posisi sama persis ketika duduk tadi. Rosa menghadap ke arahnya. Aksinya itu dilihat oleh John yang langsung mengacungkan kedua jempol tangannya seraya tersenyum lebar.
"Enjoy your meal, bos!" seru John.
(Nikmati hidanganmu, bos!).
Di kamar hotel berbintang 5 yang terletak tak jauh dari club malam, seorang wanita cantik masih betah memejamkan matanya setelah pergulatan panjang mereka. Sementara itu seorang pria tampan baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Dengan hanya memakai celana jins nya, pria itu menatap wajah cantik yang masih terlelap itu. Tak percaya dirinya sudah 4 malam ini menghabiskan waktu semalaman memuaskan si wanita dan tentu saja bonusnya terpuaskan.
Tok! Tok! Tok!
Pria itu segera memakai bajunya dan membukakan pintu untuk tamu yang sudah membayarnya.
"You can leave now! Don't meet me at this time!" perintah sang tamu yang hanya diangguki pria itu.
Sepeninggal pria itu, sang tamu kembali keluar setelah meninggalkan jam tangannya di nakas di sebelah tempat tidur. Kembali ke kamar yang disewanya terpisah dengan kamar yang tadi. Di dalamnya seorang wanita cantik dan seksi masih menunggunya.
"Why you don't leave yet?" tegurnya.
(Kenapa belum pergi?).
"Can we meet again?" bukannya menjawab, wanita itu malah balik bertanya.
(Bisa kita ketemu lagi?).
"No! I'll return to my country soon." sahutnya datar.
(Ngga! Aku akan kembali ke negaraku secepatnya.).
Terlihat raut kecewa di wajah wanita tadi. Dengan mulut mengerucut yang tidak membuatnya tampak jelek sedikitpun, wanita itu meninggalkan si pria.
"Weekend ini, gue balik. Bawa perempuan yang elu mau!" ucapnya datar dengan ponsel menempel di telinganya.
"Secepat itu?" sahut seorang pria di ujung ponselnya.
"Kalau bisa cepat kenapa dibuat lambat?" ucapnya lagi dengan bibir menyeringai tipis. Lalu sambungan ponsel itu terputus begitu saja.
"Kebiasaan!" gerutunya.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1